Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Ulang Tahun


__ADS_3

"Elo!"


Dengan serempak keduanya saling menunjuk satu sama lain. Aldi yang masih kesal dengan orang yang barusan ditabraknya, ia langsung begitu saja meninggalkan pria itu.


"Ngapain lo masih ada disini?" tanya Aldi pada Willy yang mengikuti Aldi duduk di meja yang sama dengan yang Aldi tempati.


"Bukannya elo udah balik lagi ke negara asal lo?" sinisnya kemudian pada pria yang beberapa hari yang lalu sudah memaksanya untuk meminum air sialan, yang akhirnya berujung pada penderitaannya sampai saat ini.


Willy tersenyum, "elo gak dendam gara-gara gue tinggalin 'kan?" tanyanya sambil menampilkan senyuman yang berhasil membuat Aldi sebal.


"Sorry deh. Waktu itu gue gak ada niatan buat ninggalin lo sebenarnya, cuman Mike maksa gue," ucap pria bule yang sudah mahir berbahasa Indonesia.


Aldi menekuk bibir bawahnya. "Iya gue maafin," jawabnya malas, saat ini dia sama sekali tidak ingin berdebat dengan siapapun.


"Kasih gue kerjaan dong," celetuk Willy tiba-tiba membuat Aldi mendongak heran kearah pria bule dihadapannya.


"Lah, bukannya lo balik sonoh, ngapain malah minta kerjaan sama gue?" tanya Aldi datar.


Setelah melambaikan tangannya kepada pelayan, Willy berujar, "gue sama nyokap gue udah resmi jadi warga sini. Lo kan tau orang tua gue udah pisah, makanya sekarang gue tinggal sama keluarga dari mommy gue."


Aldi mengangguk paham. "Sekarang lo jadi bule kere dong? sama kaya gue," cibir Aldi sambil menyunggingkan senyumannya.


Willy memang salah satu teman Aldi yang merupakan anak orang paling kaya waktu di luar negri. Bahkan tidak jarang Aldi sering di traktir oleh pria itu. Meskipun traktirannya tidak lain ialah berupa minuman yang memabukan.


"Makanya elo kasih gue pekerjaan dong, gak kasian apa liat gue jadi bule yang kerjaannya luntang lantung gak jelas," ucap Willy memelas.


Sejenak Aldi terdiam, dia menimang keputusannya, dia memang lagi membutuhkan sekertaris, apalagi Willy dulunya merupakan sahabatnya yang tergolong pintar. Tapi apa iya dia akan mempekerjakan sahabatnya yang kelakuannya lebih minus darinya.


Aldi melirik penampilan Willy, "oke, besok lo datang ke kantor gue. Niatkan dari rumah buat kerja, jangan niat modusin cewek."


Willy nampak senang, "elah, gue udah tobat kali. By the way, posisi apa yang akan lo kasih sama gue?"


Aldi menyunggingkan senyumnya. "OB."


***

__ADS_1


Malam ini. Nakisya terlihat begitu cantik dengan dres selutut yang dipakainya. Dirinya akan memenuhi undangan pesta ulang tahun dari sabatnya yang bernama Weni.


"Ayah, Kisya pinjem ponsel dulu dong, cuma sebentar doang kok. Mau minta izin keluar sama suami Kisya." ucapnya pada Bagas.


Bagas memindai penampilan anaknya yang terlihat sudah siap. Tadi sore anaknya itu memang sudah meminta izin kepadanya.


Bagas memberikan ponselnya. "Nih. Tapi hanya minta izin, dan kalau Aldi gak ngasih izin kamu jangan jadi pergi," ujarnya yang langsung mendapat anggukan dari Nakisya.


Hanya dua menit, waktu yang dibutuhkan oleh Nakisya. Ia langsung mengembalikan ponselnya kepada Bagas yang dari tadi memberikan tatapannya agar Nakisya segera mengakhiri panggilannya.


"Kisya berangkat dulu, Yah. Bang Al sudah ngasih izin juga kok." Nakisya menyalim tangan Bagas, dan langsung melangkah meninggalkan ayahnya.


Mobil Nakisya langsung melesat ke jalan raya yang masih di padati dengan kendaraan lain. Dan hanya membutuhkan waktu tiga puluh detik untuknya sampai di tempat yang sudah di beritahukan Weni.


"Sya!"


Nakisya refleks memutar tubuhnya, saat mendengar seseorang memanggil namanya.


Rani sedikit berlari menuju Nakisya. "Kamu juga baru datang?"


