
"Sudah kalian jangan malah ribut. Kayaknya emang pernikahan kalian harus di percepat lagi," ujar Widya yang langsung melangkah keluar.
Arya juga ikut melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu. "Pakai baju kalian!" ucap pria itu tanpa menoleh ke arah keduanya.
"Sayang apa yang sudah kamu lakukan?" tanya Aldi dengan wajah aktingnya.
Nakisya mendengus sebal, gadis itu masih memegang selimut untuk menutup bagian tubuhnya. "Aku tuh panik lihat kamu yang terus menggigil, makanya aku gak ada pikiran lain selain ngelakuin itu," ujarnya dengan malas.
"Udah hadap sana, aku mau pakai baju," imbuhnya kemudian yang langsung mengambil baju atasnya.
Aldi hanya menurut saja, lelaki itu langsung membelakangi gadis itu. "Berarti aku udah gak perjaka lagi dong gara-gara kamu barusan?" tanyanya sambil susah payah menahan tawa.
Nakisya sudah memakai kembali bajunya. "Emang aku ngapain kamu, sampai bisa gak perjaka! Aku kan cuma peluk kamu doang," ketus gadis itu yang langsung turun dari ranjang milik kekasihnya.
"Peluk doang ya?" tanya Aldi dengan memicingkan matanya.
"Peluknya kaya gimana gitu tadi? Coba ulangi," imbuhnya kemudian yang berakhir mendapat lemparan bantal pada wajahnya.
"Tau ah, aku masih sebel sama kamu!"
Aldi terkekeh, lelaki yang masih merasakan pusing di kepalanya itu, dengan susah payah berdiri, mengikuti Nakisya yang keluar dari kamarnya. Terlihat gadis itu sedang di ceramahi oleh bundanya.
"Kamu tuh perempuan, gak baik loh kaya gitu sama lelaki, meskipun itu calon suami kamu, tapi masih calon, masih belum muhrim."
Nakisya menunduk, "Bunda, kan Kisya udah bilang, Kisya ngelakuin itu cuma buat nolong Bang Al, gak ada maksud lain lagi," ujarnya dengan kepala yang masih tertunduk.
"Kisya cuman ngikutin metodenya Bunda," imbuhnya kemudian, masih melakukan pembelaan.
"Skin to skin itu buat bayi, Kisya!" ucap Widya dengan tegas.
"Maaf Bunda," lirihnya.
"Tadi Kisya panik, hubungin Bunda gak bisa terus. Kisya takut Bang Al kenapa-kenapa."
Jawaban itu berhasil membuat Aldi yang masih berdiri di pintu kamarnya tersenyum.
"Kisya, terima kasih ya."
"Kamu emang harus berterima kasih sama calon istri kamu, disini kamu yang di untungkan!" ucap Arya dengan tegas.
__ADS_1
"Lagian kamu sakit, malah ngasih tau ke Kisya, kenapa gak telfon dokter saja! Emang dasar kamu cari-cari kesempatan!" lanjut pria itu kemudian.
Aldi tersenyum, "Papah tau aja," bisiknya pada pria itu.
Arya menggelengkan kepalanya, "Papah sudah hubungin dokter, mungkin sebentar lagi dokter Rian akan kesini. Papa juga sudah nyuruh Bibi yang biasa bersihin tempat ini buat datang kesini ngerawat kamu. sekarang kamu istirahat, jangan nyusahin Kisya lagi. Papa buru-buru mau ke kantor lagi, banyak pekerjaan," ujarnya yang langsung pergi, setelah sempat pamit kepada Widya dan Nakisya.
Dokter yang di katakan Arya sudah datang, pria itu langsung memeriksa keadaan Aldi. "Anda hanya kecapekan, dan kurang istirahat, sebaiknya Anda perhatikan juga pola makan Anda," ujar dokter itu yang langsung pamit setelah memberikan secarik kertas yang berisi resep.
Nakisya langsung mengambil resep itu, dan pergi untuk membelinya di apotek yang kebetulan berada tidak jauh dari apartemen Aldi.
"Ini obatnya," ucap Nakisya yang sudah datang dengan kantung kresek yang berisi obat. Nakisya menyimpan obat itu di atas laci.
"Yaudah kalau gitu, Tante sama Kisya pamit dulu ya, kamu istirahat, nanti jangan lupa di makan obatnya. Ini tadi tante bawa bubur sama roti, nanti kamu makan dulu ya sebelum makan obat," ujar wanita itu sambil menyimpan makanan yang sempat dia beli waktu perjalanan menuju apartemen Aldi.
