
Nakisya langsung masuk ke kamarnya, gadis itu menelungkupkan tubuhnya di atas ranjang.
"Kamu jangan kaya anak kecil dong, masa hanya gara-gara hal sepele emosi kamu sampai berlebihan seperti itu!"
Kalimat dari bundanya masih terus mengiang di telinganya, membuat gadis itu semakin kesal. Pertama dengan Aldi memasang gps secara diam-diam, itu sama saja dengan lelaki itu menyamakannya dengan Zia yang notabennya ialah seorang bayi. Kedua saat dirinya yang sedang meluapkan emosinya pada Aldi, tiba-tiba Widya yang ternyata sudah datang dari tadi dan langsung memperhatikan keduanya, wanita itu malah memarahinya.
Dari awal bundanya itu memang selalu saja membela Aldi. "Sebenarnya siapa sih anak Bunda? Dia atau Kisya?" teriak gadis itu yang terdengar begitu kesal.
Coba aja kalau Widya tau gimana kelakuan Aldi kalau sedang bersama Nakisya, bagaimana kelakuan lelaki itu yang selalu mencuri kesempatan pada putrinya. Apakah wanita itu masih akan tetap membelanya.
Nakisya berniat akan menceritakan bagaimana kelakuan calon menantu bundanya yang selama ini selalu di belanya. Berharap sang bunda akan berpihak kepadanya.
Nakisya sudah berdiri, namun pikirannya seolah kembali berfungsi dengan normal. "Beg*!" teriak gadis itu.
Nakisya langsung mengurungkan niatnya. "Yang ada nanti tanggal pernikahan aku malah akan semakin di majukan lagi," ucap gadis itu yang kini kembali menelungkupkan tubuhnya.
Sementara di tempat lain, setelah pamit kepada wanita yang akan menjadi ibu mertuanya, Aldi langsung menginjak pedal gas mobilnya menuju rumah Rainald. Ayahnya itu menyuruhnya untuk datang kerumahnya, entah ada kepentingan apa, karena pria itu memerintahnya seolah tidak menerima penolakan.
Aldi sudah sampai di depan pintu rumah sang ayah yang sudah terbuka lebar, namun pikirannya masih mengingat Nakisya. Gadis itu tadi langsung berlari meninggalkannya, setelah Widya memarahi gadis itu.
"Aa kok gak masuk?" tanya wanita yang ternyata sudah melihat kedatangannya.
"Kalian disini juga?" tanya Aldi saat matanya melihat Vino dan Naura yang sedang duduk lesehan di atas karpet.
"Iya, tadi pulang dari rumah Nakisya, kita langsung kesini," jawab Naura tanpa memalingkan wajahnya, karena sedang fokus memerhatikan Zia yang sedang belajar duduk.
"Gue lihat, kayaknya tadi Nakisya shock pas gue bilang tentang gelang, apa jangan-jangan dia belum tau?" tanya Vino dengan wajah datar.
Aldi berdecak, "emang dia belum tau, dan gara-gara elo dia jadi marah besar sama gue."
Vino langsung tergelak, "hahaha sukurin, Lo!"
Aldi mulai geram dengan sahabat sekaligus adik iparnya itu, bagaimana mungkin lelaki itu bisa tertawa selepas itu, padahal dirinya kini sedang galau, dan menjadi bersalah karena gara-gara dirinya Nakisya jadi di marahi oleh Widya.
"Si4lan lo! Itu semua gara-gara elo, dan ide itu juga dari elo. Dasar lo, PEHURANG!" sinis Aldi yang langsung menyambar minuman dingin yang berada di atas meja. Aldi tidak perduli siapa pemilik minuman itu, yang pasti tenggorokannya yang mulai mengering itu membutuhkan cairan untuk mendinginkannya kembali.
__ADS_1
"Apa pehurang?" tanya Vino yang memang tidak tau arti dari kata itu.
Naura mendongak, dirinya yang mengetahui arti dari kata itu langsung menjawab, "perusak hubungan orang. Masa Mas gak tau?" tanyanya kemudian.
"Mas taunya juga pebinor, noh contohnya kaya dia," ucap Vino sambil mengarahkan dagu nya pada lelaki yang sudah menghabiskan minumannya.
Aldi hanya cuek saat Vino mulai menyindirnya. Lelaki itu sama sekali tidak perduli, dirinya malah mengambil ponsel dan mengirim pesan pada Nakisya.
