
Perbincangan antara sesama lelaki bucin itu telah berakhir. Kini ketiganya sudah duduk di kursi masing-masing, saling berhadapan dengan meja besar yang menjadi pembantas diantara mereka.
Aldi melirik kesebelah kiri, sudah ada Wina yang merupakan sekertarinya, perempuan itu duduk sambil tersenyum kepadanya. Kemudian Aldi mengedarkan pandangannya ke meja besar itu.
"Vin, Lo gak nyiapin maright gitu, buat gue."
Vino mengerutkan keningnya. "Apaan tuh?" tanya lelaki itu dengan wajah bingung, pertanda tidak tau dengan apa yang di sebutkan Aldi.
"Masa lo gak tau. Ma- right." Aldi melirik ke arah Vino, "right, Lo tau apa artinya?" tanya Aldi dengan serius.
"Kanan," jawab Vino datar.
Aldi mengangguk membenarkan jawaban Vino, "jadi ma- right?"
****
Sinar mentari pagi menerobos masuk melewati sela-sela jendela kamar Nakisya. Sinar itu menyinari wajahnya hingga gadis itu terbangun. Nakisya pun membuka mata dengan sangat berat dan melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya. Seketika itu juga Nakisya terkejut, jam telah menunjukan pukul 06.59 WIB. Dengan cepat gadis itu melompat dari tempat tidurnya langsung menuju kamar mandi.
Ketika sampai di pintu kamar mandi, Nakisya terpeleset kain basah yang ada di bawah, beruntung gadis itu tidak jatuh dan mencederai tubuhnya.
Setelah mandi, gadis itu segera berpakaian dengan rapi. Hari ini dirinya akan pergi ke universitas yang di inginkannya, untuk melakukan pendaftaran.
Suara ketukan di pintu kamarnya, membuat gadis itu menoleh. Dengan cepat dirinya langsung melangkah menuju pintu dan membukanya. "Ada apa Bi?" tanya Nakisya pada wanita paruh baya yang merupakan pembantunya.
"Di bawah ada Den ganteng, Non," jawab wanita itu dengan tersipu malu.
Senyum di wajah Nakisya terbit, saat mengetahui bahwa kekasihnya itu datang ke rumahnya.
"Terima kasih, Bi. Katakan sama Bang Al, aku akan segera turun," ujar gadis itu yang langsung kembali ke dalam kamarnya.
Aldi beberapa kali mengabaikan panggilan yang masuk ke ponselnya. Namun seolah tanpa menyerah nama orang yang tadi tertera di layar itu kembali memanggilnya, membuat Aldi terpaksa mengangkat panggilan itu.
"Hem," jawab aldi begitu singkat.
"Pak Aldi, jangan lupa ya, pagi ini kita ada meeting bersama klient. Pak Aldi jangan sampai terlambat datang, karena klient ini sa-,"
__ADS_1
"Iya!" potong Aldi dengan cepat, dan langsung mematikan panggilan itu secara sepihak.
Aldi sudah cukup geram dengan sekertaris pilihan papanya itu. Seolah tanpa bosen, setiap pagi Wina selalu menelfonnya, bahkan malam hari sekalipun, meskipun tidak ada hal yang terlalu penting, perempuan itu selalu aja ada alasan untuk mengganggunya.
Entah karena perempuan itu ingin di anggap bagus dalam tugasnya sebagai sekertaris, atau entah karena apa. Yang pasti Aldi sudah risih dengan perempuan yang selalu berpakaian seksi itu.
"Hai. Selamat pagi. Mau aku buatin kopi gak?" tanya Nakisya, gadis yang kini berjalan ke arahnya dengan tangan yang sibuk memainkan ponselnya.
Aldi tersenyum menatap gadis yang sudah rapi dengan rok span dan kemeja putih yang digunakan gadisnya itu.
Tangan kekarnya memegang pundak gadis itu. "Bukan kopi atau ucapan selamat pagi yang aku butuhkan untuk awali hari ku, tapi senyumanmu."
"Eh." Nakisya langsung mendongak dan menyimpan ponselnya ke dalam tas. "Maaf, aku terlalu serius membaca pesan dari Rani," jawab gadis itu yang kini menarik bibirnya, membentuk lengkungan. Menjadikan wajah itu terlihat semakin cantik.
"Serius banget, sama Abang kapan mau seriusnya, Dek?" tanya Aldi dengan mengulum senyumnya.
