Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Pesawat


__ADS_3

Dada Nakisya masih terasa sangat sesak. Merasa dikerjain oleh sang suami. Ingin marah dan mengajukan protes, Nakisya tidak punya alasan. Karena pada kenyataannya suaminya itu tidak membohonginya. Nakisya lah yang terlalu kegirangan. Dan pada akhirnya Nakisya hanya pasrah, melangkah mengikuti yang lainnya untuk segera boarding pass.


Karena jumlah penumpang pesawat yang akan ditumpangi mereka cukup sedikit, yaitu hanya dua belas orang. Sehingga tiga pasang suami istri itu bisa melenggang dengan santai menuju ruang keberangkatan khusus Susi Air Lounge tanpa harus berdesak-desakan dengan penumpang lainnya.


Ini kali pertama Nakisya akan terbang dengan pesawat mini Cessna Grand Caravan 208. Setelah masuk ke dalam pesawat, Nakisya bisa duduk dengan bebas di kursi yang telah disediakan. Sang pilot datang, memberikan penjelasan prosedur keselamatan penumpang tanpa dibantu pramugari.


Formasi tempat duduk di pesawat Cessna Grand Caravan 208 terdiri dari empat baris. Tiap baris terdiri dari satu kursi di sebelah kiri dan dua kursi di sebelah kanan. Khusus tempat duduk paling belakang tiga kursinya tidak terpisah. Dan di kursi itulah Nakisya dan Aldi duduk. Sedangkan Vino dan yang lainnya memilih duduk di kursi depan.


Antara ruang pilot dan ruang penumpang tidak dipisahkan sekat apa pun. Semua aktivitas pilot mulai dari menerbangkan pesawat, hingga berkomunikasi dengan pihak bandara bisa dilihat langsung dengan jelas.


Beberapa menit setelah pesawat lepas landas. Aldi melirik kearah Nakisya yang dari tadi masih saja diam dengan muka cemberutnya. "Yang, nanti kita mau tidur di rumah ibunya Naura atau kita cari hotel aja?"


Nakisya tidak menjawab pertanyaan Aldi. Ia memalingkan wajahnya kearah jendela besar disampingnya. Matanya berbinar saat melihat pemandangan langit serta gunung-gunung yang membentang di Jawa Barat, bisa terlihat dengan jelas. Tidak hanya gunung, bukit-bukit hijau, hutan, dan birunya langit, hingga rumah-rumah penduduk bisa terlihat dengan jelas. Karena pesawat terbang tidak terlalu tinggi.


Sekitar enam puluh menit terbang, daratan Pangandaran mulai terlihat. Landas pacu bandara yang panjangnya satu kilo meter juga terlihat jelas. Pilot secara bertahap menurunkan kecepatan pesawat dan daya jelajah ketinggian. Tidak lama kemudian, pesawat mendarat dengan mulus di Bandara Nusawiru, Pangandaran tepat pukul lima lebih dua puluh menit.


"Thank you very much. Selamat datang di Pangandaran," ucap sang pilot kepada penumpang.


"Kenapa gak naik jet aja sih, Bos? Tadi bising banget suaranya," gerutu Riko setelah turun dari tangga pesawat.


Ya, ternyata pesawat mungil itu memiliki tingkat kebisingan luar biasa. Suara dan getaran mesinnya cukup kuat di telinganya. Pantas saja tadi kedua pilot asing memakai earmuff, mungkin untuk meredam suara berisik tersebut.


Aldi yang baru turun, tapi sempat mendengar kalimat Riko membuatnya berdecak, "halah, elu udah di kasih gratisan masih aja ngelunjak!"


"Bukan ngelunjak gue," sangkal Riko tidak terima.


"Cuman kan gak etis aja, secara bos gue CEO," imbungnya kemudian sambil menekankan kalimat akhirnya.

__ADS_1


Vino yang dari tadi diam ia berujar, "bukan gua yang mau. Tapi dia," Vino mengarahkan dagu nya kearah Aldi.


"Sebenarnya gue dibayarin sama siapa 'sih?" tanya Riko penasaran.


"Gue lah," jawab Vino dan Aldi begitu kompak.


Riko menyipitkan matanya, "benar dugaan gue. Kalian sengaja ngajak gue gara-gara kalian dapat tiket gratis."


Vino tertawa, "kalau gak mau pulang lagi aja sonoh," ujarnya.


