Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Hamil 2


__ADS_3

Aldi sedikit deg-degan dengan hasil pemeriksaan dokter. Jika dilihat dari kondisi istrinya, tentu Aldi sudah dapat menebak kalau istrinya tengah hamil. Tapi dia ingin mendengar secara langsung dari mulut dokter itu.


"Jadi istri saya kenapa? Apa dia seperti itu karena hamil?" tanya Aldi yang sudah tidak sabar dengan pernyataan Dokter.


Dokter melepaskan stetoskop yang bertengger di telinganyanya. Keningnya mengerut saat mendengar pertanyaan Aldi. Ia melirik Nakisya yang terlihat semakin pucat. "Sebaiknya Nyonya Kisya segera minum obat , tapi sebelumnya harus makan dulu." Dokter itu memberikan secarik kertas yang berisikan resep.


"Tuan bisa ikut saya sebentar," ujarnya kemudian sambil melangkah kearah luar.


Tanpa membantah, Aldi mengikuti langkah dokter itu. "Tidak usah basa basi. Bilang saja kalau istri saya memang hamil," ucapnya dengan tidak sabaran.


Ada sedikit keraguan pada dokter itu. "Tuan, maaf sebelumnya kalau saya salah. Kenapa Anda bisa menyangka kalau istri Anda hamil?"


Kening Aldi semakin mengerut, "ya, kan ciri-cirinya emang sudah jelas. Tidak haid, sering sakit kepala, bahkan tadi sempat muntah," jawabnya dengan kesal. Sepertinya suatu saat nanti Aldi akan mengganti dokter itu dengan dokter yang lain. Dokter yang lebih profesional tanpa bertele-tele seperti sekarang.


"Gejala seperti itu tidak hanya di alami oleh wanita yang sedang hamil. Tapi bisa juga terjadi pada wanita yang menggunakan alat kontrasepsi. Apa Anda tidak tau kalau istri Anda memakai alat kontrasepsi?"


Aldi mengerjap. Tanpa sadar tubuhnya sedikit terhuyung kebelakang. "Alat kontrasepsi?" tanyanya masih belum dapat mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut dokter.


Dokter itu dapat menyimpulkan, kalau pria yang ada dihadapannya sama sekali tidak mengetahui perihal kontrasepsi yang dipakai Nakisya. "Menurut dugaan saya, sepertinya istri Anda memakai KB suntik. Entah itu suntik yang satu bulan, atau tiga bulan, saya kurang tau. Sebaiknya Anda tanyakan langsung kepada beliau."


Aldi mengepalkan tangannya, dadanya mulai terasa sesak. "Dokter yakin kalau istri saya memang pakai alat kontrasepsi?" tanyanya dengan wajah serius. Hati kecilnya masih berharap kalau dokter itu sedang ngeprank dirinya. Dan bodohnya Aldi sampai berpikir seperti itu. Mana ada dokter yang bermain-main dengan diagnosisnya.


"Kalau Anda tidak percaya, Anda bisa langsung tanyakan terhadap istri Anda," ujarnya dengan wajah serius.


"Baik, mungkin cuma itu yang bisa saya sampaikan. Selamat sore." Dokter itu langsung berlalu menuju pintu keluar apartemen Aldi.


Aldi mengacak rambutnya prustasi, ia masih belum percaya dengan semua ini. Harapannya yang begitu besar, ternyata hanya sekedar harapan. Ia kecewa, bahkan sangat kecewa. Terlebih karena dibohongi istrinya sendiri.


***


Nakisya menyandarkan tubuhnya, saat pembantunya yang bernama Bi Jum masuk ke kamarnya.


"Maaf Nyonya, saya gak ketuk pintu dulu," ucapnya sambil menyimpan nampan besar yang berisikan sup, nasi, air putih, dan buah-buahan. Bi Jum tadi sedikit kesusahan, jadi tidak bisa mengetuk pintu, dan karena pintu itu terbuka, jadi dia dengan lancangnya langsung masuk.

__ADS_1


"Bang Al mana?" tanya Nakisya dengan pelan.


"Tuan ada dibawah, tadi dia menyuruh saya untuk memberikan ini. Kata beliau Nyonya harus makan yang banyak, dan obatnya harus diminum."


Nakisya menatap kearah pintu. Dia sedikit bingung, kenapa tiba-tiba Aldi bersikap seperti itu. Bukannya dia selalu khawatir dengan keadaan Nakisya, tapi kenapa sekarang malah menyuruh pembantu.


"Nyonya?"


Nakisya tersentak dari lamunannya, "eh iya, kenapa Bi?"


Bi Jum tersenyum, "cepetan dimakan nasi nya, habis itu minum obat."


Nakisya menyendok nasi, hanya dua sendokan nasi yang masuk kedalam mulutnya, ia langsung meminum obat yang ada di nampan itu. "Bibi gak pulang?" tanyanya kemudian. Biasanya kalau sudah sore pembantunya itu akan pulang kerumahnya.