Nakisya terkekeh, "seribu rius malah aku, Bang."
"Buktinya?"
Dengan semangat Aldi menutup matanya, lelaki itu merasakan tangan Nakisya yang menyentuh pundaknya.
Dengan susah payah, Nakisya menjinjit, menyejajarkan tubuhnya yang jauh lebih pendek dari kekasihnya itu.
Nakisya menatap wajah Aldi, tiba-tiba ide usil terlintas di kepalanya.
Aldi masih memejamkan matanya, namun gadisnya itu belum juga memberikan apa yang di inginkannya.
"Kok lama sih?" tanya Aldi yang perlahan membuka matanya.
Ternyata kekasihnya itu sudah tidak ada di hadapannya, "jadi aku di kerjain," gerutunya yang langsung melangkah ke arah luar.
"Wlee," Nakisya menjulurkan lidahnya, saat melihat Aldi keluar dari rumahnya dengan wajah yang terlihat kesal.
"Awas kamu ya," ucap Aldi yang langsung menghampiri gadis nya itu.
__ADS_1
Dengan tatapan yang begitu dalam, Aldi memperdekat jaraknya dengan Nakisya, sehingga membuat gadis itu memundurkan langkahnya, dan tubuhnya menempel di pintu mobil Aldi.
Aldi memiringkan kepalanya, dan kini wajah keduanya sudah begitu dekat. Nakisya yang merasakan hembusan napas dari lelaki itu, langsung memejamkan matanya.
Nakisya merasakan tangan Aldi yang berada di belakan tubuhnya, membuat jantung gadis itu semakin berdegub kencang. Tangan Aldi menarik tubuh gadis itu, sehingga membuat tubuh bagian depan Nakisya menempel ke tubuh Aldi.
"Ayo masuk," ujar Aldi yang sudah berhasil membuka pintu mobilnya itu.
Nakisya membuka matanya, pipinya sudah bersemu merah, gadis itu berpikir kalau kekasihnya akan melakukan sesuatu kepadanya. Ternyata hanya membukakannya pintu.
Nakisya yang merasakan malu, langsung masuk ke dalam mobil itu. Di ikuti Aldi yang memutar bagian depan mobilnya, dan duduk di bagian kursi kemudi.
Nakisya langsung memasang seat belt, "ayo, semua sudah nungguin aku," ucap gadis itu, dengan pandangan lurus kedepan, menyembunyikan pipinya yang merah karena masih merasa kesal sekaligus malu, karena sudah menyangka kalau kekasihnya itu akan menciumnya.
Aldi menghadap ke arah Nakisya. Kemudian "cup," satu kecupan langsung mendarat di kening gadis itu.
Nakisya hendak melakukan protes, namun dengan cepat bibir Aldi sudah lebih dulu menempel di bibirnya. Perlahan ciuman sederhana itu berubah menjadi lumata* lembut,Aldi menggerakn bibirnya, untuk meluma* bagian bibir atas Nakisya. Gadis itu memejamkan matanya dalam-dalam, dan mencengkram kuat lengan Aldi.
Aldi mengangkat kedua lengan yang saling menggenggam itu, dan menyimpannya di depan dadanya sambil terus meluma* bibir Nakisya.
Perlahan ciuman lembut itu berubah jadi ciuman panas yang memabukan. Wajah Aldi memerah, ia merasakan hawa panas di tubuhnya. Lengan kekar itu sudah berada di atas kancing kemeja Nakisya, membuka satu persatu kancing itu dengan bibir yang masih saling meluma*, dua kancing sudah terbuka, tangan Aldi beralih ke kancing yang ke tiga, namun dengan cepat Nakisya mendorong tubuh Aldi.
"Bang!" sentak gadis itu yang langsung membuat Aldi sadar dari keinginannya yang sudah menggebu.
Aldi menarik napasnya, mencoba menenangkan perasaannya itu. "Sabar dulu, masih belum boleh," gumamnya dalam hati.
Aldi menoleh ke arah gadis yang sedang merapihkan kembali kancing kemejanya. "Maaf," lirihnya yang membuat gadis itu membalas tatapannya.
"Tadi tuh aku buru-buru ngancingin kemeja ini, Abang ngebuka lagi," ujar gadis itu dengan wajah cemberut.
Aldi tersenyum, jempol tangannya mengelap ujung bibir mungil gadis itu, yang kini terlihat belepotan karena ulahnya.
-
-
__ADS_1
Bersambung dulu...