
Setelah semua rangkaian acara digedung itu selesai. Kini acara selanjutnya sedang diadakan di hotel. Aldi dan Nakisya yang sudah benar-benar merasakan cape, kini pasangan pengantin itu diam-diam masuk kedalam mobil.
"Kenapa harus mengendap kaya gini sih, Bang?" tanya Nakisya sambil mengerutkan keningnya.
"Abang udah gak kuat cape banget, kita kabur aja yu," ucap lelaki yang kini menjalankan mobilnya, sebanarnya cape bukanlah alasan sebenarnya. Karena sesungguhnya lelaki itu sudah ingin melakukan ritual malam pertama bersama sang istri tercinta.
Nakisya yang merasakan pegal dibagian kakinya, gadis itu hanya diam. Sampai beberapa menit kemudian mobil yang ditumpangi keduanya kini memasuki komplek perumahan Nakisya.
"Loh kok kita malah kabur ke rumah aku? kenapa tadi gak sembunyi ke kamar hotel aja?" Nakisya menatap Aldi dengan heran.
"Kalau di kamar hotel bakalan ribet, nanti bakalan ada yang ngeganggu. Lagian kita bukan mau kerumah orang tua kamu, tapi kerumah Ayah Rainald," jawab lelaki itu.
Rumah Rainald dan rumah Bagas memang berada di satu komplek yang sama. Dan kebetulan Aldi menyimpan kunci cadangan rumah sang ayah.
Aldi yang mengerti dengan perubahan raut wajah Nakisya, lelaki itu langsung mengusap puncak kepala istrinya, "mereka gak akan ada yang menebak kalau kita kabur kerumah ayah. Palingan juga mereka ngiranya kita ke apartemen Abang."
Nakisya mengangguk, "tapi kok sekarang aku malah ngerasa kalau kita seperti sedang kawin lari ya, Bang?"
Mendengar kalimat yang terlontar dari mulut sang istri, membuat Aldi langsung tergelak. "Kamu ada-ada aja deh. Lucu banget sih, jadi makin gak sabar," ucap lelaki yang baru saja menghentikan mobilnya, karena sekarang mereka sudah sampai didepan rumah Rainald.
Tanpa aba-aba, Aldi yang sudah membuka pintu mobil yang berada disebelah Nakisya, lelaki itu langsung menggendong istrinya ala bridal.
"Bang Al, aku masih bisa jalan sendiri." Gadis itu terus meronta, berusaha turun dari gendongan suaminya.
Aldi tidak memerdulikan ucapan istrinya, lelaki yang sempat mengatakan cape itu kini dengan gagahnya menggendong tubuh Nakisya menuju salah satu kamar yang biasa ditempatinya.
"Kok sepi banget," ucap gadis yang masih berada di gendongan Aldi.
__ADS_1
"Kan mereka masih di hotel."
Dengan perlahan, Aldi langsung menurunkan Nakisya diatas ranjang. Lelaki yang terlihat sudah tidak sabar itu kini sedang mencondongkan tubuhnya hendak mencium bibir istrinya.
Nakisya mendorong tubuh Aldi. "Aku mandi dulu," ucap gadis itu sambil berlari kearah kamar mandi.
"Sayang, mandinya barengan, biar cepet." Aldi langsung mengikuti Nakisya, tapi saat dirinya memutar gagang pintu kamar mandi, ternyata pintu itu sudah lebih dulu dikunci oleh Nakisya.
Akan semakin lama jika Aldi memaksa Nakisya untuk membuka pintu itu, karena dirinya yakin jika istrinya itu tidak akan membukanya. Dan akhirnya lelaki itu lebih memilih berlalu keluar menuju kamar mandi lain.
Aldi merasa kalau ritual mandi yang dilakukan dirinya sudah begitu lama. Namun mendapati kenyataan saat kembali kekamar ternyata Nakisya belum juga keluar, membuat dirinya mengerutkan kening. "Sayang, kok masih didalam 'sih? Cepetan dong mandinya," ucap Aldi sedikit meninggikan suara, supaya bisa terdengar oleh Nakisya.
"Aku gak bawa baju ganti," jawab gadis itu.
Mendengar itu Aldi langsung menyeringai, "yaudah cepet keluar, gausah pakai baju, nanti juga di buka," celetuknya yang langsung terkekeh geli membayangkan apa saja yang akan dilakukannya nanti kepada istrinya.
"Aku gak mau keluar kalau gak ada baju."
"Sayang ini ada baju," ucap Aldi yang sudah kembali dengan paperbag yang ada di tangannya.
