Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
kue


__ADS_3

Mentari pagi mulai menyapa, Nakisya masih nyaman di alam mimpinya, namun gadis itu mulai merasa terusik saat ada tangan yang terus mencolek pipinya.


"Bunda diem dong masih ngantuk aku. Lagian ini hari minggu," gerutu gadis itu dengan kelopak mata yang masih tertutup.


Namun seolah sengaja, tangan itu malah semakin gencar terus mengusap pipi gadis itu, membuat sang pemiliknya terpaksa bangun. "Bunda ih!"


Bola mata gadis itu langsung membuat sempurna saat mengetahui siapa orang yang saat ini ada di hadapannya. "Oh Ayah," ucap gadis itu sambil menguap.


"Tumben bukan Bunda yang ngebangunin?" tanya gadis itu kemudian.


Bagas menghela napas saat gadis itu kembali merebahkan tubuhnya, "Bunda lagi bikin sarapan. Kamu jangan malah tidur lagi, kasian tuh Aldi nungguin kamu bangun dari tadi."


"Emang dia kesini?" tanya gadis itu terlihat tidak semangat.


"Iya, dari tadi dia nungguin kamu bangun."


Nakisya merotasikan matanya. "Bilangin aja sama dia, Kisya nya masih tidur. Suruh pulang aja."


Bagas mulai merasa geram, ternyata ini alasan Widya yang selalu ngomel tiap pagi saat wanita itu keluar dari kamar putrinya, ternyata putrinya itu sangat susah untuk dibangunkan.


"Bangun Kisya, itu Aldi kasian," Bagas mengulangi kalimatnya.


"Kisya lagi malas Ayah, bilangin aja sih kalau Kisya gak enak badan," ucapnya langsung menutupi wajahnya dengan selimut.


"Kamu sakit?"


Suara dari seorang lelaki langsung berhasil membuat Nakisya membuka selimutnya, gadis itu membulatkan matanya. "Bang Al disini?" tanya gadis itu saat menyadari ternyata Aldi sudah ada didalam kamarnya.


"Dari tadi juga disini," ucap Bagas yang langsung berjalan menuju kearah pintu. Pria itu sudah jengah dengan putrinya yang ternyata sangat malas.


"Nak Aldi, mari kita tinggalkan saja gadis kebo ini," imbuhnya kemudian saat tubuhnya sejajar dengan Aldi.


"Iya Om, tapi Aldi mau bicara dulu sama Kisya, boleh?" tanya lelaki itu pada Bagas yang sudah melangkahkan kakinya. Aldi tersenyum saat pria yang akan menjadi papa mertuanya itu mengangguk.


Nakisya langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, saat Aldi mulai melangkah kearahnya. "Aku gak mau ngomong," ucap gadis itu dengan ketus.


Aldi masih tersenyum ramah menatap gadis itu, tangannya langsung terulur mengusap pelan ujung matanya.

__ADS_1


Nakisya yang kaget langsung menepis kasar tangan kekar milik lelaki itu. "Jangan sentuh aku! Aku masih ngambek sama kamu!" gadis itu menyilangkan tangannya di bawah dada.


Aldi terkekeh, kekasihnya itu memang selalu terlihat menggemaskan kalau sedang ngambek. "Abang cuma bersihin belek dari ujung mata kamu," ucapnya memberi alasan, padahal sama sekali mata gadis itu tidak ada beleknya.


Nakisya yang malu langsung mengusap bagian ujung matanya. "Masa sih?" tanya gadis itu dengan wajah yang mulai merah.


"Udah gak apa, tetep cantik kok."


Nakisya menekuk bibir bawahnya, tangannya langsung mendorong tubuh lelaki itu, "udah pergi sana, aku mau mandi."


Aldi mengulum senyumnya, "oke, Abang tunggu di bawah ya."


Aldi langsung menuruni anak tangga, menuju Bagas yang ternyata sudah menunggu dirinya.


"Kopi dulu, Nak Aldi," ucap pria itu sambil menyodorkan secangkir kopi yang masih terlihat mengepulkan asap.


Aldi mengangguk, "terima kasih, Om," ucap lelaki itu masih terlihat sungkan.


"Om dengar dari Ayah kamu, katanya persiapannya tinggal sedikit lagi ya?" tanya pria itu memulai pembicaraan antara keduanya.


