Akhirnya Kami Menikah!

Akhirnya Kami Menikah!
Rumah Namira


__ADS_3

"Bukan Prita. Aku sudah ada calon. Maaf ya, kamu pasti akan segera mendapatkan yang terbaik." Ucap Arnav sambil menepuk pundak Prita. Hal itu membuat Prita geram. Ia mencari Ida.


"Heh, Ida! Kamu diam-diam mendekati Arnav ya?" Tanyanya emosi. Ida pun menjadi bingung.


"Kalo ngomong pake bukti dong. Emangnya aku sama kayak cewek admin itu yang mau aja kamu tuduh tanpa bukti?" Cerca Ida.


"Oh iya! Teman satu divisinya pasti tau siapa calon istri Arnav." Gumam Prita. Ia meninggalkan Ida dan menuju lantai dua.


"Bebep! Aku bakal tanya teman-teman di divisimu tanpa terkecuali." Ucap Prita yang langsung merangkul Tama dan Raja ke pantry. Arnav melihatnya dengan heran namun di satu sisi bersyukur karena tidak seorang pun tau siapa calon istrinya.


"Siapa calon istri Arnav?" tanya Prita pada Raja dan Tama.


"Bukannya mbak Prita?" Jawab Tama bingung.


"Oh, jadi dia lagi main tebak-tebakan. Oke, terima kasih para pria. Aku akan mengikuti permainan Arnav. Bahkan kalian pun sudah tau jawabannya." Ucap Prita bangga.


Namira menulis surat pengunduran diri dan menyerahkannya ke meja Arnav.


"Apa ini?" tanyanya.


"Surat pengunduran diri." Jawab Namira singkat.


"Seminggu sebelum hari H baru kamu boleh mengundurkan diri." Ujar Arnav.


"Saya tidak mau dimakan oleh wanita-wanita kanibal di sini." Balas Namira.


"Namira, kalau kamu berhenti sekarang, apa yang akan kamu lakukan?" tanya pria itu memastikan.


"Belajar untuk ujian masuk magister." Jawab Namira.


"Ini baru bulan Maret. Penerimaan mahasiswa baru itu bulan Juli sampai Agustus." Sela Arnav.


"Makanya kalau tidak boleh setidaknya jangan membuat hari-hari saya sulit dong." Protes Namira.


Kali ini Arnav merasa benar-benar menghadapi anak kecil yang keras kepala padahal mereka hanya selisih lima tahun dan bukan berpuluh-puluh tahun.


Sepanjang hari gadis itu nampak kesal hingga sebuah panggilan memanggilnya.


"Hei Dit!" Sapa Namira.


"Besok kamu ultah pingin apa?" tanya Adit di seberang telepon.


"Syukurlah tidak minta ditraktir tapi malah mentraktir. Roppan saja deh!" Jawab Namira senang.


Mereka pun menyepakati pertemuan mereka besok di Roppan. Namira akan mengajak Ria dan ia segera menghubungi Ria. Ah, Namira lupa bahwa besok orang tua Arnav datang melamar. Ia meralat jadwal makan-makan mereka menjadi jam makan siang. Besok adalah hari Sabtu waktunya Namira libur.


Arnav hanya mendengarkan dan melihat akun sosial media milik Namira. Gadis itu berulang tahun besok. Arnav pun meminta kakaknya membawakan cincin tanda pengikat di acara lamaran besok. Ia tidak mau acara yang berlebihan sehingga besok yang datang hanyalah keluarga inti saja. Begitu pun dari keluarga Namira. Gadis itu bersikeras menyuruh orang tuanya untuk tidak heboh.


***


"Ma, Namira pergi dulu ya!" pamitnya.

__ADS_1


"Ini oleh-oleh untuk calon besan sudah cukup segini? Lalu menu masakan nanti malam apa segini sudah cukup?" tanya Mamanya khawatir.


"Ma, tenang saja. Ini sudah berlebihan. Mereka hanya sekitar lima orang." Terang Namira yang semalam sudah menanyakan perihal itu pada Arnav.


"Kamu pamit kemana?" tanya mamanya.


"Teman-teman mau merayakan ultah Namira." Terangnya.


"Mau lamaran malah kelayapan." Protes mamanya.


"Tahun depan sudah susah merayakan ultah begini ma." Jawabnya cuek dan segera pergi.


Di Roppan, teman-temannya seperti Adit, Arini, dan Ria sudah hadir. Ria tentu saja membawa pacarnya. Mereka bernyanyi dan tertawa bersama. Namira langsung menjadikan itu status messengernya yang membuat Arnav marah. Pria itu langsung menyusul ke lokasi dan membuat orang tuanya yang baru tiba menjadi bingung.


"Mau kemana Nav? Jangan lama-lama. Nanti sore kita sudah harus bersiap." Perintah mamanya.


"Iya ma, tenang saja." Jawab Arnav tergesa. Ia melajukan motornya.


Namira yang masih tertawa-tawa menjadi cukup terkejut melihat bosnya berdiri di depan mejanya.


"Mas Arnav ada disini juga?" tanyanya heran.


"Halo, ada acara apa ini adik-adik?" tanyanya ramah penuh sindiran sedangkan teman-teman Namira menatap gadis itu meminta jawaban.


