Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Artis


__ADS_3

Nakisya baru sampai di kamarnya, gadis itu langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya. Suara pintu yang terbuka, membuat gadis itu menoleh.


"Pintunya gak di kunci, jadi Bunda langsung masuk, gak apa-apa kan gak ketuk pintu dulu?" tanya wanita itu sambil melengkungkan bibirnya keatas.


"Biasanya juga Bunda langsung masuk," jawab gadis itu dengan pelan.


Widya cengengesan, matanya langsung berkeliling seperti sedang mencari sesuatu. "Ngomong-ngomong dibeliin apa kamu sama calon mama mertua? Tadi kata Bu Dina kalian habis shoping ya? Eh menurut kamu, dia baik gak? Kalau menurut Bunda sih kayaknya dia baik banget deh, padahal kalian baru saling kenal ya?" Widya nampak antusias, wanita itu tanpa henti terus menanyakan tentang wanita yang akan menjadi besan nya.


"Bunda, Kisya bingung mau jawab yang mana, lagian Kisya cape banget, di pending dulu ya jawabannya buat besok," rengek gadis itu. Wajahnya terlihat memelas menatap Widya.


Widya berdecak kesal, "Yaudah deh, tapi janji ya besok cerita," ucap wanita yang langsung melangkah keluar.


****


Pagi hari, seperti tidak pernah melewatkan absennya, Aldi sudah siap menunggu Nakisya di depan pintu rumah gadis itu.


"Pagi, Bang Al," sapa gadis itu dengan senyum mengembang yang terpancar dari wajah cantiknya.


Aldi membalas senyum manis itu, "Pagi juga, sayang."


"Kok naik mobil? Padahal aku udah pakai baju kaya gini, kirain mau naik motor lagi," ucap gadis itu.


Aldi memindai tubuh Nakisya yang terlihat keren dengan pakaian ala-ala anak motor. "Keren sih, tapi gak pantes ah."


Nakisya langsung memberengut, "masa gak pantes, ini kan jaket kulit baru, yang kemarin di beliin sama calon mertua," ucapnya sambil tersipu malu.


Aldi sempat tertegun, ternyata mamanya benar-benar langsung akrab dengan calon istrinya. "Em, maksud aku, kamu kurang pantas pakai itu, kamu lebih pantes pakai kebaya dan duduk bersanding dengan aku di pelaminan."


Nakisya tertawa, "gombalan Abang makin sini makin garing tau, harus lebih di tingkatkan lagi ya, biar baper akunya," ucap gadis itu yang langsung masuk ke dalam mobil, saat Aldi membukakan pintu untuknya.


Setelah memasangkan seat belt ditubuh Nakisya, Aldi langsung menghidupkan mesin mobilnya, "kemarin seru gak? Dibeliin apa aja sama mama?" tanya lelaki yang kini menjalankan mobilnya.

__ADS_1


"Nakisya mengingat apa saja yang dilakukannya kemarin bersama Dina, "seru banget, mama kamu banyak cerita sama aku, katanya dia nyesel banget karena enggak dari dulu nemuin kamu. Oh iya, selain jaket ini aku juga di beliin banyak banget dres, awalnya aku nolak, tapi mama kamu maksa, bahkan mama juga beliin baju couple loh buat aku sama Abang." Nakisya terus menceritakan apa saja yang sudah di lakukannya bersama Dina, sampai tidak terasa mobil yang ditumpanginya sudah sampai tujuan.


Aldi mengulas senyumnya, tangannya melambai pada Nakisya saat gadis itu melangkah meninggalkannya menuju gedung universitas.


Tidak bisa dipungkiri, saat mendengar cerita dari Nakisya tadi, lelaki itu sangat merasa bahagia, membayangkan kalau pernikahannya yang sebentar lagi, akan lengkap dengan hadirnya Dina, wanita yang merupakan ibu kandungnya. Tapi perlahan dirinya teringat dengan perkataan Arya kemarin.


***


Saat hendak berangkat istirahat, ponsel Aldi berbunyi menandakan kalau adanya sebuah pesan yang masuk.


Setelah membaca pesan pendek yang ternyata dari sang mama, Aldi langsung bergegas menuju tempat yang juga disebutkan oleh wanita itu.


Mobil yang di kendarai oleh Aldi telah sampai disebuah rumah kecil namun terlihat mewah dengan arsitektur moderen klasik.


Dina yang sudah menunggu kedatangan sang putra langsung bergegas keluar menyambut putranya itu.


"Siang, Mam," ucap Aldi sambil menyalim tangan wanita itu.


