
Nakisya menoleh ke arah Rizky, hendak melontarkan kalimatnya, namun matanya tidak sengaja melihat ke arah lelaki yang dia kenal, sedang memegangi lengan seorang perempuan, yang berpakaian seksi.
Aldi yang baru sadar, ternyata ada sepasang mata yang kini sedang menatap kearahnya dengan tatapan tajam. Lelaki itu menelan salivanya dengan susah payah. Meskipun dirinya tidak sengaja memegang lengan Wina yang tiba-tiba limbung dan hampir terjatuh, tapi Aldi dapat menebak, kekasihnya itu sedang salah paham.
Aldi langsung melepaskan lengannya dari lengan sekertarisnya itu. "Sya A- Aku," tiba-tiba lidahnya kelu, dirinya semakin gugup saat Nakisya semakin menatapnya dengan kobaran api yang membara dari matanya. Namun ketakutannya langsung pudar, saat melihat kekasihnya itu kini tersenyum dengan begitu manis ke arahnya.
"Hai, sayang. Kamu disini juga. Lagi ngapain?" tanyanya dengan suara lembut dan langsung berdiri di antara Aldi dan Wina, membuat perempuan yang menjadi sekertaris Aldi itu menggeser tubuhnya, karena terkena senggolan Nakisya.
Aldi yang kaget, tidak menyangka dengan respon sang kekasih, namun lelaki itu menghela napas, karena ketakutannya tidak terjadi. Aldi menarik kedua sudut bibirnya, membentuk lengkungan. "Abang ada meeting disini," jawabnya dengan mata yang masih menatap lekat ke arah kekasihnya itu.
"Oh, aku mau bicara berdua sebentar, boleh?" tanyanya dengan ekor mata yang melirik ke arah Wina.
Wina yang mengerti dengan maksud Nakisya, perempuan itu langsung melangkah, dengan amarah yang dia tahan, "dasar anak kemarin sore! mentang-mentang pacarnya Pak Aldi, belagu banget! Nikmati aja dulu posisimu sekarang, karena sebentar lagi aku akan merebutnya," gerutunya dengan kaki yang terus di hentakan..
Aldi mengusap pelan ujung kepala Nakisya. "Sayang kamu kesini kok gak bilang-bilang?" tanya Aldi pada gadis itu.
Nakisya kembali memasang wajah ketusnya. "Kenapa harus bilang! Aku kesini gak macem-macem. Gak kaya kamu yang pakai alasan meeting, padahal dengan mata kepala aku sendiri, aku lihat kamu mesra banget sama perempuan itu."
"Eh," Aldi tidak melanjutkan kalimatnya, dahinya mengerut. Baru saja gadis itu berbicara dengan senyum manis yang terpancar dari wajahnya, namun sekarang, gadis itu berubah ketus.
Aldi yang hanya diam, membuat Nakisya menjadi semakin kesal. Dengan cepat gadis itu meninggalkan Aldi yang masih mematung di tempatnya.
"Sya." Seolah baru tersadar, Aldi langsung berlari mengejar kekasihnya itu, yang berjalan ke arah lift.
Nakisya sudah masuk kedalam lift, diikuti oleh Aldi yang kini memegang kedua pundak gadis itu. "Kamu kenapa?" tanya Aldi dengan lirih.
"Nakisya memalingkan wajahnya ke arah lain, "aku tuh sebel sama Abang, ngapain sih mesra banget sama perempuan itu!"
"Oh cemburu," batin Aldi yang kini mengulum bibirnya.
__ADS_1
"Aku gak ada apa-apa sama dia. Jadi gak usah cemburu gitu dong." Aldi menjawil hidung Nakisya yang sudah memerah karena menahan amarah. Dengan santai dirinya menjelaskan penyebabnya memegang lengan sekertarisnya itu.
"Aku gak cemburu ya!" ucap gadis itu tidak terima dengan tuduhan kekasihnya.
"Oke, cewek emang gak pernah mengaku kalau dirinya sedang cemburu, jadi gak usah di bahas lagi, biar gak makin melebar urusannya," gerutu Aldi dalam hati.
"Bentar deh, tapi kok tadi pacar Bang Al biasa aja di depan Wina, kenapa marahnya baru sekarang?" goda lelaki itu.
