
Vino tidak perduli dengan umpatan Aldi. Dengan wajah santainya ia duduk disamping Naura.
"Mas juga jangan duduk disini, di belakang aja," titah Naura pada Vino.
Riko tertawa puas, melihat kedua sahabatnya yang tidak bisa duduk berdampingan dengan istrinya masing-masing. "Yang boleh duduk berdua hanya best couple," ujarnya.
Vino mendelik sebal, "Nia, kamu pindah kedepan! Saya yang akan duduk disitu," perintahnya pada Nia.
Riko nampak tidak terima, "siapa lo? seenaknya memerintah istri gue." Riko menyorot tajam wajah Vino.
Riko menahan lengan Nia yang sudah siap pindah dari posisinya, "jangan Yang, kamu disini saja!" imbuhnya kemudian.
"Lo pilih duduk deket istri lo, atau pilih keluar dari kantor gue," ucap Vino menyeringai.
Riko mendengus sebal, "yaudah Yang, untuk sementara kita berjauhan dulu ya," lirihnya dengan terpaksa.
Nia pindah ke kursi tengah, diikuti Vino yang langsung duduk di belakan bersama Riko. Tidak lama kemudian Aldi yang semula duduk disamping sopir, juga pindah ke belakang. Sehingga sekarang ketiga pria itu duduk berdampingan, dan tentunya kembali terjadi percekcokan layaknya ibu-ibu yang saling berebut untuk mengocok arisan.
Mobil sudah melesat menuju jalan. Tanpa menghiraukan tiga orang pria di belangnya, Nia yang dari tadi lebih memilih diam, akhirnya membuka suara, "Ra, yakin lo dulu tinggal disini?" tanya Nia pada Naura.
"Kok wajah lo gak meyakinkan kalau lo dari desa, lo lebih kayak orang luar," imbuhnya kemudian sambil melirik pada Naura.
Naura tersenyum, "ayah gue ada turunan bule, makanya gue juga kecipratan," jawab Naura setengah bercanda.
"Eh iya ya, gue lupa," ujar Nia yang kembali hendak melontarkan kalimatnya.
Seolah teringat sesuatu Nakisya setengah memutar tubuhnya, menghadap Naura. "Oh iya, Zia sama Lala kok gak ikut?" tanyanya yang mendapat anggukan dari Nia. Ternyata Nia juga hendak menanyakan hal yang sama.
"Mereka sudah lebih dulu sampai di rumah Ibu," jawab Naura. "Kita kesini juga sekalian mau jemput mereka," imbuhnya kemudian.
"Wah, bener-bener lo, yah! Jemput anak juga pakai ngajakan gue, nyesel gue ikut. Kirain mau beneran liburan," tutur Riko dengan wajah kesal menatap Vino.
Hanya membutuhkan waktu lima menit, mobil yang ditumpangi mereka sudah sampai didepan rumah Naumi.
__ADS_1
Aldi yang sebelumnya pernah ke rumah itu, ia sedikit pangling. Rumah Naumi memang sudah di renovasi, jadi wajar saja kalau Aldi merasa pangling. Beda hal nya dengan Vino yang sudah tau, karena ia sudah beberapa kali pulang kampung bersama Naura.
Naumi dan Rainald langsung menyambut kedatangan mereka. Dita yang merupakan Adik Naura juga nampak antusias menyambut kedatangan Naura, sedangkan Lisna adik bungsu Naura tidak terlihat, entah dimana dia sekarang.
"Mereka sedang tidur," jawab Naumi seolah mengerti dengan Naura yang terlihat mencari kedua anaknya.
"A Aldi juga ikut?" Dita mendekat kearah Aldi. "Setelah pernikahan Teh Naura, kenapa A Aldi gak pernah maen kesini?" tanyanya kemudian.
Aldi menerima jabatan tangan dari Dita yang sudah ia anggap seperti adik kandungnya sendiri. "Aa sibuk. Maaf ya. Oh iya, ngomong-ngomong kamu makin cantik aja, Naura aja kalah cantiknya sama kamu," ucap Aldi sambil menjulurkan lidahnya, saat Naura memberikan tatapan kesal kepadanya.
Tanpa sadar diam-diam ada yang sedang memerhatikan Aldi. Dengan wajah kesal karena melihat suaminya begitu akrab dengan gadis lain, Nakisya memilih pura-pura sibuk dengan ponselnya. Sesekali matanya melirik kearah Aldi yang seolah cuek dengan keberadaannya.
Mereka semua sudah masuk kedalam rumah satu lantai, tapi begitu luas dengan beberapa sekat yang menjadi pembatas tiap ruangan.
Aldi masih asik mengobrol dengan Dita. Namun tangannya menggenggam tangan Nakisya. "Oh iya, kenalin ini istri Aa. Dia cantik banget 'kan?" ucap Aldi dengan bangga melirik kearah Nakisya.
