
Aldi mengambil jagung itu, dan menyimpannya di atas piring. "Aku mau ngomong sama kamu," ujar Aldi yang kini menggenggam kedua tangan kekasihnya.
Nakisya tersenyum, melihat raut wajah lelaki itu yang kini terlihat serius, "ngomong aja, sayang," ucap gadis itu dengan suara yang begitu lirih..
Aldi mengerjap, "barusan kamu panggil aku apa?" tanya lelaki itu dengan tatapan tidak percaya, berharap telinganya tidak bermasalah. Pasalnya gadis itu belum pernah memanggil dirinya dengan panggilan romantis.
Nakisya tersenyum, "sayang," jawab gadis itu, dengan wajah yang tampak bersemu merah.
Aldi berdehem, buku jarinya langsung mengelus pipi mulus gadis itu.
"Apa kamu akan tetap seperti yang sekarang, kalau kamu mengetahui siapa aku yang dulu?" tanya lelaki itu dengan wajah yang nampak serius.
Senyum Nakisya perlahan memudar, matanya menatap mata milik kekasihnya itu yang kini terlihat sayu. Nakisya teringat saat pertemuan pertamanya dulu dengan Aldi di sebuah club malam.
Tatapan Nakisya berubah datar, "apa dulu kamu playboy? tukang mainin perempuan? tukang mabuk-mabuk an?" tanya gadis itu mencoba menebak.
Wajah Aldi menegang, dirinya hendak mengatakan 'iya,' namun entah mengapa lidahnya seketika menjadi kelu.
Mata Nakisya berkedip dengan pelan, "Aku telah jatuh, ke dasar hati kamu yang paling dalam, dan mungkin akan sulit buat aku untuk bangkit dan pergi dari tempat itu," ujar gadis itu, dengan sorot mata yang memancarkan kesungguhan.
"Kalaupun dulu kamu memang seperti itu, aku gak peduli, toh itu hanya masa lalu kamu, dan aku juga punya masa lalu, asalkan sekarang kamu janji gak akan seperti itu lagi," imbuh gadis itu kemudian.
Aldi tertegun, matanya mengerjap, mendengar kalimat yang terlontar dari bibir mungil gadis itu, gadis yang masih lugu, masih kekanakan. Bahkan Aldi sempat ragu, apa iya kalimat sebijak itu beneran keluar dari mulut kekasihnya.
"Kamu serius?" tanya Aldi dengan suara pelan.
Nakisya tersenyum dengan begitu manis, membuat hati lelaki itu kian berdesir.
"Iya aku serius, tapi jangan sekarang, belum siap akunya, hehe" celetuk gadis itu membuat Aldi dengan gemas mengacak rambut kekasihnya.
Seolah terlepas dari beban berat yang menimpanya, kini Aldi bernapas lega, semua ketakutannya selama ini langsung hilang seketika. Aldi tersenyum, menarik tubuh gadis itu kedalan pelukannya, dan mengecup puncak kepala gadis itu.
Aldi melepaskan pelukannya, dirinya langsung memegang lengan Nakisya, menatap mata gadis itu yang juga sedang menatapnya. "Terima kasih ya. Aku memang tidak mempunyai kesempurnaan layaknya orang lain, tapi aku memiliki satu hati yang akan selalu setia kepadamu. Dan aku janji gak akan ngecewain kamu," ucap lelaki itu dengan penuh kesungguhan yang terlihat dari sorot matanya.
Nakisya mengangguk, sorot mata kekasihnya menyiratkan kesungguhan atas kalimat yang baru saja di lontarkannya. Gadis itu kembali memeluk tubuh kekasihnya.
Nakisya merasakan pelukan kekasihnya, pelukan yang selalu membuat jantungnya berpacu dengan cepat, namun sekaligus membuatnya nyaman. "Aku harap, kalimat kamu sungguh-sungguh, Bang. Aku memang gampang mencintai seseorang, termasuk sama kamu, tapi aku gak sanggup kalau harus merasakan sakitnya pengkhianatan untuk yang kedua kalinya."
__ADS_1
"Sya, gabung sini dong, biar rame," teriak Rani pada Nakisya, yang langsung membuat kedua pasangan itu tersentak dan langsung melepaskan pelukannya.
