Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Demam


__ADS_3

Pagi mulai menyapa, cahaya mentari mulai masuk melalui ventilasi kamar. Jam sudah menunjukan angka sembilan lewat tiga puluh sembilan menit. Perlahan Aldi membuka matanya. Dirinya baru tidur empat jam yang lalu, karena lembur mengerjakan semua pekerjaan yang beberapa hari lalu dia tinggalkan, karena terlalu sibuk mengejar Nakisya, dan sekarang kepalanya sangat terasa berat, bahkan tubuhnya terasa menggigil. Aldi menoleh ke arah jam dinding, matanya terbelalak saat melihat benda itu. Tanpa mengumpulkan sisa-sisa kesadarannya yang entah masih dimana, Aldi langsung bangun dari tempat tidur, melompat menuju kamar mandi. Namun diluar kehendaknya, kaki Aldi yang masih di balut selimut, membuatnya kehilangan keseimbangan, dan membuatnya terjatuh ke samping tempat tidur.


"Si4l! Apes banget gue," gerutunya sambil memegang seluruh bagian tubuhnya yang sakit.


Sambil memegang pinggangnya, Aldi mencoba berdiri, "jatuh dari tempat tidur, gak seenak waktu jatuh ke hati Nakisya ternyata," gumamnya yang langsung tersenyum saat mengingat nama kekasihnya.


Niatnya yang semula hendak ke kamar mandi ia urungkan, karena lebih memilih mengambil ponselnya yang semalam ia charger. Aldi langsung menekan kontak gadis itu.


Panggilannya terhubung, seolah tanpa membiarkan sang penelpon menunggu lama, di sebrang sana Nakisya langsung mengangkat panggilannya. "Hallo," ucap Nakisya. Suara yang begitu lembut terdengar di telinga Aldi.


Aldi duduk di atas ranjang, "Hallo. Selamat pagi sayang," ucapnya yang langsung di balas kalimat serupa oleh Nakisya.


"Kamu lagi ngapain?"


"Aku lagi di kampus, tapi bentar lagi juga pulang."


Aldi mengangguk, meskipun dia tau kekasihnya itu tidak bisa melihatnya.


"Yaudah kamu hati-hati ya, Aku mandi dulu," Aldi langsung mengakhiri panggilannya, setelah sempat mengucapkan kata-kata romantis yang membuat Nakisya di sana tersipu malu.


Karena merasa tidak enak pada tubuhnya, sehingga hanya membutuhkan waktu lima menit, Aldi sudah selesai dengan ritual mandinya.


Sambil terus menggigil, Aldi memaksakan dirinya untuk memakai pakaian kerjanya, namun kepalanya semakin terasa berat, pandangannya mulai kabur.


****


Nakisya yang sudah menyelesaikan semua urusannya di kampus, gadis itu segera memesan taxi online, untuk mengantarkannya pulang. Namun satu pesan masuk ke ponselnya, yang mengabarkan kalau lelaki yang di cintainya tengah sakit dan tidak berangkat kerja.


Nakisya sempat ragu dengan kabar dari kekasihnya itu, mengingat tadi waktu dirinya mengobrol di telfon, Aldi terdengar biasa aja, malah lelaki itu terus menggombal seperti tidak terjadi apa-apa.


Namun karena dirinya juga sedang tidak sibuk, dan tidak akan ada kegiatan lain lagi. Akhirnya gadis itu mengatakan pada supir taxi untuk merubah alamat sebelumnya, menjadi ke alamat sang kekasih.

__ADS_1


Setelah sampai di depan pintu apartemen milik Aldi, Nakisya yang beberapa kali menekan bel, namun tidak juga di bukakan pintunya oleh sang pemilik, gadis itu segera membuka pintu itu dengan card lock yang dia punya, beruntung saat itu Aldi memberikannya kartu cadangan kepadanya, sehingga dengan mudah Nakisya bisa membuka pintu itu.


Nakisya langsung melangkah menuju kamar yang menjadi tempat tidur sang kekasih. "Abang kenapa?" tanya gadis itu, saat sudah berada di kamar dan menemukan kekasihnya yang terbalut selimut tebal, dengan tubuh yang terus bergetar.


Nakisya mendadak panik, saat telapak tangan yang di tempelkannya ke kening lelaki itu merasakan hawa panas yang menjalar ke tangan nya.


Nakisya yang tidak tau apa-apa, karena belum pernah mengurus orang yang sakit, membuat gadis itu kelabakan. "Kita ke rumah sakit aja ya," ajaknya pada Aldi.


Aldi menggeleng, dengan suara gemetar lelaki itu memolaknya.


Telapak tangan Nakisya beralih menyentuh bagian tubuh Aldi yang lain, dan ternyata sama, tubuh Aldi benar-benar Panas. "Ya ampun, Abang beneran panas banget, kita ke rumah sakit aja ya," ajaknya kembali, berharap Aldi meng iya kan ajakannya itu.


