Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Sayur Sop


__ADS_3

Jarum jam terus berputar, sudah hampir satu jam keduanya terus bergulat diatas ranjang. Aldi yang begitu kelaparan karena berpuasa selama tujuh hari, membuatnya seolah tidak merasa puas saat menyantap tubuh istrinya sekarang.


"Sayang... Aku cape," ucap Nakisya yang sudah beberapa kali melakukan pelepasan. Wajahnya dibuat memelas berharap suaminya segera menyudahi kegiatannya.


Aldi tersenyum, perlahan mencabut benda pusaka nya yang masih menancap. Meskipun bendanya itu masih belum berhasil dilumpuhkan, tapi Aldi tidak mungkin terus menuruti nafsunya sendiri, sedangkan istrinya sudah terlihat begitu kelelahan.


Aldi menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Tangannya menarik tubuh polos Nakisya, menyandarkan pada dada bidang miliknya.


"Abang... Aku bersih-bersih dulu." Nakisya langsung turun dari ranjangnya, memungut setiap potong pakaiannya yang berceceran karena Aldi tadi melemparkannya dengan asal.


Aldi mendengus kesal, padahal dirinya masih ingin bermesraan dengan Nakisya. Saling bertukar cerita saat tujuh hari kemarin keduanya tidak bersama.


Nakisya keluar dari kamar mandi, tubuhnya sudah kembali memakai pakaian yang tadi. "Aku mau praktek masak, takut keburu lupa," ujarnya yang langsung melangkah keluar.


Nakisya sudah berada di dapur. Tadi waktu menunggu Aldi mandi dirinya sempat menonton youtube. Ia memang memiliki cita-cita untuk menjadi istri idaman. Dan setaunya salah satunya harus pintar memasak. Namun berhubung dirinya sadar diri karena memang sama sekali tidak pintar dalam hal itu. Makanya sekarang ia akan belajar. Nakisya langsung membuka kulkas mengambil beberapa bahan yang di perlukannya sesuai resep yang tertera di youtube yang tadi di tontonnya. Rencananya ia akan memasak sayur sop, karena dari beberapa yang ia tonton, menu itu yang menurutnya paling gampang.


Sebelum memulai bertempur dengan peralatan dapurnya, Nakisya lebih dulu memasang apron untuk menutupi pakaiannya. Tidak lupa dia menggulung rambutnya, supaya tidak jatuh keatas masakan yang akan dibuatnya.


Sambil mengingat vidio yang tadi ditontonya. Nakisya memasukan satu persatu bahan yang sudah lebih dulu di potong kecil-kecil dan dicuci. Nakisya menyendok potongan daging dan sayuran untuk di tes kadar kematangannya, "kayaknya sudah matang," gumamnya.


Nakisya mematikan kompornya, setelah menambahkan garam karena dirasa sayurnya itu kurang asin. Dengan perlahan, ia menuangkan sayur yang masih panas itu pada mangkuk besar yang terbuat dari kaca.


"Aromanya wangi banget, kayaknya enak," tutur Aldi yang ternyata sudah berada di belakang tubuh Nakisya. Aldi memeluk tubuh istrinya, mengecupk leher jenjang istrinya yang tidak terhalang oleh rambut.

__ADS_1


Nakisya sontak memutar tubuhnya, menghadap sang suami yang masih bertelanjang dada karena Aldi hanya mengenakan celana pendek. "Abang ngagetin ih."


Aldi tertawa pelan, melihat ekspresi istrinya yang sedikit pucat karena kaget. Entah kenapa sekarang istrinya itu jadi mudah kagetan. Aldi mengusap kening Nakisya yang sedikit berkeringat, sepertinya istrinya itu sangat bekerja keras demi menghidangkan masakannya.


"Cobain yuk," ucap Nakisya langsung melangkah kearah meja makan, diikuti Aldi yang mengambil alih mangkuk sop.


"Sayang, udah jangan terlalu banyak, nanti meluber," ucap Aldi saat melihat Nakisya terus menuangkan sop kedalam mangkuk kecil.


Nakisya terus mengubek sop nya, "bentar, ini baru airnya, sayurannya belum." Sepertinya ia terlalu banyak menambahkan air. Pantesan saja tadi ia sedikit kesal menunggu airnya mendidih. "Pakai nasi ya, biar kenyang," imbuhnya kemudian hendak menuangkan nasi keatas sayur sop. Namun dengan cepat Aldi melarangnya.


"Nasinya dipisah aja," biar dia tau rasanya jadi aku yang kemarin dipisahin sama kamu," celetuknya asal, membuat Nakisya tertawa.


