Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Bonus Chapter 4


__ADS_3

Hari demi hari terus berlalu, tidak terasa sekarang usia kandungan Nakisya sudah menginjak tiga puluh sembilan minggu. Tubuh Nakisya yang kecil berhasil membuat orang menyangka kalau usia kandungannya masih berusia sekitar enam bulanan.


"Emang iya dia lagi hamil?"


"Iya, katanya sih sudah memasuki usia akhir."


"Kok kecil gitu, sih? Sepertinya bayi nya bakalan kecil ya."


"Iyalah masa ada bayi yang gede."


"Maksud aku tuh bakalan prematur, pas lahir masuk ingkubator."


Bisik-bisik mulut tetangga komplek yang berpakaian tertutup lengkap dengan hijab panjang, masih dapat Nakisya dengar, tapi semua omongan mereka sama sekali tidak Nakisya hiraukan. Dia lebih percaya pada Sang Pencipta, lagipula setiap bulannya Nakisya selalu memeriksakan kandungannya pada dokter, dan diakhir pemeriksaannya dokter selalu mengatakan kalau kandungannya dalam keadaan baik dan bayinya dalam keadaan normal.


"Permisi," ucap Nakisya saat melewati beberapa orang ibu-ibu komplek yang masih meliriknya dengan tatapan sinis.


Ya, saat ini Aldi dan Nakisya sudah pindah ke rumah barunya yang berada di kawasan elit, dan kebetulan rumahnya bersebelahan dengan rumah Vino dan Naura.


Namun sepertinya penduduk disini mulut setiap orangnya selalu gatal kalau tidak dipakai untuk mencibir orang lain, padahal pakaian mereka begitu tertutup, bahkan sepertinya mereka baru pulang dari pengajian. Habis pengajian dapat pahala, pulangnya malah ngegosip nambah dosa. Mungkin tetangga Nakisya moto hidupnya menerapkan sistem akuntansi, jadi antara dosa dan amal harus balance. Ntahlah, Nakisya tidak perduli, dia mengusap perutnya sambil mengucapkan, "amit-amit jabang bayi."


Nakisya sudah berada di dalam rumahnya. Rumah yang ukurannya dua kali lipat lebih besar dari rumah orangtua nya, tentu membuat Nakisya semakin merasa kesepian. Nakisya merebahkan tubuhnya diatas sofa berukuran king size. Ia teringat dengan semua perkataan Naura.


"Aku dulu, pas waktu mau lahiran Zia, beberapa hari sebelumnya keluar flek darah. Kalau mau lahiran Lala dua hari sebelumnya aku ada mules, tapi gak terlalu masih jarang-jarang."


Nakisya mendadak gelisah, "sepertinya aku masih lama lahiran, soalnya semua tanda-tanda itu belum aku rasakan," gumamnya sambil mengelus perut besarnya.


Nakisya mengambil ponselnya, saat benda persegi itu berdering. Ternyata satu pesan dari Nia. Senyumnya terbit saat melihat satu gambar yang merupakan bayi mungil yang kini berusia dua bulan.


"Duh... Gumush banget sih keponakannya aku," gumam Nakisya memperhatikan gambar bayi Riko dan Nia.


Melihat bayi berjenis kelamin laki-laki yang sudah terlihat gembul itu semakin membuat Nakisya ingin cepat-cepat melahirkan.

__ADS_1


Nakisya kembali mengusap perutnya. Bayi yang masih ada di dalam perutnya juga merespon dengan beberapa kali tendangan yang lumayan keras. Nakisya tersenyum bahagia. "Sayang... cepet lahir dong. Dunia ini lebih luas dan indah loh, daripada didalam perut." Nakisya terus mengusap perutnya. Sampai tidak lama kemudian matanya mulai terpejam.


"Sudah bangun?" tanya Aldi yang ternyata dari tadi berada di samping Nakisya.


Nakisya mengucek matanya. Setelah kesadarannya sudah terkumpul, ia baru menyadari kalau posisinya sudah berada didalam kamar. "Abang mau makan?" tanyanya sambil memperbaiki posisinya menjadi duduk.


"Abang tadi makan sama klient. Maaf ya, gak enak soalnya kalau nolak." Aldi mengecup bibir Nakisya, kemudian beralih pada perut Nakisya.


"Kamu udah makan?"


Nakisya mengusap kepala suaminya, "udah ngemil banyak tadi dirumah Naura, jadi sekarang belum lapar."


"Udah sholat?" tanya Aldi kemudian.


