
Riko membulatkan bola matanya, sepertinya dirinya salah bicara, karena sejujurnya dirinya juga sama sekali tidak bisa memainkan benda itu, "bukan gitu maksud gue!"
Lelaki itu menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, "gue bisa sih maen gitar," ucap lelaki itu dengan gelagapan.
Riko tersenyum saat melihat seseorang yang dia harap bisa menolongnya, "woy Al! Sini lo," teriak Riko pada Aldi yang sedang melangkah menuju Nakisya.
Aldi mendongak, dia mengerutkan keningnya, "apa?" tanya lelaki itu yang masih berdiri di tempatnya.
Riko berdecak, "udah cepetan sini!"
Dengan malas, Aldi melangkah menuju tempat Riko duduk dengan dua orang teman Nakisya.
Riko tersenyum saat Aldi sudah berada di sampingnya. "Gini, elo kan jago tuh maen gitar, coba lo maen di depan mereka," perintah lelaki itu sambil menyerahkan gitar pada sahabatnya.
"Ogah ah, lagi males gue. Kenapa bukan elo aja yang maen?" tanya Aldi dengan menyunggingkan senyumnya.
Aldi dapat menebak, kenapa sahabatnya itu tiba-tiba menyuruhnya maen gitar di depan kedua lelaki itu.
"Makanya, kalau lo gak bisa, gak usah ngehina orang. Suka sombong sih elo. Ingat, di atas mie masih ada bakso dan kawan-kawannya," bisik lelaki itu tepat di samping telinga Riko.
"Bacot lo! Buruan maen!"
Riko melirik ke arak kedua lelaki yang sedang memperhatikan ke arahnya.
"Jadi gini, sebenarnya gue bisa maen gitar, cuman suasana hati gue lagi gak memungkinkan, jadi gue nyuruh asisten gue, yang kebetulan dia lagi bahagia. Siapa tau aja kan kebahagiaannya bisa nular sama lo yang lagi galau," ucap lelaki itu mencoba berkilah.
Aldi merotasikan matanya, "oke gue maen, tapi gak di sini," ujar lelaki itu yang langsung melangkah, dengan gitar yang dibawanya, menuju kekasihnya.
Tanpa menunggu lama, Riko dan dua orang lelaki itu juga mengikuti Aldi.
"Wah, Bang Al mau maen gitar ya?" tanya Vani dengan mata yang berbinar. Gadis itu memang menyukai lelaki yang bisa memainkan gitar, keliatan romantis, katanya.
Aldi tersenyum menatap Nakisya, "spesial for you, Honey," ucap lelaki itu yang berhasil membuat semburat merah di wajah kekasihnya.
Girl your heart, girl your face
Gadis hatimu, gadis wajamu
Is so different from them others
sangat berbeda dari mereka yang lain
I say, you're the only one that I'll adore
Saya mengatakan, bahwa kaulah satu-satunya yang saya puja
Cos everytime you're by my side
karena setiap kali kau berada di sisiku
My blood rushes through my veins
Darahku mengalir ke pembuluh darahku
And my geeky face, blushed so silly oo yeah, oyeah
Dan wajah culunku, tersipu begitu konyol oo yeah, Oyeah
And I want to make you mine
Dan saya ingin menjadikan Anda milikku
Oh baby I'll take you to the sky
Oh sayang Aku akan membawamu ke angkasa
Forever you and I, you and I
Untuk selamanya kau dan aku, kau dan aku
__ADS_1
And we'll be together till we die
Dan kita akan bersama sampai kita mati
Our love will last forever
Cinta kita akan bertahan selamanya
And forever you'll be mine, you'll be mine
Dan selamanya Anda akan menjadi milikku, Anda akan menjadi milikku
Girl your smile and your charm
Gadis senyum dan pesonamu
Lingers always on my mind
Tetap hidup selalu di pikiran saya
I'll say, you're the only
Aku akan berkata, hanya kau
One that I've waited for
yang telah saya tunggu
Semua bertepuk tangan saat Aldi menyelesaikan lagu itu, kecuali satu orang lelaki yang wajahnya terlihat sama sekali tidak bersemangat.
Menyadari itu, Rizky berdehem, "Kak Aldi, lagu Ingatlah hari ini dong," pinta lelaki itu dengan tersenyum ramah ke arah Aldi.
