
"Abang, nanti Zia bangun."
"Makanya kamu jangan berisik," ujar Aldi dengan pelan.
"Tapi, empt-," Nakisya sudah tidak bisa menolak serangan Aldi yang tiba-tiba membekap mulutnya dengan bibirnya.
Takut Zia bangun, Nakisya berusaha mendorong dada pria yang sedang memangku nya, tapi tidak sedikitpun membuat Aldi melepaskan pagutannya.
Sebelah tangan Aldi menggenggam kedua tangan Nakisya. Sebelahnya lagi mendorong bagian tengkuk Nakisya, untuk memperdalam ciumannya.
Nakisya hanya pasrah, menyambut baik setiap perlakuan Aldi. Tangannya dikalungkan pada leher suaminya. Awalnya kedua bibir itu hanya saling menempel, tapi berubah saling menyesap lembut dan berujung menjadi saling melum4t kasar. Nakisya memejamkan matanya, dengan leluasa Aldi mengobrak-abrik rongga mulut Nakisya, mengabsen semua inci didalamnya.
Nakisya mendesah pelan, saat tangan Aldi mulai merayap melalui pahanya. Menerobos menuju lubang belut. Aldi tersenyum, saat satu jarinya merasakan kalau lubang itu mulai basah, itu berarti belutnya nanti akan mudah masuk ke tempatnya. Tangannya berhenti, beralih keatas membuka kain putih yang menutupi tubuh Nakisya. Hingga terpangpang jelas, buah yang selalu menjadi favorit Aldi. Ia segera mengecek buah yang dari tadi dibungkus Nakisya. Seolah takut ada sesuatu yang mengotori buahnya, Aldi mengusap setiap bagian buah itu, termasuk meremas buah yang sedikit empuk itu. Sepertinya buahnya sudah masak, dan tanpa menunda lagi Aldi langsung melahapnya, mencium disetiap inci buah, sehingga meninggalkan bekas merah.
Nakisya menggigit bibir bawahnya, saat Aldi menghisap dibagian ujung buahnya yang berwarna merah muda.
Ada rasa geli yang dirasakan Nakisya, tapi dia sangat menikmatinya.
Aldi mendongak, terlihat wajah Nakisya yang seperti meminta lebih dari yang barusan dilakukanya. Tapi Aldi masih belum puas, ia kembali memainkan buah kembar dan lubang belut itu sekaligus dengan kedua tangannya.
"Akhhh," Nakisya mengeluarkan desahannya yang sudah tidak dapat lagi ditahannya. Nakisya sudah mendapatkan pelepasan pertamanya.
Sekarang tinggal Aldi yang belum. Perlahan ia membaringkan tubuh Nakisya, diatas sofa yang tidak terlalu panjang, tapi masih nyaman untuk tempat percintaannya sekarang.
Nakisya kembali memejamkan matanya, saat perlahan belut jumbo itu mulai masuk kedalam lubangnya.
Aldi melirik Zia sekilas. Senyumnya terbit, sepertinya balita itu benar-benar sudah terlelap dan memberikannya izin untuk melanjutkan misinya. Aldi membuka satu persatu pakaiamnya, melemparkannya entah kemana. Perlahan ia menempelkan belutnya dan mendorong masuk belut itu. Dari kecepatan sedang sampai begitu cepat, Aldi mendorong dan menarik belutnya.
__ADS_1
Beberapa menit sudah berlalu, tapi Aldi masih belum sampai. Sedangkan Nakisya sudah mulai terlihat lelah. Aldi meraih buah favoritnya memainkan buah itu untuk membangkitkan hasrat Nakisya.
Nakisya semakin meracau, membuat Aldi semangat menambahkan kecepatannya.
"Akhh...." erang keduanya saat merasakan kenikmatan surganya dunia. Namun sepertinya erang keduanya terlalu keras. Terbukti dengan Zia yang menangis, mungkin balita yang sedang terlelap itu kaget.
Nakisya langsung memakai handuknya yang untungnya tidak jauh dari posisinya. Ia segera memangku Zia yang sudah duduk dengan pipi mungilnya yang banjir dengan air mata.
"Mamaa," teriak Zia. Setelah beberapa jam ia bersama Aldi dan Nakisya, baru sekarang balita itu memanggil Naura. Mungkin Zia merasa ditinggalkan oleh dua orang dewasa yang tadi menemaninya tidur.
Setelah berhasil mendapatkan celananya yang ternyata ada di dekat pintu, Aldi segera memakai celana pendeknya. Ia sedikit menyesali perbuatannya tadi yang terlalu semangat melemparkan celananya.
