
Nakisya terus memberontak, memukul, mendorong dada pria yang masih mencium bibirnya.
"Sayang, ini aku," tegas Aldi setelah melepaskan ciumannya.
Aldi memegang pundak istrinya. Niatnya untuk memberikan kejutan ternyata salah, karena saat ini Nakisya terlihat lebih dari sekedar terkejut. "Kamu kenapa?" lirihnya saat menyadari wajah Nakisya yang begitu terlihat ketakutan.
Nakisya mendongak, ia mengusap air yang berlinang menghalangi pengelihatannya, "Bang Al..." lirihnya sangat pelan dengan bibir yang bergetar.
"Maaf, kalau abang sudah buat kamu kaget," ucap Aldi dengan wajah penuh penyesalan. Aldi baru pertama kali melihat istrinya yang begitu ketakutan. Ia kembali membuka mulutnya, hendak melontarkan kalimatnya. Namun tiba-tiba Nakisya memeluknya.
Nakisya semakin mengeratkan pelukannya. Membuat Aldi merasa heran dengan istrinya itu.
"Aku tau, kamu pasti kangen banget kan sama Abang?" goda Aldi setengah bercanda, sebelah lengannya diangkat untuk mengelus puncak kepala Nakisya. Sedangkan sebelahnya lagi berada di punggung istrinya.
Nakisya melepaskan pelukannya, "siapa juga yang kangen?" jawabnya.
Aldi tersenyum, mengusap butiran bening yang jatuh ke pipi mulus istrinya, "itu sampai nangis kaya gitu," Aldi terus menggoda Nakisya.
"Kok Abang tau aku disini?" tanyanya, mengalihkan pembicaraan suaminya.
"Bunda yang ngasih tau." Aldi menatap dalam wajah Nakisya, dari mata istrinya bisa terlihat kalau ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Nakisya mengangguk, ia tersenyum samar pada suaminya, "kita kembali ke kursi yu, mungkin akad nya belum selesai, aku mau lihat." Setelah mengatakan kalimatnya, Nakisya langsung melangkah. Namun dengan cepat, Aldi kembali menarik lengan Nakisya.
"Sayang, apa ada yang Abang gak tau tentang sesuatu yang sudah terjadi sama kamu?" tanya Aldi. Tatapannya begitu dalam menatap manik coklat milik Nakisya.
Tubuh Nakisya mematung, kepalanya perlahan menggeleng, mulutnya terbuka hendak mengikuti gerakan kepalanya untuk mengatakan 'tidak ada' tapi ternyata tenggorokannya tercekat. Sungguh dia memang tidak pandai dalam urusan berbohong.
Aldi semakin yakin, kalau ada hal yang sudah terjadi dengan istrinya, "Sayang?" lirihnya yang semakin tidak sabar.
"Gak a-da kok, Bang. Aku cuma kangen banget sama Abang," ujarnya berkilah. Nakisya benar-benar tidak ingin suaminya itu mengetahuinya.
"Kok kalian lama banget sih?" tanya Widya yang tiba-tiba datang. "Akad nya sudah selesai, sekarang tinggal foto keluarga. Ayo kalian sudah ditunggu," ujarnya kemudian yang langsung melangkah diikuti Aldi dan Nakisya yang berada di belakangnya.
__ADS_1
Aldi yang masih penasaran dengan sikap Nakisya, ia menyimpan pertanyaannya itu. "Lambat laun aku pasti akan mengetahui apa yang sedang kamu rahasiakan," gumamnya dalam hati.
Semua keluarga sudah berbaris, mengikuti intruksi dari fotografer. Berbagai pose sudah diambil oleh fotografer.
"Sekarang aku mau foto berempat sama penganten," ucap Nakisya langsung mendekat kearah Riko. "Abang sini dulu, kita foto bareng." Nakisya langsung menarik lengan Aldi yang hendak turun dari tangga pelaminan.
"Mbaknya disamping pengantin pria, terus Masnya disamping pengantin wanita," ujar sang fotografer memberi arahan.
Aldi dan Nakisya menuruti arahan, keduanya sudah siap dengan posenya masing-masing.
"Gak, gue gak setuju istri gue deket sama dia," ucap Riko yang langsung bertukar posisinya dengan Nia. Riko menatap tajam kearah Aldi, "nanti lo curi-curi kesempatan buat nempelin istri gue," imbuhnya kemudian dengan wajah yang menyiratkan ketidak sukaan.
Aldi tidak terima dituduh seperti itu, "gue juga punya istri. Ngapain juga gue curi-curi kesempatan sama istri lo," ketusnya.
