Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Sunset


__ADS_3

Kurang dari empat puluh menit, Aldi dan Nakisya sudah berada di pantai barat Pangandaran. Kebetulan saat itu keadaan pantai tidak terlalu ramai.


Riko dan Nia yang memilih menginap di salah satu hotel yang ada di dekat pantai, dengan cepat langsung menghampiri Aldi dan Nakisya, saat pasangan suami istri itu mengatakan akan melihat sunset. "Sudah lama kalian?" tanya Riko sambil menggandeng Nia, sebelah tangannya menengteng kresek ukuran sedang.


Nakisya tersenyum membalas senyuman Nia. "Enggak, kita baru nyampe," jawabnya.


"Bade naraek parahu moal? ka pasir putih," tanya salah seorang pria yang tiba-tiba datang menghampiri.


Aldi tidak sepenuhnya mengerti dengan kalimat pria berkulit coklat itu, ia melirik Nakisya.


Nakisya yang mengerti dengan tatapan Aldi, ia menggaruk tengkuknya, ia juga tidak mengerti dengan arti dari bahasa pria itu. Hanya saja dia pernah mendengar kata pasir putih, dan saat melihat perahu yang berjajar, Nakisya menyimpulkan kalau pria itu menawarkan jasa perahunya.


Nakisya tersenyum, "Mamang nawarin kita naik perahu?"


"Owh, hapunten nya, mamang teh lupa, kalian kan dari kota nya? Pasti henteu mengerti bahasa sunda atuh, nya?" pria itu menggaruk tengkuknya. Matanya seolah tidak berkedip menatap Nakisya. "Eh iya, Mamang sampai lupa. Gimana, mau pada naik perahu, 'gak?" tanyanya kembali kali ini pria itu tersenyum genit pada Nakisya.


"Enggak!" tolak Aldi dengan cepat.


"Eh! Kok enggak? Saya mau kok Mang. Kak Nia juga mau 'kan?" Nakisya melirik Nia, menunggu jawaban dari istri kakak sepupunya.


Nia nampak antusias, meskipun dari kemarin ia sudah berada di dekat pantai, tapi ia sama sekali belum menginjakan kakinya disini, karena Riko sama sekali tidak membiarkannya keluar dari kamar. "Boleh. Emang yang mana perahunya?"


Aldi mendengus sebal, kalau saja pemilik perahu itu tidak genit kepada istrinya, mungkin dia juga dengan senang hati akan menaiki perahu itu.


Riko berdecak, "elah... Masa sama pemilik perahu aja cemburu lo. Merasa kalah ganteng ya?" cibirnya langsung melangkah mengikuti Nia dan Nakisya.


"Bukan cemburu gue. Cuman gak rela aja milik gue di liatin sebegitunya," jawabnya merasa kesal karena disebut kalah ganteng dengan pemilik perahu yang memiliki kulit coklat tubuh pendek plus perut buncit yang menambah kegantengan pria itu.


Perahu yang ditumpangi mereka perlahan melesat, membelah lautan. Nakisa refleks memegang tangan Aldi yang berada di sebelahnya, saat merasakan ombak yang lumayan besar, membuat perahu itu sedikit goyang-goyang.

__ADS_1


Riko dan Nia begitu menikmati suasana diatas perahu, ia terlihat begitu romantis saling menyuapkan cemilan. "Lah itu apa, Mang?" tanya Riko mengarahkan telunjuknya pada benda besar yang tergeletak miring, terlihat benda yang terbuat dari besi itu sudah berkarat dan keropos.


Pemilik perahu itu mengikuti arah telunjuk Riko, dengan lancar ia menjelaskan asal mula kapal MV King berukuran 70 meter, yang bernasib tragis.


Tanpa minat Aldi tidak perduli dengan setiap kalimat yang terlontar dari mulut pemilik kapal itu. Dengan iseng tangannya mengambil snack milik Riko.


"Eh! Lo gak denger tadi? Si Mamang bilang kapal itu di tenggelamkan karena berusaha mencuri ikan disini. Lo juga mau gue tenggelamkan gara-gara nyuri snack gue!" ucap Riko kembali merebut snack miliknya.


Aldi merotasikan matanya, sahabatnya itu tidak hanya resek, tapi dari dulu memang sangat pelit.


"Mau sampai mana ini?" tanya pemilik perahu membuat Aldi menutup kembali mulutnya yang hendak berucap kepada Riko.


Mata Nakisya tertuju pada hamparan pasir putih yang berada di sebelah kiri perahu. "Sampai sana aja Mang."


