Aku Hanya Mencintaimu

Aku Hanya Mencintaimu
Mama Dina


__ADS_3

Setelah satu jam Nakisya berada di kelas memerhatikan dosen yang memberikan materi pelajaran. Kini dirinya langsung bergegas ke kantin menemui ketiga sahabatnya yang sudah lebih dulu berada di tempat itu.


"Hi. sory ya gue lama, dosennya betah banget tadi," ucap Nakisya yang kini duduk di samping Rani.


"Kita juga baru datang kok," jawab Rani yang lagi memilih menu makanan yang ada di kantin itu.


"Hi semuanya, Hi sayang," ucap Rizky yang baru datang bersama Angga dan Reza yang merupakan teman sekelas Rizky.


"Sayang?" cibir Nakisya yang langsung memerhatikan Rizky dan Weni yang nampak begitu romantis.


"Iya mereka udah jadian," jawab Rani sambil melirik malas kearah Rizky dan Weni. Terlihat Rizky sedang mengelus kepala Weni.


"Kalian jangan pacaran di depan kita-kita yang masih jones dong," imbuhnya kemudian.


Vani mengangguk, namun dirinya langsung berucap, "makanya lo cepat cari pasangan, biar gak jones mulu."


Rani mencibir, "nyadar diri dong, apa perlu gue beliin kaca!" sinis gadis itu.


"Udah, kalian jangan pada ribut, mending kalian bareng-bareng aja cari pasangan, biar cepet nyusul gue yang bentar lagi nikah," ujar Nakisya sambil tersenyum kearah mereka.


"Gue penasaran, siapa yang selanjutnya nikah setelah gue nanti," imbuhnya kemudian.


Rani berdecak, "kalau soal mencari pasangan itu gampang, tapi kalau menikah, itu bukan soal perlombaan, tapi soal menemukan yang paling tepat," jawab Rani dengan datar.


"Alah Bu dokter, ngomongnya so iya banget, boro-boro dapat yang tepat, yang salah aja lo gak bisa," cibir Rizky yang merupakan sepupu gadis itu.


"Kalau mau memberikan kesempatan buat orang yang salah tapi berusaha buat jadi orang yang tepat, aku siap deh daftar di barisan paling depan," ucap Reza sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Rani.


Reza mengukir raut wajah sedih, saat Rani terang-terangan menunjukan sikap penolakan terhadapnya, tapi tidak lama kemudian laki-laki itu kembali bangkit untuk melanjutkan misinya untuk mendekati Rani. "Eh Ran, kamu tau gak sih, kenapa sel darah merah bentuknya pipih?" tanya lelaki itu sambil tersenyum menatap wajah Rani.


"Kenapa emang?" jawab gadis itu masih dengan wajah yang terlihat ketus.


Semua orang nampak diam, ingin mendengar kalimat jawaban yang akan terlontar dari mulut lelaki yang mulai terang-terangan mendekati Rani.

__ADS_1


Reza yang melihat tatapan penasaran dari semua orang, lelaki itu berdehem, untuk menghilangkan rasa groginya.


"Soalnya kalau bentuk hati, dia bukan mengalirkan sari-sari makanan, tapi mengalirkan cinta-cinta di antara kita."


"Anjaaayy..." teriak mereka dengan heboh, sampai semua orang yang sedang berada di kantin itu menoleh kearahnya


"Eh gue lupa, jangan ngomong anjay lagi gaes, ada pidananya 'loh," ucap Weni dengan wajah yang terlihat serius.


Rani tidak ikut berteriak, gadis itu sama sekali tidak terpengaruh dengan gombalan receh dari lelaki yang belakangan ini mengganggu hidupnya. Gadis itu terlihat mendelik sebal. "Kamu tau gak persamaan kamu sama darah?"


Reza menatap serius untuk menjawab pertanyaan Rani. "Tau dong, sama-sama penting buat kehidupan kamu 'kan?" ucap lelaki itu dengan wajah yang terlihat percaya diri.


Rani berdecak, "salah! Tapi sama-sama buat aku jijik dan ingin mual."


Sontak semuanya langsung tergelak. "Mampu* lo, belum apa-apa udah di bikin nyesek aja lo," ujar Rizky yang berhasil membuat Reza geram.


Ditengah kehebohan mereka, tiba-tiba Angga yang dari tadi diam, lelaki itu menatap Nakisya. "Sya, selamat ya, bentar lagi kamu bakalan jadi seorang istri, semoga kamu bahagia terus ya," ucap lelaki itu sambil memaksakan bibirnya untung melengkung keatas.


