Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Bidadari


__ADS_3

Aldi menatap dalam manik coklat Nakisya. Rasa penasaran yang masih bersarang pada kepalanya sudah tidak bisa di pendam lagi. Dia benar-benar ingin mengetahui rahasia apa yang sedang di tutupi istrinya.


"A... Aku sebenarnya kemarin..."


Nakisya menghentikan kalimatnya, ternyata tetap masih ada keraguan pada dirinya. Sepertinya keputusan awalnya yang tidak ingin mengatakan kejadian pada malam itu memang sudah tepat. Namun melihat tatapan yang begitu dalam dari Aldi membuatnya susah payah untuk menelan ludahnya. Aldi bukanlah bundanya yang selalu sabar menunggu kapanpun dirinya mau bercerita. Ternyata Suaminya tergolong tipe yang tidak sabaran.


"Sayang..." lirih Aldi membuat lamunan Nakisya terhenti.


Nakisya mengerjap gugup, "kemarin gak terjadi apa-apa kok, Bang."


Aldi menyipitkan matanya. Dari gelagat Nakisya sangat jelas kalau istrinya itu sedang menyembunyikan sesuatu. "Sayang!" Aldi sedikit menambahkan volume suaranya.


Nakisya tersentak. Ia menunduk menghindari tatapan Aldi yang semakin menuntut jawaban darinya. "Maaf," lirihnya.


"Sebenarnya kemarin ulang tahun sahabat aku, acaranya di sebuah club malam yang waktu pertama kali kita bertemu," imbuhnya kemudian.


Aldi menarik dan menghembuskan nafas nya kasar, ternyata istrinya itu telah membohonginya. Namun tidak mungkin hanya karena berbohong Nakisya bisa segitu ketakutan saat Aldi mengagetkannya tadi pagi.


"Terus?" tanya Aldi yang masih belum puas dengan jawaban istrinya.


"Udah gitu aja."


Aldi mengangguk, ia langsung berdiri, "oke. Sekarang Abang akan cari tau sendiri, apa saja yang sudah terjadi sama kamu waktu disana." Aldi langsung melangkah menuju tangga.


Nakisya mulai panik, saat melihat Aldi yang sudah kembali menuruni tangga. Aldi memakai jaket kulit dan celana jeans panjang. Sepertinya ucapan Aldi tidak main-main. "Abang mau kemana?" tanyanya dengan panik.


"Ketempat yang kamu datangi kemarin," jawabnya datar.


Nakisya langsung memegang tangan Aldi, "Abang jangan kemana-mana. Aku beneran gak kenapa-kenapa kok waktu itu. Soalnya ada yang nolongin," ucap Nakisya keceplosan.


Aldi sontak memutar tubuhnya, menatap wajah istrinya, "jadi maksud kamu, kemarin kamu hampir kenapa-kenapa?" tanyanya dengan wajah yang terlihat emosi.


Benar dugaan Aldi. Ternyata ada sesuatu yang sudah terjadi dengan istrinya. "Katakan atau Abang benar-benar akan cari tau sendiri."

__ADS_1


Nakisya melepaskan tangan Aldi. Dengan suara yang bergetar ia menceritakan kejadian buruk yang hampir menimpanya. "Maaf, karena aku sudah membohongi Abang. Dan aku hampir menjadi wanita kotor," ucapnya ditengah isakan setelah menceritakan semua kejadiannya.


Aldi memegang pundak Nakisya. Menatap wajah yang sudah banjir dengan air mata. "Kamu gak salah, Abang yang sudah lalai menjadi suami." Aldi langsung mendekap tubuh istrinya yang nampak ketakutan. Mungkin istrinya itu kembali teringat dengan kejadian itu. "Maaf, Abang sudah memaksa kamu untuk menceritakannya," imbuhnya kemudian semakin merasa bersalah.


Aldi merasakan tubuh istrinya yang bergetar. Sebelah tangannya mengusap puncak kepala Nakisya. Sebelahnya lagi yang berada di punggung istrinya, tanpa sadar sudah mengepal.


"Jangan pergi, jangan tinggalin aku." Nakisya semakin mengeratkan pelukannya. Rasa trauma bercampur rasa takut dengan apa yang akan dilakukan suaminya, membuat Nakisya semakin mengencangkan tangisannya.


"Abang janji, untuk kedepannya akan selalu ngelindungi kamu," ucapnya, perlahan melepaskan pelukan istrinya.


Nakisya melihat sorot mata Aldi yang tidak lagi tajam. "Aku mau tidur," ucap Nakisya pelan. Ia sudah begitu cape dengan kegiatan tadi bersama Aldi diatas ranjang, ditambah setelah menangis, membuatnya memutuskan untuk tidur.


