Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Mengejar Mimpi


__ADS_3

Petang pun tiba. Saatnya kembali seminar. Arnav memilih menonton televisi di kamar hotel sambil tetap fokus pada laptopnya. Tiba-tiba pandangannya teralihkan pada kalender yang sudah memasuki satu Agustus.


"Namira harus cepat memutuskan kuliah dimana. Tapi jika mengingat kejadian kemarin, ia tidak boleh di sini." Arnav menggumam.


Tak lama pintu kamarnya diketuk. Namira sudah selesai dengan seminar hari ini. Besok adalah hari kepulangannya.


"Mas Arnav sudah makan?" tanyanya lembut.


"Sudah." Arnav tersenyum.


Namira memakan beberapa camilan sebelum akhirnya menggosok gigi dan beranjak tidur.


"Akhir-akhir ini hobimu ngemil malam-malam ya?" Goda Arnav saat istrinya telah bersiap membaringkan tubuh.


Namira hanya membalas dengan memutar bola matanya.


"Namira, besok lusa pergilah ke pulau Delta. Uruslah pendaftaran ulangmu dan katakan untuk memilih kuliah online." Usul Arnav. Ia menatap Namira hati-hati.


"Sekali jalan sudah hampir sepuluh juta mas." Namira berkata tegas.


"Tidak apa. Jangan pikirkan itu. Bereskan segala urusannya dan kembalilah ke sini. Jika memang tidak memungkinkan untuk online maka bertahanlah sekitar lima bulan. Aku akan segera menyusul." Arnav memegang bahu Namira.


"Tunggu sebentar, aku akan memastikan sesuatu." Pintanya kemudian ia mengambil tas medisnya dan pergi ke kamar mandi.


Tak lama kemudian ia kembali, menatap kalender dan nampak menghitung sesuatu.


"Baiklah. Aku akan ke pulau Delta besok lusa. Aku rasa memang di sini tidak aman. Semoga bisa segera kembali kemari." Namira menatap Arnav dengan mata berkaca-kaca.


"Tenanglah. Kenapa kamu sensitif sekali? Apa tamu bulanan akan datang? Aku yakin bisa. Aku juga akan merahasiakan ini dari mama. Mintalah pada mamamu untuk juga merahasiakan kepulanganmu." Ucap Arnav sambil membelai rambut Namira.


***


Pagi harinya Namira menuju kamar Serkan.


"Dok, ada yang ingin saya bicarakan." Pinta Namira.


"Masuklah." Ucap Serkan yang terkejut dengan kedatangan Namira.


"Saya ingin mengudurkan diri mulai besok. Saya belum tau dapat kembali kemari atau tidak." Celetuk Namira.


"Kamu mau kemana?" Tanya Serkan lembut.


"Kuliah dok. Jika bisa online maka saya akan kembali. Dok, saya menganggap Anda sebagai kakak saya. Semoga ke depannya kita tetap bisa kontak." Namira menggenggam tangan Serkan.


Lelaki itu terenyuh dengan sikap Namira. Ia memang ingin melindungi gadis itu namun tidak bisa lebih dari ini. Ketika mengetahui jika Namira menganggapnya kakak, ia tidak terlalu kecewa karena artinya gadis itu juga menyayanginya.


"Dua semester awal hanya teori. Saya rasa pasti bisa dilakukan jarak jauh." Ia memegang pundak Namira membuat gadis itu tenang.

__ADS_1


Namira berjalan menuju kamarnya kembali.


"Darimana?" Tanya Arnav dingin.


"Aku meminta ijin dokter Serkan." Jawabnya hati-hati.


"Aku akan memesan tiket. Ingat selalu untuk mengabari aku." Arnav mengemasi pakaiannya dan bersiap kembali ke Tidore. Tanpa Namira sadari, suaminya menemukan barang yang ia simpan saat keluar dari kamar mandi tadi malam. Arnav yang mengetahui hasilnya merasa sangat senang namun ia bingung alasan Namira menyembunyikannya. Pastilah istrinya memiliki alasan dan Arnav akan menunggu Namira mengatakannya.


Sepanjang perjalanan mereka hanya diam. Sampai di rumah, Namira memesan makanan sambil mengemasi pakaiannya.


"Makanannya sudah datang Namira. Ayo kita makan. Makanlah yang banyak." Arnav memandangnya sendu.


"Jangan tatap aku seperti itu seolah kita tidak akan bertemu lagi." Keluh Namira.


"Jangan berkata begitu. Kita pasti bertemu lagi." Arnav meralatnya.


"Apa nanti malam mas meminta 'jatah'?" Namira berkata dengan tersenyum.


