
Hari demi hari rumah tangga Aldi dan Nakisya berjalan mulus. Bahkan keduanya tampak semakin harmonis, tanpa mempermasalahkan soal anak. Namun keadaan kembali sedikit tegang, saat Dina yang merupakan ibu kandung Aldi datang ke apartemen mereka.
"Al, mama mohon. Maafkan semua kesalahan mama. Mama akui, mama salah. Mama juga sadar, mama bukan ibu yang pantas buat kamu. Tapi, mama mohon sama kamu, sebelum mama pergi dari negara ini, mama minta kamu maafin mama, biar mama bisa tenang jika sesuatu hal buruk terjadi sama mama." Dina terus menangis, bahkan wanita setengah paruh baya itu hampir bersimpuh dihadapan Aldi kalau saja Nakisya tidak menahan tubuh Dina.
"Abang..." ucap Nakisya menatap wajah Aldi yang sedang memalingkan wajahnya kearah lain.
"Al... Maafin mama," lirih Dina. Air matanya sudah membanjiri pipinya yang masih kencang dengan umurnya yang sudah tidak muda lagi.
Aldi menghembuskan nafasnya berat, "benar kata papa, sebaiknya Mama segera pergi jangan temui kami lagi."
"Hu... hu, mama mohon, mama gak bisa pergi kalau kamu belum memaafkan mama." Dina masih berusaha meminta maaf pada Aldi. Kali ini dirinya benar-benar menyesali semua perbuatannya.
"Satu bulan ini, Mama kemana saja? Kenapa baru sekarang minta maaf?" Aldi melepaskan tangan Dina yang memegang tangannya. Membuat wanita itu sedikit terjungkal. Nakisya yang berada di belakang Dina, ia sedikit kehilangan keseimbangan, sehingga tubuhnya ikut terjungkal. Beruntung dibelakangnya ada sofa yang menjadi penyelamat tubuhnya.
"Sayang!" Aldi melebarkan langkahnya, ia merasa bersalah pada Nakisya.
"Aku gak papa," ucap Nakisya dengan pelan. Kedua tangannya berada di atas kepala. Wajahnya mendadak pias. "Aku pus-," belum sampai kalimatnya selesai. Nakisya sudah terbaring diatas sofa, dengan mata yang tertutup.
"Sayang, maafin aku," teriak Aldi mengingat Nakisya seperti itu karena ulahnya.
Dina tidak kalah panik, wanita itu terlihat begitu bersalah, "lagi-lagi karena mama. Semua karena mama. Kisya bangun Nak..." Dina mengusap pelan pipi Nakisya.
"Al ini gimana? Kenapa Kisya sampai pingsan begini?"
Aldi tidak memperdulikan ucapan Dina. Sambil mencoba menyadarkan Nakisya, Aldi menghubungi dokter.
Selang beberapa menit kemudian, dokter wanita yang dulu pernah memeriksa Nakisya datang.
__ADS_1
Aldi sudah memindahkan Nakisya kedalam kamar, ia mempersilahkan dokter itu untuk memeriksa Nakisya.
Belum sempat Aldi bertanya tentang keadaan Nakisya. Dengan wajah yang terlihat bahagia, dokter itu berucap, "selamat. Sembilan bulan lagi, Tuan akan menjadi seorang ayah."
Aldi mengerutkan keningnya, "maksudnya apa sih? Jangan bercanda di tengah kepanikan saya. Istri saya kenapa?" tanyanya dengan sedikit emosi. Dulu Aldi pernah berniat untuk mengganti dokter itu, dan karena kepanikannya sekarang ia malah kembali memanggilnya.
Dokter menatap Aldi dengan tatapan heran, "istri Anda seperti ini karena dia sedang hamil. Dia pingsan karena syok. Barangkali sebelumnya ada apa sampai dia panik?"
Aldi tertawa sumbang, "berhenti bercanda Dokter! Istri saya pasang alat kontrasepsi, gak mungkin dia hamil."
Dokter menghela nafas jengah, beruntung Aldi merupakan keponakan sahabatnya, sehingga ia bisa sedikit bersabar mengahadapinya. "Dulu anda ngotot pengen saya bilang Nyonya Kisya hamil, sekarang Anda malah terlihat gak mau."
Aldi menggaruk kepala bagian belakangnya, "bukan gitu, mak-,"
"Abang..." lirih Nakisya menghentikan Aldi yang hendak melanjutkan kalimatnya.
Nakisya menggeleng lemas, "aku gak papa."
Percakapan keduanya berlanjut, dokter sudah pulang, diantar oleh Dina.
"Ada sesuatu yang mau aku kasih sama Abang," ucap Nakisya. Berusaha duduk mengambil sesuatu dari dalam laci.
