Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Undangan


__ADS_3

Wajah Aldi sudah merah padam menahan malu. Ditengah gelak tawa semua orang, dalam hati Aldi terus menggerutu, "Gue benar-benar ingin mengutuk semua orang yang sudah menjadi penyebab kesialan Gue hari ini, termasuk mengutuk-,"


"Keputusan saya tetap sama. Saya tetap menghukum kamu untuk tidak ketemu dulu dengan Nakisya selama satu minggu," ucap Bagas yang membuat semua orang menghentikan tawa nya.


Bagas melirik menantunya yang mulai terlihat kesal, "dan berhubung kamu semalam menyelinap, jadi waktu satu minggunya kembali diulang dari sekarang."


***


Malam hari yang kelabu begitu terasa panjang bagi Aldi saat dirinya harus melewati kesunyian sorang diri, tanpa istri tercinta yang selalu membuat tidurnya nyenyak.


Seperti biasa, pagi ini Aldi berangkat ke kantornya. Wajahnya terlihat masam, bahkan langkahnya begitu lunglai. Beberapa orang karyawannya bergantian saling menyapa dirinya. Namun Aldi seolah cuek, tanpa minat membalas ucapan mereka. Ia terus melangkah menuju ruangannya.


"Masuk!" perintah Aldi, saat mendengar suara ketukan pada pintu ruangannya.


Seorang wanita yang menjabat di bagian HRD melangkah menuju meja Aldi. "Pak, sesuai perintah Bapak, saya sudah memecat Vita. Untuk sekertaris baru bapa saya juga sudah-,"


"Saya sendiri yang akan mencari sekertaris untuk saya," ucap Aldi memotong kalimat wanita itu.


"Saya tidak mau terjadi kesalahan yang sama, gara-gara kamu tidak becus memilih orang," imbuhnya kemudian yang langsung menyuruh bagian HRD itu untuk segera meninggalkan ruangannya.


Aldi memainkan bolpoin yang baru selesai dipakainya untuk menandatangani beberapa berkas. Ia terus menekan bagian ujungnya, sesekali dirinya menggigit bolpoinnya. Aldi terus memikirkan siapa yang cocok menjadi sekertarisnya, karena tanpa sekertaris dirinya akan sangat repot.


Ditengah lamunannya, seseorang langsung masuk setelah mengetuk pintunya. Padahal Aldi belum mempersilahkan orang tersebut.


"Ngapain lo pada kesini?" sinisnya pada dua orang pria yang langsung duduk dihadapan Aldi, dan memberikan senyum ledekan kepadanya.


Vino menahan senyumnya, ia sudah mengetahui kejadian apes yang menimpa kakak iparnya itu. "Gue kesini mau ngucapin bela sungkawa, Aa."


Aldi merotasikan matanya. "Kurang kerjaan lo jadi CEO?" tanyanya dengan sinis.


Vino tergelak. "Gue kesini sekalian mau perpanjang kerjasama kita yang dulu," ucapnya sambil mengambil dokumen yang ada di tangan Riko, dan menyodorkannya pada Aldi.


Aldi mengambil dokumennya, "ini kasih aja ke bokap gue." Aldi menutup kembali dan mendorong dokumen itu.

__ADS_1


"Om Arya gak ada, dia yang nyuruh gue buat ngasih ini ke Elo. Elah, tinggal tandatangan doang. Buruan!" perintahnya setengah memaksa.


Dengan terpaksa Aldi menggoreskan tinta diatas namanya yang ada di setiap lembaran kertas itu. "Apa lo! Disini dilarang ketawa!" ketusnya kemudian saat matanya melirik Riko yang sedang menahan tawanya.


"Siapa juga yang mau ketawa," jawabnya sambil mengulum senyumnya.


Riko mengeluarkan kertas yang masih terbungkus plastik. "Gue mau ngasih ini sama elo," ucapnya sambil menyodorkan kartu yang bertuliskan namanya dan nama Nia.


Aldi nampak semangat mengambil kartu undangan itu. "Elo mau kawin?" tanyanya dengan wajah yang berbinar.


"Iya dong. Masa kalian udah gue belum," jawabnya dengan bangga.


Aldi tersenyum sambil menatap sahabat somplaknya, "kenapa elo ngasih gue ngedadak kaya gini?" tanyanya dengan tatapan yang terlihat curiga.