Tiba-tiba Widya datang dari arah dapur, dengan piring yang berisi kue, "Ini buatan Kisya loh, dicobain dulu enak apa enggak?" ujar wanita itu sambil menaruh piringnya diatas meja.


"Iya, dia membuatnya malam. Kalau soal membuat kue dia lumayan jago, tapi kalau soal masakan dia nol besar," jawab wanita itu sambil terkekeh karena mengingat anaknya yang memang sama sekali tidak bisa memasak, bahkan membedakan jahe sama lengkuas saja gadis itu tidak bisa.


"Silakan di cobain."


Aldi langsung mengambil potongan kue itu, perlahan mulutnya menggigit bagian ujungnya, dan dalam hitungan detik kue yang ada di tangannya itu sudah berpindah ke mulutnya.


Mata lelaki itu berbinar, ini memang kue sederhana, namun rasanya sangat cocok di lidahnya yang memang pecinta semua jenis kue.


Ya, dari dulu Aldi memang hoby makan kue, bahkan alasan dirinya yang selalu pergi berkunjung ke rumah keluarga Vino karena ingin mencicipi kue buatan Anita. Bukan karena dirinya tidak mampu untuk membeli di luar, tapi menurutnya kue rumahan yang dibuat dengan ketulusan rasanya berbeda. Apalagi kue yang barusan dia makan, kue buatan gadis yang sangat dia cintai.


"Masih ada kok dibelakang," ucap Widya sambil mengulum senyumnya saat melihat calon menantunya itu dengan semangat melahap satu persatu potongan kue itu.


"Eh maaf, Tante," ucap Aldi yang langsung menggaruk tengkuknya, karena merasa malu. "Habis enak banget," imbuhnya kemudian.


Nakisya sudah selesai mandi, gadis itu memakai pakaian yang terkesan santai, celana jeans selutut dan kaos lengan pendek yang terlihat sedikit longgar.

__ADS_1


"Kalian gak ngomongin aku kan saat aku gak ada?" tanya gadis itu dengan percaya diri.


"Dih, punya anak kok percaya dirinya besar banget," celetuk Widya dengan malas.


"Yaudah yu, kita sarapan dulu," ajaknya kemudian pada semua orang yang ada di situ.


"Aldi udah kenyang, Tante," tolak lelaki itu sambil tersenyum.


"Kisya juga belum lapar, Bunda." Ucap gadis yang langsung duduk di samping Bagas.


"Yaudah, kalau gitu kalian berangkat sekarang aja, mumpung belum terlalu panas," ujar Bagas pada kedua pasangan kekasih itu.


Nakisya mengerutkan keningnya, matanya terlihat memicing, "emang mau kemana?" tanya gadis itu.


Tadi Aldi minta ijin ke Ayah, katanya mau ngajak kamu ke butik, buat pesan gaun pernikahan kalian."


Nakisya melirik ke arah Aldi yang tersenyum dan kepala yang mengangguk kepadanya. "Oh iya, aku sampai gak kepikiran sama gaun," ucap gadis itu dengan semangat sampai lupa kalau dirinya masih kesal terhadap lelaki yang ada di hadapannya itu.


"Tapi kamu belum sarapan." Widya langsung mencegah anaknya.


"Nanti aja, Bunda. Pulang dari sana."


"Enggak. Benar kata Tante, kamu harus sarapan dulu, aku gak mau kamu sakit," ucap Aldi yang kini menatap kearah gadis itu.


"Udah sana, Abang tungguan disini," ucap lelaki itu kemudian.


Dengan terpaksa Nakisya melangkah, mengikuti kedua orang tuanya yang sedang menuju kearah ruang makan.


"Katanya gak mau sarapan?" tanya Widya dengan menaikan sebelah alis matanya.


"Dipaksa sama Bang Al."


"Nah gitu, emang harus nurut. Bunda senang sekarang anak Bunda mulai terlihat jadi istri sholehah," puji wanita itu sambil mengusap pelan ujung kepala Nakisya.


Nakisya merotasikan matanya. "Kemarin di marahin gara-gara Bang Al, sekarang di puji juga gara-gara Bang Al," gumam gadis itu dalam hati.


Segini dulu, nanti up lagi😁

__ADS_1


Like + Koment (next aja kalau bingung) πŸ€—πŸ™


__ADS_2