Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Mie instan


__ADS_3

Jarum jam sudah menunjukan pada angka sebelas malam. Namun mata Nakisya masih belum dapat dipejamkan. Dia rindu dengan suaminya. Apalagi keadaan diluar yang tengah hujan, dia jadi menginginkan pelukan hangat suaminya. Namun untuk sekedar menanyakan sedang apa pada suaminya, Nakisya tidak bisa, karena Bagas sudah menyita ponselnya.


Nakisya kembali memejamkan matanya. Hawa dingin dari luar dan suara petir yang menyambar pada kaca jendela, membuatnya menarik rapat selimutnya karena takut. "Astagfirulloh." Nakisya kaget saat suara jendela itu terdengar dengan cukup keras. Bukan getaran, tapi lebih terdengar seperti ada yang mengetuk.


"Jangan-jangan itu alien," gumamnya lirih. Nakisya memukul pelan kepalanya sendiri. "Kok aku kaya anak gendut di acara kartun sepeda terbang sih, yang dikit-dikit ngira ada alien," ucapnya tanpa sadar di tengah rasa takutnya.


Suara ketukan di kaca jendelanya kembali terdengar. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Nakisya perlahan melangkah, menyingkap sedikit tirai pada jendelanya. "Bang Al," gumamnya yang langsung menyingkap seluruh tirainya.


"Abang ngapain kesini?" tanyanya setelah membuka pintu samping jendela. Nakisya memindai tubuh Aldi dari ujung kepala sampai ke kaki. "Baju kamu basah semua," imbuhnya kemudian yang langsung melangkah diikuti suaminya kedalam kamar.


Aldi yang benar-benar kedinginan, ia langsung memeluk tubuh Nakisya. Membuat wanita itu memukul pelan punggungnya.


"Abang, baju aku jadi basah," pekiknya berusaha mendorong tubuh sang suami.


Aldi memberengut, "Abang tuh lagi kedinginan, kamu malah mikirin baju yang basah," ujarnya yang langsung melepaskan pelukannya.


Nakisya terkekeh. "Lagian siapa suruh maen hujan-hujanan," ucap Nakisya yang langsung melangkah membawakan handuk untuk suaminya.


"Aku kan kangen sama kamu. Sampai rela manjat pohon mangga tetangga, biar bisa nyampe kesini," tuturnya dengan wajah yang terlihat sedih.


Nakisya menatap sendu wajah suaminya, "uluh kacian. Yaudah sini peluk lagi," ujar Nakisya sambil merentangkan tangannya.


Aldi langsung tersenyum, dengan segera dia langsung menarik tubuh sang istri. Dipeluknya tubuh yang dirindukannya dengan sangat erat.


"Sayang... Aku gak bisa napas," ucap Nakisya yang sontak membuat Aldi melepaskan pelukannya.


"Maaf," lirih Aldi sambil menunjukan deretan gigi putihnya. "Sayang, baju kamu jadi basah semua, aku buka ya," imbuhnya kemudian.


Nakisya mengangguk, membuat Aldi tersenyum. Dengan cepat Aldi membuka satu persatu pakaian Nakisya. Dan setelah semuanya terlepas, ia beralih membuka pakaian miliknya sendiri.


"Abang... Kalau mau bilang dulu dong," pekik Nakisya saat Aldi langsung mengangkat tubuhnya menuju kearah ranjang.


Aldi yang sudah tidak tahan menahan rasa kangen dan hawa dingin pada tubuhnya, pria itu langsung melancarkan aksinya. Perlahan tangannya dan bibirnya mengabsem setiap inci tubuh Nakisya, membuat Nakisya terbuai dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan olehnya.


Perjuangan Aldi memanjat pagar dan pohon milik tetangga Nakisya, ternyata tidak sia-sia. Sekarang tubuhnya kembali lemas saat berhasil kembali memanjat tubuh istrinya.

__ADS_1


"Sayang, aku lapar," ucap Aldi setelah dirinya berhasil membuat Nakisya terkulai dibawah tubuhnya.


Nakisya melirik kearah jam dinding. "Sudah jam satu, Bang. Makanan juga sudah dingin."


Mie instan juga gak papa deh, lapar banget nih," ucap Aldi sambil menatap wajah istrinya sendu.


"Emang belum makan tadi?"


Nakisya langsung bangun dan memakai pakaiannya, saat kepala Aldi menggeleng sebagai jawaban atas pertanyaannya.


