
Widya masih memikirkan sikap aneh Nakisya. Pagi ini seperti biasa ia hendak membangunkan putrinya, karena sudah siang namun Nakisya masih juga belum keluar dari kamarnya. Apalagi tadi putrinya itu menolak untuk sarapan bersama. "Kisya. Sayang?" Kali ini nada suaranya sedikit pelan.
Pintu kamar Nakisya memang tidak dikunci, tapi saat ini Widya tidak berani langsung masuk, sehingga membuatnya berdiri di balik pintu itu, dan mengintip dari celah yang terbuka.
"Bunda boleh masuk gak?" tanyanya kemudian saat Nakisya tidak juga merespon panggilannya.
Nakisya turun dari ranjangnya. "Masuk Bunda," perintahnya lirih sambil membukakan pintu kamarnya.
Widya memerhatikan penampilan putrinya yang masih memakai piyama, dengan mata yang terlihat sembab, "Kamu kok belum siap-siap? Emangnya gak mau berangkat kuliah?" tanyanya.
Nakisya menggeleng. "Kuliah Kisya lagi libur, Bunda," jawabnya langsung kembali naik keatas ranjang.
Widya mengangguk, "kamu kenapa sih? Mau cerita gak sama Bunda?"
Nakisya menatap sendu wajah Widya, "Kisya cuma cape, Bunda. Boleh kan kalau Kisya tidur lagi?"
Widya menghela napasnya, putrinya itu masih saja tidak mau menceritakan masalahnya.
"Yaudah." Widya melangkah menuju arah pintu. Memutar tubuhnya menatap Nakisya kembali, "mau nelfon Aldi 'gak? Mumpung ayah kamu sudah berangkat kerja," tanya Widya kemudian. Berharap dengan itu putrinya akan kembali bersemangat.
Nakisya tersenyum samar, "terima kasih, Bunda. Tapi sekarang Kisya mau tidur dulu."
Nakisya sebenarnya sangat ingin menelfon Aldi. Namun ia masih sangat merasa bersalah, karena tidak jujur kepada suaminya. Nakisya tidak akan memaafkan dirinya sendiri kalau sampai semalam tiga orang pria itu berhasil melecehkannya. Mungkin ia akan merasa sangat kotor dan tidak pantas lagi untuk Aldi.
Nakisya memejamkan kembali matanya. Kepalanya begitu terasa sakit karena semalaman ia menangis. Dan pikirannya masih terus teringat dengan wajah tiga pria yang menurutnya begitu menyeramkan. Namun dia juga teringat sama sosok pria yang sudah menyelamatkannya. Nakisya begitu berhutang budi pada pria itu. Bahkan dirinya sampai lupa sekedar mengucapkan kata terima kasih pada pria itu. Nakisya berharap suatu saat nanti bisa kembali bertemu dengan pria itu.
***
"Jadi apa aja jadwal gue hari ini?" tanya Aldi pada sekertaris barunya.
Willy mengambil ipad dan melihat catatan seputar kegiatan boss nya hari ini, "satu menit lagi bos ada meeting bersama pengusaha asing."
__ADS_1
Mata Aldi membulat, "satu menit lagi dan lo baru bilang?" ucap Aldi yang langsung melangkah menuju lift khusus.
Willy setengah berlari mengikuti langkah Aldi yang sudah lebih dulu meninggalkannya. "Sorry. Elo kan gak nanya." Willy memberikan alasan.
Aldi menekan tombol pada lift itu. "Kalau gue yang harus nanya dulu, udah aja gue sendiri yang pegang jadwal gue," ujarnya saat sudah berada di dalam lift.
Sepanjang jalan menuju tempat meeting akan diadakan, Aldi lebih memilih diam, ia begitu kesal dengan Willy, karena client nya sekarang akan begitu berpengaruh untuk kemajuan perusahaannya. Sampai akhirnya mobil yang ditumpanginya sudah sampai di tempat tujuan.
Aldi menatap Willy, "awas lo ngelakuin kesalahan yang sama lagi. Dan nanti jangan lupa, lo catat semua point penting yang gue dan client bahas."
"Siap boss," jawab Willy cepat. Bibirnya terlihat komat kamit. Dalam hatinya terus menggerutu kepada sahabat yang sekarang menjadi bosa nya.
Aldi dan Willy memasuki ruangan meeting yang berada di sebuah hotel bintang lima. Terlihat seorang wanita yang merupakan client Aldi. Wanita itu mengenakan celana panjang, tapi baju bagian atas yang dikenakan wanita itu berhasil membuat Aldi menelan ludah. Pasalnya bagian dada wanita itu begitu terpang-pang jelas di pengelihatannya. Membuat Aldi jadi merindukan milik istrinya.
