
"Mana bayiku?"
"Alhamdulillah, Bunda sudah sadar," ucap seorang bidan.
"Emang tadi aku kenapa?" gumamnya dalam hati.
Nakisya melihat sekeliling, sepertinya ia baru menyadari kalau hidungnya dipasang oksigen. Seumur hidupnya, Nakisya baru mengetahui kalau oksigen baunya sedikit menyengat. Nakisya langsung mencabut benda yang menutupi hidungnya, karena sudah tidak kuat dengan baunya. Ia menoleh pada selang kecil yang mengalirkan cairan merah seperti darah pada lengannya. Sekarang tubuhnya sudah kembali terasa menempel diatas ranjang rumah sakit.
"Abang..." ucap Nakisya begitu pelan, saat melihat Aldi menggenggam erat tangannya.
Aldi masih menunduk sambil menangis dengan keras, bahkan air matanya begitu banyak mengenai telapak tangan Nakisya.
Nakisya menarik tanganya, dan berhasil membuat Aldi mendongak.
"Sayang, alhamdulillah kamu sudah sadar."
Aldi langsung memeluk tubuh Nakisya yang masih terlihat lemas, ia terus mengecup tangan dan kening Nakisya bergantian.
"Kisya, Sayang..." Bunda berlari kearahku.
"Ada apa ini? Kenapa kalian kayak panik gitu?" tanya Nakisya dengan polos.
"Bunda tadi sempat tidak sadarkan diri, ibunya aja sampai ikutan pingsan," ucap bidan yang berbeda dengan bidan yang membantu persalinannya saat dirinya berada di klinik.
"Beruntung Bunda bisa cepat ditangani, jadi Bunda bisa terselamatkan. Kalau tidak-,"
"Stop! Sebaiknya anda keluar dari sini," ucap Aldi dengan lantang.
Aldi mengusap wajahnya yang sudah banjir dengan air mata, "Aku benar-benar tidak akan memaafkan diriku sendiri, kalau sampai terjadi sesuatu sama kamu. Maafkan aku, karena demi memenuhi keinginanku kamu hampir saja..." Aldi tidak melanjutkan kalimatnya. Ia begitu tidak kuasa membayangkan kalau hal buruk terjadi kepada istrinya.
"Kisya," Widya mencium kening Nakisya.
__ADS_1
"Bunda... emang aku kenapa?"
"Tadi plasenta kamu sulit dikeluarkan, dan kamu gak sadarkan diri, tapi Alhamdulillah sekarang semuanya sudah selesai. Kamu harus janji, kamu jangan tinggalin bunda." Widya kembali menjatuhkan airmatanya.
Nakisya tersenyum, mengusap pipi Widya dengan sayang. "Bunda... Mana bayiku?" tanya Nakisya kemudian.
"Bayi kita masih ada di klinik," jawab Aldi.
"Aku ingin melihat bayiku," Nakisya mencoba duduk, tapi Aldi menahannya.
"Kondisi kamu harus benar-benar pulih dulu, nanti baru bisa bertemu dengan bayi kita."
***
Nakisya terus merengek pada dokter yang baru saja memeriksa keadaannya. Dokter itu sedikit takjub, melihat pasien nya yang nyaris tidak dapat terselamatkan sekarang begitu terlihat sehat dan ceria.
"Saya sudah boleh pulang 'kan Dok?"
"Saya mohon, Dok. Saya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan anak saya," ucap Nakisya memotong ucapan dokter.
Aldi hanya diam, menyaksikan istrinya yang terus memohon, dia sangat ingin mmbentak dokter itu karena sudah membuat istrinya memohon untuk bertemu dengan anaknya sendiri, tapi kali ini Ia percayakan semuanya pada dokter itu. Aldi begitu takut kalau keadaan Nakisya kembali drop seperti kemarin.
"Baiklah. Anda sudah boleh pulang, tapi lusa Anda harus kembali kesini untuk melakukan check up," ucap dokter sambil menuliskan resep.
Nakisya begitu nampak bahagia, ia refleks menyalim dokter itu. "Terimakasih."
Mobil yang ditumpangi Nakisya sudah sampai dirumahnya. Aldi menggendong Nakisya menuju kedalam rumah.
"Sudah, aku mau jalan saja," ucapnya dengan malu, melihat dirumahnya sudah begitu banyak orang.
"Selamat ya Bu Kisya, sudah lahiran, bayinya ternyata besar ya, ganteng lagi," ucap salah seorang tetangga Nakisya yang selalu berkata sok tahu tentang kehamilannya.
__ADS_1
Aldi menurunkan Nakisya dengan pelan, ia langsung beralih menggendong bayinya yang hampir di gendong oleh ibu-ibu rempong itu. "Maaf, bayi saya sepertinya alergi sama tukang gosip, takut terkontaminasi."
"Abang, jangan gitu." Nakisya mengambil alih bayinya.
"Sini Bu, kalau mau lihat," ucapnya tersenyum ramah kepada semua tetangga yanga ada didalam rumahnya.
Bahkan Nakisya lupa dengan semua cibiran ibu-ibu itu. Niat awalnya yang ingin membalaskan cibiran tetangganya ia urungkan. Baginya tidak ada gunanya bersikap sama dengan orang yang selalu mencibirnya, yang terpenting sekarang semua dugaan tetangganya tidak terbukti, mereka juga akan malu dengan sendirinya.
Salah seorang ibu-ibu kembali mendekat. "Saya denger, katanya Bu Kisya sampai di rujuk ke rumah sakit gara-gara plasentanya tidak mau keluar ya?"
Nakisya mengangguk sebagai jawaban.
"Makanya ibu-ibu, kalau lagi mengandung tuh apa-apa harus dituntasin. Bu Kisya pasti kalau nyapu gak pernah dituntasin ya? buktinya itu plasentanya bisa tertinggal di dalam."
Emosi Aldi kembali tersulut, "apa hubungannya menyapu sama plasenta," gumamnya dalam hati. Kalau saja mereka bukan ibu-ibu mungkin Aldi akan memberikan pelajaran supaya mulut mereka bisa berhenti berceloteh tidak jelas seperti itu. Tangan Aldi sudah terkepal dengan kuat, menandakan kalau emosinya sudah meluap.
Nakisya yang melihat itu, ia mengusap punggung Aldi. "Cukup tau mulut mereka seperti itu. Kita yang waras cukup diam saja," ucapnya sambil berbisik.
Naura mencoba memecah keheningan yang terjadi. "duh... ganteng banget. Siapa namanya, Teh?" tanya Naura sambil menggendong Lala yang mulai terlihat rewel.
Nakisya melirik Aldi. "Muhammad Alka Kianda Saputra," ucap Aldi dan Nakisya dengan kompak.
"Mana keponakanku?" tanya Vino dan Riko yang tiba-tiba datang.
Dengan bangga, Aldi mengambil alih putranya dari tangan Nakisya. "Lihat boleh, pegang bayar," celetuknya.
"Yaudah, kalau gitu gue cuma lihat aja deh, biar gratis," ucap Riko.
Semua tergelak. Ibu-ibu komplek sudah pada kembali ke sarangnya masing-masing, digantikan dengan satu persatu kerabat dari pihak Nakisya dan Aldi yang berdatangan untuk mengucapkan selamat atas kelahiran bayi mungil yang sudah mereka prediksi akan memiliki sifat dan kelakuan yang sama dengan papanya.
Beneran END, Assalamualikum. Terimakasih for Allππππ
__ADS_1