
Nakisya hanya menurut dengan ajakan suaminya. Setelah melakukan check in dan membeli beberapa potong pakaian untuknya dan untuk Aldi, kedua pasangan itu langsung memasuki hotel yang sama dengan hotel yang menjadi tempat Riko dan Nia menginap.
Sebelum memasuki kamarnya, mata Nakisya tertuju pada spot foto yang jarang ia temui di hotel lain. Spot itu menyerupai piramida yang terbuat dari bahan kaca. "Abang, tolong fotoin dong," ucapnya sambil menyodorkan ponselnya pada Aldi.
"Dih alay, istri pemilik hotel selfie di hotel orang. Lagian, kayak gak pernah ke hotel aja. Bukannya dulu sering ya, sama mantan kamu?" ucap Aldi setelah ponsel Nakisya berada ditangannya.
Bibir Nakisya mengerucut, ia tentu masih ingat kejadian saat dirinya pergi ke hotel dan hampir melakukan hubungan terlarang dengan Doni. Namun karena Aldi berhasil mengikutinya, akhirnya Nakisya bisa selamat dari lelaki yang ternyata sangat b4jingan bernama Doni.
"Jangan ngungkit masa lalu, bisa? Lagian kata siapa sering. Orang aku cuma sekali," ujarnya mengklarifikasi.
Aldi mencebikan bibirnya, berlagak seperti tidak percaya dengan pengakuan sang istri. "Udah nih," ucapnya, menunjukan hasil foto yang diambilnya pada Nakisya.
"Ih... Kok gak ngasih aba-aba dulu, aku 'kan belum siap." Nakisya mengambil ponselnya, melihat hasil jepretan suaminya. "Tapi bagus juga," celetuknya saat melihat fotonya yang sedang mengerucutkan bibir. Meskipun posenya enggak banget, tapi melihat background dengan pemandangan pantai dan pepohanan yang hijau, membuat Nakisya merasa puas.
"Yaudah. Yu masuk." Aldi merampas ponsel Nakisya. Setelah berhasil membuka pintu kamar, ia langsung melangkah kedalam kamar yang bernuansa putih abu. Kamar yang diperkirakan memiliki ukuran 8Γ8 itu terlihat simple namun mewah, dengan ranjang berukuran king size, sprei warna putih, membuat siapapun akan nyaman bermalam dikamar itu. Ditambah dengan pemandangan laut yang dapat terlihat daro kaca besar yang menjadi dinding kamar itu.
"Kok HP aku diambil?" Nakisya berusaha mengambil kembali ponselnya, tapi dengan cepat pula Aldi mengangkat ponsel itu. Sehingga tubuh Nakisya yang jauh lebih pendek dari Aldi menjadi kesusahan.
Aldi mengulum senyumnya, saat Nakisya terlihat menyerah, bahkan wanita itu sedikit ngos-ngosan akibat loncat-loncat demi meraih ponselnya. Aldi memasukan ponsel Nakisya kedalam saku celananya. "Kamu pasti bakal sibuk posting semua foto kamu. Dan aku gak mau waktu kita tersita gara-gara itu."
Tanpa Aba-aba, Aldi langsung mengangkat tubuh Nakisya, dan menjatuhkannya diatas ranjang.
"Abang! Mandi dulu," pekik Nakisa, terus memukul dada bidang suaminya, yang kini berada diatas tubuhnya.
Aldi sama sekali tidak perduli dengan pukulan istrinya. Aldi menangkap pergelangan tangan Nakisya. Ia sudah begitu gemas dengan istrinya.
Nakisya mulai memejamkan matanya, ketika wajah Aldi sudah begitu dekat dengan wajahnya. Bahkan nafas pria itu dapat tercium oleh Nakisya. Aroma mint yang selalu memabukan, dan selalu berhasil membuat Nakisya melemah.
Dalam hitungan detik, bibir Aldi sudah menempel di bibir tipis milik Nakisya yang merupakan candunya.
__ADS_1
Nakisya yang sudah hapal betul dengan gaya ciuman suaminya, ia membuka mulut nya, membiarkan suaminya mengobrak-abrik rongga mulutnya.
Sepasang suami istri itu mulai terbakar gairah. Saling mengecap, m3lum4t, menimbulkan desahan pelan dari keduanya.
Aldi merasa tertantang dengan perlawanan yang diberikan Nakisya. Dengan gemas, ia menggigit kecil bibir bawah Nakisya.
Nakisya melepaskan pagutannya. "Kok di gigit!" cicit Nakisya dengan pelan.
Aldi terkekeh, tanpa menjawab pertanyaan istrinya, ia kembali meraup bibir mungil itu. Aldi tidak hanya diam, perlahan dengan penuh kelembutan, jari-jari tangannya menelusup kedalam kaos Nakisya, mengusap pelan perut Nakiya, dan merambat ke atas pada dua gundukan yang selalu menjadi favoritnya.
