Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Hamil 3


__ADS_3

Nakisya membuka kelopak matanya. Ia melirik jam yang sudah menunjukan angka lima tiga puluh. Terdengar suara gemericik air, pertanda kalau Aldi sedang berada di dalam. Kepala Nakisya sudah tidak seberat kemarin. Dengan langkah sedikit cepat, karena takut kehabisan waktu sholat, Nakisya keluar kamar menuju kamar bawah untuk mengambil air wudhu.


Nakisya juga sholat di kamar bawah. Setelah selesai ia langsung kearah dapur untuk menyiapkan sarapan. Tidak membutuhkan waktu lama, satu piring nasi goreng beserta dua telur mata sapi sudah siap berada di atas meja makan. Nakisya dan Aldi memang selalu makan dalam satu piring yang sama, bukan untuk mengirit piring, tapi benar-benar biar terasa romantis. Dan sekarang rasa masakan Nakisya sudah layak masuk ke dalam mulut. Setiap hari Nakisya selalu belajar memasak, tentunya dengan bantuan bi Jum dan ilmu yang didapatnya dari kutub.


Nakisya menolehkan pandangannya kearah suara kaki yang sedang menuruni tangga. Nakisya memberikan senyumnya pada Aldi. Namun Aldi hanya membalasnya dengan tersenyum samar. Sangat jelas terlihat kalau suaminya itu masih menyimpan rasa kesal terhadapnya.


Aldi menuangkan air ke dalam gelas, lalu menegaknya dengan cepat. "Aku langsung berangkat."


Nakisya memegang tangan Aldi. "Sarapan dulu," ajak Nakisya dengan wajah sendu.


"Aku ada meeting penting."


"Sebentar aja. Sarapan dulu ya," ajak Nakisya. Kali ini tatapannya seperti memohon.


Aldi menghela nafas, pagi ini dirinya memang ada meeting penting. Namun melihat perjuangan sang istri yang masih mau membuatkannya sarapan, padahal masih terlihat sakit, akhirnya ia menuruti Nakisya. Menunda rasa kesalnya untuk sementara. Satu suap nasi goreng masuk kemulut nya. Aldi kembali menyendoknya, meletetakan sendok itu. "Aku udah telat," ucapnya sambil mengambil air putih, dan meminumnya.


Dada Nakisya terasa sakit, melihat Aldi pergi begitu saja. Biasanya suaminya itu kalau berangkat tidak pernah absen mengecup keningnya.


Hari ini Nakisya memutuskan tidak berangkat ke kampus, kepalanya masih sedikit pusing, dan suasana hatinya sedang tidak bersahabat.


Sepanjang hari ia hanya berbaring diatas sofa ruang tamu, menonton acara televisi, sambil memikirkan sikap Aldi yang menunjukan kekecewaan terhadapnya. Sampai tidak terasa matanya terpejam dan mulai menjelajah di alam mimpi.


Sudah cukup lama Nakisya tertidur, bahkan ia merasakan tubuhnya yang terasa pegal. Nakisya membuka matanya. "Kok aku sudah dikamar," gumamnya dalam hati, saat menyadari kalau posisinya sekarang ada di atas kasur.


Matanya langsung bertemu dengan mata Aldi yang baru keluar dari kamar mandi.


"Abang..." lirihnya dengan pelan.


Aldi tersenyum samar, senyuman yang sama dengan tadi pagi, membuat hati Nakisya semakin teriris.

__ADS_1


Aldi mengambil ponsel yang tergeletak diatas meja, ia hendak keluar dari kamarnya.


Nakisya membesarkan langkahnya, memeluk tubuh suaminya dari belakang. Sangat erat, begitu takut kalau Aldi melepaskan pelukannya itu. "Abang boleh hukum aku, tapi jangan seperti ini," lirihnya dengan bibir yang bergetar.


Aldi memejamkan matanya, ia sungguh tidak bermaksud membuat istrinya bersedih. Aldi hanya sedang mengungkapkan kekesalannya. Perlahan tangannya melepaskan tangan Nakisya yang melingkar di perutnya.


Nakisya semakin berusaha menahan tubuh Aldi. "Jangan dilepas!" ucapnya.


"Abang gak bisa nafas," ucap Aldi berbohong.


Nakisya mengendurkan pelukannya. Membuat Aldi dengan cepat memutar tubuhnya.


Grepp.


Cukup sudah Aldi bersikap dingin, ia sudah sangat kasihan dengan istrinya. Lagipula Nakisya tidak sepenuhnya salah, bukannya dulu di awal perjodohan Nakisya sudah mengatakan tidak ingin terburu-buru memiliki anak. Hanya saja cara Nakisya yang tidak dapat Aldi benarkan. Aldi memeluk tubuh Nakisya, mengusap puncak kepalanya. "Maaf, gara-gara Abang kamu harus menyiksa diri kamu dengan KB sialan itu, sampai kamu harus merasakan sakit."