Nakisya menampilkan deretan giginya, "belum, kan baru bangun, hehe." Nakisya berdiri melangkah untuk mengerjakan sholat.


"Abang... Aku tidur lagi ya, ngantuk banget soalnya," ucap Nakisya setelah selesai sholat.


Tengah malam, Nakisya terbangun, ia melirik suaminya yang sedang tertidur begitu lelap. Nakisya melangkah kearah kamar mandi untuk membuang air kecil. Baru saja Nakisya hendak kembali merebahkan tubuhnya, ia kembali merasakan ingin buang air lagi.


Nakisya mencoba kembali memejamkan matanya, tapi tidak bisa. Akhirnya ia memutuskan untuk mengerjakan sholat.


Di sujud terakhir, Nakisya mulai merasakan perutnya yang sedikit mules, tapi tidak lama kemudian mules itu kembali hilang.


Nakisya mencolek-colek pipi Aldi. "Abang... Bangun!" ucap Nakisya membangunkan suaminya.


"Hummm..."


"Bangun. Sholat!"


"Iya," setelah mengecup kening Nakisya Aldi langsung berlalu.

__ADS_1


Nakisya kembali merasakan mules diperutnya, tapi tidak lama kemudian mulesnya kembali menghilang lagi.


"Sayang? Kenapa?" tanya Aldi mendekat kearah Nakisya. Ia sedikit merasa aneh dengan gerak gerik istrinya.


"Tadi aku agak mules," jawab Nakisya yang sudah tidak mules lagi.


"Oh," jawab Aldi singkat. Ia mengira kalau istrinya mules karena ingin buang air besar.


Aldi kembali memejamkan matanya, ia menarik tubuh Nakisya kepelukannya, tapi istrinya itu menolaknya dan mengatakan ingin ke kamar mandi.


***


Mules yang dirasakan Nakisya semakin terasa lebih kuat dari sebelumnya, bahkan jaraknya sekarang menjadi 10 menit sekali. Jam sudah menunjukan angka dua belas siang, tapi Nakisya belum memberitahukan pada Aldi. Ia teringat kalau dulu Naura merasakan mules nya dua hari sebelum melahirkan. Nakisya tidak memberitahukan pada Aldi karena tidak mau membuat suaminya itu panik dan meninggalkan pekerjaannya.


"Nyonya lagi mules, ya?" tanya Bi Jum yang dari tadi memperhatikan majikannya.


"Iya Bik. Tapi kayaknya bukan mau melahirkan, soalnya aku belum ada darah yang keluar," jawab Nakisya sambil menahan rasa sakit diperutnya.


"Eh, gak semua pasti keluar darah. Sebaiknya Nyonya segera periksa. Saya hubungi Tuan dulu ya." Bi Jum melangkah kearah telfon rumah, bahkan langkahnya begitu tergesa-gesa. Sepertinya dia lebih panik dari Nakisya.


"Bibi, jangan dibilangin nanti Abang kha-," Nakisya menghentikan kalimatnya saat melihat Aldi berlari kearahnya.


"Pantesan perasaan Abang gak enak dari tadi, ternyata kamu mules," ucap Aldi dengan wajah yang terlihat khawatir.


Ternyata saat Bi Jum memberitahu pada majikannya, Aldi sudah berada di jalan menuju komplek, pantes saja.


"Ayo kita periksa." Aldi mengangkat tubuh Nakisya, memasukannya kedalam mobil. Aldi duduk sambil memeluk tubu Nakisya, ia menyuruh supir untuk membawa mobilnya.


"Bang, kok aku makin mules ya, aku gak kuat," Nakisya menggenggam tangan Aldi begitu kuat.


"Tarik nafas sayang." Aldi memberikan masukan, ia teringat saat dulu menemani Naura melahirkan Zia. Bahkan ia juga ingat betul saat Naura menjambaknya, dan sekarang Aldi sudah pasrah kalau Nakisya akan melakukan hal yang sama pada dirinya. Tapi seenggaknya sekarang Aldi akan sangat ikhlas, karena Nakisya akan melahirkan anaknya.

__ADS_1


Nakisya sudah berada didalam ruangan. Dokter memeriksa Nakisya menggunakan jari. "Baru pembukaan delapan," ucap Dokter yang langsung memberikan perintah kepada dua orang bidan untuk memasang selang infus pada tangan Nakisya.


Like + Koment nya masih ditunggu ya, jan lupa. Vote nya juga🤗🤗


__ADS_2