"Untuk malam ini, saya disuruh tuan untuk menginap, menemani Nyonya, takutnya nanti Nyonya butuh sesuatu."


Nakisya semakin tidak mengerti dengan suaminya. "Emangnya aku sakit apa? Sampai Bang Al tidak mau merawat aku, dan malah menyuruh orang lain untuk merawat," gumamnya dalam hati.


Beberapa jam berlalu. Atas perintahnya, Bi Jum sudah pergi ke kamar bawah. Sedangkan Nakisya masih terbaring diatas ranjang, memikirkan Aldi yang dari tadi belum menemuinya. Dirasa kepalanya sudah agak mendingan, Nakisya melangkah kearah pintu, untuk mencari keberadaan Aldi.


Aldi sempat tertegun, tidak bisa dipungkiri melihat keadaan Nakisya hatinya sangat merasa kasihan. Biar bagaimanapun mungkin Nakisya melakukan itu karena suatu alasan. Namun yang tidak bisa Aldi terima, kenapa Nakiaya tidak berkata jujur kepadanya.


Aldi memalingkan wajahnya, ia melangkah menuju lemari, untuk membawa pakaiannya.


Hampir setengah jam, Aldi berada di kamar mandi, dan Nakisya masih setia menunggunya. Duduk di pinggir ranjang dengan posisi menghadap kearah kamar mandi.


"Abang..." lirihnya saat Aldi keluar dari kamar mandi.


"Abang mau kemana?" tanyanya kembali saat Aldi berlalu begitu saja menuju pintu keluar.


Bruk...


Nakisya terlalu terburu-buru. Ia yang masih sedikit pusing tiba-tiba langsung terjatuh saat kehilangan keseimbangannya.

__ADS_1


Aldi memutar tubuhnya, berlari menuju Nakisya. Dengan cepat ia mengangkat tubuh lemah itu, membaringkannya diatas ranjang. "Berhenti kamu nyakitin diri sendiri," ujarnya dengan wajah datar namun penuh penekanan.


Tanpa sadar air mata terjun bebas dari mata Nakisya. Merambat melewati pipi pucatnya. "Abang kenapa?"


"Sekarang kamu tidur. Biar cepat sembuh." Aldi menarik selimut untuk menutup bagian tubuh Nakisya.


Nakisya menarik tangan Aldi yang sedang duduk membelakanginya. "Abang jijik karena aku sakit?"


Aldi tertawa sumbang. "Lebih tepatnya kamu yang jijik sama aku, sampai tidak mau mengandung anak aku."


Deg...


"Ma-maksud Abang, apa?"


"KB apa yang kamu pakai?"


Jleb. Badan Nakisya menjadi semakin lemah. Jadi perubahan sikap Aldi yang seperti itu karena sudah mengetahui tentang sesuatu yang belum sempat dia ceritakan sama Aldi.


"Hu... Hu... Hu... Maafkan aku." Nakisya memeluk punggung Aldi, seolah takut kalau suaminya itu akan meninggalkannya.


Nakisya dulu memang sempat dilema untuk mengambil tindakannya, tapi bukannya sebelumnya dia pernah mengatakan kalau dia belum siap untuk memiliki anak. Dan salahnya dia memang tidak meminta izin terlebih dulu sama Aldi. belakangan ini, melihat Aldi yang begitu gencar ingin memiliki seorang bayi. Sebenarnya Nakisya sudah berencana untuk tidak melanjutkan KB nya.


"Udah, kamu jangan nangis." Sebisa mungkin Aldi meredam emosinya. Aldi membaringkan tubuh Nakisya.


Bibir Nakisya bergetar, "ma-af."


Tangan Aldi bergerak, mengusap pipi Nakisya yang sudah banjir dengan air mata. "Sekarang kamu tidur."


Nakisya menggenggam tangan Aldi. "Jangan tinggalkan aku..."


Aldi melepaskan tangan Nakisya perlahan, menarik selimut sampai kedada Nakisya. "Tidur," titahnya.


Dengan badan yang gemetar, kepala yang tiba-tiba kembali pusing, Nakisya mencoba mengeluarkan tangannya dari balik selimut. Meraih tangan Aldi, "Aku gak mau Abang ninggalin aku." Sekuat tenaga, Nakisya menggenggam tangan Aldi. Setelah dirasa Aldi tidak akan kemana-mana, Nakisya mulai memejamkan matanya. Mungkin pengaruh dari obat, sehingga dengan cepat ia bisa terlelap.

__ADS_1


Like + koment dulu sebelum gulir.


Makanya, rumah tangga itu harus saling terbuka. Jangan cuma terbuka diatas ranja.. doang, tapi terbuka dengan segala hal. Apapun konsekuensinya, kejujuran haruslah diutamakan. Oke Neng Kisya...


__ADS_2