
Aldi mendengus sebal, "tuh kan, Papi kamu emang gak tanggung jawab," ucap Aldi pada bayi itu yang membuat sang bayi langsung tertawa.
Sudah hampir lima belas menit, namun Naura masih belum juga memperlihatkan batang hidungnya, membuat Aldi terus mondar mandir sambil menenangkan bayi itu yang mulai rewel.
"Ini lagi, Papih kamu kok lama banget ya?" tanya Aldi pada Zia, yang tentu saja tidak akan mendapat jawaban dari bayi itu.
"Om emang gak ada kerjaan penting hari ini, tapi Om juga jadi bingung, soalnya gak biasa ngurusin bayi."
Zia terus merengek, menarik dasi yang di kenakannya lalu memasukannya ke dalam mulut bayi itu.
"Gak boleh, nanti dasi Om kotor," ucap Aldi yang langsung menarik dasinya.
Aldi menengok ke arah luar, bermaksud mencari Riko, namun ternyata lelaki itu juga tidak ada di tempatnya, membuat Aldi menghembuskan napas kasar.
Getaran di ponselnya membuat Aldi tersentak dari rasa bingungnya. Dengan susah payah karena sedang menggendong bayi, Aldi mengambil ponselnya yang berada di dalam saku celana.
"Hallo sayang?" jawab lelaki itu yang sudah mengetahui siapa yang menelfonnya.
"Oh, oke aku kesana, tunggu ya," ucap lelaki itu saat mendengar kalau Nakisya minta di jemput dari kampus.
Tanpa pikir panjang, Aldi yang masih menggendong Zia langsung membawa bayi itu keluar, tidak lupa dia juga menyambar tas bayi yang terletak di atas meja kerja Vino.
Mobil Aldi melaju dengan pelan, menyusuri jalanan menuju kampus Nakisya. Setelah dua puluh menit, akhirnya Aldi sampai di depan gedung bertingkat yang menampung semua mahasiswa universitas itu yang sedang menimba ilmu.
Aldi langsung turun sambil menggendong Zia. Membuat beberapa mahasiswi melirik ke arahnya.
"Wih ada hot dady tuh," ucap mahasiswi yang kini memperhatikan Aldi.
"Jangan-jangan lagi nyari mama muda, kita samperin yu," sambung mahasiswi lainnya.
"Lagi cari siapa, Mas?" tanya mahasiswi yang kini berada di depan Aldi.
Aldi tersenyum ramah pada mahasiswi itu, "saya lagi nyari-,"
"Bang Al?" ucap Nakisya yang kini berjalan ke arah Aldi. Membuat beberapa mahasiswi itu mundur.
"Itu kan Nakisya, anak akuntansi. Oh jadi pacarnya duda," bisik mahasiswi itu yang masih dapat terdengar oleh telinga Nakisya.
"Gapapa sih duda juga, kalau keren gitu, gue juga mau," sambung mahasiswi lainnya, yang membuat Nakisya semakin geram.
"Ekhem! Ada perlu apa ya kalian masih disitu?" tanya Nakisya dengan sinis.
__ADS_1
"Aunty jangan marah-marah dong, aku takut," ucap Aldi menirukan suara anak kecil.
Nakisya yang ternyata baru menyadari kalau ada bayi yang sedang di gendong Aldi, membuat gadis itu mengerutkan keningnya, "ini bayi siapa, Bang?" tanya gadis itu sambil memicingkan matanya.
"Bayi Abang lah," jawab lelaki itu dengan santai."
"Jangan bilang selama ini Abang emang sudah punya bayi dari wanita lain?" tanya Nakisya dengan wajah serius.
Sekuat tenaga Aldi menahan bibirnya untuk tidak tertawa saat melihat wajah serius dari gadis itu. "Emang iya," jawabnya dengan cepat.
Nakisya membulatkan matanya, "jadi benar?" tanya gadis itu dengan mata yang mulai memerah.
Aldi tidak dapat lagi menahan tawanya, lelaki itu tergelak. "Ini bayi adik Abang," ucap lelaki itu.
Nakisya memicingkan matanya, "serius, kok gak mirip?" tanya gadis itu masih curiga.
"Kalau mau yang mirip, nanti kita buat," jawab Aldi yang langsung mendapat tatapan tajam dari Nakisya.
