
Setelah memakai waktu hampir tiga jam, kegiatan body rafting itu diakhiri. Sungguh pengalaman pertama kali yang mengesankan buat mereka. Kini mereka sedang duduk, menunggu giliran untuk mengganti pakaian mereka.
Saking serunya kegiatan di air tadi, Nakisya baru menyadari kalau ternyata tangannya sedikit memar, mungkin karena terbentur bebatuan.
"Sayang, tangan kamu..." Aldi menarik lengan istrinya, ternyata tidak cuma satu titik, tapi ada beberapa bagian lagi yang memar.
Nakisya menarik lengannya refleks, saat Aldi menyentuh dibagian memarnya, "aku juga baru nyadar. Tadi gak sakit, tapi sekarang kok lumayan."
Naura menunduk, melihat bagian kakinya yang hanya mengenakan jeans setengah paha, ternyata kakinya juga sama, banyak memar bahkan goresan kecil.
Melihat itu, Vino mengambil posisi jongkok melihat kaki jenjang Naura yang ternyata juga banyak terdapat memar, padahal sebelumnya kaki itu begitu putih mulus tanpa cacat setitikpun. "Kamu sih, kenapa tadi gak pakai celana panjang?" ujarnya. Tadi sebelum berangkat juga sebenarnya keduanya sempat berdebat, tapi Naura ngeyel.
"Tuh udah kosong," ucap Riko dan Nia yang baru keluar dari toilet.
Vino berdiri, "lama banget sih! Jangan bilang lo habis iya-iya di dalam sana," ucap Vino sambil mengulurkan tangannya kepada Naura untuk masuk kedalam ruangan kecil yang nampak sedikit kotor, mungkin karena banyaknya pengunjung jadi petugas tidak ada waktu untuk membersikannya.
Riko mendelik, mendudukan bokongnya di samping Aldi. "Iya aja gue iya-iya disitu. Gue juga mikir dua kali, gak mau gue kalau nanti Nia hamil hasil hubungan di toilet umum."
Aldi tertawa, "emang kalau bikin di tempat kaya gitu, nanti hasilnya kaya gimana?"
Riko nampak berpikir, "ya... Mungkin gak beda jauh kayak elo."
Aldi berdecak, "kalau tampang kayak gue lo oikir hasil dari tempat kaya gitu. Terus tampang kayak lo gue yakin bikinnya pasti di dalam tempat pembuangannya."
Semua tergelak, tanpa ada yang merasa tersinggung. Sampai Vino dan Naura sudah selesai dan menghampiri keempat orang itu.
"Buruan! Habis dari sini kita mau lanjut ke Batu Hiu," ucap Vino mengambil alih botol minuman yang sedang di pegang Aldi.
"Yaudah ayo," ajak Aldi pada Nakisya.
"Aku 'kan gak bawa baju ganti. Beli dulu yuk."
***
Mobil yang kali ini dikendarai oleh Aldi, sudah terparkir aman dengan beberapa kendaraan lain. Mereka berjalan beberapa langkah, saling bergandenga menuju batu besar berbentuk kepala hiu raksasa yang sedang terbuka.
Di mulut batu itu juga terdapat ukiran seperti gigi, membuat batu itu benar-benar sangat mirip dengan hiu sungguhan.
"Kita masuk lewat sini? Nanti kalau hiu nya nutup mulut, kita keluar lagi lewat mana?" tanya Riko sedikit ngeri dengan batu besar yang merupakan pintu menuju ketempat itu.
__ADS_1
Tanpa menjawab pertanyaan konyol dari Riko, semuanya masuk dan menaiki satu persatu tangga dari batu.
"MaasyaAllah..." Nakisya merentangkan tangannya, menatap kagum tempat itu, pohon-pohon tinggi yang membuat tempat itu teduh, dengan hembusan angin yang membawa aroma air laut, begitu terasa menyejukan.
Nakisya tersentak, saat lengan besar tiba-tiba melingkar di perutnya. "Abang!"
Aldi mengecup leher Nakisya. Menenggelamkan wajahnya disitu. Aroma dari shampo yang tadi dipakai Nakisya menguar saat rambut Nakisya terkena angin. Aldi mulai terbawa suasana, bahkan ia sampai lupa posisinya sekarang dimana. Tangannya mulai mnyusup kedalam kaos pantai Nakisya.
Nakisya memukul pelan punggung tangan Aldi. "Abang ih! tempat umum."
Aldi terkeh, ia melangkahkan kakinya dua langkah kedepan. Di bawahnya laut dengan ombak yang begitu besar, ia begitu takjub namun sedikit merasa ngeri.
Nakisya mendekat kearah Aldi. "Abang... Foto disini yuk," Nakisya mengeluarkan ponselnya.
