
Perahu terus melaju, hingga mereka sampai di beberapa batu dengan ketinggian lima meter bahkan sampai ada batu besar dengan tinggi sepuluh meter.
"Pak berhenti disini," perintah Aldi yang langsung dituruti oleh pemilik perahu.
"Kalau kalian mau loncat dari situ, boleh kok. Itu pun kalau kalian berani," ucap Naura memberikan tatapan remehnya.
Merasa tertantang, setelah melirik batu besar itu, Vino langsung bersiap, turun dari perahu dan menaiki batu itu.
Melihat Vino yang seperti tidak ada takutnya, Aldi tidak mau kalah. Setelah sempat mengecup kening Nakisya, ia juga bergegas turun mengikuti Vino.
"Abang... hati-hati!" teriak Nakisya yang sedikit ngeri melihat tingginya batu itu, apalagi batu itu juga terlihat sedikit ditumbuhi lumut, Nakisya benar-benar takut kalau suaminya terpeleset.
"Kamu gak ikutan?" tanya Nia pada Riko.
Riko menarik kedua ujung bibirnya, "aku disini aja, jagain kamu," jawabnya.
"Bilang aja gak berani. Ah, Riko payah. Jangan-jangan dia gak pernah naik, Ni? Kayaknya kamu terus ya yang diatas?" tanya Naura setengah bercanda. Akhirnya, setelah cukup lama dua orang sahabat itu mulai kembali somplak lagi.
Nia tergelak, "iya, dia emang payah, Ra. Aku terus yang eksekusi," jawabnya berbohong.
"Apaan? Kamu lupa siapa yang suka kewalahan terus?" ujar Riko merasa kejantanan nya di nistakan.
"Kalau kamu gak percaya, aku juga bisa buktiin sama kamu," ucap Riko nyeleneh, kali ini tersenyun menatap Naura.
"Eh!"
Bugh...
Riko mengusap kepalanya yanh berhasil mendapat pukulan dari Nia, "duh... Sakit Bebh." Riko meringis dengan tindakan bar-bar istrinya.
Masih ingat 'kan? Seberapa seringnya Nia mukul kepala Andin dulu? Dan sepertinya sekarang Riko yang akan terus menjadi sasaran bar-bar nya Nia.
Nia melipat tangannya di bawah dada. "Habisnya kamu! Di depan aku aja sudah berani nawarin gituan sama orang lain. Mana ke sahabat aku sendiri lagi."
"Elah, becanda aku."
Untung Vino jauh, kebayang dong kalau sampai dia denger, bisa dapat dua pukulan sekaligus tuh Riko, bahkan mungkin bisa lebih.
Nakisya tidak mau ikut campur dengan pembicaraan tiga orang itu. Ia lebih tertarik untuk berfoto selfie. Tentunya untuk dipamerkan ke semua sahabatnya.
__ADS_1
Nakisya menerima ponselnya, dan melihat hasil fotonya. "Terimakasih ya, Mang," ucapnya pada pemandu wisata yang sudah rela mengambilkan gambar untuknya.
Sementara Aldi dan Vino masih asik bergantian terjun dari batu yang paling tinggi. Sehingga semua nampak mengalihkan perhatiannya. Naura dan Nakisya kompak menjerit karena sedikit ngeri melihat para suaminya yang ternyata sangat pemberani.
Tiba-tiba Aldi berenang kearah perahu, "kenapa lo gak ikutan? B4nci lo kalau gak nyoba," ucapnya pada Riko.
"Udah sonoh, mereka aja berani masa kamu enggak," ujar Nia, wajahnya masih terluhat ketus.
Riko menggenggam tangan Nia, "Bebh, kok kamu malah nyuruh aku, kamu gak khawatir gitu kalau aku kenapa-kenapa? Kita baru nikah loh." Riko menatap sendu wajah Nia.
"Tidak akan terjadi apa-apa kok, Kang. Selagi masih ada di wilayah sini," ujar pemilik perahu.
Vino yang baru datang, ia dan Aldi nampak kompak menarik tangan Riko. Sehingga mau tidak mau Riko terpaksa menuruti kedua sahabat keparatnya.
"Awas kalian! jangan dorong-dorong gue, bahaya," ucap Riko ketika sudah berada diatas batu, dan lagi-lagi kedua sahabatnya menyuruhnya untuk lebih dulu terjun.
Riko menatap kebawah sungai yang begitu dalam. Tangan dan kakinya mendadak gemetar, "siAl! Sepertinya ini arti dari kucing tadi." Tanpa sadar Riko kembali memundurkan kakinya,
"Ah kelamaan."