"Hai, Teh Nakisya. Aku Dita, senang bisa kenal sama Teteh. Maaf ya, waktu kalian nikah aku gak datang," tutur Dita dengan ramah.
Nakisya tersentak dengan perlakuan Aldi yang tiba-tiba memujinya. Hatinya kembali menghangat. Namun ia masih belum menerima kalau suaminya seakrab itu dengan orang yang sama sekali tidak ada ikatan darah dengan Aldi. "Iya gak papa, lagian cuma orang terdekat aja kok yang kami undang," jawabnya tersenyum samar.
Aldi mengerti dengan gelagat sang istri, "yaudah, aku sama Kisya mau ke kamar dulu, kita mau istirahat sebelum sholat maghrib," ucap Aldi yang mendapat anggukan dari semuanya.
Namun lagi-lagi wajah Nakisya kembali ditekuk, saat Dita nampak antusias berjalan didepan Aldi untuk menunjukan kamar yang akan ditempati olehnya.
"Terimakasih," ucap Aldi pada Dita saat dirinya dan Nakisya sudah berada di kamar.
Nakisya mendelik kesal, melihat Aldi yang kembali memberikan senyuman manisnya kepada Dita.
"Gak usah cemburu, dia sama kaya Naura. Sama-sama aku anggap sebagai adik," ujar Aldi yang mengerti dengan gelagat Nakisya.
"Kamu nganggap dia sebagai adik, tapi gak tau dia nganggap kamu sebagai apa."
Aldi menggapai tangan Nakisya, "dia juga nganggap aku sebagai kakaknya."
__ADS_1
Nakisya menjauhkan tubuhnya, sehingga tangan Aldi terlepas dari pergelangan tangannya. "Kenapa cuma sama kamu dia akrabnya. Kenapa sama Vino enggak? Bukannya Vino kakak iparnya, harusnya dia lebih akrab sama Vino dong," ketusnya.
Aldi mengusap wajahnya kasar, lagi-lagi Nakisya masih memanggilnya dengan sebutan 'kamu' itu artinya istrinya itu benar-benar dalam mode ngambek. "Sayang... Masa sih kamu cemburu sama Dita. Kamu tuh lebih segalanya dari dia," tuturnya
Nakisya kembali menepis lengan Aldi yang kali ini hendak menyentuh dagu nya, "namanya juga pria yang sudah menikah, pasti lebih tertarik sama yang masih bersegel lah."
Aldi menghembuskan nafasnya berat, "kamu kenapa sih? Dari sebelum berangkat sampai sekarang, kamu dingin terus. Oke kalau kamu gak suka disini, sekarang juga kita pulang." Aldi menarik kembali koper yang semula diletakkan nya di samping lemari kayu.
"Kenapa malah diam?" tanya Aldi kemudian saat melihat Nakisya malah duduk dipinggir ranjang.
Aldi beristigfar dalam hati, ia menyadari kalau nada bicaranya memang sedikit tinggi. "Maaf," lirihnya langsung memeluk tubuh Nakisya.
Tanpa sadar butiran bening menetes di wajah Nakisya. "Aku yang salah, karena aku terlalu kekanakan," ujar Nakisya dengan pelan.
Aldi melepaskan pelukannya, sedikit memberi jarak pada Nakisya, untuk menghapus air mata yang sudah lancang membasahi pipi mulus isrinya. Ia benar-benar menyesal karena tanpa sadar sedikit membentak Nakisya.
"Aku senang kamu cemburu. Keliatan banget cintanya sama Aku," ucap Aldi.
"Aku gak cemburu," tegas Nakisya. Wajahnya sudah memerah saat Aldi masih terus menatapnya dengan senyuman. Ya, senyuman manis yang dimiliki suaminya memang selalu berhasil menghipnotisnya, senyuman yang berhasil membuatnya jatuh cinta dengan pria itu. Makanya Nakisya benar-benar tidak rela kalau Aldi memberikan senyuman itu kepada gadis lain.
Aldi mengecup singkat bibir Nakisya. "Aku hanya mencintaimu," bisiknya tepat disamping telinga Nakisya.
Kening Nakisya berkerut, melihat Aldi yang kembali menarik kopernya. "Loh, mau kemana?"
"Kita cari hotel aja yuk."
Nakisya mengangguk, dia langsung menerima uluran tangan Aldi. "Gak jadi nginap disini?" tanya Nakisya. Ia sungguh tidak akan cemburu lagi, ia akan berusaha bersikap dewasa.
"Cari hotel aja, biar berasa honeymoon." Aldi mengedipkan sebelah matanya.
Bersambung dulu....
Maaf, kemarin gk up. Aku juga habis liburan๐
__ADS_1
gak nanya, ya ๐๐
Like + Koment dulu sebelum gulir.