Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Perahu


__ADS_3

"Aku mau ikut..." ucap Nakisya dengan senang.


Sedangkan Aldi malah terlihat tidak semangat. Menurut Aldi tidak ada hal yang lebih bagus dan indah, selain isi dari pakaian Nakisya.


"Bentar ya, Kak. Aku mau siap-siap dulu." Tanpa menoleh Nakisya langsung berlalu menuju kamar mandi. Beruntung tadi sblum sholat shubuh dia sudah mandi, sehingga sekarang Nakisya hanya akan membasuh mukanya saja.


"Oke, cepetan! Yang lain udah pada nungguin soalnya."


Tanpa memakai makeup atau apalah, Nakisya sudah siap berangkat dengan pakaiannya yang tadi. Celana levis sobek-sobek pada bagian paha nya, dan atasan kaos lengan pendek berwarna putih. Nakisya tidak memakai baju lengan panjang, karena semua baju yang dibawanya berbahan tebal. Yakali mau main air pakai baju hangat.


"Abang ayo!" ujarnya saat melihat Aldi yang masih diam diatas kasur. Bahkan selimut tebal masih membalut tubuhnya yang ternyata masih bertelanjang dada.


"Astaga, Abang Ayo!" ucapnya kembali karena Aldi masih tidak menggubris ajakannya.


Aldi menatap sendu wajah Nakisya, "disini aja lah, Abang juga bisa kok menyusuri aliran sungai milik kamu, nanti kamu rasakan saja kenikmatannya," tutur Aldi dengan asal.


"Yaudah, aku minta izin. Mau berangkat sendiri aja," Nakisya menyilangkan tangannya dibawah perut. Tidak lupa dia memalingkan wajahnya dengan ekspresi kesal.


Aldi menghembuskan nafasnya berat. "Yaudah. Ayo," ucapnya malas.


Dengan tubuh lunglai usai percintaan semalam, Aldi menyingkap selimut tebalnya. Ia berdiri menyambar kaos yang tergeletak di ujung ranjang.


Nakisya sudah keluar meninggalkan Aldi yang entah masih melakukan apa. "Loh, Zia sama Lala gak ikut?" tanyanya pada Naura.


"Enggak, bahaya kalau bawa anak kecil."


Mata Nakisya beralih kearah Nia yang dari tadi diam. Terlihat Nia memakai syal, "Kakak baik-baik saja 'kan?" Nakisya menduga kalau Nia sedang tidak enak badan. Namun dugaannya langsung dibantah dengan gelengan cepat dari kepala Nia.


"Dia malu, lehernya banyak tandanya," bisik Naura tepat di samping telinga Nakisya.


Nakisya mengangguk paham. Seolah teringat, ia mengambil ponselnya untuk melihat apakah dilehernya juga ada tandanya, soalnya semalam Aldi begitu gencar mengabsen semua bagian tubuhnya.


Nakisya bernafas lega, ternyata hanya ada satu tanda yang sudah mulai memudar, itupun bekas beberapa hari yang lalu.

__ADS_1


"Aku gak mungkin buat kamu malu," celetuk Aldi tiba-tiba saat menyadari gerak gerik istrinya.


Nakisya tersentak kaget, entah sejak kapan suaminya itu ada dibelakangnya. Senyumnya terbit saat mengingat semalam Aldi menghisap keras hanya dibagian buah kembarnya saja. Namun mengingat itu kini pipinya menjadi merah.


"Kalau nanti, boleh yah aku buat disini." Aldi mengusap lembut leher Nakisya. Membuat istrinya itu sedikit bergidik karena geli.


"Yaudah ayo kita berangkat, keburu siang nanti," ucap Vino yang lebih dulu berdiri dengan kunci mobil ditangannya.


Semua mengangguk. Satu persatu memasuki mobil yang kemarin ditumpangi mereka saat dari bandara. Setelah dirasa semuanya sudah nyaman di posisi duduknya. Mobil yang di kendarai Vino langsung melesat ke jalan.


"Loh, itu bukannya Dita ya?" tanya Nakisya saat melihat sepasang remaja yang sedang berboncengan dengan mesra.


"Astaga anak itu," gumam Naura yang juga melihat adiknya. Wajah Naura nampak merah menahan emosi.


Melihat itu, sebelah lengan Vino mengusap punggung tangan Naura, "yaudah biarkan saja, adik kamu udah dewasa juga. Dia udah tau mana yang baik dan mana yang enggak buat dia," tutur Vino hati-hati.


Naura masih menatap punggung Dita yang kini berbeda arah dengan mobil yang dikendarai suaminya. "Aku tuh cuma belajar dari pengalaman saja. Aku yang dulu gak pacaran, bisa dijebak sampai aku hamil. Aku gak bisa membayangkan gimana dengan Dita yang udah gak tau malu namplok kaya gitu di depan umum."