Nakisya terlihat bingung saat dirinya sudah berada di dapur. Dirinya langsung mencari mie instan. "Untung ada," ucapnya yang langsung mengambil satu bungkus mie instan yang hanya ada satu. Nakisya yang sama sekali belum pernah memasak, membuatnya sedikit kebingungan. Ingin membangunkan pembantu kasian. Minta tolong sama Widya tidak mungkin.


"Kamu sedang apa?"


Nakisya langsung memutar tubuhnya, saat suara Widya membuatnya tersentak. "Kisya lagi masak mie buat-,"


Ia langsung menghentikan kalimatnya, saat menyadari dirinya yang hampir keceplosan. "Buat Kisya sendiri, soalnya lapar," lanjutnya kemudian dengan wajah yang terlihat gugup.


"Tumbenan kamu mau makan malam-malam. Lagian sejak kapan kamu suka makan mie instan?" tanya Widya yang merasa aneh dengan gelagat Nakisya.


Nakisya tersenyum, "bisa dong, kan setelah nikah Kisya jadi belajar banyak," jawabnya yang langsung mengisi air kedalam panci kecil.


Widya menekuk bibirnya kebawah. Setelah mengisi gelasnya, wanita itu langsung kembali kekamarnya.


"Nih mie nya." Nakisya langsung menyodorkan mangkuk yang masih mengepulkan uap panas itu kepada suaminya.


Aldi nampak semangat, "katanya waktu itu kamu gak bisa masak?" tanya Aldi setelah mengambil alih mangkuknya.


"Nakisya duduk dihadapan Aldi. "Kalau cuma masak mie aku bisa, kan ada cara penyajiannya di belakang bungkusnya.


Aldi mengangguk, kemudian mengaduk mie nya. "Kok gak pake telur sama sayur," tanyanya sambil terus mengaduk mienya, berharap apa yang dicarinya bisa ditemukan.


Nakisya mengerutkan keningnya, "nah itu dia. Aku kan udah ngikutin semua cara penyajiannya dengan benar, tapi pas jadi kok hasilnya beda sama gambar yang terpajang di depan kemasan."


Aldi menghela napasnya, "sayang, kamu pernah masak sama makan mie gak sebelumnya?" tanya Aldi dengan datar.

__ADS_1


Nakisya menggeleng, "belum pernah."


***


Pagi sudah menyapa, menggantikan malam yang begitu indah bagi kedua pasangan yang saat ini masih terbaring saling berpelukan diatas tempat tidur, dengan selimut tebal yang menutupi tubuh polos keduanya.


Semalam, setelah terjadi acara suap-suapan, keduanya kembali melakukan olahraga malam.


"Kisya,, bangun!" suara dan bunyi ketukan dari pintu kamar, membuat keduanya tersentak dari tidurnya.


"Bunda," ucap Nakisya yang kaget karena takut ketahuan sedang bersama suaminya.


Aldi yang juga tak kalah kaget dengan sang istri, ia segera mengambil kaus dan langsung memakainya.


Nakisya yang panik, dia hanya memakai handuk yang posisinya lebih dekat dengan tubuhnya.


Takut sang bunda curiga, Nakisya langsung melangkah membuka pintu, setelah sempat melirik kearah pintu balkon, memastikan kalau suaminya sudah keluar. "Iya Bunda, Kisya udah bangun kok. Ini mau mandi," ucapnya sambil memegang handuknya yang hampir melorot.


Widya memicingkan matanya, "kenapa leher kamu?" tanyanya dengan curiga.


Nakisya melihat bagian lehernya dari pantulan cermin. Ternyata leher jenjangnya itu sudah dipenuhi dengan bercak merah. "Eh, ini kerjaan Bang Al kemarin," jawabnya sambil menutupi lehernya dengan telapak tangan.


Widya terus memerhatikan gelagat putrinya. "Kalau bekas kemarin, gak mungkin semerah itu."


Nakisya menggaruk alisnya yang tidak gatal. "Emm.. Anu.. Ini bekas gigitan nyamuk, terus aku garuk deh, jadinya merah gini."


"Udah jangan ngelak mulu kamu, gak ada bakat buat berbohong kamu," ujar Widya yang langsung mendekatkan tubuhnya kearah Nakisya.


Tuh kaos Aldi sembunyikan, nanti ayah kamu tau bisa marah dia," gumamnya kemudian tepat di samping telinga Nakisya.


Nakisya refleks memutar tubuhnya, ternyata benar kalau kaos suaminya tergeletak di lantai. "Terus Bang Al tadi pakai kaos punya siapa?"


Like + Koment + Share + Rate bintang 5 + Vote yang banyak.


Nuhun....

__ADS_1


__ADS_2