Aldi sedikit mengangkat tubuh Nakisya, untuk membuka kaitan yang menjadi penutup buah favoritnya. Setelah dirasa berhasil, ia segera membuka kaos yang dikenakannya. Hasrat Aldi sudah memuncak, ia mencoba mengangkat kaos Nakisya keatas. Namun sedikit susah karena wanita itu terus menahannya.
Aldi menatap sayup, "kenapa?" lirihnya dengan suara serak.
"Abang gak denger apa? Itu ada yang ngetuk pintu."
Aldi menghembuskan nafasnya berat. "Biarkan saja." Aldi kembali menarik kaos Nakisya.
Dengan kesal, Aldi yang sebenarnya juga merasa terganggu dengan suara gedoran pintu yang semakin keras itu, berdiri, melangkahkan kakinya untuk membuka pintu. Aldi sudah dapat menebak siapa orang yang mengganggunya. Ya, bisa ditebak, siapa lagi orang yang selalu bikin rusuh selain sahabat lucnutnya.
"apa!" sentaknya setelah pintunya terbuka.
Riko tersentak, ia refleks memudurkan tubuhnya, "wih... Santai brother," ucapnya cengengesan.
"Buruan, Apaan!"
Riko berdecak. "Vino ngajakin kita balik sekarang. Besok kan kita kerja," ujar Riko dengan raut wajah kecewa. Karena Vino memberitahukannya mendadak, dan yang membuatnya kesal karena ia sedang asik iya-iya sama istrinya.
"Cuma kalian 'kan, yang kerja?" Setelah melontarkan kalimatnya, Aldi langsung menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Eh bentar!" sekuat tenaga Riko mendorong kembali pintunya, sehingga benda yang terbuat dari kayu itu kembali terbuka.
Seolah tanpa takut, Riko membalas tatapan tajam sahabatnya. "Lo mau pulang bareng kagak? Maen tutup aja lo. Gak sopan banget sama kakak sepupu."
"Enggak!" jawabnya tanpa keraguan.
"Udah, kalian pulang duluan aja sonoh. Gue bisa pulang berdua sama istri gue." Aldi kembali menutup dan mengunci pintunya. Ia begitu kesal karena hasratnya yang sudah menggebu terganggu oleh sahabatnya.
Nakisya merapihkan pakaiannya. "Loh, kok gak mau pulang bareng?" tanyanya. Nakisya mulai was-was saat Aldi kembali menatapnya dengan seringai Nakal.
Aldi membuka pengait celananya. "Kalau pulang 'kan bisa kapan saja. Tapi kalau urusan ini gak bisa dong kalau ditunda."
Nakisya berlari kearah kamar mandi, "aku mandi dulu, gerah."
Aldi menghembuskan nafasnya berat, lagi-lagi hasratnya kembali tertunda. Namun melihat Nakisya yang masuk kedalam kamar mandi dengan tidak membawa apa-apa, membuat senyumnya terbit.
Dan benar saja, kurang dari dua puluh menit. Nakisya menyembulkan kepalanya dari balik pintu kamar mandi. "Abang... Aku lupa gak bawa handuk." Nakisya mengerjapkan matanya, bermaksud memerintah Aldi supaya memberikannya handuk.
Namun diartikan lain oleh Aldi. Ia berpura-pura mengambilkan handuk, tapi saat Nakisya sedikit melebarkan pintunya, dengan cepat Aldi menerobos masuk, menarik Nakisya kearah shower air yang masih menyala. "Kayaknya, di dalam kamar mandi seru juga."
"Jangan aneh-aneh deh, masa di kamar mandi. enggak!" tolaknya segera melangkah setelah menyambar handuk yang ada di samping wastafel.
Namun dengan cepat pula, Aldi memeluk Nakisya dari belakang. Tangan nakalnya melepaskan handuk yang belum sepenuhnya melingkar di tubuh Nakisya. "Temani Abang mandi," ucapnya pelan, tepat di samping telinga Nakisya.
Bahkan Aldi dengan sengaja menggigit kecil cuping Nakisya, membuat tubuh wanita itu meremang.
Nakisya mencoba melepaskan tubuhnya dari pelukan Aldi. "Yaudah kalau mau mandi ya tinggal mandi aja, aku keluar, dingin."
Aldi menggeleng, ia mendorong pelan tubuh istrinya, menghimpitnya pada dinding.
__ADS_1
Nakisya hanya pasrah, kalau sudah seperti itu, memang percuma dia berusaha menolak.
Udah ah, kepanjangan. Besok dilanjut lagi adegan iya-iya nya. Sekarang biarin aja mereka kaya gitu, semalaman berada di kamar mandi gak pakai baju pulaπππ