Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Salah Paham


__ADS_3

"Kamu harus jelaskan semuanya sama kami!"


Aldi menghentikan langkahnya. Lelaki yang sedang tertunduk itu, dengan tanpa minat menolehkan wajahnya kearah kedua orang pria yang kini menatapnya dengan sorot mata tajam, seolah hendak menerkamnya hidup-hidup.


"Serem amat tuh mata," celetuk Aldi, yang semakin membuat kedua pria di hadapannya mengeraskan rahangnya.


Lihat saja, dalam keadaan seperti sekarangpun, Aldi masih bisa santai, jadi wajar kalau Arya selalu merasa geram terhadap anak bukan kandungnya itu.


Bahkan Rainald yang ternyata sang ayah kandungnya, yang baru mengenal sebentar sifat anaknya itu , sudah di buat geleng-geleng kepala oleh Aldi.


Aldi mendadak panik, saat melihat lengan Rainald yang sudah berada di atas dada pria itu, dan ternyata pria itu membetulkan posisi dasi yang melingkar di kerah leher kemejanya.


Melihat itu, Aldi menghela napasnya. "Mereka hanya salah paham Yah, Pah," ujar lelaki itu dengan wajah sendu.


"Om Bagas aja yang keburu emosi, sampai jantungnya ikutan kumat," imbuh lelaki itu mencoba bercanda, untuk mencairkan ketegangan.


Rainald menurunkan tangannya, pria itu terlihat mengatur napasnya, "Ayah kemungkinan bisa menyusul Pak Bagas kalau lihat kelakuan kamu yang seperti itu!" tegas pria itu membuat Aldi sedikit ketakutan.


"Orang salah paham, pasti ada penyebabnya!" sambung Arya yang kini mendudukan tubuhnya di atas kursi besi yang ada di situ.


Aldi melirik sekilas ke arah ruangan yang pintunya sudah di tutup rapat oleh Widya. Lelaki itu langsung menceritakan kejadian saat dirinya berada di depan pintu toilet, sampai Bagas tiba-tiba datang dan menamparnya.


"Jadi kemungkinan, Om Bagas salah paham," ujar lelaki itu setelah menceritakan semuanya.


Plak..


Satu tamparan dengan mulusnya langsung mendarat di kepala Aldi. "Kok Ayah nampar Aldi?" tanya lelaki yang kini menatap sayu ke arah Sang Ayah.


"Itu hadiah buat lelaki yang suka maen-maen sama perempuan yang gak bener!" ujar pria itu dengan deru napas yang kian menggebu.


"Sudah ngelakuin apa aja kamu sama perempuan itu? atau jangan-jangan yang di kandung perempuan itu emang anak kamu?"


Aldi menggaruk tengkuknya, "em, anu," lelaki itu terlihat gelagapan, dengan perlahan dirinya mendekati Rainald.

__ADS_1


Rainald menyorot tajam anak badungnya, "jawab! bukan malah deketin Ayah. Mau di gampar lagi huh!"


Aldi mengukir senyum tipis di wajahnya, "Aldi cuma keinget Om Bagas, tadi waktu habis gampar Aldi, jantungnya langsung kumat. Ayah juga kan punya penyakit jantungan," jawab lelaki itu dengan hati-hati.


"Aww,,"


Aldi meringis, saat satu pukulan kembali mendarat di keningnya. "Hobby banget sih kalian nyiksa anaknya sendiri." Aldi mengusap kasar keningnya itu.


"Jadi sebenarnya yang di kandung perempuan itu, anak kamu, atau bukan!" tanya Arya yang menatap ke arah putranya dengan penuh selidik.


Aldi berdecak. "Bukan Papah, serius."


Aldi menunduk, saat kedua pria itu terus menyorot tajam kearahnya. "Cuma raba-raba doang, gak lebih, gak sampai nanam aset, masa iya bikin bunting," imbuhnya kemudian yang langsung berlari dari tempatnya. Takut kembali mendapat pukulan dari kedua pria yang ada di hadapannya.


Aldi memang memiliki banyak mantan, image nya yang seorang playboy memang benar adanya. Dia memang sering gonta-ganti perempuan untuk menemaninya duduk diatas meja bertender, bahkan menemaninya saat menghabiskan malam untuk berfoya-foya dengan meminum minuman beralkohol yang selalu membuatnya mabuk, bahkan tak jarang, dia juga selalu menghabiskan minuman haram itu di atas tempat tidur, bersama para perempuan yang mengemis meminta belaian kepadanya.


