Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
GPS


__ADS_3

"Bang, Al!"


Mendengar sang anak yang tengah membentak calon menantunya, Widya yang tidak tau apa-apa, setelah selesai membuat susu formula, wanita itu langsung kembali ke ruang keluarga dimana Nakisya dan Aldi berada. "Eh, jangan teriak-teriak sama calon suami. Kamu harus sopan dan mulai belajar patuh dari sekarang."


"Tapi Bunda-,"


ucapan Nakisya terhenti saat Widya melotot tajam ke arahnya. "Kalau di bilangin jangan ngelawan, ingat satu bulan lagi kamu bakalan jadi seorang istri, jadi harus belajar dari sekarang," tegas wanita itu kembali memberi peringatan pada putrinya.


Aldi mengulum senyumnya, "ingat tuh, nurut oke," bisik lelaki itu dengan wajah menyeringai yang terlihat sangat menyebalkan.


"Ini botol susunya, mimi yang banyak ya, Sayang," ucap Widya sambil memberikan botol susu itu pada Zia.


"Pinter ya, ternyata dia udah bisa pegang botol sendiri. Dulu waktu Bunda maen ke rumahnya, dia belum bisa," ujar wanita itu trus menceritakan saat dia maen ke rumah Naura karena diajak mamanya Vino yang merupakan oma dari baby Zia.


"Oh jadi Bunda udah lebih dulu ketemu sama baby Zia dong?" tanya Nakisya.


"Iya dong, tapi Bunda heran, sama Bunda yang udah pernah ketemu Zia gak mau di gendong, tapi sama kamu yang baru ketemu tadi kok langsung nempel gitu ya?"


Suara bel berbunyi, membuat salah satu asisten rumah tangga di rumah Nakisya langsung tergopoh-gopoh untuk membuka benda ganda yang terbuat dari kayu.


"Siapa ya, yang datang?" tanya Nakisya penasaran.


"Palingan juga ayah kamu," jawab Widya dengan santai mengingat suaminya yang sudah mulai bekerja lagi.


"Selamat siang, semuanya."


Nakisya dan Widya langsung mendongak pada asal suara. Ternyata seorang wanita yang di susul pria sedang melangkah ke arah mereka.


"Naura?" ucap Widya yang langsung menyambut kedatangan wanita yang merupakan ibu dari bayi yang sedang di pangku oleh Nakisya.

__ADS_1


Naura langsung menjabat tangan Widya, disusul oleh Vino yang melakukan hal serupa.


"Maaf ya, pasti Zia udah bikin semuanya jadi repot," ucap wanita itu yang langsung mendekat ke arah sang bayi.


"Zia gak rewel kan?"


"Rewel banget dia, haduh aku sampai cape." Aldi langsung menjawab dengan ekspresi seolah-olah yang di katakannya itu benar.


"Apaan, boong banget Bang Al," ujar Nakisya yang langsung mengatakan kalau Zia sebenarnya sangat anteng.


"Kok Kak Naura bisa tau kalau baby Zia ada di sini? Kata Bang Al gak ngasih tau," tanya gadis itu setengah berbisik pada Aldi, namun semua orang dapat mendengarnya.


Vino yang dari tadi diam, akhirnya lelaki itu mengeluarkan suaranya, "gampang dong cari Zia. Selagi dia masih pakai gelang itu, Kita bisa menemukannya," jawab pria itu sambil tersenyum ke arah Nakisya.


Nakisya mengerutkan keningnya, "hanya dengan gelang? Kok bisa?" tanya gadis itu mulai penasaran.


"Gelangnya sudah di pasang gps sama Mas Vino," kali ini Naura yang menjawab.


Gadis itu langsung terdiam, sambil memperhatikan gelang yang dia pakai, gelang pemberian dari Aldi beberapa bulan yang lalu, saat keduanya belum di jodohkan.


"Oh, jadi karena benda ini, Bang Al waktu itu bisa tau kalau aku ada di hotel, terus kemarin waktu ketemu di mall, kayaknya emang Bang Al juga udah tau kalau aku ada di sana, jadi itu semua bukan kebetulan," gumam Nakisya dalam hati.


Menyadari sikap Nakisya yang mendadak diam, Aldi langsung memegang pundak gadis itu. "Hey," ucap Aldi yang berhasil menyadarkan Nakisya dari lamunannya.


"Yaudah kalau gitu, kami pamit dulu ya, Tante, Kisya," ucap Naura yang langsung mengambil tas perlengkapan bayi milik Zia.


Widya mengangguk, tersenyum kearah Naura, "iya, tapi janji ya harus sering-sering main kesini, biar Kisya bisa belajar ngurus bayi."