Nakisya menggeleng, tangisannya semakin pecah. "Maaf... Aku udah buat Abang kecewa, hu.. hu.. hu."


Nakisya menggeleng sebagai jawaban. "Abang gak ada niatan buat cari anak dari wanita lain 'kan?" tanyanya dengan wajah serius. Tadi siang ia melihat sinetron yang menceritakan seorang suami yang berselingkuh, karena istrinya belum memberikan seorang anak. Dan gara-gara sinetron itu Nakisya semakin merasa takut.


Aldi mengerutkan keningnya, "kok kamu mikir kaya gitu?" Aldi kembali mengusap pipi Nakisya yang lagi-lagi basah karena air mata.


"Abang gak mungkin bermain dibelakang kamu hanya karena alasan anak. Bahkan abang lebih rela gak punya anak selamanya kalau emang kamu benar-benar gak mau." Terlihat wajah Aldi yang nampak begitu serius saat mengucapkan kalimatnya.


"Tapi Abang minta, mulai sekarang jangan ada lagi hal yang kamu sembunyikan dari abang. Karena Abang paling tidak suka dibohongi."


"Aku janji."


Aldi tersenyum, ia mengecup kening Nakisya dengan lembut, sedikit lama bibir itu menempel, menyalurkan semua rasa sayangnya. Meskipun Aldi sangat kesal, tapi rasa cintanya bisa mengalahkan emosinya.

__ADS_1


Nakisya kembali memeluk tubuh suaminya, "sekarang waktu KB aku sudah habis, dan aku gak akan melanjutkannya lagi. Aku sudah siap untuk hamil."


Aldi mengusap punggung Nakisya, ia dapat merasakan tubuh istrinya yang bergetar. Aldi sangat menyesal menjadi penyebab tangisan istrinya sendiri.


"Sekarang tidur yu, sudah malam," ajak Aldi sambil memapah tubuh Nakisya.


Nakisya berbaring, diikuti oleh Aldi yang juga berbaring disampingnya. Namun kening Nakisya kembali berkerut, hatinya kembali mencelos, melihat Aldi yang membelakangi tubuhnya.


Seolah mengerti, tanpa membalikan tubuhnya Aldi berujar, "maaf, Abang terpaksa membelakangi kamu, soalnya Abang gak bisa ngontrol kalau liat tubuh kamu. Apalagi kata kamu KB nya sudah habis."


Nakisya memeluk punggung Aldi. "Tapi aku beneran udah siap hamil."


Aldi mengusap tangan Nakisya. "Sekarang malah abang yang belum siap," ucap Aldi berkilah. Aldi hanya tidak mau kalau Nakisya merasa terpaksa. Meskipun Aldi sangat menginginkan kehadiran seorang bayi, tapi kali ini ia tidak mau egois. Aldi akan sabar, sampai Nakisya benar-benar siap mengandung buah hatinya.


***


Ditempat yang berbeda, tapi diwaktu yang sama, seorang pria sedang terlihat gusar. Riko sangat bahagia mendapat kenyataan kalau istrinya sedang mengandung benih cintanya. Namun masalahnya kehamilan istrinya itu selalu membuat Riko pusing dengan semua permintaan aneh sang istri. Kali ini Nia menginginkan oleh-oleh khas Pangandaran.


"Masih untung bayinya gak minta kamu beli langsung dari tempat asalnya," ucap Nia mengerucutkan bibirnya.


Riko melirik jam yang menunjukan angka sembilan malam. "Bebh, tapi ini udah malam, lagian di sini kayaknya gak ada yang jualan noga kelapa," ucapnya dengan wajah memelas, berharap sang istri mau menunda acara ngidamnya.


"Pokoknya aku mau itu, dan aku gak mau tau, kamu harus dapat," ujar Nia dengan tegas.


Riko mengusap wajahnya kasar, sepertinya percuma bernego dengan ibu hamil. Riko melangkah kearah pintu, kepalanya masih berpikir, dimana yang menjual noga kelapa.


Mungkin Riko akan pergi ke tempat oleh-oleh, meskipun tempatnya lumayan jauh dari rumahnya.


Seolah teringat sesuatu, Riko yang sudah berada di luar, dengan segera ia kembali kedalam kamar. "Bebh, gimana kalau ngidamnya ganti aja, jadi ikan asin. Kan sama juga tuh dari laut, nanti aku cari deh di warung deket rumah, aku pastikan kalau ikan asin nya dari pangandaran."

__ADS_1


Nia menghembuskan nafasnya kasar, matanya melotot tajam, bahkan dada nya terlihat naik turun. Kini emosinya sudah memuncak. "Kamu pikir aku kucing! mau di kasih ikan asin."


Koment (next doang kalau bingung) + Like + Vote (pake koint juga gak apa)


__ADS_2