"Ikutan dong..." ujar Naura mendekat kearah Nakisya yang sedang mengarahkan ponselnya.
"Pamali kalau foto bertiga, jadi gue juga harus ikutan," ucap Vino. Pria yang sebelumnya tidak begitu menyukai selfie itu, kini nampak semangat.
Riko dan Nia yang baru datang entah dari mana, mereka juga tidak mau ketinggalan untuk foto ber enam. Beruntung ada pengunjung lain yang suka rela memotret mereka.
"Ini 'kan pantai batu hiu. Berarti banyak hiu nya dong, 'ya?" tanya Aldi, wajahnya terlihat serius.
"Kenapa emang, A?" imbuhnya kemudian.
Aldi menyunggingkan senyumnya, "ini aa bawa makanan buat para hiu." Aldi menepuk pundak Riko.
"Astagfirulloh." Riko memegang dadanya. Dia yang sedang tidak siap merasa tersentak, apalagi posisinya yang begitu pinggir, membuat nya shock karena hampir terjatuh kebawah laut. "An7ing! Kira-kira dong lo, bisa celaka gue."
Semua tertawa melihat wajah panik Riko. Meskipun Aldi juga ikut panik, tapi tidak lama kemudian, ia juga ikutan tertawa.
Nia memegang pundak Riko. "Kalian jangan gitu dong bercandanya, gak lucu tau!"
Semua langsung merapatkan bibirnya. Mereka begitu takjub dengan Nia yang sebelumnya tidak masalah kalau suaminya selalu menjadi sasaran iseng Vino dan Aldi.
Riko tersenyum, hatinya menghangat saat melihat raut wajah khawatir Nia. "Ciyeee... Ada yang ngebelain suaminya," celetuk Riko, menjawil dagu sang istri.
"Apasih! Aku beneran takut tadi." Nia memalingkan wajahnya.
"Ciyeeeee..." ucap semuanya dengan kompak.
__ADS_1
Naura menarik lengan Nia dan Nakisya. Ibu dua orang anak itu terlihat begitu bersemangat. "Kita Foto disitu yuk," ujarnya melangkah menuju tiga patung ikan hiu yang berdiri di samping atas batu kepala hiu besar.
Satu persatu naik, mereka langsung mengambil pose dengan gaya masing-masing, membuat ketiga pria yang melihatnya menggelengkan kepala.
"Dih... Alay," celetuk Vino yang kebagian untuk memotret mereka.
Naura mengambil ponselnya, melihat semua gambar hasil jepretan Vino. "Mau kemana lagi kita?" tanyanya sambil tersenyum melihat satu persatu gambar dirinya yang terlihat konyol.
"Yang paling deket dari sini kemana?" ucap Aldi yang sedang sibuk merapihkan helaian rambut yang menutupi wajah cantik istrinya.
"Batu karas. Kalian bisa surfing disana."
Semua nampak berfikir, namun seruan adzan dzuhur membuat mereka saling menatap, dan memutuskan untuk pulang dulu kerumah Naumi.
***
Jam sudah menunjukan pukul empat lebih lima belas menit. Aldi dan Nakisya sedang duduk di kursi taman sambil memerhatikan Zia yang lagi-lagi mengajaknya bermain. "Rugi kita kalau dekat sama pantai tapi gak nikmatin sunset."
"Yaudah, kalau Aa mau lihat sunset ke bukit Pepedan aja. deket kok dari sini," ujar Naura yang tiba-tiba datang dengan Lala yang berada di gendongannya.
"Aa maunya ke pantai, soalnya kalau ke bukit udah sering," celetuk Aldi mengedipkan sebelah matanya kepada Nakisya.
Nakisya mendelik sebal, "apa sih! gaje."
Naura tertawa, "yaudah ke pantai barat, atau ke pasir putih kalau gitu."
"Tapi Zia," ucap Aldi melirik pada balita cantik yang sedang bermain boneka dengan Nakisya.
"Kemarin juga jam segini dia tidur, kayaknya bentar lagi juga,"
"Zia jangan dulu tidur, nanti malam dia bisa gadang lagi, terus nanti kita gak bisa gituan," ujar Vino yang terlihat segar, dengan rambut kepala yang masih terlihat basah.
Aldi mendelik kesal, "ya, itu sih DL. Tapi jangan nyusahin gue juga." Aldi menyunggingkan senyumnya. Ia menggendong Zia, membawa balita itu kedalam rumah.
"Sayang, tolong bikinin sufor buat Zia, biar dia cepet tidur," titahnya pada Nakisya yang langsung di turuti oleh wanita itu.
Aku ada beberapa foto mereka saat liburan. Boleh cek di gc, ya 😁🤗
Like + Koment + Vote. Cepetnya aku up tergantung antusias kalian 😍🤗
__ADS_1