
Nampak jelas raut wajah bahagia yang terpancar dari wajah Nakisya. "Beneran 'kan, Bang?" tanyanya kembali. Masih belum percaya dengan ucapan suaminya. Mengingat jadwal padat yang dimiliki suaminya membuatnya menolak untuk percaya, tapi suaminya itu dengan jelas baru saja menjawab 'iya' membuat Nakisya kembali tersenyum.
"Emang kemana kita akan pergi?" Nakisya begitu tidak sabar.
Semenjak dia menikah, Nakisya memang menunggu moment ini, dimana sang suami mengajaknya untuk bulan madu. Nakisya juga beberapa kali mengode suaminya. Namun Aldi seolah-olah tidak peka, lebih tepatnya pura-pura tidak peka, karena kerjaan di kantornya begitu numpuk.
Aldi menjawil hidung mancung Nakisya, "ada deh, nanti kamu juga akan tau."
Nakisya menepis tangan Aldi yang hendak beralih mengusap puncak kepalanya, "dih... Pake rahasia-rahasia an!" ketusnya.
Aldi tersenyum, "yaudah sekarang siap-siap yuk. Kita berangkat jam sepuluh.
"What the..." Nakisya hampir saja berkata kasar. Bagaimana mungkin suaminya itu berkata sesantai itu. Ia melirik jam di ponselnya yang menunjukan pukul delapan lebih tiga menit. Sedangkan dirinya belum persiapan apa-apa. Jangankan persiapan untuk barang-barang yang akan dibawa kesana. Sekedar mandi saja belum.
Aldi sontak menatap istrinya, "kamu gak usah bawa baju terlalu banyak, disana kita cuma dua hari. Lagian disana juga banyak toko baju, nanti kita beli saja."
Nakisya tidak menghiraukan perkataan suaminya. Mengingat ia yang sering membahas soal kota paris kepada sang suami, jadi saat ini Nakisya menduga kalau suaminya akan mengajaknya kesana. Dengan cepat Nakisya memasukan beberapa potong pakaian tebal, karena setaunya sekarang disana sedang musim salju. Disela dirinya menyiapkan perlengkapannya, Nakisya tersenyum, membayangkan setiap adegan romantisnya bersama Aldi, berciuman di bawah salju yang turun. Ia juga membayangkan gimana asiknya membuat boneka dari salju, saling melempar bola salju, persis yang dilakukannya saat Nakisya masih kecil. Ya, terakhir dia berlibur keluar negri saat kelas enam sekolah dasar. Dan sejak saat itu dia tidak liburan lagi, karena kesibukan ayahnya.
Satu koper besar berisikan pakaiannya dan juga pakaian Aldi sudah siap. "Abang kok masih santai?" tanya Nakisya sambil mengusap keringat dikeningnya. Terlalu bersemangat memacking ternyata membuatnya sedikit berkeringat.
"Yaudah aku mandi duluan," imbuhnya kemudian saat melihat suaminya yang masih asik main ponsel.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Nakisya menyelesaikan ritual mandinya. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukan pukul delapan lebih lima puluh tiga.
Aldi menyimpan ponselnya, setelah membalas pesan dari Vino. Ia melangkah kearah Nakisya yang masih memakai handuk putih. Dikecup nya leher jenjang Nakisya, sebelah tangannya sudah berada di bagian ujung handuk. Dengan sekali hentakan benda itu akan terlepas dari tubuh Nakisya.
"Abang!" sentak Nakisya yang sudah mengerti dengan gelagat Aldi. "Kita harus cepat-cepat. Katanya kita berangkat jam sepuluh. Belum lagi nanti perjalanan ke bandara yang pastinya bakalan macet," ujarnya panjang lebar sambil mempertahankan handuknya.
Aldi menempelkan dagunya diatas pundak polos Nakisya. Bibirnya masih betah menempel di leher jenjang istrinya. "Jadinya kita berangkat jam empat. Mending sekarang kita iya-iya dulu."
Nakisya yang hanya mengenakan handuk, serta aroma sabun cair yang tercium dari kulit Nakisya memang merupakan daya tarik tersendiri untuk Aldi. Jadi bagaimana mungkin ia bisa menahan hasratnya.
__ADS_1
Mata Nakisya membola, "tadi katanya jam sepuluh, sekarang bilang jam empat. Abang sengaja ya ngerjain a-, mmpth," kalimatnya terhenti saat Aldi tiba-tiba membekap mulutnya dengan bibirnya.
Nakisya hanya pasrah dengan perlakuan suaminya. Akal sehatnya ingin menolak, tapi tubuhnya berkata lain. Tidak bisa dipungkiri, Nakisya memang selalu lemah dengan setiap sentuhan suaminya.
Aldi merasa tertantang saat Nakisya mulai mengimbangi permainannya. Matanya mulai terpejam saat dengan lembut Nakisya mengelus tongkatnya yang sudah menegak.
Detik sudah berganti jadi menit, menit berganti menjadi jam. Keduanya sudah terkulai lemas, usai pergulatannya yang terhitung sangat lama.
Aldi mengecup lama di kening Nakisya, sebagai tanda kalau dia sudah puas dengan istrinya.