"Terima kasih, Tante. Gara-gara Aldi Tante jadi repot," ucap lelaki itu dengan wajah yang terlihat malu.
"Gapapa, Tante gak repot kok, cuman dokter pribadi tante gak bisa kesini, dia lagi di luar kota."
Nakisya masih terlihat enggan untuk meninggalkan Aldi. "Bunda, Kisya di sini aja ya, kan kasian Bang Al, masa di tinggalin," ucap gadis itu, meminta ijin pada Widya.
"Gak boleh! kamu juga gak bisa ngerawat orang sakit, nanti yang ada kalian aneh-aneh lagi," tolak wanita itu dengan tegas.
"Ayo kita pulang," ajak Widya pada Kisya.
"Tapi Bunda," Nakisya terlihat ragu saat akan meninggalkan kekasihnya itu.
Widya menghela napas, "yaudah kamu disini, tapi jangan macam-macam!" tegas Widya pada Nakisya.
"Bibi awasi mereka berdua ya," imbuhnya kemudian, melirik ke arah pembantu Aldi yang baru saja datang.
"Baik Nyonya," jawab wanita itu dengan kepala yang menunduk.
Widya sudah pergi, sedangkan pembantu yang di tugaskan Arya sedang sibuk di dapur.
Aldi merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, dirinya memang benar-benar merasakan sakit di kepalanya.
"Kan kemarin aku juga bilang, Bang Al jangan terlalu cape," ucap Nakisya sambil memberikan suapan bubur pada lelaki itu.
"Kalau sudah sakit kan gak enak," imbuhnya kemudian sambil terus menyuapi lelaki itu.
__ADS_1
Aldi tersenyum, mendapat perlakuan seperti itu dari gadis yang dia cintai, membuatnya merasa sangat bahagia, dan beruntung. Aldi terus menerima suapan dari gadis itu, dengan tatapan yang tak berkedip.
Nakisya terkekeh, "Bang Al makannya yang bener dong, masa kaya anak bayi aja sih," ujarnya sambil mengelap ujung bibir lelaki itu yang terlihat belepotan.
"Buburnya manis."
Nakisya mengerutkan keningnya. "Masa sih, ini kan bubur ayam," ucap gadis itu sambil mencicipi bubur itu.
"Asin ah."
"Masa sih, tapi yang ini manis, cobain deh," ucap Aldi sambil mendekatkan bibirnya ke arah bibir Nakisya.
Nakisya memundurkan kepalanya, "huh! Modus dasar," ujarnya sambil mendorong wajah lelaki itu.
"Jangan dekat-dekat, aku gak mau tertular," imbuhnya kemudian.
"Kalau gak mau tertular, terus kenapa tadi peluk aku?" tanya Aldi dengan menatap sayu ke arah Nakisya.
"Kan aku bilang, tadi aku panik, kalau tau Bang Al malah sengaja buat aku malu di depan Bunda dan Om Arya, aku nyesel tau lakuin itu," ucapnya dengan memalingkan wajah.
Aldi terkekeh, "badan kamu nagih, sayang cuma sebentar," ucap Aldi dengan santai, membuat Nakisya melotot tajam kearahnya.
"Bang Al, lagi sakit, tapi pikiran mesum nya masih tetap jalan, heran aku," ucap gadis itu dengan menyilangkan tangannya di bawah dada.
Dengan mata yang terlihat sayu, Aldi mengangkat tangannya, membelai rambut Nakisya yang tergerai dengan indah. "Kalau aku mesum kenapa?" tanya lelaki itu yang kini menatap lekat wajah kekasihnya.
Ditatap seperti itu, membuat Nakisya memundurkan kepalanya, gadis itu sudah mengerti dengan apa yang akan di lakukan Aldi.
Namun dengan cepat, tangan Aldi yang berada di belakang kepala Nakiaya, mendorong tengkuk gadis itu, sehingga kini kedua wajah itu nyaris tidak ada jarak.
Tubuh Nakisya tidak dapat menolak, gadis itu hanya bisa memejamkan matanya.
Cup..
Satu kecupan berhasil mendarat di kening gadis itu, tapi hanya kecupan. Dirinya yang sakit sadar betul, tidak mungkin mengikuti hawa napsunya yang bisa mengakibatkan kekasihnya itu tertular.
Bersambung 🤗🤗
Jangan lupa Like dan Rate bintang Lima, ya🙏🙏
__ADS_1