
"Raja? Kamu bersama mas Arnav?" Tanya Namira terkejut.
"Beberapa hari ini aku ditugaskan di Pulau Samo. Aku melihat ada yang tidak beres dengan suamimu yang tiba-tiba ke kantor cabang Samo. Anehnya lagi dia bersama Dilla. Yang jelas Dilla akan bertugas di sini. Aku tidak tau bagaimana dengan mas Arnav. Kalian baik-baik saja? Aku curiga ada yang aneh akhirnya mendekati Dilla. Khawatir aku menjadi saksi seorang diri dalam skandal ini, aku menghubungimu." Terang Raja.
"Terima kasih." Ucap Namira sedih dan mematikan panggilan.
Pikirannya penuh dengan aktivitas Arnav yang mungkin bermalam dengan Dilla.
Ini memang yang aku mau. Tapi kenapa seperih ini? Aku tunggu besok. Apakah dia akan pulang?
Keesokan harinya Namira nampak lebih bersemangat. Ia membersihkan rumah, memasak, dan berangkat ke klinik seperti biasa. Ia kembali masih dengan riang hingga hari semakin larut dan Arnav tetap tidak muncul. Namira menghubungi Vita.
"Apa Arnav ke kantor?" Tanyanya dingin.
"Iya. Apa dia tidak pulang?" Tanya Vita.
"Dia tidak pulang. Terima kasih." Jawab Namira lesu.
Ia menghubungi Arnav dan tidak ada jawaban. Ia pun mengirimkan pesan.
Selesaikan urusan kita, setelah itu kamu bebas.
Arnav terkejut dengan pesan dari Namira. Gadis itu masih saja ego dan berpikir sesuai kata hatinya saja.
Baiklah jika itu maumu.
Namira merasa dunianya gelap. Ia teringat jika dulu Bani pun mencampakkannya seperti itu. Ia hanya bisa menangis merutuki dirinya. Apa seharusnya aku melawan mertuaku? Apa seharusnya aku menghajar wanita-wanita yang mengusik Arnav? Apa seharusnya aku juga melawan Arnav? Ia merebahkan diri dan terlelap.
Arnav masih juga tidak pulang. Vita berkata bahwa pria itu akan keluar kota lagi. Ini sudah bulan November dan artinya setiap bulan kemungkinan Arnav akan menemui Dilla. Namira mengunjungi bank Az. Cindy yang saat itu melahirkan dan dijenguk oleh Namira menyadari bahwa nyonya besar datang dan ia harus membantu Arnav.
"Halo bu Namira!" Sapa Cindy.
"Halo. Bagaimana kabarmu?" Tanya Namira ramah.
"Saya baik. Apa ibu mau mencari pak Arnav?" Selidik Cindy.
Namira mengangguk.
Beliau tambah ceria akhir-akhir ini. Dia selalu berkata sangat senang saat berlibur keluar kota. Ia mendapat 'jatah'. Berarti bu Namira hanya memberi 'jatah' saat kalian berlibur keluar kota?" Cindy tersenyum usil.
"Jatah apa?" Namira bertanya tak paham.
"Servis memuaskan, bu!" Cindy kembali tersenyum jahil.
Namira memasang ekspresi dingin dan wajahnya memucat.
__ADS_1
"Cindy, aku rasa kamu belum tau jika aku bekerja di klinik. Artinya aku tidak selalu punya waktu berlibur." Jawab Namira gugup.
"Lalu? Ah tidak mungkin jika pak Arnav 'jajan'. Dia pribadi yang sangat baik." Komentar Cindy.
"Pribadi baik itu dulu atau sekarang?" Namira menelisik pendapat Cindy.
"Jika dulu baik dan sekarang tidak, itu artinya orang yang bersamanya yang salah." Celetuk Cindy dan ia pergi meninggalkan Namira. Gadis itu duduk di sofa dengan lemah. Rasanya kakinya tidak sanggup berdiri. Seseorang berdiri di hadapannya.
"Mau apa kamu kemari?" Tanyanya dingin.
Namira mendapati sosok yang ia rindukan tapi sebagai orang lain.
Ia menghela nafas.
"Kita selesaikan urusan kita." Jawab Namira.
"Tidak ada lagi urusan. Aku mengikuti maumu. Apa lagi sekarang?" Tanyanya angkuh.
"Baik. Aku akan menghubungi orang tuamu dna orang tuaku." Namira mengambil ponselnya namun ditepis oleh Arnav.