Arnav memang ingin, tapi ia khawatir istrinya akan lelah apalagi besok ia harus pergi ke pulau Delta.


"Kalau kamu sudah kembali saja." Arnav menunduk dan menghabiskan makanannya.


Namira merasa sedikit aneh dengan tingkah Arnav.


Mereka menuju kamar tidur dan bersama mengecek apa saja yang harus dibawa Namira.


"Namira, apa kamu benar baik-baik saja? Apa perlu ke psikolog setelah kejadian kemarin lusa?" Arnav menatap sendu dan duduk di sebelah Namira.


"Aku baik-baik saja." Jawabnya tersenyum.


"Sempatkanlah bertemu dengan teman-temanmu di sana. Apapun itu, buatlah dirimu senang." Arnav memeluk Namira.


***


Saatnya berangkat. Tak henti-hentinya Arnav mencium pipi dan kening Namira. Berkali-kali pula ia berpesan untuk berhati-hati dan menjaga kesehatan. Sedangkan Namira tak hentinya mengkhawatirkan Arnav soal makan maupun keperluannya.


"Jangan khawatirkan aku soal itu. Aku bukan anak kecil." Ucap Arnav. Perpisahan pun tak lama kemudian terjadi.


Selama di pesawat Namira tertidur. Kebetulan di sebelahnya kosong. Perjalanan selama empat jam juga membuat perutnya lapar. Ia pun memakan camilan yang sudah ia siapkan sebelum berangkat.


Lain halnya dengan Arnav. Ia bergegas menemui Serkan di klinik.


"Ada apa?" Tanyanya dingin.


"Apa Namira mengatakan sesuatu padamu?" Arnav bertanya penuh selidik setelah seenaknya masuk ke ruangan Serkan.


"Dia hanya bilang kalau ingin melanjutkan kuliah ke Pulau Delta." Jawabnya sambil menulis resep.

__ADS_1


"Ada lagi?" Tanyanya curiga.


"Maksudmu perihal apa?" Serkan menoleh ke arah Arnav.


"Curhat mungkin?" Arnav menjawab ragu-ragu.


"Tidak ada. Oh iya, aku ingin menjadi nasabah di bank Az." Serkan mengalihkan topik.


"Datang saja ke bank dan bertemu dengan Vita. Dia akan menjadikanmu nasabah prioritas." Jawabnya masih dengan pikiran menerawang.


***


Namira telah tiba dan dijemput Firda. Mereka melepas rindu. Segera setelah pulang, ayah dan ibunya menyambutnya hangat. Ia tak lupa mengatakan pada ibunya untuk merahasiakan kepulangannya dari keluarga Arnav. Ia hanya tidak ingin mertuanya khawatir berlebihan. Sebenarnya bu Santi bukan mengkhawatirkan Namira, namun ia pasti akan sangat mengkhawatirkan Arnav yang sendirian di sana.


Namira beristirahat dan tak lupa memberi kabar pada Arnav berupa pesan singkat. Suaminya kemudian membalas dengan panggilan telepon.


"Halo, sudah makan belum?" Tanya Arnav.


"Sudah mas. Apa mas Arnav sudah pulang kantor?" Tanya Namira. Ia menyadari perbedaan waktu dua jam lebih lambat di pulau Delta dengan Tidore.


"Iya sudah. Aku sudah memesan makanan. Aku memasukkan pakaian ke mesin cuci. Semua sudah beres. Jangan khawatirkan aku." Sahut Arnav.


"Baiklah. Aku istirahat dulu kalau begitu." Ucap Namira dan terpaksa diizinkan oleh Arnav sekalipun ia masih rindu dengan suara istrinya.


Namira hendak menikmati makan malam dengan keluarganya.


"Namira, kata bu Santi akhir tahun ini akan diadakan resepsi?" Ucap bu Megumi.


"Iya ma. Kurang lebih empat bulan lagi." Jawab Namira tenang.


"Kalau begitu usahakan jangan hamil dulu karena akan jadi sorotan." Komentar mamanya.


Namira menghembuskan nafas kasar dan memilih tidak menanggapi.


"Ma, besok Namira akan ke kampus kemudian mampir ke mini market. Jika sempat Namira akan membersihkan rumah mas Arnav juga." Ucap Namira di sela-sela makannya.


"Pakai saja mobil Arnav yang dititipkan di sini. Firda sudah bisa menyetir sekarang. Dia akan mengantarmu." Sahut ayahnya.


"Namira juga ingin belajar menyetir. Waktu itu belum sempat kursus. Mudah-mudahan dalam beberapa hari sudah bisa." Jawabnya.


.


.


.


.

__ADS_1


Jadi sampai kapan Namira merahasiakan 'positif' nya?


__ADS_2