Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Gemes


__ADS_3

Aldi mengangguk sambil terus meyakinkan gadis yang sedang berada di hadapannya, tangannya langsung memegang sebelah pundak gadis itu. "Ayo dicoba lagi." Aldi mendekatkan tubuhnya ke tubuh gadis itu.


Ya, di tanggal merah ini, Aldi sengaja datang pagi-pagi sekali untuk mengajak gadis itu berolahraga dengan bersepadah mengelilingi komplek. Namun mendapati kenyataan bahwa sang kekasih sama sekali tidak bisa mengendarai benda berpedal itu, membuat Aldi memutuskan untuk mengajari Nakisya.


Kaki kanan Nakisya kembali meraih pedal, memosisikan di bagian atas dan menaruh kakinya diatas pedal itu. Baru beberapa detik Nakisya mengayuh sepedanya namun akhirnya gadis itu kembali terjatuh.


Aldi terkekeh saat Nakisya kembali kehilangan keseimbangannya dan sekarang tubuhnya berujung mendarat diatas aspal.


Dengan kesal, Nakisya mendorong sepedanya dengan sebelah kakinya, "udah ah...males aku, Abang malah ngelepasin aku terus, jadinya aku jatuh. Pokoknya Aku gak mau belajar lagi, sekarang badan aku jadi pada sakit," gerutu gadis itu.


Aldi langsung berjongkok dihadapan Nakisya, "mana yang sakit?" tanya lelaki itu sambil mengusap bagian ujung kepala Nakisya.


"Lutut sama pinggang aku," jawab gadis itu sambil menekuk bibirnya kebawah.


Aldi meluruskan kaki Nakisya, perlahan lengannya menggulung celana training panjang yang dikenakan gadis itu. "Kaki kamu memar. Yaudah kita pulang yu, aku akan obatin lutut kamu."


Nakisya menggeleng, gak usah diobatin nanti juga sembuh sendiri, aku cuma mau istirahat aja. Mendingan Abang goes aja sana, aku mau liatin dari sini," tutur gadis itu.


Aldi meraih sepedanya, lelaki itu menuruti apa yang diperintahkan Nakisya, tapi baru beberapa meter dia mengayuh sepedanya lelaki itu berbalik menuju Nakisya yang sedang duduk selonjoran. "Abang boncenging yuk."


Nakisya menatap Aldi yang sedang tersenyum kepadanya, kemudian gadis itu melihat ke arah lain yang ternyata juga banyak yang sedang bersepeda, bahkan ada yang sedang boncengan, "kayaknya sweet banget kalau dibonceng," gumam gadis itu, yang langsung berdiri dengan kepala yang mengangguk.


"Mau di depan apa di belakang?" tanya lelaki itu.


"Kalau di belakang berarti aku harus berdiri, di depan aja deh," jawab gadis itu.


Aldi mulai mengayuh sepedanya setelah Nakisya duduk dengan posisi menyamping di depan tubuhnya.

__ADS_1


Oh baby I'll take you to the sky


Oh sayang Aku akan membawamu ke angkasa


Forever you and I, you and I


Untuk selamanya kau dan aku, kau dan aku


And we'll be together till we die


Dan kita akan bersama sampai kita mati


Our love will last forever


Cinta kita akan bertahan selamanya


and forever you'll be mine, you'll be mine


Lagu dari petra sihombing yang berjudul mine, begitu terdengar merdu saat Aldi menyanyikannya. Nakisya hanya diam menikmati suara merdu itu, sambil menatap langit yang terlihat cerah, bahkan sangat cerah seolah tidak mau kalah dengan suasana hatinya yang saat ini begitu bahagia.


"Kok malah pulang?" tanya gadis itu saat Aldi mengayuh sepedanya menuju halaman rumahnya.


Aldi menghentikan kakinya untuk tidak lagi mengayuh sepedanya, kini keduanya sudah sampai didepan pintu rumah Nakisya. "Kita harus obati luka kamu dulu," jawab lelaki itu.


"Kan aku udah bilang, aku gak papa," jawab gadis itu sedikit kecewa karena moment romantis nya bersama lelaki itu hanya sebentar. Dengan wajah yang terlihat ditekuk, Nakisya lebih dulu memasuki rumahnya.


"Bi, bisa tolong ambilkan es batu sama handuk kecil," perintah Aldi dengan sopan kepada pembantu Nakisya. Dengan cepat wanita paruh baya itu langsung mengangguk dan segera mengambil apa yang diperintahkan Aldi.

__ADS_1


Setelah beberapa menit, wanita itu kembali, "Ini, Den," ucap pembantu Nakisya sambil menyodorkan es batu yang sudah di bungkus dengan handuk kecil berwarna putih.


Dengan perlahan, Aldi mulai menempelkan kompresan itu di atas lutut Nakisya yang memar, membuat gadis itu beberapa kali meringis karena kesakitan. "Tahan ya, biar cepat pudar memarnya."


"Ayah sama Bunda kemana, Bi?" tanya Nakisya pada pembantunya yang masih berada di situ.


"Tadi tuan dan nyonya bilang kalau mereka mau keluar. Mereka juga bilang katanya bakalan lama," jawab wanita itu yang langsung pergi setelah menanyakan apakah ada yang harus dia kerjakan lagi atau tidak.


Aldi sudah selesai mengompres bagian lutut gadis itu, "sekarang mana pinggang kamu, aku kompres juga ya," ucapnya sambil tersenyum kearah gadis itu.


Nakisya berdecak, "oh gak usah, terima kasih ya," jawab gadis itu karena sudah dapat menebak apa yang akan dilakukan kekasihnya yang memiliki otak mesum level tinggi.


Seolah teringat sesuatu, Aldi menatap wajah Nakisya. "Sayang, sekarang kamu gak usah cemburu lagi ya, soalnya Abang udah pecat Wina," ucapnya tiba-tiba setelah Nakisya kembali menolak dirinya yang ingin mengompres bagian punggung Nakisya.


"Kenapa di pecat? Lagian siapa juga yang cemburu," jawab gadis itu sambil memalingkan wajahnya.


Aldi mengulum senyumnya, "kata mama, kamu gak suka sama dia, makanya mama nyuruh abang buat memecat dia."


Diam-diam Nakisya tersenyum. Padahal dirinya hanya sekedar bercerita kepada calon mertuanya itu, tapi tidak disangka ternyata Dina begitu peka terhadap perasaan gadis itu.


"Oh, tapi aku gak minta buat memecat dia tuh," ucap gadis yang masih menjungjung tinggi sifat gengsinya.


Aldi begitu gemas melihat wajah Nakisya, akhirnya lelaki itu mencubit pipi gadis itu, membuat sang pemiliknya mengaduh.


"Sakit, Abang."


Aldi terkekeh, "lucu sih, kalau cemburu gak suka jujur, malah cerita ke calon mertua, untung mama aku orangnya pengertian," cibirnya yang berhasil mendapat pukulan pelan di tangannya.

__ADS_1


"Mumpung libur, jalan-jalan yu?"


Bersambung...


__ADS_2