
Seketika semuanya melirik ke arah perempuan yang sedang melangkah ke arah meja yang mereka tempati.
"Kalian di sini juga?" tanya Rainald menyambut hangat kedatangan putrinya beserta menantunya yang berjalan di belakang Naura sambil mendorong stroller bayi.
Semua silih bergantian menyapa kedatangan mereka berdua, namun pandangan Aldi tertuju pada sosok perempuan yang tadi memanggilnya, yang kini duduk tidak jauh dari meja yang sedang di tempatinya.
Aldi masih ingat betul, siapa perempuan yang kini sedang menatap dengan tatapan tajam ke arahnya.
Perempuan yang pernah beberapa kali menemaninya menghabiskan malam berdua. Namun Aldi menganggap perempuan itu hanya sebatas teman tidur, tidak lebih spesial dari itu. "Mira," gumamnya.
Nakisya mendongak, "tadi kamu panggil siapa, Bang?" tanya gadis itu dengan kening yang terlihat mengerut.
Aldi gelagapan, "ehh enggak, maksud aku Naura," jawabnya mencoba berkilah.
"Maaf ya, semuanya. Aku malah ganggu acara ini ya?" ujar perempuan yang kini mengambil alih bayi nya.
"Gak ganggu kok," jawab Widya dengan cepat, yang langsung mencolek gemas baby Zia. Widya yang pernah ke rumah Naura untuk menjenguk bayi itu, membuat wanita itu jadi akrab dengan Naura.
Naura tersenyum ramah saat melihat wanita itu mengajak main putrinya,"tadi aku gak sengaja lihat kalian di meja ini, belum sempat aku nyapa, tapi kalian sudah nengok duluan," ucap Naura, membuat semuanya mengangguk.
"Eh bentar, bukannya tadi kamu panggil nama kaka kamu ya," tanya Rainald dengan raut wajah yang terlihat bingung.
Naura mengedarkan pandangannya, "aku gak panggil Aa kok," sangkal perempuan itu, karena sama sekali tidak merasa.
"Oh iya, tadi emang ada yang panggil nama Aa sih, tapi sekarang gak tau kemana, tadi dia berdiri di situ," imbuhnya kemudian.
"Papa kira, kamu yang manggil? Makanya kita langsung menoleh," jawab Arya, yang sekarang meminta Naura untuk memanggilnya dengan sebutan Papa, biar sama kaya Aldi, katanya.
Vino selesai menjabat tangan semua yang ada di situ, "baik kalau gitu, silakan di lanjut lagi acaranya. Maaf kami sudah mengganggu. Kami mau langsung pamit aja, kebetulan kami sudah selesai makan," pamit lelaki itu yang langsung melangkah di ikuti Naura yang menggendong bayinya.
****
Acara makan malam kedua keluarga itu itu sudah selesai, dengan tanggal pernikahan yang sudah mereka sepakati.
Dering di ponsel Aldi, membuatnya langsung membuka ponsel tersebut.
Ternyata satu pesan masuk dari nomor yang tidak ada namanya.
081xxxxxxxxx
__ADS_1
"Aku tunggu kamu di depan toilet, sekarang! Kalau dalam 1 menit kamu tidak kesini, lihat apa yang akan aku lakukan sama calon istri kamu."
Aldi mengeratkan genggamannya pada ponsel yang masih dia pegang. Aldi dapat menebak, siapa pengirim pesan itu.
"Kurang ajar, beraninya dia ngancam seperti itu!" gerutunya dalam hati.
Aldi tidak punya pilihan lain, selain menemui perempuan itu. Karena dia takut apa yang di alami Naura dulu, akibat ulah salah satu mantannya, kini bisa terulang kembali pada Nakisya.
Tanpa menunda waktu, Aldi langsung beranjak berdiri, menuju tempat yang di tentukan perempuan itu.
"Apa mau kamu?" tanpa basa basi Aldi langsung melontarkan kalimatnya.
Mira terkekeh, "ternyata kamu masih peduli ya sama aku, buktinya kamu sampai rela ninggalin keluarga dan calon istri kamu demi menemui aku disini," ujar perempuan itu dengan tatapan menggoda.
