Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Makan Malam


__ADS_3

Pagi yang cerah, sang raja siang menampakan kegagahannya di ufuk timur. Hari ini Nakisya dan teman-temannya sudah siap untuk kembali ke kota, ke kediamannya masing-masing.


"Semua sudah siap? Gak ada barang yang tertinggal?" tanya Aldi sambil melirik pada Nakisya dan teman-temannya.


"Gak ada, Bang, kan kita-kita emang gak bawa barang yang banyak," jawab Weni cengengesan.


Rizky melangkah mendekat pada Aldi, "Aku apa Kak Aldi yang bawa mobilnya," ucap lelaki itu sambil menyodorkan kunci mobilnya.


"Elo aja, nanti kalau elo pegal, baru gue yang gantiin," tolaknya.


Semalam Riko tiba-tiba memutuskan untuk pulang lebih dulu, 'ada urusan penting,' katnya. Dan dengan terpaksa Aldi membiarkan mobilnya di bawa pulang oleh sahabatnya itu.


Sehingga sekarang, mau tidak mau dirinya ikut menebeng di mobil milik temannya Nakisya.


Semua sudah duduk di kursinya masing-masing. Aldi dan Nakisya memilih duduk di jok paling belakang, biar bisa berduaan bisik lelaki itu nyeleneh.


Sepanjang perjalanan, semuanya nampak heboh, saling bercerita dengan melempar candaan satu sama lain.


Kecuali Aldi, lelaki yang kurang nyambung dengan perbincangan mereka itu hanya memilih diam sambil mendengarkan musik melalui headphone yang di pasang di telinganya.


"Siala*! Jalan macet banget!" gerutu Rizky saat melihat mobil lain yang ada di depannya tidak juga maju.


"Iyalah, namanya juga tanggal merah," jawab Angga datar.


Rani membuang bungkus snack yang sudah tidak ada isinya itu ke luar, "kalau tau macet kayak gini, mendingan tadi kita gak buru-buru pulang ya," gumam gadis itu yang kembali mengambil snack yang masih tersisa di dalam tas nya.


"Siapa juga yang tadi buru-buru ngajak pulang," sindir Weni dengan malas.


Rani menampilkan deretan gigi putihnya, "mangapin atuhlah, habisnya nyokap nelfon mulu, nyuruh pulang," ucap gadis itu memberi alasan.


"Jadi kita sepakat nih, mau daftar kuliah di kampus yang kemarin?" tanya Nakisya yang langsung membuat teman-temannya menoleh dan menganggukan kepala.


"Terus gimana sama pernikahan lo, kalau lo malah mau kuliah dulu," tanya Vani yang masih melirik ke belakang.


Nakisya berfikir sejenak, "entar gue mau ngomong ke Ayah sama Bunda, kalau sudah sampai di rumah," jawab gadis itu santai.


"Sebenarnya elo tuh mau nikah gak sih?" celetuk Rizky yang dari tadi hanya diam mendengarkan.


Nakisya terkekeh mendapat pertanyaan seperti itu, "ya mau lah, tapi kayaknya mau kuliah dulu deh."


"Gue kasih tau ya, selama janur kuning belum melengkung di depan rumah Kisya, berarti lo masih ada kesempatan buat deketin dia."


Angga mengingat kalimat yang pernah terlontar dari mulut Rizky, diam-diam bibirnya melengkung saat mendengar kalimat jawaban dari gadis itu.


"Emang Bang Al masih kuat gitu, buat nunggu Kisya?" tanya Rani pada lelaki yang masih mendengarkan musiknya.


Aldi tidak merespon pertanyaan itu, dia terlalu menikmati alunan musik yang keluar dari benda yang menempel di telinganya, sehingga tidak mendengar pertanyaan dari Rani.

__ADS_1


Nakisya yang juga penasaran menunggu jawaban dari lelaki itu, akhirnya gadis itu memukul pelan lengan Aldi,"Bang Al?" tegur Nakisya pada kekasihnya


Aldi melepaskan headphonenya, lelaki itu melirik ke arah Nakisya, "apa?" tanyanya dengan lirih.


"Tuh di tanyain sama Rani, kuat gak? Katanya."


Aldi yang sama sekali tidak mengerti, hanya mengangguk, "kuat dong," jawabnya asal dengan mengedipkan sebelah matanya ke arah Nakisya.


Aldi berpikir, mungkin maksud kata kuat itu, kuat tentang melakukan sesuatu bersama Nakisya nanti.


Nakisya tersenyum manis menatap kekasihnya, "makasih ya," ucapnya begitu bahagia.


Aldi mengangguk, "kalau kamu mau, kita gak perlu nunggu nikah dulu kok, nanti pulang dari sini kita langsung aja," bisik lelaki itu tepat di samping telinga Nakisya.


"Hah! Apaan?"


****


Setelah menempuh waktu dua jam lebih, akhirnya Nakisya sampai di depan rumahnya. Gadis itu langsung turun, di ikuti Aldi yang juga memilih turun di rumah calon istrinya itu, "thanks ya, Ki," ucap Aldi pada temannya Nakisya.