Dengan kening yang mengerut, Aldi mengambil sebuah kotak, perlahan membuka kotak itu. Kerutan dikeningnya semakin nampak jelas, saat melihat beberapa benda berbentuk kecil panjang. Aldi mengambil satu benda itu. Di umurnya yang sudah matang, tentu Aldi tahu betul benda apa yang ada ditangannya. "Sayang, kamu..."
Nakisya POV
Aku begitu merasa bersalah, karena telah berani mengambil satu keputusan tanpa seizin suamiku. Hingga beberapa bulan kemudian, suamiku begitu marah saat mengetahui apa yang sudah aku lakukan, tapi marahnya dia bukan karena ke egoisan aku, melainkan karena dia menganggap aku telah menyakiti diriku sendiri. Dari situ aku semakin bersalah, suamiku sampai rela menyimpan keinginan terbesarnya demi menghargai keputusanku.
__ADS_1
Pernah suatu saat, aku diam-diam melihat riwayat pencarian di aplikasi ponselnya. Aku melihat beberapa situs yang menjelaskan tentang suami yang memakai alat kontrasepsi, tapi suami aku sepertinya tidak mencobanya. Hari demi hari aku berubah jadi Nakisya yang berbeda, sedikit agresif dan sering menggoda suamiku. Semua itu aku lakukan sengaja, karena melihat suamiku yang seperti sengaja menahan hasratnya. Dan tentunya suamiku tidak pernah bisa menolaknya. Namun yang membuatku sedih, dia selalu melakukan kegiatan akhirnya diluar. Dia mengatakan melakukan itu karena tidak mau benihnya tumbuh di rahimku. Padahal aku tau betul, dia berbohong.
Sampai keesokannya, aku mengulangi kebohonganku, padahal aku sudah berjanji tidak akan pernah berbohong lagi. Aku mengatakan kalau aku sudah memakai KB lagi, dan menjelaskan kalau KB yang aku pakai tidak membahayakan. Suamiku sepertinya percaya, sehingga setiap malam dia melakukannya di dalam. Dan aku sangat berharap, apa yang dia tanam menghasilkan buah cinta kita.
Pernah beberapa kali dia mengajak aku untuk periksa ke dokter, takut kalau KB yang aku pakai kembali berdampak pada kesehatannku, dan dengan seribu alasan aku menolaknya. Beruntung satu bulan terakhir tubuh aku sehat-sehat saja, sehingga tidak mengharuskan aku bertemu dengan dokter yang bisa membongkar kebohonganku seperti dulu.
Hingga pagi tadi, aku coba-coba memeriksa urin ku menggunakan beberpa tespek, dan ternyata hasilnya sesuai dengan keinginanku. Aku berjanji pada diri aku sendiri, tidak akan ada lagi kebohongan dalam hidup aku terhadap suamiku yang sudah tulus mencintai dan menerima semua sifat kekanakanku.
Nakisya POV end.
Aldi masih terlihat bingung, tapi raut bahagia dari wajahnya mulai terbit.
"Maaf, aku kembali membohongi Abang. Aku janji itu kebohongan terakhirku. Selamat jadi calon Papa, sayang..." ucap Nakisya dengan suara pelan.
Mata Aldi mulai merah, sepertinya pria itu hampir meneteskan air matanya. "Sayang... kamu nakal." ucapnya sambil mengecup beberapa titik di wajah Nakisya.
"Maaf," ucap Nakisya menahan rasa geli.
Senyuman diwajah Aldi masih belum pudar, ia berjongkok di bawah ranjang, sedikit menyingkap baju yang dikenakan Nakisya. Dengan pelan dan penuh ke hati-hatian telapak tangannya mengelus perut yang masih rata itu. "Apa benar disini sedang tumbuh anak aku?" tanyanya dengan suara gemetar.
Nakisya mengusap air mata bahagia yang lolos begitu saja dari sudut matanya. "Iya, anak kita sedang tumbuh didalam."
Aldi mengecup lama di perut Nakisya, "kamu udah bohongin aku sayang. Awas ya, kamu harus terima hukumannya." Aldi hampir menyingkap semua pakaian Nakisya, tapi dengan cepat tangan Nakisya berhasil menghentikannya.
Nakisya menatap wajah Aldi. "Sayang jangan buat dede takut dong, dia masih belum bisa di jenguk."
Saking bahagianya, Aldi sampai lupa, kalau untuk saat ini dirinya harus berpuasa. "Gapapa, Papa rela nahan, asal kamu tumbuh dengan sehat ya sayang, jangan buat mama repot."
__ADS_1
TAMAT