
Hari demi hari terus berjalan. Nakisya menikmati masa-masa kehamilannya dengan senang hati. Apalagi, gejala kehamilan yang selalu di alami hampir semua wanita, sama sekali tidak dialaminya. Tidak ada morning sickness, badan lemas, atau mood yang berubah. Yang ada, Nakisya malah terlihat segar bugar seperti saat sebelum mengandung.
Namun, keadaan itu berbalik dengan suaminya. Aldi yang merupakan si penanam benih, malah merasakan semuanya. Nafsu makannya berkurang, mual muntah menjadi kebiasaannya setiap pagi dan sore. Bahkan belakangan ini Aldi selalu menolak untuk melihat nasi.
"Gak mau, aku malah mual kalau lihat nasi. Apalagi baunya gak enak banget." Aldi berlari kearah wastafel, saat Nakisya memaksa menyuapinya nasi.
Nakisya menghela nafas, antara kasihan dan cemas dengan keadaan suaminya yang seperti itu.
Setelah dirasa semua isi perutnya keluar, Aldi berkumur, membasuh wajahnya dengan air.
Nakisya mengusap wajah Aldi dengan tisu. "Hari ini Abang gak usah berangkat kerja lagi, lemes kayak gitu, aku khawatir. Istirahat aja ya," ucapnya dengan wajah penuh kekhawatiran.
Aldi mengangguk lemah, ia melangkah kearah kamar, membaringkan tubuhnya diatas ranjang. "Sayang... Sini! Temenin Abang tidur, peluk..." pintanya begitu manja.
Sebenarnya Nakisya sudah berniat untuk berangkat ke kampus, tapi melihat keadaan suaminya yang seperti itu, membuatnya mengurungkan niatnya. Nakisya menuruti permintaan suaminya. Membaringkan tubuhnya disamping Aldi. Kepalanya ia letakan diatas dada bidang suaminya, saat Aldi memerintahnya.
__ADS_1
Sebelah tangan Aldi yang ada di bawah leher Nakisya mengusap puncak kepala Nakisya. Sebelahnya lagi mengelus perut Nakisya yang masih sangat rata. "Sepertinya anak kita bakalan jadi anak yang penurut," ucapnya setelah mengecup puncak kepala Nakisya.
"Buktinya dia menuruti perintah Abang yang melarangnya untuk jangan menyusahkan kamu," imbuhnya kemudian.
Nakisya mendongak, menatap sorot mata Aldi yang nampak bahagia, meskipun wajahnya nampak masih sangat pucat. "Tapi jadi Abang yang harus nanggung semua ini."
Aldi mengulas senyumnya, menyingkirkan helaian rambut yang menjuntai menutupi wajah Nakisya. "Gak papa. Ini baru namanya adil, masa semuanya harus kamu yang nanggung," ucap Aldi kembali mengecup Nakisya, kali ini kecupan itu mendarat di kening.
"Kata Rani, tidak sedikit suami yang mengalami morning sickness. Tapi aku gak tega lihat Abang kesiksa kayak gitu. Kita ke dokter yuk, konsultasi soal ini," ajak Nakisya.
Nakisya menghembuskan nafasnya kasar, selalu saja jawaban suaminya seperti itu.
Keadaan diluar yang tengah hujan, membuat keduanya merasakan hawa dingin. Kini keduanya saling terlelap dengan posisi saling memeluk.
Jam menunjukan tepat pukul sebelas, hujan sudah berhenti. Aldi terpaksa membuka matanya, saat ponselnya berdering.
__ADS_1
Aldi sedikit kesal, saat mengetahui siapa orang yang sudah mengganggunya. "Apa?" tanyanya dengan suara malas.
"Yaudah anterin aja kesini. Sekalian lo beliin kelapa muda," ucap Aldi kemudian, saat kelapa muda tiba-tiba melintas di kepalanya.
Belakangan ini, bukan hanya morning sickness yang dialami Aldi, tapi pria itu juga mengalami ngidam.
"Siapa?" tanya Nakisya yang baru bangun dari tidurnya.
"Adik ipar lucknut," jawab Aldi dengan santai.
Nakisya sudah tau siapa yang dimaksud oleh suaminya. "Kok malah minta kelapa muda. Perut Abang kan masih kosong. Makan dulu kalau gitu," ujar Nakisya. Ia turun dari ranjang, bermaksud mengambilkan makanan untuk Aldi.
Namun dengan cepat Aldi menahan tangan Nakisya, "Aku maunya makan kamu aja, boleh?"
Like, koment dulu sebelum gulir 😉🤗
__ADS_1