"Iya, aku yang makasih malah di kasih buat bensin segala," ucap lelaki itu yang masih terlihat sungkan.


"Makasih ya, Bang Al, maaf udah ngerepotin," ucap Rani yang di ikuti oleh yang lainnya.


Aldi tersenyum, "gak repot dong, nanti kapan-kapan kita agendakan lagi, kebetulan aku ada Vila lagi yang tempatnya jauh lebih bagus, cuman ya agak jauh," ucap lelaki itu dengan ramah.


****


"Sya?" teriak dari suara wanita yang Nakisya tau itu siapa, membuat gadis itu dengan cepat bangun dari posisi tidurnya. "Ganggu aja sih, baru juga rebahan," gerutu gadis itu yang langsung membuka pintu kamarnya.


"Iya, Bunda?" tanya gadis itu dengan datar.


"Tadi Om Rainald hubungin Ayah, katanya dia mau bahas tentang pernikahan kamu sama Aldi. Terus nanti malam kita di undang buat makan malam, di restoran milik Om Rainald. Kamu siap-siap ya buat nanti," ucap wanita itu yang langsung melangkah, setelah sempat menepuk pelan pundak putrinya.


****


Nakisya terus menggerutu, sambil memakai dres yang tadi di pilih oleh bundanya.


"Bunda, Kisya kan udah bilang, mau kuliah dulu," gerutu gadis itu sambil menyisir rambutnya.


Widya tersenyum, wanita setengah paruh baya yang masih begitu terlihat cantik itu, melangkah menuju meja rias.


"Kan kalau nikah juga masih bisa sambil kuliah, nanti kita bicarakan sama keluarga Aldi," ujar wanita itu yang langsung mengoleskan bedak ke pipi mulus putrinya.


Nakisya berdecak, "pakai make up aja aku belum bisa, masa iya sih aku udah mau nikah," gumam gadis itu yang masih dapat terdengar oleh telinga Widya.


Widya terkekeh, "gapapa kan nanti juga bisa, asal kamunya sering pakai. Lagian anak Bunda cantik kok walau gak pakai make up juga."

__ADS_1


Nakisya mendengus, "tapi kan aku juga belum bisa apa-apa, masak juga gak bisa," ucap gadis itu, berharap sang bunda bisa merubah keputusannya.


"Kalau soal masak, kayaknya Aldi masih mampu buat bayar asisten rumah tangga," ujar wanita itu tersenyum saat melihat wajah putrinya yang sudah selesai di pakaikan make up.


"Aldi itu cari istri, buat membangun rumah tangga, bukan rumah makan," imbuh Widya kemudian, yang langsung membuat Nakisya merotasikan matanya.


"Tapi Bunda, Kisya juga belum bisa-,"


"Udah cepetan, Ayah sudah nungguin di bawah," ucap wanita itu yang sama sekali tidak membiarkan putrinya untuk melanjutkan kalimatnya.


****


Terlihat Aldi sudah duduk bersama dua orang pria, yang sudah Nakisya kenal.


"Selamat malam, Om Arya, Om Rainald," ucap Nakisya yang langsung menyalami kedua pria itu bergantian.


Aldi tersenyum, menatap Nakisya. Setengah hari dirinya tidak bertemu dengan gadis itu, membuatnya dilanda kangen. Dan sekarang dirinya bertemu kembali, dengan penampilan Nakisya yang terlihat lebih cantik, dengan polesan make up tipis yang menghiasi wajahnya.


"Ini satu lagi tangannya, gak mau di sun juga?" tanya lelaki itu nyeleneh, dengan kedua alis mata yang di naik turunkan.


Nakisya melirik sekilas, "belum sah," jawab gadis itu dengan datar. Membuat semua orang terkekeh.


"Mari silakan duduk," ucap Rainald pada Nakisya dan kedua orang tuanya.


Bagas memulai pembicaraannya, "saya setuju dengan usulan Pak Arya dan Pak Rainald, lebih cepat memang akan lebih baik. Tapi Kisya masih mau melanjutkan pendidikannya. Apa Nak Aldi tidak keberatan?" tanya pria itu.


"Saya tidak masalah kok, Om. Yang penting nikah aja, biar cepat-cepat sah," ucap Aldi dengan semangat.


"Tapi aku juga gak mau cepat-cepat punya anak," ujar Nakisya yang kini mulai mengeluarkan suaranya.


Arya tersenyum, pria itu mengerti dengan perasaan calon menantunya, walau bagaimana juga, Nakisya masih terlalu muda, sudah mau di nikahkan saja dirinya sudah salut dengan kepatuhan gadis itu.


"Kalau urusan itu nan-,"


"Aldi?"


Seketika semuanya melirik ke arah perempuan yang sedang melangkah ke arah meja yang mereka tempati.


-


-


Siapakah perempuan itu???😂😂


Mohon dukung terus ya buat cerita ini, Like jangan lupa😁


Hatur nuhun🤗🤗

__ADS_1


__ADS_2