
"Tapi kayaknya gue berubah pikiran deh, ada untungnya juga, mereka salah paham, jadi kan pernikahan kalian batal, terus gue gak jadi deh punya adik sepupu macam elo!"
****
"Woy! Bangun lo!"
Dengan suara keras dan goncangan pada tubuhnya, membuat Aldi tersentak dari tidurnya.
Semalam, lelaki itu tidak pulang, dia memutuskan untuk menunggu Nakisya ke luar dari ruangan tempat ayah gadis itu di rawat. Sampai lelaki itu tertidur di atas kursi tunggu.
Aldi mengucek matanya, dan merenggangkan otot tubuhnya yang kini terasa sakit di beberapa bagian, akibat tidur di atas kursi besi, dengan hanya mengenakan tangannya sebagai bantal untuk menyangga kepalanya.
"Bisa gak Lo, kalau bangunin tuh yang lembut, ngucapin selamat pagi misal." Gerutu Aldi pada lelaki yang baru saja membangunkannya dari mimpi.
Meskipun Aldi sedang berada dalam masalah, tapi entah karena Tuhan kasihan padanya, semalam mimpi lelaki itu begitu indah, dia bermimpi kalau kekasihnya sudah memaafkannya dan berujung keduanya melakukan sesuatu yang membuatnya betah memejamkan mata, seperti tidak rela mengakhiri mimpi indahnya itu.
Riko berdecak, “pemimpi seperti Elo tidak butuh ucapan selamat pagi, yang kamu butuhkan adalah alarm besar dan sahabat menyebalkan seperti gue untuk membuatmu terbangun dari mimpimu.”
Aldi mendelik sebal, lelaki itu langsung mengecek jam yang ada di pergelangan tangannya, "jam 6," gumamnya yang langsung berdiri melihat ke arah ruangan Bagas.
Pintu ruangan itu terbuka, dan ternyata di dalamnya hanya ada Bagas yang masih tertidur, dan seorang wanita paruh baya yang terlihat sedang duduk di sofa. Aldi mengenali wanita itu, dia adalah salah satu asisten rumah tangga di rumah kekasihnya.
"Kisya sama tante Widya kemana?" tanya Aldi dengan mengernyitkan keningnya.
"Mereka pulang dulu," jawab Riko yang langsung melangkah pergi.
Aldi segera mengikuti langkah Riko. "Anterin gue ke apartemen."
"Ogah! Gue mau kerja, takut kesiangan, entar di omelin sama Pak Bos," jawab lelaki itu datar.
Aldi tidak peduli dengan penolakan sahabatnya, setelah Riko masuk ke dalam mobilnya, dengan cepat Aldi juga masuk dan duduk di samping Riko.
"Pokoknya elo anterin gue! Entar gue yang ngomong sama Vino, kalau elo bakal datang telat," ujarnya meyakinkan Riko.
Riko berdecak, "nyusahin banget sih Lo!"
__ADS_1
Aldi terkekeh, "eh ngomong-ngomong, Elo sama Nia apa kabar? Jadi putus kan?" tanya Aldi dengan sebelah sudut bibirnya yang terangkat.
"Sumpah ya, elo nyebelin banget, turun lo!" sentak Riko yang langsung menepikan mobilnya.
"Wih santai bosku, gue becanda elah, gitu aja marah."
Riko mendelik, lelaki itu langsung kembali menjalankan mobilnya. "Gue bingung sama dia."
Mendengar kalimat yang keluar dari mulut sahabatnya, Aldi nampak penasaran, dirinya langsung menghadap ke arah Riko. "Curhat dong," celetuk Aldi sambil terkekeh.
Riko menghela napasnya, "gue serius nih, mau nanya sama elo."
Aldi tampak diam, kali ini dirinya menatap Riko seolah serius menunggu pertanyaan apa yang akan terlontar dari mulut sahabatnya itu.
"Kemarin kan dia salah paham sama gue, terus dia minta putus. Sampai gue rela pulang malam-malam dari puncak, buat ngejelasin semuanya, karena gue gak mau hubungan gue berakhir gitu aja." Riko menghentikan kalimatnya.
"Dan akhirnya dia mau balikan lagi sama gue," ucap lelaki itu yang menciptakan anggukan kepala dari Aldi.