"Gak usah basa-basi, aku gak punya banyak waktu!" sinis lelaki itu, sambil menepis kasar tangan perempuan yang hendak menyentuh wajahnya.
Mira tertawa pelan, "aku masih ingat betul, waktu dulu kamu memperlakukan aku di hotel," ujar perempuan itu dengan wajah yang terlihat bangga.
"Lihat lah perut aku," imbuh perempuan itu sambil mengusap perutnya yang memang terlihat besar.
"Kamu hamil?" tanya Aldi datar.
Ucapan mira terhenti saat tiba-tiba seseorang datang dan langsung menampar wajah Aldi.
"Kurang ajar!"
"Om Bagas!" ucap Aldi dengan panik yang langsung memegangi tubuh pria itu.
Aldi tidak memperdulikan rasa sakit di pipinya akibat tamparan keras dari pria itu. Namun yang membuatnya panik sekarang, saat pria yang merupakan ayah dari calon istrinya itu tiba-tiba memegang dadanya.
Bagas yang kini merasakan pusing dan kehilangan keseimbangan secara mendadak karena otot pada satu sisi tubuh termasuk pada bagian wajah lengan dan kaki yang tiba-tiba terasa kebas, membuatnya hanya pasrah saat Aldi memegang tubuhnya.
Pengelihatan pria itu menjadi rabun, sakit di kepalanya semakin bertambah, dan berujung pria itu kehilangan kesadarannya.
Nakisya yang panik, saat seorang perempuan memberitahukan tentang papanya, langsung panik di ikuti Rainald dan Arya yang berlari menuju tempat keberadaan ayahnya.
Widya yang memang mengetahui tentang riwayat suaminya yang memiliki penyakit jantung, wanita itu langsung panik dan histeris.
****
__ADS_1
Bagas sudah berada di rumah sakit, dan sedang mendapat tindakan dari dokter.
Nakisya masih menangis sesenggukan, gadis itu takut terjadi sesuatu hal yang buruk yang akan menimpa ayahnya.
"Kenapa jantung Ayah tiba-tiba bisa kumat? Bang Al pasti tau kan apa penyebabnya?" tanya gadis itu dengan air mata yang terus membanjiri pipi mulusnya.
Aldi sejenak berpikir, "sepertinya ayah kamu salah paham sama aku."
Nakisya mengerutkan keningnya, "maksud Bang Al?" tanya gadis itu tak sabar.
Widya keluar dari ruang IGD, wanita itu mengedarkan pandangannya, mencari seseorang.
"Kisya!" panggil wanita itu dengan suara yang terdengar tidak sabaran.
Nakisya yang masih menunggu jawaban dari lelaki yang ada di hadapannya, menoleh ke arah Widya, "iya Bunda?"
"Ayah kamu sudah sadar," ujar wanita itu, yang berhasil menciptakan raut kebahagiaan pada wajah Nakisya.
"Ayah mau ketemu sama kamu," imbuh wanita itu kemudian.
Aldi hendak mengikuti langkah Nakisya, dirinya juga ingin tau tentang kabar calon mertuanya itu. Namun lengan Widya langsung menahannya.
"Sebaiknya kamu pulang saja!" ketus wanita itu yang berhasil membuat tubuh Aldi mematung.
"Bagaimana keadaan Pak Bagas?" tanya Rainald penasaran.
Widya yang hendak melangkah ke ruangan tempat suaminya berbaring, langsung menghentikan langkahnya, "suami saya terkena struk ringan, dan mungkin keadaanya akan tambah parah, kalau anak kalian masih ada di sini. jadi maaf untuk Pak Rainald, dan Pak Arya lebih baik kalian pergi saja, bawa anak kalian dan jangan sampai dia muncul di hadapan kami lagi."
Aldi langsung menahan lengan Widya, "Tante, Om Bagas pasti salah sangka sama saya, itu tidak seperti yang Om kira, saya bisa jelaskan," ujar Aldi dengan wajah yang sudah terlihat kalut.
Widya menepis kasar lengan Aldi, "Saya menyesal telah begitu percaya sama lelaki seperti kamu!"
"Saya bisa jelaskan, Tante," ujar Aldi mengulangi kalimatnya.
"Kamu harus jelaskan semuanya sama kami!"
-
-
__ADS_1
Bersambung..