Nakisya mengangguk sebagai jawabannya. "Ini beneran tempatnya disini?" Nakisya mengedarkan pandangannya pada ruangan yang memiliki pencahayaan minim dengan lampu kelap kelip yang membuatnya susah untuk mengenali orang lain. Ia tentu tau betul tempat yang didatanginya saat ini, karena ia juga dulu pernah ketempat ini bersama mantan kekasihnya. Dan di tempat ini juga awal pertemuannya dengan Aldi.


"Weni... Selamat ulang tahun ya," ucap Nakisya saat dirinya sudah berada di lantai atas.


Weni langsung memeluk tubuh Nakisya, "makasih ya sayangku. Doakan biar aku cepet nyusul kaya kamu dan Bang Aldi."


Nakisya mengangguk, melirik kearah Rizky yang berada di samping Weni. "Kode tuh, peka dong," cibirnya membuat semua orang bersorak 'ciyeeee...'


"Wen, kalau boleh tau kok kamu ngerayain nya disini?" tanya Nakisya kemudian.


Weni tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapi, "biar gratis, kebetulan tempat ini punya kakak gue."


Rani yang dari tadi geram dengan tingkah Reza yang terus menggodanya, ia langsung berdiri dia antara tubuh Nakisya dan Weni. "Ngapain sih kamu pake undang dia segala?" ucapnya sambil melirik sinis kearah Reza.


Rizky mendorong pundak Rani, "awas lo, jangan deket-deket sama pacar gue. Entar Weni jadi ketularan jutek kayak lo. Lagian so cantik banget sih, dari dulu nolak temen gue," tutur Rizky yang sudah greget dengan sikap Rani yang selalu menolak sahabatnya.

__ADS_1


Rani yang tidak terima, ia balas memukul kepala sepupunya. "Eh kaleng khong guan! Kalo lo mau, lo aja sonoh yang pacaran sama dia, gue mah ogah."


"Udah jangan bertengkar. Aku selalu setia kok nungguin Bebeph Rani sampai dia mau nerima gue," ujar Reza yang sontak membuat semua orang menyorakinya.


Jam sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Nakisya sampai lupa waktu karena asik bersama para sahabatnya, akhirnya dirinya memutuskan untuk pulang duluan.


Nakisya berjalan menuju lantai bawah. Aroma alkohol mulai menyeruak ke indra penciumannya. Beberapa orang lelaki terlihat mulai memerhatikannya.


Seorang lelaki dengan tubuh yang dipenuhi tato mendekatinya. "Hai cewek, sendirian aja nih. Temenin aku yuk."


Nakisya tidak menghiraukan orang itu, dia terus berjalan menuju pintu keluar. Namun tiba-tiba lengan seseorang menariknya. "Kenapa buru-buru, mending kita senang-senang dulu," ucap pria berambut panjang yang mulai berani mencolek pipi Nakisya.


Nakisya begitu ketakutan, sekuat tenaga ia berteriak, tapi suara musik yang begitu keras membuat semua orang cuek terhadapnya. Dan yang lebih membuatnya semakin takut saat dua orang pria itu mulai mengiringnya menuju sudut ruangan.


"Bang Al, tolongin aku," lirihnya dengan air mata yang mulai menjatuhi pipinya. Saat ini ia benar-benar berharap kalau suaminya datang dan menolongnya.


"Woy! kalau ada barang bagus bagi-bagi dong," ucap seorang pria yang baru datang. Tubuh pria itu lebih besar dari pria yang sebelumnya. Dengan cepat pria itu menarik dres bagian atas Nakisya. Membuat Nakisya menjerit ketakutan.


Pria bertubuh besar itu dengan cepat memegang kedua tangan Nakisya. Wajahnya mulai mendekat kearah wajah Nakisya.


Nakisya semakin menjerit ketakutan. Ia terus berteriak berharap ada keajaiban yang akan menolongnya.


Wajah pria itu kini sudah berjarak hanya beberapa senti dari wajah Nakisya. Pipi Nakisya sudah basah dibanjiri air mata, dia terus berteriak walau tak kunjung ada orang yang datang untuk menolongnya. Nakisya memejamkan matanya, dan menggelengkan kepalanya saat bibir pria itu hampir menyentuh bibirnya.


"Bugh," tiba-tiba seseorang memukul bagian pundak pria itu, yang berhasil membuat pria bertubuh besar itu langsung meringis dan melepaskan Nakisya. Pria itu memutar tubuhnya, dirinya tersentak saat melihat kedua anak buahnya yang sudah terkapar.


Bersambung...


Ini bukan di gantung ya, tapi udah kepanjangan ๐Ÿ˜


Kura-kura siapa yang menolong Nakisya?


A. Aldi


B. Ob

__ADS_1


C. Kaleng khong guan


Like + Koment + Vote, buat nyang punya jempol aja๐Ÿ˜ canda deng๐Ÿ˜‰


__ADS_2