Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Shower


__ADS_3

Bijak dalam membaca. Yang belum menikah skip aja🤗🤗


Aldi masih memeluk tubuh Nakisya dari belakang, sambil terus mendaratkan kecupannya di area leher istrinya. Tangannya yang melingkar diatas perut Nakisya, perlahan turun ke area bawah perut. Satu jarinya mulai bergerak nakal, masuk ke bagian lubang belut dan menari-nari indah di dalamnya. Jari itu kembali keluar, memainkan sesuatu yang berukuran kecil yang ada di pinggiran lubang itu.


Nakisya menempelkan kedua tangannya pada dinding keramik warna biru langit. "Akhhmmpt," desah Nakisya saat jari nakal Aldi semakin cepat bergerak disitu.


Tidak puas disitu, bibir Aldi terus menyapu bersih bagian kiri dan kanan leher Nakisya, memberikan gigitan kecil, sehingga hampir sekujur leher istrinya penuh dengan tanda kepemilikan.


"Aku sangat mencintaimu," bisik Aldi pada telinga Nakisya.


Nakisya semakin meracau, tubuhnya semakin menggelinjang dengan hebat, saat sebelah tangan Aldi merem4s buah kembarnya. "Sa... yang. Aahh..."


Aldi mengecilkan air yang keluar dari shower yang ada di atas kepalanya. Memutar tubuh Nakisya dan langsung menenggelamkan wajahnya diatas dua buah favoritnya, yang kini terlihat semakin besar. Ada kebanggaan sendiri bagi Aldi karena kekreatipan tangannya buah milik Nakisya bisa menjadi semakin subur. Menggigit kecil bagian ujung buah itu. Memainkan lidahnya disana, membuat sang pemilik semakin meracau tak karuan.


Tangan Nakisya berada diatas kepala Aldi, mengelus rambut basah suaminya. Sesekali ia meremas kuat rambut hitam lebat itu, saat Aldi mengecup bahkan menggigit kecil di buah miliknya.


Bercak kepemilikan di tubuh Nakisya sudah tak terhitung, bahkan Nakisya merasakan sedikit nyeri saat air shower jatuh mengenainya.


Aldi menegakan tubuhnya, membelai lembut wajah cantik Nakisya. "Cup," Aldi kembali mendaratkan kecupannya di kening istrinya, sedikit menekankan bibirnya di situ. Perlahan bibirnya turun melalui hidung Nakisya dan berujung pada bibir tipis yang merupakan candunya.


Nakisya memejamkan matanya, menikmati setiap tarian lidah Aldi yang berada di rongga mulutnya. Tangannya di lingkarkan pada leher Aldi. Sedikit menekan tengkuk suaminya itu, seolah-olah Ia tidak mau mengakhiri ciuman yang memabukannya.


Belut Aldi sudah sangat tegak, bahkan mengalahkan tegaknya tiang bender. Belut itu mulai menempel pada pintu menuju lubang nya.


Aldi melepaskan pagutannya, menatap wajah istrinya yang terlihat semakin sayup. Tangannya memosisikan belutnya supaya tepat masuk ke lubang nya.


Nakisya mengerti dengan tatapan sendu suaminya. Perlahan kepalanya mengangguk, memberi isyarat kalau dia mengijinkan belut itu memasukinya.


Aldi mengulas senyumnya. Lagi-lagi mengusap pipi Nakisya. Aldi memundurkan tubuhnya, Ia tidak jadi memasukan belut itu, membuat Nakisya mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" tanya Nakisya dengan raut wajah kecewa. Tentu saja badannya yang sudah terbakar gairah sangat menginginkan belut itu.

__ADS_1


Aldi mengusap ujung kepala Nakisya gemas. Ia juga sangat menginginkannya, tapi tidak mungkin melakukannya di dalam kamar mandi. Meskipun kamar mandi ini jauh sangat layak jika di bandingkan toilet umum saat di grand canyon, tapi tetap saja Aldi tidak mau hasil percintaannya sekarang menciptakan benih yang dihasilkan dari hubungan di kamar mandi.


Aldi mematikan shower. Perlahan tangan kekarnya mengangkat tubuh Nakisya. Melangkah menuju ranjang dengan bibirnya yang kembali meraup bibir Nakisya.


Tanpa melepaskan pagutannya, Aldi menurunkan Nakisya di atas ranjang besar. Hasratnya sudah memuncak. Ia tidak lagi melakukan pemanasan, karena belut nya sudah tidak sabar ingin masuk ke dalam lubangnya. Aldi memberikan jarak, untuk memosisikan belut nya. "Kenapa masih saja sempit," batin nya.


"Akkkhh..." desahan Nakisya merasakan belut Aldi mulai masuk kedalam lubang nya.