"Aaaaaaa... Byurrr.."
"Eh, dia mana?" tanya Vino yang baru sadar kalau Riko belum terlihat.
Helm dan pelampung yang dipakai Riko mengambang. Tapi Riko masih belum menampakan dirinya.
"Gue baru ingat, kata Naura dulu disini pernah ada yang jadi korban, jangan-jangan sekarang Riko..." Vino melirik Nia yang ternyata malah terlihat tenang.
Aldi mengedarkan pandangannya, "Ya Allah, hamba belum siap kehilangannya, dia masih punya hutang sama hamba."
Bugh... Bugh...
Dari arah belakang Riko muncul, setelah bergantian memukul dua orang sahabatnya, ia memberikan tatapan tajam nya, "sembarangan lo pada. Tega sama gue," gerutu Riko yang sempat berpikir untuk mengerjai kedua sahabatnya, dia mengira kalau Vino dan Aldi akan panik karena ia tidak cepat muncul. Namun ternyata biasa saja.
Riko masih sangat shock dengan tindakan Vino dan Aldi yang mendorongnya tadi. "Sumpah ya, gue bakal balas kelakuan kalian," ucapnya sambil memegang dada.
Aldi dan Vino langsung tergelak, setelah begitu lamanya persahabatan mereka, baru sekarang keduanya tau kelemahan Riko. Dan suatu saat nanti mereka berdua sudah ada niatan untuk mengerjainya lagi.
Aldi membasuh mukanya dan menyugar rambutnya kebelakang. "Dari mana lo?" tanyanya.
__ADS_1
"Habis nyari makan di bawah, tapi gak nemu." Riko melengos, ia berenang kearah perahu.
"Bebh, kok kamu kayak yang gak panik saat aku menghilang tadi?" tanyanya.
Nia merotasikan matanya, "kenapa harus panik? Orang tadi kamu keliatan, pura-pura tenggelam."
Vino berenang ke tepi sungai, disusul oleh Aldi. "Mang, kita bisa mulai body rafting dari sini gak?" tanya Vino kepada pemandu setelah ia sampai ke tepi.
Vino memang meminta tambahan pemandu, dan dia juga berani membayar lebih asal dia bisa mengatur kegiatannya sendiri, tetapi tanpa terlepas dari pengawasan para petugas itu.
"Boleh."
Vino memegang tangan Naura untuk turun dari perahunya. Diikuti Aldi yang tiba-tiba mengangkat tubuh Nakisya dan menurunkannya di pinggir sungai. Sedangkan Nia dia mendengus sebal karena tidak mendapat perlakuan romantis dari suaminya, Riko malah terlihat masih ngos-ngosan memegang dadanya.
Seorang petugas membagikan decker dan sepatu air. Kecuali untuk Riko yang kembali mendapatkan helm dan pelampung, karena yang tadi sudah hanyut.
"Seperti yang sudah kami jelaskan tadi di awal. Kalian masih ingat 'kan?" tanya salah satu petugas.
Semua mengangguk sebagai jawaban. satu persatu turun kedalam sungai, membentuk barisan.
"Kayak lagi antri bansos kita," celetuk Riko yang berada di barisan paling depan.
Semua tergelak, kecuali Vino yang terlihat biasa saja. "Gue gak ngerti apa itu bansos," celetuknya.
Riko mendelik, "Iyalah, sultan mah gak bakalan ngerti gituan."
"Ini urutannya harus cwo, cewe, selang seling ya?" tanya Aldi yang berada di belakang Nia.
Riko memutar tubuhnya, "Eh! berarti nanti elo bisa curi kesempatan buat peluk-peluk istri gue!"
Riko merubah posisinya, "Bebh, kamu aja yang di depan, aku gak rela kamu di peluk orang lain."
Nia menghela nafas, "berarti aku yang di depan nih? baiklah."
Setelah terjadi perdebatan. Akhirnya mereka sudah siap mengapung diatas air, menyusuri aliran sungai dengan posisi berbaris saling memegang pundak, Nia paling depan, kemudian Riko, Nakisya, Aldi, Naura, dan yang terakhir Vino.
Sebenarnya cerita di grand canyon ini banyak yang di skip, kebanyakan kalau harus di ceritain. Kalian langsung datang aja kesana, biar tau serunya 😁
Like + Koment + Vote juga dong 🤗🙏
__ADS_1