
Nakisya begitu kesal saat ini, lebih tepatnya kesal sekaligus malu. Tadi saat dirinya cemburu tidak jelas, Aldi menjelaskan semuanya, bahkan lelaki itu sampai memanggil wanita yang mengganti namananya dengan Angel, untuk mengaku kalau Angel bukan wanita sungguhan. Meskipun Angel sempat tidak mau mengaku, karena jiwanya lebih memilih untuk orang lain mengakuinya sebagai wanita. Tapi beruntungnya sang pemilik butik itu keluar dan membenarkan apa yang dikatakan Aldi.
"Udah sih, jangan ketawa terus!" Nakisya semakin geram dengan lelaki yang terus menertawakannya.
"Hahahha, habisnya kamu lucu sih, Yang. Masa cemburu sama waria. Kedepannya kalau mau cemburu tuh kira-kira ya," ucap lelaki yang kini memegang perutnya yang mulai terasa sakit karena dari tadi tertawa.
"Jadi Abang ada niatan buat aku cemburu!" tanya gadis itu sambil melempar pandangannya kearah lain.
Sekuat tenaga Aldi merapatkan mulutnya, lelaki yang sedang mengendarai mobilnya itu melirik ke arah Nakisya, sebelah tangannya mengusap pipi Nakisya. "Abang gak pernah berniat begitu, tapi kalau kamu cemburu, Abang sangat senang, berarti Kamu cinta banget sama Abang." Aldi mengedipkan sebelah matanya saat Nakisya melirik kearahnya.
"Tau ah! Tapi kalau waria nya secantik itu, mungkin aja kan Abang tertarik," tuduh Nakisya sambil memicingkan matanya.
"Calon suamimu ini normal seratus persen, Sayang." Aldi menghentikan mobilnya.
Nakisya menekuk bibirnya kebawah. "Masa?"
"Perlu bukti sekarang?" tanya lelaki itu. Kini tubuhnya sudah mulai condong kearah Nakisya.
"Ih apa sih!" setelah pejuangannya untuk mendorong tubuh lelaki itu berakhir sia-sia, akhirnya gadis itu hanya pasrah, saat bibir lelaki itu mendarat di bibirnya. Aldi menggigit kecil bibir bawah Nakisya.
"Woy buruan maju! Sudah hijau lampunya."
Keduanya tersentak karena kaget, saat seorang lelaki menggedor kaca mobil mereka.
Aldi mendongak melihat kearah lampu yang ternyata memang sudah kembali hijau, saat melirik ke bagian spion samping, ternyata kendaraan lain sudah mengantri dan terus membunyikan klaksonnya masing-masing karena perjalanannya terhalang oleh mobil Aldi.
Aldi yang sudah kembali menjalankan mobilnya, lelaki itu nampak menggerutu, "harusnya tuh lampu merah dibikin lama, biar gak ganggu," ujar lelaki itu.
Nakisya terkekeh, "dimana-mana orang tuh maunya lampu merah jangan lama, malah kalau bisa gak usah ada, Abang aneh."
"Tapi kan jadinya bikin tanggung," jawab lelaki itu, wajahnya masih terlihat kesal.
"Abang aja yang suka gak tau tempat," cibir gadis itu.
"Ke hotel yu."
"Ngapain!" tanya Nakisya, gadis itu mulai curiga, pasalnya lelaki itu selalu memiliki pikiran mesum.
Aldi yang melihat ekspresi wajah Nakisya, lelaki itu langsung mengulum senyumnya, "mau ngapain juga bisa," ucap lelaki itu.
__ADS_1
"Mau makan sayang, di restorannya ada menu yang enak," imbuh lelaki itu kemudian.
"Oh, kirain."
Aldi melirik ke arah gadis itu, "pasti berharap mau ngapa-ngapin kan?" tanya Aldi dengan iseng.
Keduanya kini sudah sampai di depan hotel yang merupakan milik Aldi. Aldi memberikan kunci mobilnya, yang sigap langsung di sambut oleh petugas valet.
Kedatangan Aldi langsung disambut baik oleh semua pegawai yang ada disitu, bagaimana tidak, hotel yang memengerjakan ratusan pegawai itu kini didatangi oleh pemiliknya.
Nakisya yang belum pernah di perlakukan seperti itu, dirinya langsung merasa malu.
Aldi menggenggam tangan gadis itu, "kamu biasa aja, hotel ini sebentar lagi akan jadi milik kamu, jadi kamu harus terbiasa dengan mereka," ucap Aldi sambil terus melangkah.
Aldi menarik satu kursi untuk diduduki Nakisya. "Salah satu menu pavorit yang Abang suka tuh ada disini, kamu harus cobain, pasti kamu juga suka."