"Jangan bilang lo udah nyicil sama Nia," imbuhnya kemudian sambil menarik turunkan kedua alis matanya.


"Enak aja. Gue suka yang halal asal lo tau," jawabnya yang berhasil membuat Vino dan Aldi berdecak malas.


Riko terkekeh, "gue tuh ngasih kabar kalau beneran udah pasti. Gue bukan tipe orang yang heboh ngasih tau kabar bahagia, tapi tau-taunya cuma buat pansos, dan ujungnya gagal nikah."


"Satu minggu lagi, berarti bertepatan sama waktu cucu Adam dan cucu Hawa untuk bertemu kembali," gumamnya yang masih dapat terdengar oleh kedua sahabatnya.


Riko terkekeh, "iya, sekalian nanti lo temu kangen sama adik gue."


Aldi yang merasa sangat lapar, karena dirinya tadi tidak sempat sarapan, membuatnya memutuskan untuk pergi ke restoran terdekat. "Lo berdua harus nemenin gue cari makan sekarang," ucapnya setengah memaksa.


"Males gue. Mendingan juga gue pulang kerumah, makan siang bareng istri dan anak-anak gue," jawab Vino yang langsung berdiri dari duduknya.


Semenjak Naura melahirkan anak keduanya, Vino jadi sering istirahat di rumahnya. Ia benar-benar selalu mengusahakan untuk setiap saat bersama keluarga kecilnya.


Riko langsung mengambil dokumen yang tadi di tandatangani Aldi. "Gue juga gak bisa, masih banyak kerjaan gue," ucap Riko dengan cepat, saat Aldi memberikan tatapan memohon kepadanya.


Kedua pria itu sudah keluar dari ruangan Aldi, meninggalkan Aldi yang masih berdiri dengan tatapan datarnya. "Benar-benar gak ada yang berguna kalian jadi sahabat. Pengen gue upgrade aja kalian semua," erangnya dengan kesal.

__ADS_1


***


"Kasian banget, mau nelfon suami aja gak bisa gara-gara gak punya handphone," celetuk Rani setelah Nakisya meminjam handphonenya.


Nakisya melirik sinis kearah Rani, "sebenarnya ikhlas minjemin gak 'sih?" tanyanya saat hampir menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Ikhlas. Udah pakai aja, pulsanya banyak kok," jawabnya membuat Nakisya menampilkan deretan gigi putihnya.


Nakisya membatalkan sambungan telphone nya yang sudah terhubung. "Gak jadi nelfon ah. Aku mau vidio call aja, biar gak pake pulsa," ucapnya yang langsung beralih pada panggilan vidio di aplikasi warna hijau.


Rani berdecak, "iya gak pake pulsa, tapi kuota gue entar abis," celetuknya sambil mengaduk minuman yang ada dihadapannya.


"Hai..." ucap Nakisya saat panggilan vidio nya sudah di angkat oleh Aldi.


Aldi tersenyum dengan sorot mata yang berbinar, dia benar-benar merindukan istrinya. "Sayang aku kangen," lirih Aldi.


"Aku juga," jawab Nakisya yang juga mengukir senyum manisnya.


"Kamu lagi dimana, Bang?" tanya Nakisya saat melihat latar suaminya yang berada di tempat umum.


"Aku lagi mau makan nih, di restoran," jawab Aldi sambil mengarahkan ponselnya pada nama restoran yang terpangpang di depan bangunan yang didatanginya.


"Kamu juga lagi makan ya?" tanya balik Aldi yang sudah dapat menebak kalau istrinya sedang berada di kantin kampus.


Nakisya mengangguk, "Abang ingat ya, jangan nyari-nyari cara buat ketemu aku dulu. Nanti hukuman kamu nya malah gak kelar-kelar," ujar Nakisya mengingatkan.


Aldi mengangguk, "tapi kamu janji ya, jaga diri kamu. Karena yang aku takutkan, akan ada orang lain yang bisa buat kamu nyaman, saat aku gak ada di samping kamu."


"Aldi begitu semangat saat melakukan vidio call bersama istrinya. Sampai dia tidak sadar kalau dirinya menabrak seseorang yang ada dihadapannya.


"Maaf, saya tidak sengaja."


Bersambung...

__ADS_1


Like + Koment sangat berpengaruh untuk menambah imajinasi aku. Apalagi ditambah Vote yang banyak 😊🤗🤗


__ADS_2