Aldi mengangguk, buku jarinya mulai memetik senar gitar, "tapi kalian ya yang nyanyi, gue cuma mengiringi aja," ujar lelaki itu pada semua yang ada di situ.
Dengan semangat, Rizky lebih dulu menyanyikan lirik lagu itu.
Kawan dengarlah
Tentang dirimu
Setelah selama ini
Ternyata kepalamu
Akan selalu botak
Rizky melirik ke arah Angga.
Eh, Kamu kaya gorila
Semua orang tertawa melihat ekspresi Angga yang seperti orang marah.
Merasa tidak terima dengan lirik yang di nyanyikan Rizky, seolah lupa dengan kegalauannya, Angga dengan semangat membalas lirik yang di nyanyikan sahabatnya itu.
Cobalah kamu ngaca
Itu bibir balapan
Dari pada gigi lu
Kayak kelinci
Weni langsung menyambung lirik lagu itu, gadis itu menunjuk ke arah Rani
Yang ini udah kurus
Suka marah-marah
Kau cacing kepanasan
__ADS_1
Vani ikut menimpali lirik itu, gadis itu merangkul tubuh Rani dan Weni.
Tapi ku tak perduli
Kau selalu di hati
Kali ini semuanya bernyanyi, ketiga gadis itu kini saling merangkul.
Kamu sangat berarti
Istimewa di hati
Selamanya rasa ini
Jika tua nanti
Kita t'lah hidup masing-masing
Ingatlah hari ini
Nakisya dan Rani dengan kompak saling menatap dan melanjutkan liriknya.
Ketika kesepian menyerang diriku
Gak enak badan resah tak menentu
Ku tahu satu cara sembuhkan diriku
Ingat teman-temanku
Don't you worry just be happy
Temanmu di sini
Don't you worry don't be angry
Mending happy-happy
Kebersamaan mereka di malam itu di tutup dengan tawa dan canda yang sangat meriah.
Aldi tersenyum melirik ke arah Nakisya, gadisnya itu terlihat begitu bahagia bersama para sahabatnya.
Apa iya, Aldi akan terus mengalah menunda kembali pernikahannya, karena permintaan Nakisya yang menginginkan kuliah dulu, di tempat yang sama, bersama ketiga sahabatnya itu.
Tapi Aldi selama ini sudah berusaha menahan dirinya, biar bagaimanapun dirinya sudah cukup umur, dan sebagian dirinya sudah begitu menggebu ingin menjadikan gadis itu sebagai istrinya, dan memilikinya seutuhnya.
Sementara Riko, lelaki itu sedikit menjauh dari tempatnya, saat ponselnya bergetar, tertera nama perempuan yang saat ini sudah tidak lagi menjabat sebagai kekasihnya.
"Hallo?" ucap lelaki itu dengan suara datar.
"Bagus ya kamu, bukannya kamu memperbaiki kesalahan kamu, kamu malah pergi liburan bersama para gadis. Kamu emang gak ada niat ya buat memperbaiki hubungan kita," teriak perempuan di balik panggilan itu.
Riko berdecak, dengan kalimat sepanjang itu, dia dapat memastikan mantan kekasihnya itu sedang begitu marah terhadapnya.
"Kemarin aku udah ngejelasin semuanya kan sama kamu? tapi kamu terus gak percaya, dan malah ngambil keputusan secara sepihak buat ninggalin aku," ujar lelaki itu mulai terpancing.
Nia menghembuskan napasnya kasar, "jangan salahkan orang yang meninggalkan mu, tapi lihat kamunya, apa pantas orang seperti kamu di pertahankan."
Setelah panggilannya berakhir, Riko menyimpan kembali ponselnya, lelaki itu kembali mengeluarkan rokok dari balik celananya.
Riko memang bukan seorang pecandu, dirinya hanya sesekali menikmati benda itu, hanya saat suasana hatinya sedang kacau.
-
-
**Like dong gaes, meskipun ceritanya gak seruπ
Komentnya next aja. Buat vote, gapapa enggak juga, di tabung aja dlu buat kedepannya, yang aku butuhin sekarang like ajaπ
__ADS_1
Hatur nuhun ππ€π€**