"Wow," ucap Willy yang tidak bisa mengontrol matanya. Willy sampai menabrak kursi yang ada dihadapannya, karena begitu asik melihat pemandangan gunung yang begitu indah.
Aldi sedikit memalingkan pandangannya. "Sorry i am late," ucap Aldi pada wanita berkebangsaan India.
"Kenapa lo?" tanya Willy saat melihat ekspresi wajah Aldi.
"Dia ngomong apa 'sih? Gue gak ngerti," bisiknya tepat disamping telinga Willy.
Willy tertawa pelan, "dia bilang, dia gak bisa bahasa inggris, terus interpreter dia belum sampai. Jadi dia minta kalau meetingnya diundur saja."
Aldi berdecak, "gue udah jauh-jauh kesini, terus dia bilang mau mengundur meetingnya?" ujar Aldi yang mulai terlihat kesal.
"Yaudah, bentar gue ngomong sama dia."
Willy dan wanita itu nampak heboh berbicara menggunakan bahasa india. Bahkan sesekali mereka tertawa, membuat Aldi merasa kesal dibuatnya, karena dirinya sama sekali tidak mengerti dengan arti dari setiap kalimat yang terlontar dari mulut keduanya.
Sudah setengah jam Aldi menjadi patung hidup. Dan entah mengapa dirinya tidak mau mengganggu perbincangan kedua orang yang ada dihadapannya. Sampai saat Willy menyerahkan dokumennya. Aldi menjadi bengong karena dokumennya langsung mendapat tandatangan dari wanita itu.
__ADS_1
Aldi menyenggol pinggang Willy. Namun sekertarisnya itu malah membalasnya dengan senyuman dan sebelah mata yang dikedipkan kepadanya.
Willy menjabat tangan wanita itu, yang langsung di ikutin hal yang sama oleh Aldi.
"Segampang itu lo bisa mendapat kerjasama dengan dia?" tanya Aldi saat dirinya sudah berada di dalam mobil.
Willy yang sedang menjalankan mobil, ia menampilkan wajah sombongnya, "pinter kan gue? Bos gue aja kalah," cibirnya membuat Aldi melengos.
"Lo gak lagi bikin perusahaan gue hancur 'kan?" tuduhnya yang berhasil membuat Willy mendadak menginjak rem mobil.
"Tuduhan lo, sungguh menyakiti hatiku, Kanda," ucapnya yang kembali menjalankan mobilnya.
Aldi melirik jijik pada sahabatnya, "lagian kenapa lo tadi lurus banget ngomong sama tuh orang India, kenapa lo gak nanya ke gue soal proyek ini?" tanyanya masih curiga.
Willy merotasikan matanya, "gue gak ogeb-ogeb amat kali, Boss. Di dokumen itu kan lo udah cantumin semuanya, dan gue juga udah sempet baca. Malahan dia berani ngasih keuntungan lebih kalau proyek ini sudah berhasil."
Aldi tersenyum, dia percaya dengan sahabatnya, "oke, jadi gak sia-sia dong lo jadi sekertaris gue." Aldi menepuk pundak Willy.
Willy merotasikan matanya, "ini ada imbalannya ya, Boss. Lo harus bantuin gue buat cari perempuan yang semalam gue tolongin."
***
Nakisya sudah beberapa kali memejamkan matanya, tapi dirinya tetap tidak bisa tidur. Jalan terakhir yang dia lakukannya sekarang adalah memutar musik. Biasanya dengan mendengarkan musik, pikirannya akan rileks. Dan memang terbukti. Sekarang perlahan mata Nakisya mulai terpejam, melupakan semua kejadian buruk yang hampir menimpanya semalam. Namun baru setengah jam dirinya terpejam, Nakisya kembali terbangun karena kejadian itu masuk kedalam mimpinya. Nakisya langsung membuka matanya. Dilihatnya seseorang yang tengah tersenyum kepadanya.
"Sudah lama disini?" tanya Nakisya pada orang yang sedang duduk di sofa kamarnya.
Bersambung...
Bisa ditebak dong siapa yang duduk di sofa? 😁😁
Gak maksud gantung lagi ya gaes, ini beneran udah panjang banget, 2000 kata loh, kalau gak percaya hitung aja 😂😂
__ADS_1
Like + Koment + Vote 🤗🤗