Nakisya tersenyum, "Terimakasih Angga, semoga kamu juga cepat dapat pacar ya," jawab gadis itu dengan tulus.



"Makan yang banyak, soalnya untuk pura-pura biasa aja, juga harus pakai tenaga," bisiknya kemudian tepat di telinga Angga.


"Ini PJ 'kan?" tanya Reza dengan semangat.


Rizky nampak mengerutkan keningnya, "PJ apaan?" jawab lelaki itu.


"Pajak jadian elo sama Weni lah."


****


Pulang dari kantor Aldi langsung mengunjungi Arya, lelaki itu sudah tidak sabar ingin menceritakan tentang seseorang yang kemarin bertemu dengannya di restoran hotel.

__ADS_1


"Masih ingat jalan kerumah ini kamu?" cibir Arya saat melihat anaknya itu masuk keruangan kerjanya.


Aldi terkekeh. Lelaki itu langsung menyalim tangan sang papa yang ternyata bukan papa kandungnya. "Alhamdulillah kalau Papa sehat," ujar lelaki itu.


Arya sempat tertegun, pasalnya anaknya itu baru pertama kali bersikap seperti itu kepadanya. "Sepertinya malah kamu yang kurang sehat?" cibir pria itu.


Aldi mengulas senyumnya, "Aldi cuma lagi belajar bersikap baik sama Papa, soalnya Aldi kan bentar lagi bakal nikah, terus pastinya bakal jadi seorang papa," jawab lelaki itu.


"Tapi biasanya buah gak bakalan jatuh jauh dari pohonnya," ucap Arya becanda.


Melihat perubahan raut wajah sang anak, Arya nampak menyesali perkataannya, "Papa becanda loh, Papa akan selalu doakan yang terbaik buat kamu, terutama mendoakan supaya kalau kelak kamu punya keturunan, anak kamu gak kaya kamu kelakuannya."


Aldi langsung merangkul pria yang kini berusia lima puluh tahun itu. "Terimakasih ya Pah," lirihnya.


Seolah kembali teringat sesuatu, sambil masih memeluk Arya Aldi berucap, "kemarin Aldi ketemu sama Mama."


Arya langsung melepaskan pelukannya, "Maksud kamu Mama-," pria itu tidak melanjutkan kalimatnya, karena terlalu susah untuk menyebutkan nama mantan istri yang sudah mengkhianatinya itu.


Aldi mengangguk, "Iya, Mama Dina," ucapnya lirih.


Arya berjalan menuju jendela kamarnya, "ngapain dia nemuin kamu?"


Dengan perasaan senang, sambil mengingat pertemuannya kemarin bersama sang ibu, Aldi nampak semangat menceritakannya pada Arya kalau ternyata selama ini Dina terus memerhatikan Aldi dari jauh, menyaksikan perkembangannya walau hanya dari jarak jauh. Termasuk menceritakan kalau sebenarnya Dina sangat susah untuk menahan rindu untuk menemuinya.


Arya menatap wajah Aldi, wajah yang begitu terlihat senang, persis seperti anak kecil yang baru menemukan kembali mainannya yang sempat hilang. "Kamu bahagia banget kayaknya?" tanya pria itu.


Aldi memudarkan senyumnya, "kenapa Papa kaya yang gak senang lihat Aldi bahagia?" tanya balik pria itu.


Arya menatap datar kearah Aldi, "Papa hanya heran, setelah dua puluh tahun lebih dia ninggalin kamu, dan mengatakan kalau dia menahan rindunya untuk tidak menemui kamu, terus kenapa sekarang dia malah menemui kamu?"


"Kan Aldi sudah bilang, kemarin kita tidak sengaja bertemu, Mama baru kemarin malam nginap di hotel kita. Lagian selama ini alasan Mama gak nemuin aku juga gara-gara takut sama Papa," ucap Aldi, lelaki itu berharap kalau Arya juga bisa ikut menerima kembali wanita yang merupakan ibu kandungnya.


"Aldi juga minta, supaya Mama jangan lagi menghindar dari Aldi," imbuh lelaki itu kemudian, yang berhasil membuat Arya memalingkan wajahnya kearah lain.

__ADS_1


Bersambung....


Like + Koment, jangan lupa 😁🤗🤗


__ADS_2