Nakisya tidak memperdulikan kedua pria yang masih berseteru itu. Dia lebih memilih foto berdua dengan Nia, wanita yang sekarang sudah resmi menjadi kakak sepupunya.
"Abang ayo." Nakisya langsung menuruni tangga pelaminan, karena sudah banyak yang menunggu giliran untuk difoto dengan pengantin.
"Udah, kalian foto berdua aja. Aku sama Kisya udah tadi," tuturnya yang langsung menerima jabatan tangan dari tamu.
Vino yang baru datang, dengan keluarga kecilnya. Dengan wajah yang terlihat ikut bahagia atas pernikahan sahabat sekaligus sekertarisnya, ia langsung menjabat tangan Riko. "Selamat yah Bro. Sorry gue baru datang," ucapnya yang langsung memeluk tubuh Riko.
Naura istri Vino, yang juga merupakan sahabat dari Nia wanita itu langsung memeluk haru sabatnya, "Nia, akhirnya kamu jadi istri orang juga."
Aldi yang masih berada disitu, ia berujar, "foto bareng yu," celetuknya yang kali ini mendapat anggukan dari Riko.
Naura nampak semangat, "bentar aku ambil Zia sama Lala dulu." Naura langsung turun diikuti Vino yang membantu Naura mengambil kedua anaknya.
"Biar kalian cepet nyusul dapat baby, jadi kalian yang gendong." Vino memberikan anaknya untuk digendong oleh Riko, diikuti hal yang sama oleh Naura yang memberikan Lala pada Nia.
Lima orang itu sudah mendapatkan hasil fotonya. Aldi yang merasa ganjil dia melirik kearah samping, "lah gue kok berasa masih single ya, foto tanpa pasangan," ujarnya sambil mengedarkan pandangannya mencari keberadaan sang istri.
***
__ADS_1
Acara digedung itu sudah selesai. Aldi yang sangat bahagia karena bisa kembali membawa Nakisya pulang ke apartemennya, ia langsung merangkul tubuh Nakisya, "sayang, satu minggu kemarin kamu kan gak ngasih jatah, jadi sekarang kamu harus ngeganti tujuh hari itu sekaligus," bisiknya tepat di samping telinga Nakisya.
Nakisya memberengut, "Abang... Aku cape," keluhnya langsung melangkah ke kamar mandi.
Aldi terkekeh, sesungguhnya dirinya hanya iseng, sengaja membuat Nakisya kesal. Ya, karena memang itu hobby nya sekarang. Namun kalau istrinya itu menyetujuinya, tentu saja dengan senang hati Aldi akan mengucap syukur.
"Sayang..." goda Aldi mengedipkan sebelah matanya, saat Nakisya keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk.
Tanpa melirik pada suaminya, Nakisya mengambil pakaiannya, segera kembali lagi ke kamar mandi.
"Kenapa gak pakai baju disini 'sih?" tanya Aldi saat Nakisya keluar dengan pakaian yang sudah melekat ditubuhnya.
"Bahaya," jawab Nakisya yang langsung mengambil hair dryer untuk mengeringkan rambutnya yang basah.
Aldi tersenyum, dirinya langsung menuju kearah Nakisya, "aku bantu," ucapnya kemudian langsung mengambil alih benda untuk pengering rambut Nakisya.
Dengan senang hati, Aldi mengeringkan rambut istrinya, sambil menatap wajah cantik Nakisya melalui cermin yang ada di hadapannya. Aroma shampo menguar pada indra penciumannya. Sesekali Aldi mendekatkan hidungnya pada ceruk leher Nakisya, aroma sabun cair yang begitu segar membuat hasratnya memuncak.
"Sayang... jatah aku," ucapnya dengan suara serak, terdengar seksi di telinga Nakisya.
Nakisya melihat wajah Aldi yang sudah merah, mungkin karena menahan hasratnya, "tapi kamu mandi dulu." Nakisya langsung mendorong dada Aldi yang hendak mencium pipinya.
Aldi tersenyum senang, "tapi janji ya, habis aku mandi kit-,"
"Iya..." ucap Nakisya langsung memotong kalimat Aldi.
Aldi memutar tubuhnya, "Aku mau tujuh ronde tapi ya?" pintanya yang langsung masuk ke kamar mandi, setelah sempat menarik turunkan kedua alis matanya.
Nakisya mendengus sebal, "nambah satu ronde lagi dapat piring cantik kamu, Bang."
Bersambung...
Like + Koment + Vote juga ya🤗🤗
__ADS_1