Namun sebrengseknya Aldi, lelaki itu masih bisa memilih, dia tidak mungkin mengotori miliknya dengan sesuatu bekas orang lain.


Memang Aldi sendiri yang mengatakan itu, dia sengaja memberikan cap untuk dirinya, supaya dianggap sebagai orang yang benar-benar brengsek, dan dia tidak perduli dengan penilaian orang lain. Karena baginya, cukup dirinya sendiri saja yang menilai baik buruknya dirinya.


Suara mereka yang lumayan keras, membuat seorang petugas rumah sakit datang ke arah mereka, "maaf, banyak pasien yang butuh istirahat. Sebaiknya kalau ada urusan keluarga, jangan di bicarakan disini." Ujar petugas itu yang langsung pamit setelah kembali mengucapkan kata maaf.


"Ayah gak mau tau, pokoknya kamu harus jelasin semuanya sama keluarga Kisya," ujar pria itu yang sudah berdiri dengan memperbaiki jas nya yang sedikit berantakan.


"Papah juga gak mau kalau sampai gagal besanan sama Pak Bagas," ujar Arya kemudian yang juga ikut berdiri.


****


Aldi masih berdiri di depan ruangan tempat Bagas di rawat, lelaki itu masih bingung, antara masuk menemui keluarga calon istrinya, atau menunggu sampai Bagas di nyatakan sembuh dulu.


Aldi takut dengan kehadirannya malah akan memperburuk kondisi ayah dari kekasihnya itu. Tapi dilain sisi hatinya sudah begitu tidak sabar ingin meluruskan kesalah pahaman itu.


Pintu terbuka, membuat lelaki yang sedang duduk di kursi tunggu itu langsung mendongak.

__ADS_1


"Sya, aku mau ngejela-," ucapannya terhenti, saat gadis yang sedari tadi ia tunggu itu kembali menutup pintunya, seolah tidak memberi kesempatan pada lelaki itu.


Aldi mengambil ponsel yang di simpannya di dalam saku celana. Lelaki itu melihat pesan yang dari tadi di kirimnya itu belum juga mendapat balasan dari kekasihnya. Aldi yang sudah tidak sabar, memilih menekan kontak kekasihnya.


Panggilan terhubung, namun kekasihnya itu tidak juga mengangkatnya, sampai akhirnya suara dari operator terdengar dari balik panggilannya itu.


Aldi menghela napas, lelaki itu berdiri, mengintip keadaan di dalam dari balik kaca pintu ruangan itu.


Terlihat Bagas yang sedang tidur, di sampingnya ada Widya yang sedang mengusap tangan pria itu. Tak jauh dari situ, Nakisya terlihat sedang duduk dengan air mata yang membasahi pipinya. Sungguh Aldi sudah tak kuasa melihat kesedihan kekasihnya itu.


Aldi hendak masuk, namun tangan seorang lelaki yang menepuk pundaknya, menghentikan langkahnya.


"Udah lo mendingan pulang dulu aja, mumpung pintu keluarnya masih terbuka." Ujar Riko yang langsung duduk di kursi yang terbuat dari besi.


"Ngapain lo kesini?" tanya Aldi dengan wajah datar, lelaki itu ikut mendudukan tubuhnya di samping sahabatnya itu.


Riko merotasikan matanya, "gue mau jenguk om gue lah." jawab lelaki itu dengan santai.


"Elo yang ngapain masih disini! mendingan buruan Lo pulang, temuin cewek lo yang udah hamil besar," imbuhnya kemudian sambil terkekeh.


Aldi berdecak, "sialan lo! Jangan bilang lo juga ikutan salah paham!" tanya Aldi dengan penuh selidik.


"Gue udah tau dari Mira, tadi dia panik terus curhat ke gue, lewat telphone," jawab Riko yang langsung berdiri ke arah pintu.


"Ternyata lo juga kenal sama dia," cibir Aldi membuat Riko menghentikan langkahnya, dan membuat lelaki itu menyesali pengakuannya.


Riko menatap tajam ke arah Aldi, "tadinya gue mau bantu Lo buat ngejelasin semuanya," lelaki itu menjeda kalimatnya.


"Tapi kayaknya gue berubah pikiran deh, ada untungnya juga, mereka salah paham, jadi kan pernikahan kalian batal, terus gue gak jadi deh punya adik sepupu macam elo!"


Jahatnya, Bang Riko😏😏


__ADS_1


__ADS_2