Aldi terkekeh pelan, "justru dengan jabatan itu aku malah jadi banyak waktu buat santai, buat apa punya banyak karyawan kalau Aldi masih tetap harus kerja keras."


Dina langsung mengajak putranya itu untuk masuk, "ini rumah yang baru beberapa hari mama beli, sangat beda jauh ya, dengan rumah papa dan ayah kamu yang besar."


Dina mengetahui perihal Aldi yang sudah tau tentang Rainald yang ternyata Ayah kandungnya. Melihat raut wajah dari anaknya, Dina mengulas senyum. "Kemarin Kisya yang ngasih tau mama. Maaf, dulu mama sempat merahasiakan kebenaran tentang ayah kandung kamu. Mama ngelakuin itu karena papa kamu-,"


"Karena papa yang ngelarang 'kan?" ucap Aldi langsung memotong kalimat wanita itu.


Dina mengangguk, "tapi walau bagaimanapun Arya sudah menganggap kamu seperti anaknya sendiri. Disini mama yang salah. Maafkan mama," ucap wanita itu dengan lirih, matanya sudah mulai berlinang cairan bening yang hampir jatuh membasahi pipinya.


Aldi mengusap ujung mata wanita itu, dirinya langsung mengingat perkataan Nakisya dan Widya, kedua wanita yang mengatakan menerima masalalu nya dan menerima dirinya.


Aldi menatap wajah wanita yang masih terlihat kencang meskipun usianya hampir menginjak setengah abad. "Semua orang pernah salah, dan Aldi gak akan menyalahkan Mama, karena Mama adalah wanita paling berjasa yang sudah berjuang untuk melahirkan Aldi."

__ADS_1


Setelah suasana yang begitu mengharukan, kini keduanya sudah duduk di kursi ruang makan."Mama masih ingat sama makanan kesukaan kamu. Jadi mama sendiri yang buat ini semua, semoga kamu suka," ucap wanita itu.


Aldi menatap meja yang penuh dengan olahan seafood. Dari kecil dirinya memang sangat menyukai itu. Dengan cepat tangannya langsung mengambil dan mencoba satu persatu masakan itu.


"Kamu pelan-pelan dong makannya," ucap Dina saat melihat sang anak yang begitu semangat saat menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


"Ini enak banget. Masakan Mama dari dulu emang paling juara," ucapnya memuji.


Dina tersenyum puas. "Mama boleh minta sesuatu gak, sama kamu?"


***


Setelah sampai kembali ke kantornya, Aldi langsung menuruti permintaan ibunya. Melalui telfon Aldi memanggil perempuan yang menjabat sebagai sekertarisnya.


Wina langsung bergegas saat sang atasan memanggil dirinya. Tidak lupa sebelum memasuki ruangan itu, Wina lebih dulu membereskan penampilannya, menambahkan warna bibirnya yang padahal masih begitu tebal dengan warna merah yang menyala. Bibir perempuan itu semakin terlihat seperti habis memakan hewan hidup, perempuan itu dengan percaya dirinya berjalan sambil melenggok-lenggokan tubuhnya.


"Bapak manggil saya?" ucapnya basa basi.


Tanpa menoleh, Aldi yang sedang memainkan ponselnya tiba-tiba menyodorkan amplop ke arah Wina. "Mulai hari ini kamu tidak usah lagi bekerja di perusahaan ini."


Wina terlonjak, wajahnya terlihat shock, "kenapa, apa salah saya?" tanya wanita itu dengan suara yang terdengar bergetar.


Aldi menyimpan ponselnya. "Kamu tidak salah, hanya saja menurut saya, dengan dandanan kamu yang seperti itu, kamu akan lebih pantas menjadi seorang artis," jawab Aldi dengan hati-hati, karena walau bagaimanapun Wina tidak pernah berbuat salah kepadanya.


Wina sedikit kesal, karena tujuannya bekerja di perusahaan Aldi hanya untuk mendapatkan cinta lelaki itu. Namun mendapat pujian yang mengatakan kalau dirinya pantas menjadi seorang artis, tentu saja membuatnya tersenyum. "Artis kan emang harus cantik, berarti secara tidak langsung Aldi bilang aku cantik," gumam Wina dalam hati.


Dengan wajah yang masih memancarkan senyuman, wina keluar dari ruangan Aldi. "Baiklah aku akan ikutan casting supaya bisa jadi artis terkenal, dan setelah itu aku akan kembali memenangkan hati kamu, Aldi."


Bersambung dulu...


Like + Koment (next aja)

__ADS_1


__ADS_2