"Oh, perkenalkan. Ini mas Arnav bosku di kantor." Disusul oleh Adit yang menyuruh Arnav duduk. Suasana menjadi sedikit canggung.


"Maaf saya mengganggu. Jadi nanti malam Namira akan mengadakan acara lamaran. Saya harap kalian bisa datang." Ujar Arnav.


"Kok kamu ga bilang-bilang sih? Ini beneran? Lebih baik tadi ngumpulnya langsung di rumahmu saja." Celetuk Arini yang sukses membuat Namira salah tingkah.


"Wah selamat ya Namira." Adit memberinya selamat dan hendak memeluknya.


"Eh tunggu, kalian teman sejak kapan?" Arnav menghalangi Adit yang hendak memeluk Namira.


"SMA mas. Padahal saya mau melamar kalau sudah mapan." Ucapnya lesu.


"Sabar ya. Yang kenal lama akan kalah dengan yang cepat." Arnav menepuk pundak Adit dan membuat Namira kesal. Pria itu lantas mengajak Namira pulang yang sukses membuat teman-temannya lanjut bergosip soal gadis itu dan sikap bosnya.


"Apa calonnya itu bosnya?" tanya Ria.


"Ah mungkin sahabatnya bosnya. Soalnya Namira pernah cerita kalau bosnya itu nyebelin." Terka Arini. Mereka saling mengangguk namun tidak dengan Adit yang merasa menyesal hanya memendam perasaannya pada Namira.


"Bisa tidak sedikit saja berhenti membuat orang khawatir?" Tegas Arnav saat mereka tiba di parkiran.


"Saya kan tidak dalam bahaya. Kenapa khawatir?" Namira menjawab sambil bersungut.


"Kamu suka Adit?" tanya Arnav tanpa basa basi.


"Dia itu sahabat saya dari SMA. Adit itu udah membantu saya sangat banyak." Terang Namira. Arnav pun menghela nafas lega.


"Soal duit?" tanya Arnav mencoba menggali informasi.

__ADS_1


"Bukan, soal hati." Jawabnya singkat dan langsung menuju motornya.


***


Semua sudah siap di meja makan. Keluarga Namira menantikan calon besan mereka. Beberapa menit kemudian tamu yang mereka tunggu sudah tiba.


"Selamat malam, perkenalkan saya Arya." Sapa ayah Arnav sambil berjabat tangan dengan ayah Namira.


"Saya Edi. Ini istri saya Megumi." Balas ayah Namira.


"Ini istri saya Santi, anak saya Sari, menantu saya Farhan, dan cucu saya Queen." Jelas pak Arya.


"Mari silahkan masuk," ajak pak Edi.


Mereka pun duduk sementara Namira dan ibunya menyiapkan suguhan.


"Firda... Kesini nak!" panggil ibu Megumi.


"Ini anak kedua saya, Firda, dia baru hendak SMA." Terang bu Megumi. Firda hanya tersenyum dan duduk kemudian sibuk dengan ponselnya.


"Bapak dan ibu, tujuan kami kemari adalah hendak melamar anak gadis bapak dan ibu. Semoga lamaran kami dapat diterima." Pak Arya membuka pembicaraan.


"Kami dari pihak Namira menerima dengan senang hati lamaran nak Arnav." Jawab pak Edi.


Mereka lantas mengajak keluarga Arnav makan malam bersama. Bu Santi membantu bu Megumi sementara para bapak-bapak berbincang mengenai pekerjaan mereka.


Arnav yang semula gugup sekarang nampak lebih tenang. Usai makan, ia membuka suara.


"Kira-kira tanggal berapa pernikahannya?" tanyanya sedikit gugup.


"Jangan lama-lama ya pak Edi. Bulan depan bagaimana?" Saran pak Arya.


"Jangan pak. Persiapannya butuh waktu." Sela bu Megumi.


"Tidak perlu khawatir bu. Kami yang akan mengurus. Arnav pertimbanganmu bagaimana nak?" tanya bu Santi.


"Arnav ada rencana menikah di hotel. Satu prosesi saja dengan sedikit undangan. Mungkin 300 undangan yang tentu saja lebih banyak dari keluarga Namira." Arnav mencoba menjelaskan.


"Kami sepertinya belum siap kalau bulan depan." Sela bu Megumi kembali.


"Sementara kesimpulannya bulan depan saja dulu ya bu. Nanti Arnav akan membantu semaksimal mungkin." Jelas Pak Arya. Bu Megumi hanya pasrah.


"Kapan kembali ke kota Tua bapak dan ibu?" tanya pak Edi.


"Langsung malam ini pak. Besok Arnav ada acara kantor di pulau Samo." Terang pak Arya.


"Ini sedikit oleh-oleh dari kami." Bu Megumi memberikan berbagai oleh-oleh pada bu Santi.


"Ya ampun bu, Anda tidak perlu serepot ini." Jawab bu Santi. Keduanya saling berpelukan.


Sebelum pulang, Arnav menepuk pundak Namira dan memberinya sebuah kado kecil.

__ADS_1


"Selamat ulang tahun." Ucapnya. Tentu saja itu sukses membuat Namira tersipu.


Setelah mereka pulang, Namira segera membuka kado tersebut.


__ADS_2