Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Bonus Chapter 5


__ADS_3

Dokter kembali memeriksa detak jantung bayi yang masih ada di dalam perut Nakisya, "detak jantungnya juga normal. Ibu Nakisya juga dalam keadaan sehat dan memungkinkan untuk melahirkan normal.


Rasa mules yang menyerang tubuh Nakisya semakin kuat, punggungnya sudah begitu terasa panas dan sakit. Nakisya refleks mengejan.


"Ibu tahan dulu, belum waktunya, pembukaannya belum lengkap," ucap satu orang bidan.


Nakisya memegang tangan Aldi. Terlihat suaminya itu sedikit meringis, mungkin genggaman Nakisya begitu kuat. Keringat dari kening Nakisya terus bercucuran.


Wajah Aldi terlihat begitu cemas, ia mengusap keringat istrinya, mulutnya terlihat mengucapkan doa. "Sayang, kamu pasti kuat, kamu pasti bisa." Aldi kembali mengucapkan do'a, dan meniupkannya pada ujung kepala Nakisya.


"Pembukaannya sudah lengkap," ucap bidan.


Dokter kembali menghampiri Nakisya. "Sekarang Ibu boleh mengejan," perintah dokter wanita yang memegang kedua lutut Nakisya.


Nakisya menarik nafasnya dalam, dan menghembuskannya. Namun rasa mules yang kini mendadak menghilang, membuatnya menjadi kesusahan untuk mengejan.


Ditengah perjuangan Nakisya, Widya tiba-tiba masuk. "Sayang, maaf Bunda baru datang," Widya mengecup kening Nakisya, memegang sebelah tangan putrinya untuk memberikan kekuatan.


"Bunda... Maafin semua kesalahan Kisya," ucap Kisya lirih sambil menatap Widya. Air matanya menetes, mengingat semua kesalahannya pada Sang Bunda. Nakisya baru menyadari begitu sakitnya perjuangan untuk melahirkan. Selama ini ia selalu membuat bundanya pusing karena ulah nya, dan sekarang Nakisya benar-benar menyesali semua perbuatannya.


"Sayang, kamu gak pernah punya salah sama bunda. Kamu semangat, kamu pasti bisa." Widya kembali mengecup kening putrinya.


"Tarik nafas lagi, Bu!" perintah dokter yang langsung dituruti Nakisya.


Nakisya kembali menarik nafas dan menghembuskannya. Ia mengeluarkan semua tenaganya.


"Terus Bu!"


Nakisya terus mengikuti arahan dokter, ia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya, karena ia takut tenaganya akan habis kalau dipakai untuk berbicara.


Sudah hampir dua puluh menit, tapi Nakisya masih berusaha mengeluarkan bayinya. Aldi yang sudah tidak tahan melihat perjuangan sang istri, Ia tidak lagi dapat membendung air matanya, dan untuk pertama kalinya, seorang Aldiano Bima Saputra meneteskan air matanya, "sayang, kamu pasti bisa," ucapnya dengan suara bergetar.


"Abang jangan nangis!" ucap Nakisya yang sedikit kesal dengan suaminya. Entah kenapa saat ini Nakisya tidak mau melihat suaminya menangis.

__ADS_1


Aldi terus mendaratkan kecupannya pada kening Nakisya.


"Sedikit lagi, Bund. Kepalanya sudah terlihat," ucap dokter.


Nakisya terus mengejan, sepertinya perjuangannya mulai membuahkan hasil, saat mendengar dokter mengucapkan kalimatnya.


"Aaaaaa...." jerit Nakisya saat merasakan bayinya keluar dari rahimnya.


"Terima kasih sayang." Aldi menghujani kening Nakisya dengan kecupan. Sepertinya pria yang baru resmi menjadi seorang papa itu begitu bahagia, terlihat jelas dari raut wajahnya yang terus melebarkan senyumnya.


Nakisya POV


Aku begitu bahagia, saat seorang makhluk kecil keluar dari rahimku. Dokter mengangkat makhluk mungil yang langsung mengeluarkan tangisannya yang terdengar begitu kencang memenuhi ruangan. Air mataku tanpa sadar langsung menetes, mendengar dokter mengatakan kalau anakku sehat tanpa kurang suatu apapun.


"Lahir jam dua lebih empat puluh lima. Berat bayinya 3,5 kg. Panjangnya 52 cm," ucap salah seorang bidan.


Aku tersenyum mendengar ucapan bidan, aku ingin segera menggendong bayiku, memamerkan pada ibu-ibu komplek yang selalu menduga-duga kalau bayiku akan lahir dengan prematur.