Nakisya yang sebenarnya sudah ingin segera keluar dari tempatnya, gadis itu akhirnya menjembulkan kepalanya, "mana?" tanyanya sambil mengulurkan sebelah tangan, karena gadis itu hanya membuka sedikit pintunya.
"Gak ada baju lain, jadi pakai aja itu," ujarnya sambil tersenyum kearah Nakisya.
Gadis itu langsung menerima pemberian suaminya, dengan cepat dirinya mengeluarkan isi dari paperbag itu. "Ini pakaian apaan?" ucapnya sambil mengangkat kain tipis berwarna pink, yang bisa disebut lebih mirip dengan pakaian dalam.
"Abang kok malah ngasih pakaian kaya gini 'sih?" gerutu gadis yang kini sudah keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
Aldi yang sudah merebahkan tubuhnya diatas ranjang, lelaki itu menatap Nakisya yang mengenakan handuk kimono. "Kamu sudah memakainya? Coba Abang mau lihat. Itu warnanya kesukaan kamu, pasti kamu cantik," ucap lelaki itu sambil tersenyum.
Baru saja Nakisya hendak melontarkan kalimatnya, tapi suaminya itu sudah lebih dulu menarik lengannya. Sehingga posisinya sekarang berada diatas tubuh Aldi.
Wajah keduanya bertemu, saling menatap satu sama lain, sehingga menimbulkan degup jantung yang saling memburu. Satu kecupan langsung mendarat dibibir Nakisya, membuat sang pemiliknya langsung terdiam. Aldi langsung membalikan posisi keduanya, sehingga posisinya sekarang berada diatas tubuh Nakisya. Buku jari Aldi langsung membelai lembut wajah cantik istrinya.
Nakisya yang mendapatkan perlakuan itu, gadis itu hanya diam, sambil merasakan sentuhan lembut yang berhasil membuat sekujur tubuhnya meremang. Nakisya kini merasakan sesuatu yang kenyal yang menempel di bibirnya. Dimalam pertamanya gadis itu benar-benar sudah pasrah membiarkan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu untuk melakukan keinginan yang menjadi hak nya.
Aldi terus melancarkan aksinya, lelaki itu tersenyum saat istrinya itu membalas ciumannya. Perlahan ciuman sederhana itu berubah menjadi lum4tan lembut, Aldi menggerakn bibirnya, untuk melum4t bagian bibir atas Nakisya. Gadis itu memejamkan matanya dalam-dalam, dan mencengkram kuat lengan Aldi.
Aldi mengangkat kedua lengan yang saling menggenggam itu, dan menyimpannya di depan dadanya sambil terus melum4t bibir Nakisya.
Perlahan ciuman lembut itu berubah jadi ciuman panas yang memabukan. Wajah Aldi memerah, ia merasakan hawa panas di tubuhnya. Lengan kekar itu sudah berhasil membuka ikatan handuk kimono yang dikenakan istrinya. Aldi mengangkat setengah tubuhnya, lengannya langsung menyingkap handuk itu, sehingga kini terpangpang jelas dimatanya, tubuh istrinya yang yang hanya terhalang kain tipis, yang sebenarnya tidak dapat menutupi keindahan dari tubuh itu.
Aldi kembali meraup bibir mungil istrinya, tapi Nakisya yang merasakan ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman, gadis itu sekuat tenaga mendorong tubuh Aldi. "Ada yang keluar," ucapnya yang langsung berlari menuju kamar mandi.
Aldi yang masih berada di atas ranjang, lelaki itu merebahkan tubuhnya, dengan tangan yang dilebarkan. Meskipun dirinya merasakan cape karena acara tadi siang, tapi untuk urusannya yang sekarang lelaki itu tentu saja sangat bersemangat.
"Sayang cepat, masa baru segitu udah langsung keluar?" ucapnya yang sudah tidak sabar.
Nakisya sudah kembali. "Abang, aku dapat tamu bulanan," ucapnya dengan raut wajah yang nampak bersalah
Aldi yang sudah tau maksud dari kalimat Nakisya, lelaki itu nampak menghela napas. "Terus gimana dong dengan dia yang sudah siap berdiri?" tanya Aldi sambil menunduk.
"Maaf..." lirih gadis itu, saat melihat kekecewaan dari wajah suaminya.
Aldi menarik napasnya dalam, lelaki itu mencoba menenangkan hawa panas pada tubuhnya yang sudah tidak beraturan. "Berapa hari tamu kamu datang?" tanyanya.
__ADS_1
"Cuma tujuh hari kok, Bang."
Bersambung dulu ya... Jangan salahkan Author, tapi salahkan Nakisya yang dapat tamu dadakan๐๐๐