Aldi membuka mulutnya, hendak melontarkan kalimat yang lebih pedas dari Vino. Namun tiba-tiba seorang pria paruh baya yang terlihat nampak kebingungan membuat Aldi melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah pria itu. Aldi menduga pria itu merupakan orang suruhan Rainald yang datang untuk menjemputnya.


"Jang Aldi 'ya?" Tanya pria itu lebih dulu.


Aldi mengangguk sebagai jawaban, Mamang mau jemput kami 'kan?"


Vino dan yang lainnya langsung mendekat kearah Aldi. Kecuali Nakisya yang masih anteng.


Nakisya tersentak saat tangannya yang tiba-tiba di genggam oleh Aldi. "Gak usah pegangin aku," ketusnya menghentak kan tangannya, sehingga tangan Aldi terlepas.


Sebenarnya rasa kecewanya sudah hilang, saat mengetahui kalau kampung yang didatanginya sekarang ternyata dekat dengan laut. Nakisya memang sangat menyukai laut, dan bayangannya yang semula bermain salju, kini direvisi menjadi bermain pasir putih, dan berjemur di sisi pantai. Namun Nakisya masih sama dengan Nakisya yang dulu. Wanita yang memiliki gengsi yang tinggi.


Aldi tidak perduli dengan penolakan Nakisya yang kembali menepis tangannya. Ia lebih baik di bilang pria pemaksa daripada di cap sebagai pria yang tidak peka. Karena setaunya, setiap kata yang terlontar dari wanita yang sedang ngambek, itu merupakan kata kebalikannya. "Aku tuh pegangin kamu biar kamu gak terbang. Kamu kan bidadari," tuturnya yang kembali menggenggam tangan Nakisya.


Benar saja, sekarang Nakisya tidak lagi menepis tangannya. Aldi menggandeng Nakisya sampai kesamping mobil milik Rainald. Membuka pintu bagian penumpang, mempersilahkan Nakisya untuk naik lebih dulu ke mobil pajero hitam.


"Aa duduk di depan saja," ucap Naura yang tiba-tiba menarik ujung kupluk Aldi, sehingga pria itu sedikit merasa sakit pada bagian lehernya, karena Naura terlalu keras menariknya.

__ADS_1


"Eh, maaf," imbuhnya kemudian saat melihat tatapan Aldi yang menyorot tajam kearahnya.


Vino melihat itu tidak terima, "apa lo!" sentaknya pada Aldi.


Aldi menurunkan kembali sebelah kakinya yang sudah berada di mobil. "Leher gue sakit. Lo kasih makan adik gue apa sih? Jadi bar-bar gitu dia," ujar Aldi memegang lehernya.


Vino berdecak, "udah sih, cuma gitu doang. Kepala lo juga masih ditempatnya."


"Lagian kenapa sih, Yang? pake tarik-tarik dia segala. Kenapa gak sekalian di ceburin ke laut aja," ketusnya dengan sebelah ujung bibir yang ditarik keatas.


"Aku cuma mau duduk dekat Teh Kisya, biar nanti aku kasih tau tentang jalan yang menuju beberapa tempat wisata yang ada disini," ujar Nakisya sedikit merasa bersalah pada sang kaka karena lehernya jadi berbekas merah.


"Aa sakit banget, ya?" tanyanya kemudian.


"Yaiya lah. Lihat nih, merah 'kan?" jawab Aldi menunjuk pada lehernya.


"Yaudah kalau gitu kamu naik duluan," imbuhnya kemudian yang tidak ingin berdebat.


Setelah Nakisya dan Naura sudah duduk bersebelahan. Disusul Riko dan Nia yang duduk di kursi paling belakang. Kini Aldi mengangkat sebelah kakinya hendak duduk disamping Naura.


"Enak aja lo mau duduk disitu. Didepan sonoh, biar Pak Supir ada temen ngobrol," ujar Vino sambil menarik kupluk Aldi, sama seperti yang dilakukan oleh Naura tadi.


Aldi menghembuskan nafasnya berat. "Itu, adik ipar yang suka kurang ajar sama kakak iparnya. Tenggelamkan!" tuturnya sambil menunjuk kearah Vino.


Yes! besok otw mantai๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚


Like + Koment + Vote, biar semangat mantai nya๐Ÿ˜๐Ÿ˜…

__ADS_1


__ADS_2