"Tidak ada hubungannya dengan mereka." Arnav mengancam Namira dan melepaskan tangan gadis itu. Namira meringis kesakitan dan berusaha berdiri.
Beberapa karyawan menelisik. Sebentar lagi ia akan menjadi bahan gosip. Namun ia tidak peduli. Ponselnya berdering, David menghubunginya. Ia adalah sepupu Arnav yang sedang menjalani thesis.
"Tidur saja di hotel atau apartemen!" Keluh Arnav.
"Aku tidak mau kak. Terlalu banyak skandal. Pemuda pemilik hotel Z sedang bersama wanita dan bla bla. Aku cari aman saja!" Jawab David.
"Aku jemput di bandara!" Seru Arnav.
***
"Kak! Terima kasih! Aku kurang memahami area sini dan aku takut dijebak!" Ucap David manja.
"Menjijikkan! Berapa lama kamu akan menumpang?" Tanya Arnav.
"Hm.. Sampai akhir Desember kak! Oh iya! Keluarga besar sedang mempertanyakan soal berita yang mengatakan dirimu selingkuh di pulau Samo. Apa itu benar?" Tanya David.
"Siapa yang memberitakan itu?" Tanya Arnav geram.
"Entah. Seseorang merilis berita. Coba saja kamu cek saham Mall mu dan gerai emasmu." Komentar David enteng.
"Nanti. Aku belum sempat." Arnav melajukan mobilnya dengan cepat.
"Hidupmu tidak pernah terusik. Bahkan pernikahanmu tidak terlalu diusik. Tapi justru isu perselingkuhan ini menjadi topik hangat di Kota Tua dan kota Sura. Apa kamu tidak bertanya pada pegawai-pegawaimu di sana?" Tanya David.
__ADS_1
"Aku tidak pernah bertemu pegawai-pegawaiku. Semua diatur sistem. Sudahlah, bersikaplah tenang." Perintah Arnav.
***
Namira terkejut saat mendapati sebuah mobil berada di depan rumahnya. Vita menjelaskan jika Arnav memang membeli sebuah mobil lagi untuknya karena tidak nyaman pergi dengan motor. Namun Namira ragu apakah itu benar-benar Arnav atau bukan. Saat melihat bahwa yang keluar dari mobil adalah Arnav, ia merasa lega. Pria itu tidak sendiri. Seorang pria seusia Namira nampak keluar dari mobil tersebut.
"Halo kakak ipar! mbak siapa namanya? aku lupa!" Ucap David sambil menggaruk kepalanya.
"Namira!" Jawab Namira tersenyum.
"Aku sepupu kak Arnav. Aku akan menumpang hingga akhir Desember. Maaf mengganggu kalian." Senyum David. Namira mendadak kikuk. Ia mempersilahkan semuanya masuk dan membuat teh hangat.
"Kamar tamu di sana, agak jauh dengan kamar utama. Di sana sudah ada kamar mandi. Tempatilah kamar itu." Celetuk Arnav.
"Siap. Aku akan membereskan barang-barangku." Jawab David.
Namira tidak berani menatap Arnav.
"Aku akan tidur di sofa." Arnav berlalu meninggalkan Namira.
David bisa menjadi sumber terpenting untuk menepis gosip dan menyelamatkan nasib karyawanku. Jangan sampai gerai dan mall defisit karena skandal.
Arnav terus berpikir mengenai nasib karyawannya.
***
"Kak Arnav kenapa tidur di sofa?" Celetuk David di pagi hari.
"Aku menonton tivi dan ketiduran." Jawab Arnav asal.
"Pindahkan saja tivinya ke dalam kamarmu kak!" Ide David. Ia pun mengintip kamar Arnav.
"Tapi di kamarmu juga ada tivi kak! Apa gosip itu benar? Oh tidak! Pantas saja bu Santi dan pak Arya sibuk akhir-akhir ini menghadapi wartawan. Oh tidak! Aku tidak bisa berbohong juga kak! Tamatlah bisnismu! Gulung tikar dan karyawan di PHK." David berceloteh panjang lebar.
"Tutup mulutmu! Ayo kita sarapan!" Ajak Arnav. Ia menuju meja makan dan ternyata Namira sudah memasak. Gadis itu juga mendengar semua obrolan mereka.
"Kakak ipar, terima kasih makanannya!" Seru David.
.
.
.
.
__ADS_1