"Aku gak mungkin lah, marahin kamu di depan orang lain, aku tuh bisa lihat, cara dia liatin Abang kaya yang naksir banget," jawab Nakisya dengan wajah yang masih menatap ke arah lain.
"Kalau dia lihat aku dan Abang marahan, bisa seneng dia," imbuhnya kemudian.
Aldi terkekeh, "tapi kamu percaya kan, sama Aku?"
"Aku selalu percaya, terhadap apa yang ingin aku percaya, meskipun untuk melakukannya aku selalu merasa sakit," ucap Nakisya dengan wajah yang terlihat sendu.
Aldi langsung menarik tubuh Nakisya kepelukannya. Tangan kekar nya beralih menyentuh dagu gadis itu, kepalanya sudah miring kesamping, bibirnya sudah menempel sempurna di bibir kekasihnya itu.
"Tempat umum woy!"
Aldi langsung menatap kearah asal suara, ternyata disana sudah ada Vino dan Riko yang sedang berdiri di depan pintu lift itu sedang menatap ke arahnya dengan tatapan malas.
Dengan wajah santai, Aldi langsung menarik lengan kekasihnya yang sedang tertunduk karena malu, keluar dari lift.
"Mau kemana Lo!" tanya Vino yang menatap Aldi dengan tatapan curiga.
"Jangan bilang lo mau batalin meeting," imbuhnya kemudian yang langsung menciptakan senyuman menyebalkan dari wajah Aldi.
"Eh adik ipar gue yang paling baik hati dan pengertian, kayaknya setelah Aa pikir-pikir, baiknya meeting kita cancel aja ya, jadi besok," ujarnya dengan mengedipkan sebelah matanya.
__ADS_1
"Woah, gak bisa gitu dong, Gue udah banyak buang waktu buat datang kesini, Lo gak bisa seenaknya gitu dong!" jawab Vino tidak setuju.
"Udah, besok aja ya," ucap Aldi yang langsung meninggalkan tempat itu.
Vino dan Riko menatap kepergian Aldi dengan wajah geram, bagaimana tidak, lelaki itu yang mendadak menentukan jam dan tempat untuk bertemu. Tapi dia juga yang tiba-tiba langsung membatalkannya, padahal mereka sudah sama-sama berada di tempat itu. "Dia pikir dia siapa! Kemarin aja dia yang ngotot minta proyek ini, sekarang kesannya malah kita yang ngejar-ngejar dia." Vino langsung meninggalkan tempat itu, dengan mulut yang terus menggerutu.
"Apes gue punya kaka ipar macam dia."
Vino menghembuskan napasnya kasar. "Lo juga siap-siap, bentar lagi gue yakin, Lo akan bernasib sama kaya gue," imbuhnya kemudian sambil melirik ke arah Riko, yang sedang menertawakannya.
"Dimana-mana, adik ipar memang harus ngalah, Bos," jawab Riko meledek.
"Tapi kalau gue, gak bakal gue biarin tuh orang bertindak semau dia, kan gue yang bakal jadi kakak sepupunya," imbuhnya kemudian sambil terkekeh.
Aldi sudah sampai di depan rumah Nakisya, "Aku langsung ke kantor lagi ya," ucapnya sambil melirik ke arah Nakisya.
"Kok gak mampir dulu sih? Lagian sekarang udah sore, kenapa gak langsung pulang aja?" tanya gadis itu, sambil melepaskan seat belt dari tubuhnya.
"Masih ada banyak kerjaan, kayaknya aku bakalan lembur," jawab Aldi dengan wajah yang terlihat lesu.
"Emang Bang Al gak cape, pergi pagi pulang malam terus?"
Aldi menatap dalam wajah Nakisya. Buku jarinya diangkat untuk merapihkan helaian rambut kekasihnya yang menjuntai, menutupi wajah cantik gadis itu. "Sayang, aku pergi pagi pulang malam, aku pikir kerja itu cape. Ternyata lebih cape nahan mata ini dari pagi, untuk enggak liatin kamu," ujarnya yang berhasil membuat semburat merah di pipi Nakisya.
-
-
**Bersumbang dulu ya๐ค๐ค
__ADS_1
Minta jempolnya dong๐๐**