"Ganggu aja!" gerutu Aldi yang langsung mendapat cubitan di pinggangnya.
Nakisya tersenyum, "gak boleh gitu, dia sahabat aku!" ucap gadis itu dengan suara pelan.
****
"Kalian lihat Angga gak?" tanya Rizky pada empat gadis yang sedang menikmati hasil panggangan mereka.
Weni mendongak, mengarahkan dagunya pada sosok yang di tanyakan oleh Rizky, "tadi sih dia pergi ke situ," jawab gadis itu yang kembali menikmati daging sapi yang di panggangnya.
Rizky memperhatikan sahabatnya yang sedang menatap ke arah dua orang yang sedang kasmaran. Terlihat raut wajah yang menyiratkan luka dari lelaki itu.
"Sabar ya bro gue ngerasain kok, apa yang saat ini lo rasain," ujar lelaki itu dengan wajah yang di buat sedih.
"Mending kita ikut makan yu, karena patah hati juga butuh tenaga," imbuh lelaki itu kemudian.
Angga merotasikan matanya, "lo gak akan tau rasanya, karena lo gak ngalamin!" ketus lelaki itu yang langsung memposisikan gitarnya.
🎶
mungkin ini memang jalan takdirku
mengagumi tanpa dicintai
tak mengapa bagiku
asal kau pun bahagia dalam hidupmu, dalam hidupmu
telah lama kupendam perasaan itu
menunggu hatimu menyambut diriku
tak mengapa bagiku
mencintaimu pun adalah bahagia untukku, bahagia un-,
__ADS_1
Angga menghentikan lagunya, saat Riko tiba-tiba datang dan duduk di samping Angga.
Riko menepuk pundak Angga, loh kok malah berhenti?" tanya lelaki itu sambil mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya, dan menyodorkan pada kedua lelaki di hadapannya, namun mereka dengan tegas menolaknya.
Riko mulai menyesap benda kecil itu, dan mengeluarkan asapnya. Lelaki itu memperhatikan Angga, "denger-denger kamu siswa lulusan terbaik ya? tapi kok galau sih? happy dong harusnya," ucap Riko memberi semangat.
Angga menggaruk tengkuknya, "eh Bang Riko, jadi malu gue," ujar lelaki itu.
Riko tertawa, "santai aja lah kalau sama gue, gue boring nih, Aldi gak tau kemana, bolehkan kalau gue ikut gabung sama kalian?" tanya lelaki itu yang langsung mendapat anggukan dari kedua lelaki yang usianya berada di bawah usianya.
"Lagunya ganti dong, jangan yang galau, biar semangat," pinta Riko pada Angga yang masih terlihat canggung duduk bersamanya.
Angga memberikan gitarnya pada Riko, "kalau gitu, Bang Riko aja yang maen, soalnya gue kurang bisa maen, Bang."
Rizky melirik sinis, "iyalah, elo kan bisanya cuma lagu itu doang, sampai bosen gue dengernya, tiap lo maen gitar itu mulu yang lo nyanyiin."
"Kaya elo bisa aja!" tukas Angga, tidak terima saat dirinya di permalukan di depan orang yang baru dikenalnya.
Riko berdecak, dirinya kemari bermaksud mencari teman ngobrol, bukan malah menyaksikan perdebatan antara sesama teman.
"Udah, gue tau kalian pasti pada gak bisa maen, jadi gak usah saling menjatuhkan," ujar lelaki itu mencoba menengahi.
"Anak jaman sekarang emang bisa nya cuma maen game online doang," imbuh lelaki itu kemudian.
"Yaudah kalau gitu, Bang Riko aja yang maen," ucap kedua lelaki itu dengan kompak.
Angga tersenyum ramah ke arah lelaki itu, "pasti Bang Riko udah jago, kan bukan anak jaman sekarang," ucap Angga dengan nada bercanda.
Riko membulatkan bola matanya, sepertinya dirinya salah bicara, karena sejujurnya dirinya juga sama sekali tidak bisa memainkan benda itu, "bukan gitu maksud gue!"
-
-
Like + Koment (next aja kalau bingung) + Rate bintang lima ya😁😉
Hatur nuhun 🤗🙏
__ADS_1