"Abang udah minum obat kok, nanti juga baikan," jawabnya dengan pelan, nyaris tak terdengar di telinga Nakisya.


Nakisya melirik ke arah laci kecil yang ada di pinggir ranjang itu, dan memang di sana ada bekas bungkus obat, sepertinya lelaki itu tidak berbohong, namun melihat keadaan Aldi yang seperti itu masih membuat Nakisya cemas. "Baikan gimana? Ini panas banget tubuhnya."


Setau Nakisya, kalau orang panas jangan memakai selimut yang terlalu tebal. Gadis itu mengambil selimut yang lebih tipis dari lemari yang ada di kamar itu, dan memakaikannya ke tubuh Aldi.


"Aku kompres ya." Tanpa menunggu persetujuan, gadis itu langsung menempelkan handuk kecil yang sudah di basahi oleh air hangat itu ke atas kening Aldi.


Aldi sudah memejamkan matanya, tetapi mulut lelaki itu masih saja bergumam tidak jelas, karena yang dapat Nakisya tangkap hanya terdengar kata dingin. Nakisya sudah beberapa kali membasahi kain itu, bahkan kini air yang ada di mangkuk itu sudah berubah menjadi dingin, namun badan Aldi masih juga panas.


Nakisya teringat untuk memanggil dokter pribadinya, namun karena dirinya tidak mempunyai nomor telfon sang dokter, akhirnya gadis itu menghubungi Bundanya, tetapi panggilannya itu tidak di angkat, akhirnya Nakisya memutuskan untuk mengirim pesan saja.


"Dingin."


Ditengah kepanikan Nakisya, terdengar Aldi beberapa kali mengigau mengucapkan kata itu lagi.


Nakisya terus mengingat apa aja yang sering bundanya lakukan saat dirinya demam. "Metode skin to skin," gumamnya.


Tapi gak mungkin Nakisya melakukan metode itu pada Aldi. Widya melakukan itu karena Nakisya masih kecil. Sedangkan Aldi bukan anak kecil, "apa iya akan berhasil," pikirnya.

__ADS_1


"Sayang, dingin."


Nakisya tidak bisa berpikir lagi, gadis itu menyingkap selimut yang menutupi tubuh Aldi, dan segera membuka kancing kemeja, dengan susah payah melepaskan kemeja itu dari tubuh Aldi, dan dirinya juga langsung membuka baju bagian atasnya.


Nakisya sempat menelan ludahnya dengan susah payah, saat melihat tubuh bagian atas Aldi yang tanpa penutup itu, namun karena lelaki itu terus menggigil akhirnya Nakisya memeluk erat tubuh Aldi. Gadis itu dapat merasakan suhu panas yang begitu tinggi dari tubuh kekasihnya.


Gadis itu masih memeluk Aldi yang kini sudah tidak lagi menggigil, bahkan lelaki itu sudah tidak lagi mengigau. Tanpa terasa, matanya langsung terpejam, dan mereka berdua tertidur dengan posisi saling berpelukan.


"Apa yang sedang kalian lakukan!"


Keduanya langsung tersentak, dengan panik Nakisya langsung menarik selimut untuk menutup tubuh bagian atasnya.


"Bunda, ini gak seperti yang bunda pikirkan." Nakisya mencoba menjelaskan kepada wanita yang sedang berdiri di depannya.


"Jadi ini alasan kamu tidak masuk kantor!" tiba-tiba Arya datang dan langsung melotot tajam ke arah mereka berdua.


Aldi langsung melirik ke arah gadis yang kini berada di sampingnya, kemudian wajahnya kembali menatap ke arah Arya. "Pah, Aldi tadi gak sadar. Aldi juga gak tau apa aja yang udah Kisya lakuin ke Aldi.


Nakisya membulatkan matanya, "loh, kok Bang Al ngomongnya gitu?" tanya gadis itu tidak terima. Nakisya berpikir seolah Aldi menyalahkannya atas apa yang sudah dia lakukan, padahal Nakisya melakukan itu hanya untuk menolongnya.


"Sudah, pokoknya kalian tidak bisa di biarkan!" Arya menarik napasnya dalam.


"Bu Widya, kayaknya kita harus segera melangsungkan pernikahan keduanya."


Diam-diam Aldi tersenyum, "sakit yang menguntungkan," gumamnya yang masih dapat terdengar oleh Nakisya.


Tanpa basa basi lagi, Nakisya langsung mencubit pinggang Aldi yang masih sedikit panas. "Bisa-bisanya ya kamu!" gerutu Nakisya dengan bola mata yang hendak keluar.


"Sudah kalian jangan malah ribut. Kayaknya emang pernikahan kalian harus di percepat lagi," ujar Widya yang langsung melangkah keluar.


Bersambung..

__ADS_1


Minta jempolnya ya, seblum gulir🙏🙏


__ADS_2