Nakisya menyandarkan tubuhnya pada dada bidang suaminya. "Kalau jadinya berangkat jam empat, lalu kenapa Abang gak berangkat kerja aja?"
Sekali lagi Aldi mengecup Nakisya, tapi kali ini Aldi mendaratkan bibirnya diatas puncak kepala istrinya. "Abang gak mungkin lebih memilih berangkat kerja, kalau di sini ada candu yang lebih menggoda," bisiknya.
Nakisya mencebik, "nanti kerjaan nya numpuk," ledeknya.
"Gak bakalan, soalnya sekarang abang punya sekertaris handal, jadi abang bisa sedikit santai."
Nakisya mendongak, "jadi penasaran sama sekertaris baru nya. Pastinya cantik banget ya?" Nakisya menyipitkan matanya.
Nakisya mulai was-was, mengingat semua mantan sekertaris Aldi yang pada gak bener, sekarang Nakisya menyangka kalau sekertaris suaminya jauh lebih baik. Buktinya Aldi seperti bangga saat menceritakan sekertaris nya.
"Cantik?" ulang Nakisya. Kini wajahnya terlihat kesal.
Aldi mengangguk, "body nya, beuhhh..."
***
Vino dan Naura sudah sampai di Bandara Halim Perdana Kusuma. Vino melambaikan tangannya pada seseorang yang dari tadi ditunggunya. "Kita disini," teriaknya sedikit kencang saat melihat dari jarak yang lumayan jauh, Aldi berbelok kearah lain.
Nakisya yang lebih dulu melihat Vino, keningnya mengerut. "Loh, kok ada Vino sama Naura juga?"
__ADS_1
Aldi mengangguk, "aku gak bilang ya, kita kan mau liburan bareng sama mereka. Sama kakak kamu juga," ujarnya sambil mengangkat tangannya utuk membalas lambaian tangan Riko yang baru datang dengan istrinya.
Nakisya tersenyum saat pandangannya bertemu dengan Nia yang juga tersenyum kepadanya. "Asik seru dong, kita nanti triple date disana."
Kini tiga pasang suami istri itu sudah duduk di kursi tunggu.
Riko menatap kearah Vino. Sebelumnya Riko mengira kalau dirinya hanya akan pergi berdua dengan istrinya. Beberapa jam yang lalu, Riko mendapat pesan dari Vino, yang mengatakan kalau ia diberikan waktu cuti dua hari untuk menikmati bulan madu bersama istrinya. Namun Riko belum tau kemana dia akan pergi, karena Vino hanya menyuruhnya untuk datang ke bandara. "Oh, jadi kita pergi rame-rame?" Perasaan Riko mulai tidak enak, dia sudah menebak acara bulan madu gratisan nya akan sia-sia karena kedua sahabatnya pasti akan mengganggunya. "Mana lagi anget-anget nya," gumamnya dalam hati.
"Iya lah. Lo pikir kita disini mau ngapain?" jawab Aldi ketus.
Riko berdecak, "kayaknya Bos beli dua tiket dapat gratis satu, ya? Dan gratisnya itu Bos kasih ke gue?"
Aldi tertawa, "kasian... Jadi Vino ngajakin Lo cuman gara-gara sayang sama gratisan nya," cibir Aldi.
Vino ikut tertawa, "sembarang lo. Gue sengaja beliin lo, anggap aja hadiah buat nikahan kalian. Lagian jarang-jarang 'kan kita liburan bareng."
"Iya, sekalian aku mau ngenalin keindahan kampung ibu aku," ucap Naura menimpali kalimat Vino.
Nakisya melirik Aldi, "kampung?" tanya nya pelan, tapi masih dapat terdengar oleh semua orang.
Naura tersenyum kearah kakak iparnya. "Iya, Teh. Teteh belum tau 'kan kampung halaman aku? Aku jamin, Teh Kisya bakal senang, soalnya banyak tempat wisata alam nya."
Nakisya mengerjap. Masih belum percaya dengan yang barusan didengar olek kedua telinganya. Terus apa kabar dengan khayalannya yang sudah sampai ke negara bersalju. Apa kabar juga dengan semua baju tebal yang sudah duduk manis didalam koper. "Kumenangis...." jerit Nakisya dalam hati.
"Katanya mau honeymoon ke luar?" bisiknya pada Aldi. Kali ini begitu pelan, takut terdengar oleh orang lain.
Aldi tersenyum, "lah, kan emang ini juga mau ke luar, keluar kota."
Udah lah Sya, gak apa cuma keluar kota juga. Dari pada aku, keluar rumah aja jarang 😂😂
KARENA ADA SUATU MASALAH. JADINYA AKU TERPAKSA MENGOSONGKAN GRUP CHAT. TAPI KARENA SEKARANG MASALAHNYA UDAH KELAR, JADI KALIAN YANG BENAR-BENAR PEMBACA KARYA AKU, BOLEH MASUK LAGI YA🤗🤗
__ADS_1
PASWORD NYA KALIAN SEBUTKAN NAMA MANTAN SEKERTARIS ALDI.
Like + Koment + Vote. Aku ingetin terus, biar gak lupa😁🤗🤗