Nakisya mendengus sebal, namun akhirnya tersenyum pada bayi itu.
"Namanya Dira," ucap Aldi yang sudah dapat menebak kata apa yang akan terlontar dari mulut kekasihnya.
"Ih Abang, belum juga di tanya," ujar gadis itu memberengut kesal.
Aldi menjalankan mobilnya, menuju rumah Nakisya, lelaki itu menjelaskan kenapa dirinya bisa membawa bayi itu.
"Terus kalau nanti Kak Naura sama Kak Vino nyariin gimana?" tanya gadis itu saat mobil yang mereka tumpangi sudah sampai di depan rumah Nakisya.
"Biarin aja, emang sengaja, biar pada panik mereka," jawab Aldi dengan santai.
Nakisya menggendong bayi itu, membawanya masuk kedalam rumah, diikuti oleh Aldi yang berjalan di belakangnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikum salam," jawab Widya yang kebetulan sedang duduk di ruang keluarga sambil menonton televisi.
"Itu bayi siapa, lucu banget." Dengan wajah yang terlihat bahagia, wanita itu langsung berdiri mengambil bayi dari pangkuan Nakisya.
Bayi yang hampir tertidur itu langsung menangis karena kaget.
"Tuh kan, Bunda sih heboh banget!" gerutu Nakisya yang kembali mengambil bayi itu, dan kini bayi perempuan itu kembali tenang.
__ADS_1
"Hebat kamu, udah bisa nenangin bayi," ucap Aldi yang sempat ikut panik karena bayi itu menangis.
"Iya, Bunda lihat kamu juga sudah cocok deh jadi ibu."
"Pokoknya nanti kalau kalian sudah nikah, kalian harus cepat-cepat ngasih Bunda cucu yang lucu kaya bayi itu," pinta Widya dengan semangat.
"Siap, Tante," jawab Aldi yang tak kalah semangat dari Widya.
"Eh, kok Kamu udah pulang?" tanya Widya pada Nakisya.
"Dosennya gak masuk, Bunda," jawab gadis itu yang langsung melangkah menuju kamarnya untuk membaringkan bayi itu.
"Loh kok gak jadi di tidurin?" tanya Widya saat melihat Nakisya kembali sambil masih menggendong bayi itu.
"Dia nya gak mau di taro di atas kasur, maunya di gendong terus," jawab gadis itu sambil menimang Zia yang ternyata malah bangun.
"Kamu pasti pegel, sini aku yang gendong." Aldi langsung mengambil alih bayi itu, namun bayi itu kembali menangis.
"Loh kok gak mau sama Om?" tanya Aldi yang kembali akan mengambil bayi itu, namun masih sama, Zia tidak mau berpindah pada Aldi.
"Aunty nya pegel, kasian," ujar Aldi sambil merayu bayi itu.
"Udah Bang, gapapa kok, aku juga seneng gendong Zia," ucap Nakisya sambil tersenyum ke arah bayi itu.
"Bang Al bikin susu aja, dari tadi kan dia belum mimi."
"Oh iya," Aldi langsung melangkah menuju tas bayi yang dibawanya tadi. Namun tiba-tiba lelaki itu terdiam.
"Kenapa?" tanya Widya yang mengerti dengan ekspresi wajah Aldi.
Aldi cengengesan, lelaki itu menggaruk tengkuknya, "gak ngerti cara bikinnya, Tante," jawab lelaki itu polos.
Widya menghela napas, "tadi aja semangat mau bikin bayi. Ternyata bikin susu aja gak bisa, padahal udah jelas ada cara-caranya disini," ujar Widya yang langsung mengambil susu yang masih utuh di dalam dusnya itu, dan menunjuk bagian samping yang terdapat cara menyeduh susu itu.
"Tante jadi Ragu, kamu bisa gak bikin bayi nanti," imbuh wanita itu kemudian, yang langsung melangkah menuju dapur.
Aldi membulatkan matanya, "Bunda kamu ragu sama aku, Yang. Kayaknya kode keras tuh biar aku cepat ngasih bukti," bisik lelaki itu tepat di samping telinga Nakisya.
"Bang, Al!"
-
__ADS_1
-
Di like ya, alias jempolnya di tekan🤗🙏