Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Hamil


__ADS_3

Setelah satu jam lebih Aldi memanjakan tubuh Nakisya. Sekarang Aldi menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh polos Nakisya yang berada di dekapannya. "Cape banget ya?" godanya.


Nakisya begitu lemas, bahkan sekedar untuk membuka matanya, ia tidak kuasa. Aldi sungguh sukses membuatnya beberapa kali melakukan pelepasan. "Kamu tega," cicitnya.


Percintaannya kali ini benar-benar membuatnya terasa melayang, tubuhnya terus menggelinjang hebat. Meskipun begitu Nakisya sangat menyukainya, dan sekarang resikonya ia begitu kelelahan.


Aldi terkekeh. "Masih mau menganggap ada pria yang bisa lebih hot dari aku?" Aldi mengusap pelan wajah Nakisya yang masih saja memejamkan matanya.


Bulu halus Nakisya kembali meremang, saat merasakan tangan Aldi yang mulai turun ke bagian sensitifnya. "Abang paling hot," jawabnya dengan suara lirih.


***


Dua bulan sudah setelah Aldi dan Nakisya resmi menikah. Hari ini Aldi selesai menghadiri pertemuan dengan salah satu klient nya. Dan ia tidak sengaja berpapasan dengan Vino dan Riko di sebuah pusat perbelanjaan terbesar di kota nya.


Aldi menyunggingkan senyumnya, "berdua aja kalian. Udah pada bosen ya, sama bini kalian di rumah?"


Vino merotasikan matanya. "Gue terpaksa nganter dia kesini. Gara-gara istrinya ngidam beli daleman yang sama kaya Naura, tapi dia maksa minta gue nganterin dia," jawab Vino dengan malas.


Aldi mengerutkan keningnya, "ngidam beli daleman yang sama? Emang kapan Nia liat punya Naura?" tanya Aldi begitu bingung dengan ngidam istri sahabatnya.


"Dulu waktu liburan bareng, katanya gak sengaja lihat waktu Naura mau ganti baju, terus sekarang dia keinget," jawab Riko. Ia masih sangat malu saat menanyakan daleman itu pada salah satu penjaga toko yang merupakan seorang wanita.


"Eh bentar. Jadi sekarang istri lo hamil?" tanya Aldi seolah baru sadar dengan ucapan sahabatnya. Wajahnya terlihat ikut merasakan kebahagiaan.


"Selamat ya Bro. Udah mau jadi Papa aja lo," imbuhnya kemudian. Merangkul Riko sambil menepuk beberapa kali di punggung pria itu.


Riko membalas rangkulan Aldi. Kali ini kedua sahabat itu begitu terlihat akur. Tidak seperti biasanya yang saling mencela dan menghujat.

__ADS_1


"Kok gue jijik ya, liat kalian mesra kayak gitu," celetuk Vino refleks membuat keduanya saling melepaskan pelukannya. Padahal dia juga tadi melakukan hal yang sama untuk memberikan selamat kepada sahabatnya itu. Hanya saja sekarang posisi ketiganya berada di tempat umum. Vino tidak nau orang lain menganggapnya orang ketiga yang berada di antara dua orang yang sedang berpelukan.


Riko mendelik kearah Vino. Namun ia kembali mengalihkan tatapannya pada Aldi. "Ngomong-ngomong Kisya udah hamil belum?"


Aldi sejenak tertegun, "iya juga ya. Padahal kan gue sama lo duluan gue nikahnya. Tapi kok Kisya gak ada bilang kalau dia sudah hamil."


Vino menatap remeh pada Aldi. "Lo gak mampu kali, bikin dia hamil. Makanya sampai sekarang dia belum hamil."


Aldi mengerutkan keningnya, "emang harus gimana cara bikin istri hamil. Bukannya setiap malam gue selalu gencar menanamkan benih dirahim Kisya," gumamnya dalam hati.


Seolah mengerti dengan raut wajah Aldi. Vino berujar dengan wajah songongnya, "kalau lo mau tau cara jitu biar istri lo cepet hamil, lo boleh kok konsul ke gue. Free."


Aldi berdecak. Tanpa memperdulikan omongan Vino, ia menatap Riko. "Emang ciri-ciri pas lo tau kalau Nia hamil. Itu gimana?"