Pintu terbuka, menampilkan sosok Vino yang juga sama hanya mengenakan celana pendek yang terlihat sedikit aneh. Aldi tidak perduli untuk memikirkan celana Vino. Ia yang masih ada di depan pintu, segera mendorong pintu itu dan menguncinya, karena tidak mau orang lain melihat istrinya yang hanya mengenakan handuk. Aldi mendengar umpatan dari Vino, karena ia terlalu keras mendorong pintunya, mungkin kening Vino terbentur. Aldi tidak perduli, ia begitu menyesal karena tadi tidak sempat mengunci pintu dulu. Aldi membungkukan tubuhnya, untuk menganbil kaos pendek yang ternyata ada di bawah kolong meja. Dengan cepat memakai kaos itu, dan segera mengambil alih Zia dari gendongan Nakisya.
"Sayang, cepat kamu pakai baju," titahnya pada Nakisya, yang langsung dituruti oleh Nakisya yang segera mengambil pakaiannya ke dalam kamar mandi.
Zia masih menangis, mungkin karena balita itu benar-benar kaget, ditambah saat matanya terbuka Zia melihat kehebohan yang terjadi.
"Anak manis, anak cantik, diem ya sayang. Nanti kalau kamu udah gede Om Aldi belikan kamu ponsel baru, tapi diem ya," ucapnya mengusap kepala Zia sambil melangkah kearah pintu.
Setelah pintu terbuka, Vino langsung menyerobot masuk, takut kalau pintunya kembali ditutup. "Lo apain anak gue, sampai nangis kayak gini?" tanya Vino langsung mengambil alih Zia.
Vino menatap wajah Aldi yang terlihat sedikit berkeringat di bagian kening dan ternyata celana yang dikenakan Aldi terbalik. "Jangan bilang lo habis iya-iya didepan anak gue?" kali ini Vino bertanya dengan suara pelan, takut putrinya semakin ketakutan.
"Tadi Zia udah tidur. Makanya gue berani iya-iya." Aldi balik menatap Vino, ternyata penampilan pria itu lebih parah darinya. Vino tidak memakai baju, hanya mengenakan celana pendek yang begitu pas di tubuhnya. Aldi yakin kalau itu celana tidur milik Nakisya.
"Halah, elo yang parah! Mentang-mentang anak lo yang satu gak ada lo malah ngambil kesempatan buat iya-iya. Durhako lo jadi bapak."
__ADS_1
"Tapi gue gak berisik. Gak kaya lo, yang suaranya sampai terdengar ke kamar gue." Vino melengos, memutar tubuhnya menuju kamar, karena Zia masih memanggil nama maminya.
Vino begitu kesal, karena dia dan Naura belum sampai ke puncak nirwana. Sebenarnya hanya tinggal satu hentakan untuknya sampai ke pucuk. Namun Naura mendorongnya sekuat tenaga menyuruhnya untuk mengecek Zia, jadi Vino terpaksa meredam keinginannya itu.
Aldi mengangkat kedua bahunya acuh. Meskipun tadi hanya satu ronde, tapi seenggaknya dia sudah puas.
***
Malam yang penuh drama itu sudah berganti menjadi pagi. Terlihat dengan sang raja tata surya yang begitu gagah menampakan dirinya di ufuk timur. Aldi mengecup kening Nakisya, "selamat pagi istri cantik ku," ucapnya dengan suara serak khas bangun tidur.
Sebenarnya keduanya baru tidur beberapa jam setelah shubuh. Karena Aldi kembali mengajak istrinya untuk berolahraga malam.
Terdengar suara beberapa orang dari arah pintunya. Membuat Aldi dengan terpaksa turun dari ranjang dan melangkah kearah pintu.
"Ada a-,"
"Lo mau ikut kagak? buruan!" Riko melontarkan kalimatnya, membuat Aldi semakin mendelik kesal.
Aldi belum tau kemana tujuan sahabatnya, ia juga tidak perduli. "Gue gak mau ikut," ucap Aldi hendak kembali menutup pintunya.
Riko mengangkat bahunya acuh, setelah pintu itu tertutup Riko berujar, "Gue sama Vino mau ke Green Canyon." Riko menaikan Volume suaranya supaya Aldi dapat mendengar kalimatnya.
"Green Canyon bukannya di Amerika ya, Kak?" tanya Nakisya yang langsung membuka pintu kamar.
Riko memutar tubuhnya, "disini juga ada, lebih keren malah. Kata Naura sih, makanya gue penasaran."
Baru di part ini gw gak kejam sama Bang Alππ
__ADS_1
Kuy ah,, Green Canyon ππ
Like + Koment + Vote, ya π€ππ