Vino menelan ludahnya secara paksa. Dari dulu setiap Naura membahas hal itu, ia selalu bingung untuk berkata apa. Karena meskipun ia juga korban, tapi ia yang merasakan enaknya.


"Ada apa sih?" gumam Nakisya pelan, tapi masih dapat terdengar oleh Riko yang berada di sampingnya.


"Jadi..., awww," Riko tidak melanjutkan kalimatnya, saat lengan Aldi dari belakang berhasil memukul kepalanya. Mata keduanya saling menyorot tajam, sebelum akhirnya keduanya memutus tatap itu karena Vino menginjak remnya secara mendadak.


"Sorry ada kucing lewat," ucap Vino saat melihat tatapan tajam itu beralih kepadanya.


Riko sedikit berdiri, ingin membuktikan perkataan Vino dan ternyata benar, ada kucing yang sedang kejar-kejaran. "Kata orang tua, kalau perjalanan kita terhalang oleh kucing, kita bakalan sial."


"Kita? lo aja kali. Gue mah ogah," ucap Vino dan Aldi barengan. Entah kenapa dua orang itu selalu saja kompak saat membuly Riko.


Riko mendengus sebal, mulutnya terlihat komat-kamit, mungkin sedang mengumpati kedua sahabatnya.


Aldi tidak perduli, ia menarik tubuh Nakisya ke pelukannya, "Sayang, coba deh dengerin. Ini enak banget lagunya." Aldi memasangkan sebelah headset ke telinga istrinya. Sampai keduanya saling mendengarkan musik dari ponsel Aldi.

__ADS_1


Terjadi hening beberapa saat. Nia melirik Riko yang masih menekuk wajahnya. Ia juga melihat Naura yang juga masih terlihat kesal dengan kelakuan adiknya. "Ra, sumpah ya, kampung lo kok keren banget. Hotel nya aja bintang lima, fasilitasnya gak kalah deh sama yang di kota," ujar Nia memecah keheningan.


Naura sekilas menoleh kearah Nia, "iya, semenjak memisahkan diri dan buat kabupaten sendiri, kampung gue jadi ada kemajuan."


Vino melirik istrinya, "Sayang, kayaknya dulu kamu jadi bunga desa, ya?"


Tanpa menoleh Naura berujar, "iya, tapi aku gak mau."


"kenapa?"


"Takut riba."


Semuanya kembali bersenda gurau, sampai tidak terasa mereka sudah melewati jarak 5 km. Dan sekarang mobil yang dikendarai oleh Vino sudah sampai di tempat tujuan.


Semuanya langsung turun, Vino dan Naura menuju kearah petugas yang ada disana. Setelah terjadi perbincangan diantara mereka. Vino melambaikan tangannya, "sini lo pada."


Aldi dan Nakisya melangkah diikuti oleh Riko dan Nia yang saling bergandengan.


Dua orang petugas yang sudah memakai rompi pelampung, langsung memberikan arahan, hingga semuanya mengangguk tanda mengerti.


"Jadi mau satu perahu saja?" tanya ulang petugas pemandu wisata.


Aldi mengangguk, "iya satu aja, biar irit. Kasian yang bayar," celetuknya.


Setelah memakai pelampung dan helm keselamatan, semua menaiki perahu, dengan satu perahu lagi yang ada di belakang mereka, perahu itu ditumpangi beberapa orang petugas yang akan memandu perjalanan mereka menyusuri sungai, sekaligus orang-orang yang akan memastikan keselamatan mereka. Perahu mulai melaju menyusuri sungai dengan air yang terlihat berwarna hijau tosca. Beruntung saat ini bukan musim penghujan, jadi debit air di sungainya tidak tinggi.


Perahu yang ditumpangi mereka perlahan mulai melaju, Nakisya dan yang lainnya begitu takjub dengan keindahan dari tempat itu. Air terjun yang mengalir di tebing, serta warna tebingnya yang hijau akibat ditumbuhi lumut, berhasil membuat semua mata yang melihatnya takjub. Perahu terus melaju, semua nampak diam menikmati udara didalam goa yang terasa sejuk dan menenangkan, ditambah dengan tetesan air dari tebing sebelah kiri dan kanan, tetesan yang berasal dari tumpahan air akibat rembesan air dari celah lembah. Debit air yang mengalir ini membentuk air mancur seperti hujan yang tak pernah habis.


"Biasanya orang disini menyebutnya sebagai hujan abadi," ucap Naura yang kini bertugas sebagai pemandu dadakan.


Perahu terus melaju, hingga mereka sampai di beberapa batu dengan ketinggian lima meter bahkan sampai ada batu dengan tinggi sepuluh meter.


"Pak berhenti disini," perintah Aldi yang langsung dituruti oleh pemilik perahu.

__ADS_1


Lah, Bang Al mau ngapain🤔🤔


Like + Koment + Vote juga ya gaes🤗🤗


__ADS_2