***


Tanpa mengetuk pintu, Aldi melangkah menuju dapur, biasanya tiap jam segini istrinya itu sedang sibuk berkutat didepan kompor. Namun ternyata tidak ada. Aldi memutar tubuhnya, ia melangkah menaiki anak tangga, mungkin istrinya itu ada di dalam kamar. "Kisya? Sayang?" teriaknya. Namun ternyata istrinya itu tidak ada. Suara Air keran terdengar di telinganya. "Sayang kamu kenapa?" tanyanya saat melihat kalau Nakisya sedang berjongkok di depan wastafel. Wajahnya terlihat pucat.


Nakisya memegang kepalanya. "Aku pusing," jawab Nakisya dengan tubuh yang sedikit limbung.


Aldi mengangkat tubuh Nakisya ala bridal. Membawan tubuh itu dan membaringkannya dengan perlahan di atas ranjang. "Ciri-ciri kedua. Wanita hamil sering muntah-muntah dan pusing," gumam Aldi dalam hati. Mengingat satu persatu perkataan Riko.


Rasa panik Aldi saat melihat kondisi Nakisya, bercampur dengan rasa bahagianya. Apa mungkin, kalau ternyata istrinya juga sedang hamil muda? Toh gejalanya sama dengan yang disebutkan Riko tadi.


Aldi memberikan air minum kepada Nakisya. "Kita periksa ke dokter yu?" ajak nya kemudia. Tangan Aldi sudah berada di belakang tengkuk Nakisya, sebelahnya lagi berada di belakang paha Nakisya. Ia bersiap akan mengangkat Nakisya untuk membawanya ke dokter.


"Aku gak mau, aku gak papa kok. Mungkin aku cuma kecapekan. Istirahat bentar juga sembuh," tolak Nakisya berusaha turun dari gendongan Aldi. Akhir-akhir ini, Nakisya memang sedang dimasukkan dengan tugas kampusnya yang menumpuk. Dia juga sering meninggalkan makan siangnya. Nafsu makannya juga menjadi menurun.

__ADS_1


"Aku beneran gak mau," lirihnya kemudian.


Aldi kembali menurunkan Nakisya. Gak papa kalau Nakisya tidak mau dibawa untuk diperiksa, toh ia bisa memanggil dokter untuk datang dan memeriksa keadaan Nakisya di sini.


"Kamu udah makan belum?" tanya Aldi. Raut wajahnya semakin khawatir melihat kondisi Nakisya yang terlihat sangat lemas.


Nakisya mengangguk, sebagai jawabannya. Padahal sebenarnya dia sama sekali belum makan siang.


"Yaudah, aku panggil dokter dulu." Aldi langsung bergerak mengambil ponselnya yang berada di dalam jas yang tergeletak diatas sofa.


"Eh, gak usah," ucap Nakisya dengan lirih. Namun percuma, ternyata suaminya itu sudah berbincang dengan seseorang melalui ponselnya.


Aldi memutuskan panggilannya. Ia kembali melangkah kearah Nakisya. "Kamu istirahat dulu. Sebentar lagi dokternya sampai. Kebetulan tempatnya dekat dari sini."


Nakisya sedikit gelisah. Namun kepalanya yang semakin trasa berat, membuatnya memutuskan untuk memejamkan mata.


Selang beberapa menit. Dokter yang dihubungi Aldi sudah sampai di kamar Aldi.


Dokter wanita setengah paruh baya yang masih terlihat cantik itu langsung memeriksa beberapa titik pada tubuh Nakisya. "Sejak kapan Nyonya Kisya seperti ini?" tanyanya pada Aldi.


Sejenak Aldi mengingat, "beberapa hari kebelakang istri saya suka mengeluh sakit kepala. Dan dia juga tidak mendapatkan tamu bulanan nya. Atau jangan-jangan istri saya..."


Dokter wanita itu tersenyum, "tidak menstruasi ya?" tanyanya yang kembali mengecek bagian pergelangan dan warna kulit Nakisya.


Aldi sedikit deg-degan dengan hasil pemeriksaan dokter wanita itu. jika dilihat dari kondisi istrinya, tentu Aldi sudah dapat menebak kalau istrinya tengah hamil. Tapi dia ingin mendengar secara langsung dari mulut dokter itu.


Baiklah, kita tunggu pemeriksaannya dulu ya 😁😍😍

__ADS_1


Like + Koment + Vote dong.... 😉😉


__ADS_2