Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Sayap


__ADS_3

Dalam hatinya, Aldi masih saja terus menggerutu. Malam pertama yang sudah di nantikannya sejak lama, kini benar-benar jauh dari ekspektasi nya. "Ya Allah, apa aku salah kalau malam ini aku ingin beribadah bersama istriku? Kenapa kau malah menghadirkan tamu tak diundang itu," gumamnya yang masih dapat terdengar oleh Nakisya.


Nakisya tertawa, walaupun hati kecil nya tentu saja sangat bersalah. "Maaf ya, Bang. Tapi kan itu diluar kehendak aku." Wanita itu kembali melontarkan kata maaf, seolah itu kesalahannya.


Aldi yang sedang menyandarkan tubuhnya diatas ranjang, sebelah lengannya langsung menggenggam lengan wanita yang saat ini sudah memakai kaos lengan pendek miliknya, yang terlihat kebesaran ditubuh wanita itu. "Iya, Sayang. Tujuh hari 'kan? Aku kuat kok," ujarnya nampak tidak yakin.


"Sekarang kita tidur yuk?" imbuhnya kemudian.


Nakisya menggeleng, membuat sang suami mengerutkan keningnya. "Beliin pembalut," pinta wanita itu.


"Hah?"


Nakisya tersenyum, wanita itu kembali mengulangi kalimatnya, "beliin pembalut sama c* nya sekalian."


***


Aldi sudah sampai di sebuah supermarket yang tidak jauh dari kediaman Rainald. Sebenarnya Nakisya menyarankan dirinya untuk mengambil kedua barang itu di rumah Bagas, tapi dirinya takut kalau mertuanya itu sudah pulang dari hotel. Nanti yang ada dirinya akan di introgasi karena telah pergi meninggalkan acara tanpa pamit dulu.


Pria itu terus melangkah menyusuri jajaran produk yang tertata rapi di setiap rak yang ada di tempat itu. Matanya kembali mengecek gambar yang terpampang di layar ponselnya. Karena supermarket itu begitu luas, dan barang yang di inginkannya entah berada dimana, akhirnya pria itu memutuskan untuk meminta tolong kepada SPG yanga ada disana.


"Mba, bisa kasih tau dimana tempat pembalut?" tanya pria itu setengah berbisik.


SPG itu tersenyum. "Mari saya tunjukan," ucapnya yang langsung melangkah di ikuti oleh Aldi.


"Disini, Mas."


Aldi begitu bingung saat melihat jajaran pembalut dengan warna dan merk yang berbeda. Lelaki itu kembali mengecek ponselnya, maksudnya dia ingin menyamakan dengan gambar yang tadi sudah di download oleh Nakisya. Namun seolah menambah kesialan nya, ternyata ponselnya itu mati.


"Mba?" Aldi memanggil kembali SPG yang sudah melangkah ke tempatnya semula.


"Bisa pilihkan pembalut buat istri saya?" ucapnya kemudian saat wanita itu kembali melangkah kearahnya.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk. "Biasanya suka pakai yang tipis atau tebal?" tanya wanita itu.


"Saya gak tau."


Wanita itu nampak kebingungan. "Mau yang biasa atau mau yang night?"


Aldi nampak berpikir, "night aja." dirinya menjawab itu karena Nakisya datang tamu nya malam hari.


"Mau yang pakai sayap atau non sayap?"


Aldi mengerutkan keningnya. "Dikira gue beli seblak apa, pake ditawarin sayap segala," gumamnya dalam hati.


***


Aldi sudah kembali ke rumah Rainald, lelaki itu hendak menaiki anak tangga, tapi suara dari seseorang membuatnya langsung menoleh.


Rainald menatap Aldi dengan sorot mata yang begitu menusuk. "Bagus ya kamu! Orang lain pada nyariin, tapi kamu malah sembunyi disini."


Rainald menghembuskan napasnya secara kasar. "Baru aja tadi kamu sungkem, mohon-mohon biar ayah maafin kamu. Tapi sekarang kamu sudah kembali berulah.


"Aldi minta maaf lagi ya, Ayah?" ucapnya sambil menampilkan deretan giginya.


Naumi yang sekarang berada du rumah Rainald, wanita itu menepuk pundak suaminya. "Mas mau kopi atau teh?" tanyanya.


Aldi tersenyum senang kearah ibu tirinya, yang kembali mendapatkan balasan dari wanita itu. "Nah betul, mendingan Ayah ngeteh aja bareng Ibu, kan jarang-jarang kalian bisa berduaan." Setelah melontarkan kalimatnya, Aldi langsung pergi dari tempat itu.


"Aldi... Ayah belum selesai bicara!"


Aldi membalikan tubuhnya. "Maaf Ayah. Kasian Kisya udah nungguin."


Rainald mengusap dadanya. Sekarang wajah pria itu benar-benar terlihat kesal.

__ADS_1


Lengan Naumi mengusap punggung suaminya. "Udah lah, Mas. Kaya gak pernah ngalamin jadi pengantin aja." Setelah mengucapkan kalimatnya, Naumi langsung melangkah meninggalkan Rainald.


"Sayang, mau dong kaya pengantin lagi," bisik Rainald setelah berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Naumi.


***


"Abang udah dapat yang aku pinta?" tanya Nakisya yang dari tadi menunggu kedatangan suaminya.


Nakisya mengerutkan keningnya. "Abang beli apa aja? Kok belanjaannya banyak banget?" tanya Nakisya yang langsung mendekat kearah Aldi saat matanya melihat kantung keresek berukuran jumbo yang sedang di jingjing pria itu.


Aldi tersenyum. "Tadi kan Abang minta tolong sama SPG disana, tapi SPG nya malah nanya mulu ke Abang. Gara-gara Abang gak ngerti, yaudah jadinya Abang borong aja."


Nakisya benar-benar tidak habis pikir dengan suaminya. Tanpa minat berdebat, wanita itu langsung mengambil apa yang dibutuhkannya, dan berlalu menuju kamar mandi.


"Aku langsung tidur ya, Bang," ucap Nakisya yang kini merebahkan tubuhnya di samping Aldi.l, dengan posisi membelakangi suaminya.


Aldi menarik tubuh Nakisya, dan memosisikannya kepala wanita itu diatas tangannya. "Mimpi indah, Sayang." Satu kecupan di kening Nakisya menjadi pengantar tidur untuk wanita itu.


***


Nakisya tersenyum saat pertama kali matanya terbuka dirinya langsung melihat wajah pria yang sekarang menjadi suaminya. Namun tiba-tiba matanya langsung membola saat melihat tangan kekar milik Aldi berada di atas tubuhnya dengan pakaian Nakisya yang sudah berantakan. "Abang! apa yang udah Abang lakukan sama aku semalam?" Nakisya begitu kaget saat dirinya bangun ternyata kaus yang dikenakannya sudah tersingkap, sehingga memperlihatkan perut dan bagian dadanya.


Aldi yang kesadarannya belum terkumpul semua, pria itu bergumam, "cuma raba dikit, Sayang."


Nakisya langsung memperbaiki pakaiannya, wanita itu hendak turun dari ranjangnya, tapi dengan cepat tangan Aldi langsung mendorong tengkuk wanita itu.


"Cup." satu kecupan berhasil mendarat di bibir Nakisya.


"Morning kiss, istriku."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2