Perahu berhenti. Mereka langsung turun, menginjakan kakinya diatas hamparan pasir putih.


Riko menyuruh Nia untuk tetap berada di posisinya. Ia terus memundurkan tubuhnya, untuk mencari posisi yang benar-benar pas. "Bebh, pose dong!" perintahnya. Kedua tangannya memegang kamera ponsel. Riko sedikit kesusahan karena ia juga masih memegang keresek yang berisikan beberapa bungkus snack.


Riko melirik Aldi yang tidak jauh dari posisinya. "Enggak ah, nanti diambil dia."


Riko tersenyum kemudian saat berhasil mengambil gambar istrinya dengan latar air laut dan warna langit yang mulai berubah menjadi warna jingga. Namun tiba-tiba senyumnya berubah jadi mimik pucat saat tiba-tiba ada sesuatu yang memelukna dari belakang, dan langsung kembali pergi setelah merampas keresek yang dipegangnya.


Nia yang melihat kejadian singkat itu, ia sedikit merinding. Pasalnya yang memeluk suaminya ternyata....


"Hahahaha.... M4mpus lo. Emang enak di peluk kembaran lo sendiri," ucap Aldi. Ia begitu puas saat melihat langsung kejadiannya. Apalagi vidio ponselnya sedang on yang tidak sengaja merekam kejadian itu.


"Pantes lo pelit sama gue. Ternyata lo sengaja bawa itu buat oleh-oleh keluarga lo, ya?" Aldi masih memegang perutnya yang mulai sakit karena terus tertawa.


Riko memutar tubuhnya, ia melihat sekumpulan kera ekor panjang yang sedang berkerumun saling merebut isi dari plastik milik Riko. Ternyata di hadapannya sekarang merupakan cagar alam.

__ADS_1


"Gimana rasanya di peluk onyet?" tanya Nakisya sambil menahan tawanya.


Tanpa menjawab pertanyaan Nakisya, Riko melirik Nia. "Beph, kok kamu gak ngasih tau kalau ada sekutu Aldi yang datang?" tanya Riko pada Nia yang kini berada di sampingnya.


Nia tidak bisa menahan tawanya. Ia juga begitu puas melihat kejadian itu. "Tenang aja, aku gak bakalan cemburu kok."


Riko mendelik sebal, ia masih shock, tapi semua orang malah menertawakannya. Dengan langkah besar, ia berjalan kearah perahu yang masih setia menunggu. "Gue mau balik ketempat tadi, terserah kalau kalian masih mau disini."


"Wih... Dia baper." Aldi yang masih menggenggam tangan Nakisya, segera melangkah untuk kembali menaiki perahu.


Mereka sudah kembali ke pantai barat. Setelah Aldi membayar sewa perahu, ia segera menghampiri Nakisya yang sudah duduk diatas tikar.


Riko duduk disamping Nia, tapi pandangannya tertuju pada Aldi yang juga duduk disampingnya. "Tenang, untuk tikar gue yang bayar," ucap Riko sombong.


Aldi merotasikan matanya. Ia hendak berucap, tapi melihat matahari Muncul dari lautan dengan bulatan sempurna, sehingga menjadikan sunset itu sangat memesona. Tangannya menarik tubuh Nakisya untuk bersandar di dadanya.


Saat ini keheningan yang terjadi, karena dua pasang suami istri itu tidak ingin melepaskan pandangannya dari keajaiban Tuhan yang begitu indah.


Suasana pantai sudah semakin gelap, hanya ada sedikit cahaya dari beberapa warung dan tokok. Sehingga mereka memutuskan untuk pergi dari pantai itu.


Aldi hendak masuk ke mobil, tapi terlihat ada keraguan pada diri pria itu. "Eh, lo nginep dimana emang?" tanya Aldi pada Riko yang baru saja melewati mobilnya.


Riko yang hendak kembali ke hotel, ia menghentikan langkahnya. "Disitu," jawabnya sambil mengarahkan telunjuknya pada bangunan bertingkat yang terlihat mewah.


Kening Nakisya berkerut, "kenapa emang?" tanyanya heran, karena Aldi tidak biasanya berbasa-basi dengan Riko.


Aldi sudah dapat menebak, nanti malam Zia pasti akan mengganggunya lagi, karena tadi sore balita itu sudah tidur. Tidak mau kejadian malam kemarin terulang, Aldi tersenyum menatap Nakisya. "Kita Check in juga yuk," ucapnya.


Mereka mau check in gaes. Bikin adegan iya-iya jangan?? 😁😁

__ADS_1


Like + Koment + Vote ya 🤗🤗😘


__ADS_2