Aldi menggendong tubuh istrinya, yang tidak mendapatkan penolakan, menaiki satu persatu anak tangga. Dengan perlahan, Aldi membaringkan tubuh istrinya. Mendekap kembali tubuh itu. Aldi menatap wajah istrinya yang mulai memejamkan matanya. Aldi menggelengkan kepalanya saat membayangkan hal buruk yang hampir menimpa istrinya. Bahkan hanya membayangkan saja sudah membuat emosinya memuncak. Sedikitpun Aldi tidak rela saat mengetahui ada yang hampir melecehkan istrinya.


***


Matahari mulai meninggi, menampakan sinarnya tanpa malu. Nakisya melirik suaminya yang ternyata masih tertidur. Pagi ini Nakisya berencana akan membuatkan sarapan untuk Aldi. Namun bunyi beruntun yang menandakan banyaknya pesan masuk ke ponselnya, membuat Nakisya mengurungkan niat awalnya. Nakisya mengambil ponselnya yang tergeletak diatas laci. Dua puluh lima pesan masuk ke grup balad kurawa. Grup yang beranggotakan Nakisya dan kelima sahabatnya, setelah Angga keluar dari grup itu.


Rani ~ Sya, kok lo gak cerita ke gue?


Rizky ~ Sabar, Beph 🤗


Rizky ~ Untung Angga udah mengundurkan diri. Gak tau dah nasib dia kalau terus ngedeketin Kisya.


Dan masih banyak obrolan yang sama sekali tidak dimengerti oleh Nakisya. Dengan kening yang mengerut, Nakisya mengetik...


Kisya ~ Ngomongin apa sih?


Reza ~ Noh dia baru nongol. Sya, gue mau nanya keadaan lo, tapi kok gue malah takut sama Sing..., eh maksud gue sama suami lo😁✌


Nakisya semakin mengerutkan keningnya. Namun satu Vidio yang berdurasi lima belas menit, yang dikirimkan oleh Weni, sontak membuat nya tercengang. Di vidio itu terlihat Aldi menghajar tiga orang preman yang waktu itu hampir melecehkannya. Nakisya menutup mulutnya, ternyata suaminya bisa sebrutal itu kalau sedang emosi.


"Pagi istriku." Aldi merenggangkan otot tangannya yang terasa pegal usai perkelahiannya semalam dengan tiga orang preman sekaligus.

__ADS_1


Nakisya menggeser tubuhnya, saat Aldi hendak mencium pipinya.


Kening Aldi mengerut, "kenapa?"


"Bau," ucapnya asal. Padahal sejujurnya Nakisya sedikit takut dengan suaminya yang ternyata memiliki emosi yang begitu tinggi, lebih tinggi dari dugaannya semula.


Aldi memberengut, tanpa perduli dengan penolakan istrinya, dengan sengaja ia terus menghujani pipi istrinya itu dengan kecupan. "Pagi-pagi sudah cemberut. Kenpa?" tanyanya kemudian sambil memeluk tubuh istrinya.


Nakisya mendelik sebal. Setelah apa yang sudah dilakukan Aldi dengan tempat usaha milik kakak sahabatnya, kenapa bisa suaminya bisa sesantai itu. "Abang kenapa menutup club itu?"


Aldi mengedikan bahunya, ia kembali merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan yang menjadi bantal kepalanya. "Biar kamu gak kesana lagi," jawabnya datar.


"Kok Abang egois banget sih!"


"Kamu juga egois!"


Mata Nakisya membola, "aku egois?" tanyanya tidak terima kenapa Aldi tiba-tiba mengatainya.


Aldi mendongak, menyangga tubuhnya dengan sebelah tangannya, "iya, disaat ayah dan bunda kamu masih menjadi manusia biasa, tapi kenapa kamu malah jadi bidadari?" jawabnya sambil tersenyum menatap wajah Nakisya.


"Abang....!"


Aldi tertawa terbahak melihat wajah istrinya yang sedang merona. Semalam dendamnya terhadap tiga orang preman kep4rat itu sudah tersalurkan. Jadi sekarang Aldi tidak mau membahasnya lagi. Kini yang terpenting dirinya akan lebih menjaga istrinya.


"Sayang, kemarin Abang jadi bilang enggak sih?" tanya Aldi sambil mengingat kejadian kemarin.


Nakisya nampak mengingat, "yang habis makan?" tanya Nakisya.


Aldi mengangguk, "udah bilang belum sih?" tanyanya kemudian.


Nakisya menggeleng, "belum kan gak jadi. Mau bilang apa gitu? kayaknya penting banget." Nakisya nampak antusias.


"Abang mau ngajakin kamu honeymoon. Ke luar."

__ADS_1


Yukk... Cung yang mau ikut Bang Al siapa aja??😁😁


Like + Koment dulu tapi, ya😍🤗


__ADS_2