"Kok Aa di sebut perebut bini orang?" tanya Naura yang tidak mengetahui apa-apa.
"Mas kasih tau ya, dia itu dapetin hati Nakisya dari hasil ngebongkar kebusukan lelaki yang sekarang menjadi mantan gadis itu."
Naura mulai antusias mendengarkan cerita dari suaminya yang sedang menggosipkan orang yang jelas-jelas orangnya ada di hadapan mereka. "Tapi kayaknya Kisya cinta banget sama Aa."
Vino tersenyum sinis, "itu karena mata Kisya kelilipan, jadinya ya dia salah menjatuhkan hatinya," jawab Vino yang semakin gencar meledek Aldi.
"Aa kamu tuh dari dulu licik, kamu aja dulu hampir dijebak, coba kalau sampai kejadian, bisa bingung tuh bikin judul, masa jadi 'Tiba-tiba Hamil anak Kakak ku," ucap Vino yang mulai ngawur.
Naura terkekeh, "haha, amit-amit deh, untung kamu yang eksekusi ya, Mas," ujar wanita itu dengan polos.
"Itu lagi orang, udah tau dia yang salah masa malah mukulin aku," sindir Vino kemudian pada lelaki yang sedang serius dengan ponsel yang berada di tangannya.
Aldi dari tadi mengirim banyak pesan, namun sampai sekarang tidak ada satupun yang di balas oleh gadis itu, padahal disitu sudah terlihat dua centang warna biru, yang berarti pesannya sudah terbaca, membuat lelaki itu semakin pusing.
"Terus aja ngegosip. Noh anak kalian sudah kabur."
"Zia!" teriak Vino dan Naura saat melihat bayinya ternyata sudah berada di pintu hendak keluar rumah.
"Ribut aja terus, sama anak sendiri lupa," ujar Rainald yang baru datang dari arah ruang kerjanya.
"Ayah." Aldi langsung berdiri dan menyalim pria itu.
"Ada yang penting ya? sampai Ayah nyuruh Aldi kesini?" tanya lelaki itu kemudian.
Rainald menghela napas, "emang harus ada yang penting dulu, biar Ayah bisa ketemu kalian di rumah ini?" ujar pria itu dengan wajah yang terlihat sedih.
__ADS_1
"Bukan itu maksud Aldi, hanya saja tadinya Aldi mau balik ke kantor," jawab lelaki itu hati-hati.
"Ayah bangga, sekarang kamu jadi lelaki yang tanggung jawab," ujar pria itu sambil menepuk pundak Aldi.
"Gimana dengan persiapan pernikahan kamu?" tanya pria itu kemudian.
"Persiapannya sih sudah delapan puluh persen, hanya saja-," Aldi menjeda kalimatnya, lelaki itu kembali mengingat calon istrinya.
"Hanya saja mereka malah marahan, Ayah," ucap Vino yang tiba-tiba turut serta dengan percakapan keduanya.
Rainald berdecak, "itu wajar terjadi sama calon penganten, makanya Ayah selalu nyuruh buat di percepat itu buat mencegah hal yang kaya gini."
"Yaudah, kalau gitu dipercepat lagi aja, Yah," ucap Aldi dengan wajah serius.
Rainald menatap Aldi. "Ya kalau semuanya sudah beres di percepat tidak masalah. Undangan udah? gaun sudah jadi?"
Aldi spontan menggeleng. Lelaki itu menepuk keningnya, "oh iya gaun, kok aku sama Kisya gak kepikiran ya."
Naura yang dari tadi diam, akhirnya mendongak ke arah Aldi. "Ih Aa gimana sih, padahal itu yang paling penting."
"Lupa sumpah. Dulu kamu pakai desainer mana?" tanya Aldi dengan raut wajah serius.
"Desainnya bundanya Nia. Kalau Aa mau nanti aku kasih alamatnya."
Aldi langsung mengangguk, "oke katakan sama bundanya sahabat kamu, besok Aa kesana sama Kisya."
"Oke, tapi hati-hati, soalnya disana ada cewek tapi boong." Naura langsung membisikan maksud dari perkataannya itu.
Vino langsung berdecak. "Harusnya kamu jangan ngasih tau, biar dia rasain apa yang dulu pernah aku alami," ucap Vino dengan raut wajah yang terlihat kecewa.
-
-
Masih seperti biasa, jangan lupa jempolnya ya, kalau bosen cuma diminta jempol, sekalian deh sama koment,(next aja kalau bingung mau ngoment apa) 😂
__ADS_1