
"Sudah lama disini?" tanya Nakisya pada orang yang sedang duduk di sofa kamarnya.
Rani mengangguk, "lama banget, sampai gue beranak disini," candanya.
Nakisya menekuk bibir bawahnya, "beranak sama Reza, 'ya?"
Rani menghembuskan napasnya berat, "gak anak-anak gak elo, semuanya sama aja. Hobby banget sih ngejodohin gue sama tuh cowok alay."
Nakisya tertawa, akhirnya ia sedikit melupakan kejadian nya yang semalam, "semakin lo nolak dia, semakin kalian terlihat sama," tutur Nakisya.
"Lah, sama apanya?"
Nakisya mengulum senyumnya, "sama-sama yakin. Reza yakin banget mau sama lo, dan lo yakin banget gak mau sama dia. Jadi gue simpulkan, kalian jodoh."
Rani menarik bantal yang ada di sofa itu, melemparkan nya dengan tepat pada wajah Nakisya.
"Amit-amit, Gusti..." Rani mengepalkan tangannya, mengetuk beberapa kali pada bagian kening dan kepalanya.
"Ngomong-ngomong, ada apa nih? Sampai lo rela nungguin gue tidur."
Rani mendekati Nakisya, "tadi bunda nyuruh gue langsung kesini, tapi gue gak tega bangunin lo nya." Rani mengeluarkan satu buah amplop dari tas selempangnya, memberikan amplop itu pada Nakisya, "sebenarnya yang harus ngasih ini tuh Rizky, cuman dia ada urusan sama Weni, jadinya gue deh yang kesini.
Nakisya penasaran dengan isi amplopnya, perlahan tangannya membuka amplop itu. Selembar kertas berhasil membuat keningnya semakin berkerut, "dari siapa sih?"
"Udah baca aja, nanti juga lo tau," ujar Rani yang tentunya tau dari siapa surat itu. Namun dirinya juga penasaran karena belum mengetahui isinya.
"Ngapain lo deket-deket?" tanya Nakisya saat Rani mendekatkan wajahnya pada wajah Nakisya.
Rani menampilkan gigi putihnya, "gue kepo, pengen tau isi suratnya," jawabnya sambil menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
Nakisya merotasikan matanya, "jan terlalu deket tapi, gue belum gosok gigi."
"Dih, pantesan bau," celetuk Rani sedikit memberikan jarak.
"Mau ikutan baca gak nih?"
"Iya."
Hai... Apa kabar? Aku berdoa kamu selalu baik-baik saja. Sebenarnya, dengan surat ini, aku ingin sekali berkata tentang semua rasa yang sedari dulu tidak pernah aku berani untuk mengungkapkannya, bahwa aku menyukaimu. Sejak kita sama-sama jadi murid baru waktu pendaftaran masuk SMA. Hatiku berdebar-debar saat melihat kamu. Parahnya, waktu itu aku tidak berani jujur padamu. Aku takut kamu akan menolak cintaku. Hingga saat kita perpisahan pun, aku tetap tidak berani mengungkapkan semuanya. Aku pikir kamu merasakan sesuatu yang tak kalah hebatnya dengan apa yang aku rasakan. Tapi tidak, hanya sekian saja. Sampai kenyataan pahit yang aku terima, ternyata kamu sudah memiliki ikatan dengan pria lain. Namun, aku selalu berdoa, kalau kita berjodoh kita akan bersatu. Dan aku dulu berpikir kalau aku akan bisa terus bertahan, menunggumu, jika sekiranya suatu saat nanti kamu ingin mencariku. Tapi tidak, hanya sekian saja. Akhirnya aku mengerti bagaimana rasanya mencintai seseorang begitu dalam, meskipun orang tersebut tidak melihatku sebagai prioritas. Dan saking besarnya cinta itu, aku bahkan tidak menuntut balas. Karena bagiku, merasakan perasaan itu saja sudah cukup. Aku pikir cinta itu tidak akan ada habisnya, tapi tidak, hanya sekian saja.
Sampai akhirnya aku menyadari. Saat kamu sudah sepenuhnya menjadi milik orang lain. Ternyata perasaan ini salah.
Jadi dengan menulis surat ini, jeritan hati ini, aku telah menyelesaikan tugasku. Cinta di dalam hati yang kusimpan ini, yang ingin mengucapkan dirinya padamu, akhirnya telah ku ucapkan.
Aku mencintaimu.