Nakisya mengambil piring, "apasih Abang, gak jelas tau," ucapnya, menuangkan nasi itu kedalam piring.


"Kenapa? Pasti gak enak ya?" tanya Nakisya yang menyadari perubahan raut wajah suaminya.


Aldi memaksakan senyumnya. Setelah menegak air putih ia kembali menyendok isi mangkuknya, "enak kok. Ini aku mau nambah lagi," ujarnya berbohong.


Nakisya tersenyum puas. Setelah ini ia akan lebih sering lagi menghidangkan sayur sop untuk suaminya. "yaudah habisin ya. Soalnya masih banyak di panci," ujar Nakisya sambil menambahkan sop itu kedalam mangkuk suaminya.


Bunyi ponsel Aldi membuat pria itu mengucapkan sukur dalam hatinya. Ia benar-benar akan berterimakasih pada orang yang menelfonnya, karena telah menyelamatkannya dari posisinya yang sekarang. "Sayang aku angkat telfon dulu ya," ujarnya yang langsung melangkah sedikit menjauh dari Nakisya.


"Kenapa gak disini aja sih ngangkat telfon nya?" gerutu Nakisya. Akibat terlalu sering melihat sinetron membuatnya sedikit curiga terhadap suaminya. "Padahal disini juga aku gak bakalan ganggu kamu kok," imbuhnya kemudian masih begitu kesal, sambil menyuap kan makanan bekas Aldi kedalam mulutnya.

__ADS_1


"Astaga. Ini kok bisa asin banget kayak gini, padahal tadi aku cuma nambahin tiga sendok garam." Nakisya melirik Aldi yang sedang ngobrol entah dengan siapa, tapi posisi suaminya itu sedang membelakangi tubuhnya. Tanpa membuang waktu, Nakisya langsung berlari kearah wastafel, memuntahkan semua isi di dalam mulutnya. Tidak lupa ia juga membuang semua isi mangkuknya.


Nakisya kembali duduk, dan menyimpan kembali mangkuknya, "tapi kok tadi Bang Al bilang kalau ini enak," gumamnya dalam hati. Nakisya menyunggingkan senyumnya, tiba-tiba ide usil terlintas di kepalanya.


Aldi yang baru kembali, ia mengusap dadanya lega setelah melihat mangkuknya sudah kosong. Berarti dirinya tidak perlu menyakiti lidahnya lagi. "Sayang kamu sudah makannya? Kita ke ruang tengah yu. Aku mau ngasih tau kamu sesuatu," ucapnya sambil menarik pergelangan tangan Nakisya.


"Ada apa sih? Kenapa gak ngomong disini aja? Lagian kan tadi kamu baru makan sedikit, jadi sekarang harus makan lagi. Mubazir kan kalau masakan aku gak habis." Nakisya menuangkan kembali sop nya kedalam mangkuk yang sudah kosong itu. "Cepetan makan," imbuhnya kemudian sambil mendorong mangkuk itu kearah suaminya.


"Emmm... Anu... Aku."


Nakisya melipat tangannya diatas dada, wajahnya memberengut, "sepertinya masakan aku memang gak enak ya? makanya kamu gak mau habisin ini."


Aldi menatap bersalah pada istrinya, "kata siapa, enak kok. Ini aku mau habisin." Aldi langsung menyendok makanannya. Suapan demi suapan sudah masuk kedalam mulutnya. "Tadi katanya masih ada di dalam panci, tolong ambilkan ya, aku mau habisin," imbuh Aldi kemudian sambil melemparkan senyumnya pada Nakisya.


Tanpa sadar butiran bening langsung meluncur dari sudut mata Nakisya. Dengan cepat dia menahan tangan suaminya yang hendak makan, "kenapa Abang berbohong? padahal itu rasanya asin banget. Kalau Abang keracunan gimana?" Nakisya menatap dalam wajah Aldi. ia sungguh sangat bersalah telah mengerjai suaminya.


Aldi tersenyum, mengusap punggung Nakisya yang masih menempel di tangannya, "bukannya berbohong memang jadi pilihan, saat kita takut untuk berkata jujur."


Aldi menatap dalam manik coklat Nakisya. Rasa penasaran yang masih bersarang pada kepalanya sudah tidak bisa di pendam lagi. Dia benar-benar ingin mengetahui rahasia apa yang sedang di tutupi istrinya.


"A... Aku sebenarnya kemarin..."


Bersambung...

__ADS_1


Like + Koment + Vote juga, ya 😊🤗🤗


__ADS_2