"Dok, plasentanya masih belum keluar," ucap seorang bidan yang dari tadi masih menanganiku.


Dokter menyerahkan bayiku kepada bidan yang satunya lagi. Ia kembali beralih kepadaku. "Sekarang Bunda kembali mengejan ya, tarik nafas."


Aku kembali mengikuti semua arahan dokter, bahkan aku merasakan dadaku yang terasa sesak saat tangan dokter itu masuk kedalam lubangku, mengobrak-abrik rahimku.


"Astagfirulloh, ujung plasentanya tidak ketemu," ucap dokter itu dengan panik.


"Ada apa ini?" tanya suamiku yang mendadak kembali cemas.


"Sepertinya kita harus melakukan tindakan, Pak."


"Tindakan apa? Cepat lakukan apapun itu, asal kalian harus menyelamatkan istri saya." Sepertinya suamiku begitu panik, terdengar dari nada suaranya yang begitu tinggi.


Dokter memeriksa tanganku, "tensinya 60/40. Kita harus memidahkannya ke rumah sakit."

__ADS_1


Aku begitu pasrah, saat dokter dan beberapa orang bidan itu terdengar panik, aku sudah pasrah apapun yang akan terjadi padaku, yang terpenting anaku sudah lahir dengan selamat.


Aku yang sudah begitu lemas diatas brangkar klinik, mulai merasakan kalau brangkarku sedang didorong.


"Saya mau lihat anak saya dulu," ucapku dengan suara pelan, tapi sepertinya masih dapat terdengar, karena bidan membawakan bayi kepadaku. Aku kecup pipi bayi mungil ku yang masih menangis. Sekilas dapat melihat kulitnya yang begitu merah, hidungnya mancung, bibirnya begitu mungil, aku sangat gemas ingin mengecupnya.


"Sudah ya Bun," ucap bidan yang kembali menggendong bayiku.


Aku benar-benar sudah pasrah. Saat ini aku merasakan tubuhku seperti melayang. Aku masih dapat mendengar semua perkataan mereka, tapi tidak dengan wajahnya. Sekarang aku berada di sebuah tempat yang mirip dengan lapangan besar ditumbuhi rumput hijau yang bergerak terkena angin. Lapangan itu begitu terang, sepertinya matahari berada diatas kepalaku, tapi aku sama sekali tidak merasakan panas, yang ada tubuhku merasa sejuk.


"Sayang... Sadar!" terdengar suara suamiku dan bundaku yang terus memanggil namaku, tapi entah kenapa aku tidak bisa melihat mereka.


"Astaghfirullah. Bun bertahan ya, kita sebentar lagi sampai ke rumah sakit.


Tidak lama kemudian sepertinya aku sudah sampai di rumah sakit, suamiku dan dua orang bidan mendorong brangkar ku.


"Sayang, bertahan!"


Aku masih mendengar suara suamiku, tapi kali ini suaranya begitu pelan.


Samar-samar suara suamiku, bundaku dan suara dari beberapa orang mulai menghilang. Aku sudah tidak dapat mendengar suara siapapun, atau mungkin mereka memang sudah berhenti berbicara, atau mereka meninggalkanku? aku tidak tau.


Sekarang Aku berjalan diatas hamparan rumput hijau yang tumbuh begitu terawat, aku terus melangkahkan kaki ku menuju satu taman bunga yang begitu indah, bahkan aku sama sekali belum pernah melihatnya. Ditempat yang sekarang aku datangi tidak ada orang, tapi aku sama sekali tidak merasakan kesepian. Bahkan aku sudah merasa nyaman berada disini.


Mataku beralih pada sungai kecil yang mengalirkan air yang begitu jernih. Sungai itu terlihat dangkal terbukti dengan bebatuannya yang masih bisa aku lihat. Aku melangkah untuk mendekat kearah sungai itu, tapi tiba-tiba suara tangisan bayi terdengar. Aku mencari asal suara itu. Aku terus melangkah kesana kemari, mencari asal suara itu tapi aku masih belum menemukan bayiku.


Suara bayi itu menghilang. Mataku langsung tertuju pada sebuah lorong yang nampak mengeluarkan cahaya terang. Aku penasaran, mungkinkah bayiku ada disana? Aku segera melangkah menuju lorong cahaya itu.


Nakisya POV end


Ruangan itu nampak tegang, dengan beberapa dokter dan bidan yang sedang melakukan tindakan.


Plasenta dari rahim Nakisya sudah dapat dikeluarkan, tapi Nakisya sekarang mengalami pendarahan yang sangat hebat.

__ADS_1


__ADS_2