"Oh iya, kan katanya Naura suka morning sicknes ya? Gimana kalau tiap pagi baby Zia di titip disini aja," ujar Widya dengan sungguh-sungguh.

__ADS_1


"Terima kasih, Tante. Tapi itu akan sangat membuat kalian repot nantinya. Kebetulan juga Mama Anita tadi sudah pulang dari luar kota, jadi mulai besok baby Zia gak akan ikut papinya lagi ke kantor." Naura merasa tersanjung dengan tawaran calon mertua Aldi. Namun dirinya tidak mungkin kan, membebankan anaknya pada orang lain, dan memang yang di katakannya tadi itu benar adanya.


Setelah mengantar Naura dan Vino keluar rumah, Widya langsung pergi entah kemana, wanita itu hanya mengatakan kalau dirinya ada perlu di luar. Dan kini tinggallah Aldi dan Nakisya berdua berada di rumah itu, karena beberapa asistennya juga sedang sibuk di belakang.


"Apa maksud Bang Al pasang ini?" tanya Nakisya sambil menunjuk ke arah gelang yang melingkar di pergelangan tangannya.


Aldi hanya tersenyum, lelaki itu mendekatkan tubuhnya ke arah Nakisya, "biar aku gampang untuk mengetahui dimana keberadaan kamu," jawab lelaki itu dengan jujur apa adanya.


"Bilang aja Abang gak percaya sama aku. Dengan cara begini sama aja kaya Abang secara tidak langsung ngikutin aku," ujar gadis itu dengan nada suara yang mulai meninggi.


Dengan cepat Aldi menyanggah semua tuduhan Nakisya, "Abang gak ada tujuan seperti itu, Abang ngelakuin itu memang benar-benar bertujuan untuk mengetahui keberadaan kamu kalau kamu gak bisa di hubungi."


"Kalau memang seperti itu, kenapa Kamu gak ngomong dan nyeritain dengan jujur tentang fungsi gelang ini!" ujar Nakisya dengan wajah yang semakin merah padam karena amarah. Bahkan kini panggilannya kepada lelaki itu sudah berubah menjadi kata 'kamu.'


"Aku bukan Zia yang masih bayi, yang diam-diam di pasang alat seperti ini." Napas Nakisya semakin memburu. "Aku sudah dewasa!" imbuhnya kemudian yang langsung berusaha untuk melepaskan gelang itu.


Ternyata benar yang di katakan Aldi, gelang ini memang permanen dan tidak dapat di lepas, sehingga Nakisya benar-benar susah untuk melepasnya. Namun gadis itu tidak menyerah, dia masih terus menarik gelang emas yang berbentuk rantai kecil itu, berharap bisa terlepas dari pergelangan tangannya.


Aldi langsung menahan tangan Nakisya untuk berhenti melakukan itu, "lengan kamu bisa terluka, jadi berhenti ngelakuin ini!" Tanpa sadar Aldi menyentak gadis itu, dirinya begitu panik saat melihat pergelangan tangan Nakisya mulai tergores oleh benda itu.


Nakisya mendorong kasar tubuh Aldi, namun kekuatannya yang tidak sebanding dengan tubuh lelaki itu, sama sekali tidak membuat Aldi berpindah dari posisinya.


"Lepas!" sentak gadis itu saat Aldi tiba-tiba langsung memeluk tubuhnya.


"Aku benar-benar gak ada niat lain selain buat ngelindungi kamu, Sayang," lirih lelaki itu yang seketika membuat gadis itu terdiam.


"Aku memang sudah memiliki hati Kamu, dan kemanapun aku pergi hati kamu akan ikut bersamaku, namun tidak ragamu, aku yang masih belum sepenuhnya bisa selalu bersama kamu untuk menjaga kamu, hanya itu yang bisa aku lakukan, agar aku bisa tenang saat mengetahui keberadaan kamu."


Ya, Aldi memang selalu memantau Nakisya melalui alat itu, dia sendiri yang selalu memastikan dimanapun keberadaan gadisnya itu saat berada di luar rumah dan di luar lingkungan kampus. Kalaupun dirinya sedang sibuk, Aldi selalu menyuruh orang suruhannya untuk memantau gadis itu supaya tidak terjadi apa-apa pada calon istrinya. Terdengar cenderung ke posesif memang, tapi Aldi melakukan itu karena dirinya benar-benar menyayangi Nakisya dan tidak mau terjadi hal buruk terhadap kekasihnya itu.

__ADS_1


Ah lebay! Bucin mah bucin we atuh, Bang AlπŸ˜œπŸ˜‚πŸ˜‚


Masih seperti biasa, jangan lupa jempolnya ya, kalau bosen cuma diminta jempol, sekalian deh sama koment,(next aja kalau bingung mau ngoment apa)πŸ˜πŸ™πŸ™


__ADS_2