Seolah sudah terbiasa melayani sang pemilik hotel, salah satu koki yang ada di restoran itu langsung datang dengan nampan besar yang berisi menu lengkap dengan dessert yang biasa Aldi nikmati.
Aldi tersenyum ramah sebagai ucapan terimakasih pada koki yang turun langsung melayaninya. Saat Aldi hendak memberikan suapan pada mulut Nakisya, tiba-tiba matanya tidak sengaja bertemu dengan wanita yang juga sedang menatap kearahnya.
"Aldi."
Seperti biasa, pagi hari Aldi sudah nangkring di depan rumah milik Nakisya untuk mengantar kekasihnya itu pergi ke kampus.
"Kenapa gak nunggu di dalam?" tanya gadis yang baru keluar dengan celana jeans dan jaket kulit yang dikenakannya.
Aldi tersenyum. "Orang tua kamu sudah pada pergi soalnya, takut khilaf," ucap lelaki itu.
Keduanya langsung tertawa. Aldi memasang helm di kepala Nakisya sambil menatap lamat wajah kekasihnya itu. "Sekarang hari apa?"
Nakisya yang merasa heran dengan pertanyaan kekasihnya, gadis itu mendongak, "hari senin."
Kepala Aldi menggeleng cepat. "Hari ini kamu cantik."
Wajah Nakisya langsung bersemu merah, persis seperti kepiting rebus yang di bumbui cabai merah yang siap untuk di santap. "Kamu yah, gombal terus." Gadis itu terlihat salah tingkah, lengannya langsung memukul pelan pundak sang kekasih.
Aldi langsung naik ke motor sportnya, disusul oleh Nakisya yang duduk di bagian jok belakang. "Kalau naik motor ini, ada syaratnya," ucap lelaki itu sambil menarik kedua tangan Nakisya, dan melingkarkan pada bagian perutnya.
"Jangan dilepas," imbuhnya kemudian.
__ADS_1
Nakisya sama sekali tidak protes, gadis itu malah semakin mengeratkan pelukannya, kepalanya yang tertutup helm di miringkannya dan di sandarkan pada punggung lelaki itu. Harum peppermint yang berasal dari tubuh Aldi langsung menyeruak ke indera penciumannya. Dari dulu gadis itu memang selalu menyukai wangi dari parfum yang dipakai Aldi.
Tidak salah Aldi saat ini lebih memilih menggunakan motor, di cuaca pagi yang begitu dingin ini seolah sama sekali tidak berlaku padanya. Rasa hangat yang berasal dari tubuh Nakisya membuatnya ingin berlama-lama untuk mengendarai motornya.
Mau tidak mau Aldi langsung menepikan kendaraannya saat motornya sudah sampai di depan kampus Nakisya.
Nakisya langsung membuka penutup kepalanya. "Bang Al pelan banget sih bawa motornya. Hampir aja aku telat."
"Biar pelan yang penting selamat," jawab Aldi dengan wajah yang tersenyum kearah Nakisya.
Setelah Aldi kembali menjalankan motornya. Gadis itu langsung berjalan melewati lorong dan masuk kedalam lift.
"Kisya tunggu."
Angga langsung masuk kedalam lift itu, kini keduanya berdiri dengan posisi saling berdampingan. "Kamu udah ngerjain tugas?" tanya lelaki itu sekedar basa-basi. Lelaki itu sampai sekarang masih merasakan getaran yang sama saat bedekatan dengan Nakisya.
Nakisya yang tengah sibuk mencari sesuatu di dalam tas nya, gadis itu mendongak, "udah, lumayan pusing juga ya ngerjainnya," jawab gadis itu.
Angga tersenyum, "masa sih orang sepinter kamu bisa pusing saat ngerjain tugas."
"Aku manusia, Angga. Kayaknya kamu biasa aja ya, kaya yang gak pusing," tanya gadis itu kemudian.
Angga terkekeh. Keduanya sudah keluar dari lift yang membawa mereka ke lantai yang menjadi tempat keduanya belajar. Ya, Angga dan Nakisya memang satu jurusan, dan satu kelas juga.
"Aku juga pusing banget." Angga menjawab itu dengan mata yang tak lepas menatap punggung gadis yang kini berjalan satu langkah di depannya.
"Tapi bukan pusing soal tugas, melainkan pusing dengan perasaan aku yang semakin tidak karuan saat berada di dekat kamu," gumamnya dalam hati.
-
-
Kalau kalian pusing soal apa, gaes?? πππ
Aku gak akan minta kalian buat Vote, karena aku sadar, karya aku ini sama sekali tidak menarikπ
Tapi aku boleh kan kalau minta Like + Komen (next aja kalau bingung)ππ
Hatur Nuhunπ€π€
__ADS_1