Dengan gerakan pelan, Aldi memaju mundurkan tubuhnya. Membuat belut nya ikut keluar masuk. Aldi menambahkan kecepatannya, saat ia mulai sampai pada puncaknya.


Nakisya semakin mendesah. Ia mencengkram kuat sprei yang menjadi alas nya bercinta sekarang.


"Ahhh..."


Desahan merdu Nakisya membuat Aldi kegilaan, dengan gerakan cepat ia terus menarik ulur belut nya. Tangan nya yang berada di atas buah favoritnya, teruas meremas bagian itu.


"Aakkhhh..." desah keduanya, saat merasakan kenikmatan yang membawanya ke puncak nirwana.


Aldi menarik selimut untuk menutupi tubuh nya dan tubuh polos istrinya. "Terima kasih sayang." Aldi mengecup bibir Nakisya. Memeluk erat tubuh mungil istrinya, dan menariknya pada dada bidangnya.


Nakisya duduk, merenggangkan otot tubuhnya yang sedikit kaku. "Padahal aku pengen lihat sunrise," gumamnya kecewa.


Selimut yang merosot dari tubuh polosnya, membuat Nakisya bisa melihat seberapa banyak tanda kepemilikan yang ada di area dada nya. Matanya melirik pada sipembuat tanda itu. Senyumnya terbit saat mengingat bagaimana suaminya itu dengan liar menciptakan tanda merah itu. Tangannya terulur untuk mengusap pelan wajah suaminya yang sempurna tanpa ada cacat setitikpun.


"Puas belum liatinnya?"


"Eh." Wajah Nakisya merona, saat mengetahui ternyata suaminya sudah bangun.


"Cup," satu kecupan berhasil mendarat di bibir Nakisya.


Aldi tersenyum, "itu kenapa wajahnya, merah gitu? Masih belum puas semalam?" tanyanya dengan tatapan menggoda.

__ADS_1


"Udah. Malah ini ada kembalianya," ucap Nakisya sambil mendekatkan wajahnya.


"Cup," satu kecupan Nakisya berikan pada bibir suaminya.


Aldi sempat terpaku, menerima ciuman dari istrinya, walau bagaimanapun, selama ini dirinya yang selalu memulai duluan.


"Mulai nakal ya." Aldi menarik tubuh istrinya, membuat wanita itu terbaring diatas tubuhnya yang masih polos. Tanpa Ampun Aldi menghujani wajah Nakisya dengan kecupan.


Nakisya mulai kegelian, saat tangan Aldi mulai menggelitiki pinggangnya.


"Udah! Aku geli," ucapnya yang langsung beralih duduk diatas tubuh Aldi.


Entah disengaja atau tidak, posisi nakisya duduk tepat diatas tempat belut Aldi, otomatis membuat belut yang sedang tertidur itu ikut terbangun.


"Sayang. Kamu semakin nakal ya ternyata." Aldi menjatuhkan tubuh Nakisya dan mengurungnya dengan tubuh kekarnya.


"Eh, apa?" tanya Nakisya dengan polos. Lebih tepatnya pura-pura polos.


"Sepertinya semalam aku memang kurang memuaskan mu, ya?"


"Abang-, Emmm."


***


Willy nampak kalang kabut, saat hari ke empat, bos sekaligus sahabatnya belum juga masuk ke kantor. "Dua hari apaan," gerutunya sambil melangkah menuju salah satu tempat untuk menghadiri undangan meeting. Bahkan beberapa panggilan dan pesan untuk Aldi tidak ada satupun yang direspon.


Ya, semasa cuti Aldi memang sudah mempercayakan semua tugas kepada Willy. Bahkan Willy sempat menyesal telah berhasil mendapatkan tender dari pengusaha asal luar negri, sehingga karena itu Aldi jadi mempercayainya. Bukan tidak mau mendapat kepercayaan, hanya saja Willy jadi banyak menghandle pekerjaan bosnya.


"Mentang-mentang sekarang gue pegawainya, dia seenaknya sama gue." Willy masih saja menggerutu. Sampai ia tiba di sebuah kamar hotel yang menjadi tempatnya meeting, dengan wanita asal India yang pernah beberapa hari bekerja sama dengan perusahaan Aldi.


"Andar aaen!" perintah seseorang saat Willy mengetuk pintu hotel.

__ADS_1


Willy yang mendapat perintah, langsung membuka pintu kamar hotel. "Glekkk..." Dengan susah payah, Willy menelan ludahnya secara paksa, saat matanya melihat wanita India itu hanya mengenakan kain tipis yang memperlihatkan kemolekan tubuhnya.


Adegan Willy mah gak usah dijabarkan ya? 😂😂


__ADS_2