Aldi mengerutkan keningnya, "nah terus, apa yang bikin elo bingung, kan sekarang Elo udah balikan," tanya Aldi yang heran dengan ekspresi dari Riko.
"Keliatan sih, orang kayak elo emang gak ada romantis-romantis nya," cibir Aldi dengan sudut bibir yang terangkat.
Aldi menahan tawanya yang akan kembali pecah, saat melihat Riko menatapnya tajam ke arahnya.
****
Jam 07.25 Aldi sudah berada di rumah seorang wanita yang dia harapkan bisa membantunya untuk menyelesaikan kesalah pahaman keluarga Nakisya terhadapnya.
"Kenapa harus istri saya yang bantuin kamu?" tanya pria paruh baya yang ternyata adalah suaminya Mira.
"Ayo lah, Om, tolong ijinin Mira buat bantuin saya, lagian mereka salah paham juga gara-gara istrinya Om," ujar Aldi dengan wajah yang sudah memelas.
Mira mengetuk-ngetuk dagunya, wanita itu sejenak berpikir, kemudian salah satu sudut bibirnya tertarik ke atas. "Oke aku bantuin, tapi ada syaratnya."
****
__ADS_1
Setelah Aldi menyanggupi persyaratan yang di ajukan oleh wanita itu, sekarang dirinya dan Mira sudah berada di depan pintu rumah kediaman Nakisya.
Aldi beberapa kalai menekan bel yang menempel di samping pintu itu, namun belum juga ada yang membuka pintu itu.
"Turunin gak tangan Lo! Entar kalau ada yang lihat mereka malah tambah salah paham," sentak Aldi saat dengan genitnya tangan Mira terus menggerayangi wajah Aldi. Bahkan yang membuat Aldi makin emosi saat Mira seolah sengaja terus menempelkan tubuhnya ke tubuh Aldi. Kalau saja Aldi tidak ingat kalau wanita itu tengah mengandung, mungkin dirinya sudah dari tadi mendorong dan menjatuhkan tubuh wanita itu ke dasar bumi paling dalam.
Mira mendengus, "yaudah aku gak jadi bantuin kamu kalau gitu," ketus wanita itu dengan memalingkan wajahnya.
Tidak lama kemudian, pintu ganda rumah Nakisya terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya yang berdiri di situ, menatap ke arah dua orang yang sedang berdebat.
"Mau apa kalian kesini? Mau ngasih undangan?" ketus Widya yang langsung melangkah ke dalam.
"Aldi boleh masuk gak, Tante?" tanya lelaki itu dengan sopan.
Widya tidak menjawab pertanyaan lelaki itu, membuat Aldi dengan memberanikan dirinya mengikuti langkah wanita itu.
"Maaf, Tante, Aldi sudah lancang, tapi Aldi kesini cuma mau ngejelasin semuanya," ucap lelaki itu dengan wajah yang sudah menunduk.
Widya menatap wajah Aldi tanpa minat, "Tante dan Om kecewa sama kamu, ternyata dulunya kamu-," Widya menghentikan kalimatnya. Wanita itu tidak sanggup membayangkan kelakuan lelaki yang ada di hadapannya saat ini.
"Semalam Tante sudah denger semuanya dari Riko, dan Tante merasa lega ternyata yang di kandung wanita itu bukan anak kamu," ucap Widya dengan ujung mata yang melirik ke arah Mira.
"Kamu kalau ngidam jangan aneh-aneh dong, masa iya ngidam ketemu mantan, mana minta pengen ngulangin kemesraan waktu pacaran lagi." Ujar Widya dengan raut wajah ketus.
"Kamu kan bisa ngelakuin itu sama suami kamu," imbuhnya kemudian, yang langsung memalingkan wajahnya ke arah lain.
Wajah Mira terlihat sedih, "maaf Tante, tapi suami saya gak seganteng Aldi, yang ada saya malah enek lihat wajahnya," jawab wanita itu santai.
"Sekarang dia calon mantu saya, saya gak rela ya kalau dia di colek-colek sama kamu!" Ketus Widya kemudian yang membuat Aldi mengerutkan keningnya.
"Berarti Tante, sudah maafin Aldi kan?"
-
-
__ADS_1
Dimaafin gak nih, Tante?? 😂😂