Berbahagialah di sana dengan suamimu. Aku yakin dia memang pria yang tepat yang akan selalu membuatmu bahagia. Aku tetap menginginkan yang terbaik untukmu. Walaupun mungkin kita tidak bertemu lagi, aku akan tetap mengingatmu sebagai seseorang yang berdampak dalam hidupku. Jadi berbahagialah, karena aku pernah mencintaimu. Aku doakan semoga kamu bahagia selalu.
Angga Pratama Wijaya
Nakisya melipat kertas itu. Ia menghembuskan napasnya berat. Hatinya sedikit terenyuh karena mendapatkan cinta dari seseorang yang tidak sedikitpun menuntut balasan darinya. Dalam hatinya Nakisya berdoa semoga Angga bisa mendapatkan gadis yang begitu tulus mencintainya.
Nakisya memang sudah mengetahui tentang perasaan Angga kepadanya. Namun kenapa tiba-tiba lelaki itu mengungkapkannya dalam bentuk tulisan.
Melihat Nakisya yang kini menatapnya, Rani berujar, "Angga nerusin kuliahnya di luar negri. Dia sekarang sudah tidak ada di kota ini lagi. Mungkin dia benar-benar ingin fokus kuliah dan menghapus elo dari hatinya."
Nakisya sedikit shock, meskipun dirinya memang tidak memiliki perasaan apapun terhadap Angga, tapi dia sudah menganggap Angga salah satu sahabat terbaik nya. "Pantesan semalam dia gak datang di acara ulang tahun Weni," gumamnya pelan.
Rani mengangguk, "iya, ternyata dia berangkatnya kemarin, bahkan kita semua juga gak ada yang tahu, kecuali Rizky yang malah merahasiakannya sama kita," ucap Rani sedikit kesal dengan sepupunya.
__ADS_1
Seolah teringat sesuatu, Rani kembali berujar, "eh, ngomong-ngomong, kata bunda semalam lo pulang dari pesta Weni katanya sikap lo jadi aneh. Kenapa?"
***
Tiba saatnya untuk Aldi yang sudah tidak sabar ingin segera bertemu kembali dengan Nakisya. Dirinya memang merasa bodoh, karena mau saja saat mertuanya itu memisahkan dirinya dengan istrinya. Padahal jelas-jelas dia sudah memiliki hak penuh untuk istrinya. Namun Aldi sudah tidak memersalahkan lagi, karena sekarang dirinya akan bertemu kembali dengan istrinya.
Ya, hari ini merupakan hari pernikahan Riko. Sekaligus hari ke delapan setelah hukuman itu. Dan saatnya untuk Aldi bertemu kembali dengan Nakisya. Aldi sudah memakai pakaian batik seragam yang kemarin diberikan oleh Widya.
Nakisya sudah terlihat sibuk, dia dan beberapa orang sodaranya bertugas sebagai penerima tamu. Matanya juga terus berkeliling mencari seseorang yang sudah dirindukannya.
"Sayang, kok bunda belum lihat Aldi. Apa dia belum datang?" tanya Widya yang tiba-tiba datang menghampiri Nakisya.
"Mungkin masih dijalan, Bunda," jawabnya masih terus mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru gedung.
Nakisya menyerahkan tugasnya kepada sepupunya yang lain. Dia bergegas kedalam gedung karena mendengan pembawa acara yang mengatakan kalau acara akad akan segera dimulai.
Nakisya memegang ponselnya, dia tidak mau melewatkan moment penting kakak sepupunya. Lebih tepatnya dia sedang mencari objek untuk diupload di instastory miliknya.
"Bunda, bisa tolongin Kisya gak, pegangin ponsel Kisya," ucapnya sambil memberikan ponselnya pada sang bunda.
"Aku kebelet," imbuhnya kemudian yang langsung berlari mencari kamar kecil yang ada di gedung itu.
Sekarang Nakisya sudah merasa lega, setelah mengosongkan kandung kemihnya. Dia juga sedikit memperbaiki penampilannya.
Nakisya melewati lorong, untuk kembali ke kursinya semula. Namun tiba-tiba tangan besar menariknya dari arah samping, membuatnya terkejut karena orang itu langsung memeluknya dari belakang. "Lepasin aku!" Nakisya terus menjerit, ingatannya kembali pada kejadian malam itu.
"Tolong! lepasin a-," teriakannya terhenti saat orang itu langsung membalikan badannya dan membekap mulutnya dengan bibir pria itu.
Bersambung....
__ADS_1
Nanti lagi ya. Like + Komentnya aja dulu. Vote nya juga ya, yang gak punya point, pakai koint aja😁🤗