Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Menangis


__ADS_3

Setelah berada di luar kamar, Aldi dan Nakiaya berpapasan dengan Vino. "Riko sama istrinya kemana?"


Tanpa melirik kearah Aldi, Vino yang sedang menggendong Zia yang baru bangun tidur, ia menjawab, "mereka bilang mau cari hotel."


Aldi berdecak, "takut banget dia digangguin sama kita."


"Ya wajar lah, namanya juga pengantin baru. Apalagi masih malam kedua, masih gencar-gencarnya membobol tanggul," jawab Vino langsung berlalu meninggalkan Aldi.


Seolah kesadaran Zia sudah terkumpul, balita yang ada di gendongan papinya itu mengulurkan tangannya, "Oom Adi," ucapnya, berusaha melepaskan dirinya dari pelukan sang papi.


Aldi memutar tubuhnya, "iya, sayang." Aldi melirik kearah Nakisya, "bentar yah, aku gak tega lihat Zia."


Nakisya mengangguk, ia mengikuti langkah Aldi yang berjalan kearah Vino dan Zia.


"Sini sama Om, tapi cium dulu dong Om nya," ucap Aldi mengambil Alih menggendong Zia.


Satu jam berlalu, balita cantik itu nampak senang saat bermain dengan Aldi. Ditambah dengan Nakisya yang terus menggelitiki perutnya, membuat Zia tertawa.


"Vin!" Aldi memanggil adik iparnya. "Gue mau chek in. Takut keburu malam," ucapnya saat Vino mendekat kearahnya.


"Zia sayang, yuk sama Papi." Vino mengulurkan tangannya untuk menggendong Zia.


Zia menggeleng, "Oom Adi..." rengek Zia malah semakin mngeratkan pelukannya pada leher Aldi.


Aldi melemparkan tatapannya pada Vino, dan kembali melirik pada Zia, "Sayang, Om Aldi mau keluar dulu, Zia sama Papi ya?" Pelan-pelan Aldi mencoba melepaskan balita cantik itu, tapi tidak bisa karena Zia begitu kuat melingkarkan tangannya di leher Aldi.


Zia memang selalu susah terlepas dari orang yang sudah dekat dengannya. Seperti tadi pagi, saat Naumi akan pulang, Zia nangis kejer karena tidak mau ditinggalkan oleh Naumi. Makanya Zia sampai ikut ke kampung dengan Naumi. Dan atas permintaan Zia juga, Lala harus ikut dengannya, sehingga terpaksa Lala harus minum susu formula untuk sementara.


"Sayang, yuk sama Papi. Kita main sama dede Lala." Vino kembali menarik pelan tubuh putrinya. Namun ternyata Zia malah menangis. "Perginya nanti aja, tunggu Zia tidur," ucap Vino pada Aldi, dia benar-benar tidak tega melihat putrinya menangis.


"Yaudah sih Bang, aku juga gak tega lihatnya," ucap Nakisya sambil mengusap air mata Zia.


Aldi menghembuskan nafasnya, "emang jam berapa biasanya Zia tidur?" tanya aldi pada Vino.

__ADS_1


"Jam tujuh juga tidur," jawab Vino.


Aldi tersenyum, melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya, "satu jam lagi dong?"


Vino mengangguk, "tapi karena Zia baru bangun, biasanya dia jadi susah tidur malam, gue aja terpaksa suka gadang buat nemenin dia main."


"Hah!"


Nakisya mengulum senyumnya, melihat wajah Aldi menganga seperti itu, sungguh sangat lucu. "Yaudah, nanti Zia gadang sama aunty, ya Sayang?" Nakisya mengambil Alih Zia.


Bayi yang sudah berhenti menangis, tapi masih sesegukan itu dengan semangat beralih ke gendongan Nakisya.


Naura yang baru selesai memberikan asi untuk Lala, keluar setelah bayinya di ambil alih oleh suster. "Zia, kamu jangan gitu, kasian Om Aldi sama Aunty Kisya," ujar Naura yang dari tadi mendengarkan keributan. "Yuk sama Mami," imbuhnya kemudian menarik Zia dengan tidak sabaran, sehingga membuat balita itu kembali menangis.


"Udah sih, Ra! gak papa." Kali ini Nakisya sedikit meninggikan suaranya. Dia benar-benar tidak tega melihat Zia yang kembali menangis.


"Maaf," lirih Nakisya. Ia langsung berlalu meninggalkan tiga orang yang masih tersentak dengan ucapan Nakisya.


Vino mengedikan bahunya, dia juga melihat ketulusan dari Nakisya. "Yaudah Yang, kita buat lagi aja yuk, mumpung Zia ada yang pegangin," ucap Vino melingkarkan tangannya pada pinggang Naura.


"Kamu enteng banget bilang gitu, Mas!" Naura melepaskan tangan Vino. "Mereka aja sampai rela gak berduaan demi Zia. Tapi Mas malah curi-curi kesempatan!"


Vino mengacak rambutnya, "udah seneng gara-gara selamat dari gadang. Eh dia nya malah ngambek."


Aldi dan Nakisya sudah berada di kamar, bersama Zia yang terus tertawa saat Nakisya mengajaknya bermain boneka.


Aldi terus menatap wajah istrinya. Melihat ketulusan dari Nakisya terhadap Zia, membuatnya tersenyum. "Kamu udah pengen punya baby, 'ya?" tanyanya.


Nakisya mendongak, "aku mau fokus kuliah dulu, Bang."


Aldi menghela nafasnya, "tapi kalau Allah ngasih cepat, gimana? Bukannya dari awal kita gak pakai pengaman, jadi bisa saja 'kan?" ucap Aldi menarik turunkan kedua alis matanya.


Pintu diketuk, membuat Aldi dan Nakisya mendongak kearah benda yang terbuat dari kayu jati.

__ADS_1


"Zia masih belum tidur?" Naura melangkah dengan satu botol susu ditangannya.


"Zia sayang, mimi dulu ya, biar cepet ngantuk," ucapnya kemudian sambil memberikan botol susu kepada putrinya.


Naura melirik jam dinding yang sudah menunjukan angka sepuluh lebih tiga puluh tujuh menit. "Aku benar-benar minta maaf ya, gara-gara Zia kalian jadi -,"


"Udah gak apa, Kamu gak usah merasa bersalah kayak gitu." Nakisya mengusap pundak Naura.


Naura mengangguk, ia tersenyum lembut kearah Nakisya. "Yaudah, aku ke kamar dulu ya, soalnya Lala juga belum tidur."


Zia terlihat semangat meminum susu nya, mungkin karena balita itu sudah cape karena dari tadi bermain.


Aldi menggendong dan menimang tubuh Zia, sambil melantunkan sholawat syifa, berharap balita itu segera terlelap. Aldi sedikit aneh pada dirinya, ia jarang bersholawat, karena lebih sering bernyanyi yang sesungguhnya tidak menambah pahala untuknya, tapi entah kenapa saat ini ia malah melantunkan sholawat.


Isi dari botol susu Zia tinggal sedikit. Aldi tersenyum saat mata Zia terlihat mulai terpejam, sampai beberapa detik kemudian Zia benar-benar sudah terpejam. Perlahan Aldi mengambil botol yang sudah terlepas dari mulut Zia, menyimpan nya diatas meja.


"Abang, ema-,"


"Suuutt," Aldi menempelkan jari telunjuk dibibirnya, memberikan isyarat kepada Nakisya supaya istrinya itu tidak melanjutkan kalimatnya, takut kalau Zia kembali terbangun.


Nakisya mengangguk paham. "Aku mandi dulu," ucapnya dengan sangat pelan. Dari tadi Nakisya memang belum sempat mandi, karena Zia tidak mau ditinggalkannyan.


Setelah dirasa Zia tidak akan bangun lagi, perlahan Aldi membaringkan tubuh Zia diatas kasur. Ia langsung memutar tubuhnya, saat aroma sabun menguar ke indra penciumannya.


Senyumnya terbit, saat melihat Nakisya yang hanya mengenakan handuk putih. "Sayang, kamu kan tau kalau aku selalu lemah saat kamu hanya mengenakan handuk. Atau jangan-jangan kamu sengaja menggoda aku?" ucapnya mendekat kearah Nakisya.


"Aku gak maksud menggoda kamu, cuman lupa aja gak bawa baju ganti," Nakisya mendorong dada suaminya dengan pelan.


Aldi dengan lebay nya menjatuhkan tubuhnya di kursi. Tidak menerima alasan dari Nakisya, ia menarik tubuh Nakisya, sehingga kini tubuh istrinya berada di pangkuannya.


Bersambung...


Like + Koment + Vote 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2